بيت / Historical / Bayang Pedang Cahaya Bulan / BAB 9: TIKUS DALAM PERANGKAP

مشاركة

BAB 9: TIKUS DALAM PERANGKAP

مؤلف: Stoner 27
last update تاريخ النشر: 2026-07-07 18:48:42

Di luar gerbang, Jenderal Liu Tianming turun dari kudanya dengan gerakan yang efisien dan tanpa suara yang tidak perlu. Seorang ajudan segera datang memegangi tali kekang.

Liu Tianming berdiri menatap gerbang batu yang tertutup di hadapannya, memandangnya bukan dengan rasa frustrasi atau kemarahan, melainkan dengan cara seorang pemain catur ulung memandang bidak yang berhasil masuk ke garis belakang papan. Dingin. Penuh perhitungan. Sudah memikirkan beberapa langkah ke depan, jauh melampaui apa
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 48: Yang Tidak Diucapkan

    Bai Muchen membersihkan sisa darah dari jari-jarinya dengan kain basah, gerakannya lambat, hampir seperti ritual, seolah dia sengaja mengulur waktu sebelum mengucapkan sesuatu yang sudah lama tertahan di dadanya. Cahaya lilin di sudut ruangan bergoyang pelan setiap kali angin malam menyelinap dari celah jendela, membuat bayangannya sendiri ikut bergetar di dinding batu, memanjang lalu memendek, seperti sesuatu yang tidak bisa diam.Yue Chen memperhatikannya dalam diam dari atas dipan kayu tempat dia duduk. Luka di pipinya sudah tidak lagi berdenyut seperti sebelumnya, hanya terasa kaku, seperti kulit baru yang belum sepenuhnya terbiasa dengan bentuknya sendiri. Sesekali dia menyentuhnya dengan ujung jari, lalu menariknya kembali, seolah masih ragu apakah luka itu benar-benar bagian dari wajahnya sekarang."Kenapa Su Meiyin menyerangku?" tanya Yue Chen akhirnya, memecah keheningan yang mulai terasa berat, seberat udara sebelum hujan. "Dia bilang aku bergerak seperti seseorang yang pern

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 47: Jahitan yang Tidak Sempurna

    Lilin di ruang pengobatan kecil dekat gudang obat menyala pelan, apinya bergoyang setiap kali angin malam menyelinap lewat celah jendela kayu yang tidak pernah menutup rapat. Yue Chen duduk di atas dipan sederhana, punggung bersandar pada dinding batu yang dingin, wajahnya menoleh sedikit ke samping agar Bai Muchen bisa menjangkau luka di pipi kirinya dengan leluasa.Bai Muchen berlutut di depannya, satu tangan menahan dagu Yue Chen dengan lembut, tangan lain terangkat, dua jarinya, telunjuk dan jari tengah, mendekat ke arah luka tanpa menyentuhnya lebih dulu. Cahaya lilin memantul samar di ujung jarinya, bukan cahaya fisik yang benar-benar terlihat, melainkan sesuatu yang lebih seperti kehangatan yang bisa dirasakan kulit sebelum benar-benar disentuh."Tahan," katanya, suaranya rendah, hampir seperti bisikan. "Ini akan terasa aneh sebentar. Bukan sakit. Hanya aneh."Yue Chen mengangguk sekali, matanya menutup tanpa diminta, seperti insting tubuhnya sudah tahu untuk berserah pada tang

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 46: Aku Tidak Akan Lari Lagi

    Benang itu menyambar ke arah lehernya seperti kilat yang dijinakkan menjadi emas, tipis hingga nyaris tak kasat mata, secepat angin yang tidak pernah memberi peringatan sebelum ia berhembus. Di detik yang seharusnya menjadi detik terakhir kebebasannya, sesuatu di dalam Yue Chen berhenti melawan gravitasi jatuhnya sendiri. Dia tidak mencoba menghindar lagi dengan kaki yang sudah gemetar karena kelelahan. Dia membiarkan tubuhnya jatuh sepenuhnya ke tanah, lebih rendah dari yang diperkirakan siapa pun, lutut membentur batu kerikil hingga terasa ngilu menjalar sampai ke pinggul, dan benang itu menyambar tepat di atas kepalanya, memotong beberapa helai rambut yang jatuh melayang di udara seperti bulu burung yang tercabut angin.Dia berguling sekali di tanah lembab, merasakan dingin menembus kain di punggungnya, lalu bangkit dengan napas yang nyaris habis. Pedang latihannya sudah entah di mana, terlempar entah kapan selama pertarungan berlangsung, mungkin di antara be

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 45: Meliuk Melawan yang Tak Terlihat

    Serangan kedua datang tanpa peringatan sama sekali. Tidak ada kilau cahaya yang bisa dijadikan tanda, tidak ada gerakan tangan yang bisa dibaca, tidak ada bunyi kain berkibas yang biasanya mendahului sebuah pukulan. Yang Yue Chen rasakan hanyalah sesuatu menyambar pergelangan tangannya, tipis seperti rambut namun kekuatannya setara pedang tajam, disusul rasa panas sesaat sebelum insting menariknya mundur lebih cepat daripada pikirannya sendiri sempat memerintahkan.Dia melompat, berguling di tanah berbatu, dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, tubuhnya bergerak dengan cara yang baru saja diajarkan Bai Muchen kepadanya tiga hari terakhir. Bukan gerakan lurus yang selama ini dia hafal dari latihan pedang dasar keluarga Yue, garis demi garis yang diulang ribuan kali hingga menyatu dengan tulang. Kali ini tubuhnya meliuk. Mengalir. Memanfaatkan angin lembah yang menerpa dari arah selatan, membiarkan dirinya condong mengikuti arah angin alih-alih melaw

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 44: Wanita yang Tidak Bisa Dikategorikan

    Lembah berangin di sebelah barat sekte selalu terasa lebih luas daripada tempat lain di sekitar Celah Bulan Sabit, seolah tebing-tebing yang mengapitnya sengaja memberi ruang bagi angin untuk berlari tanpa halangan. Di sanalah Yue Chen biasa berlatih sendirian sejak celah air ditemukan, jauh dari mata Tetua Zhang yang selalu mengawasi, jauh juga dari kekhawatiran neneknya yang belum sepenuhnya pulih.Pagi itu dia datang lebih awal dari biasanya, membawa pedang latihannya, berniat mengulang gerakan-gerakan dasar sambil mencoba menghadirkan kembali kehangatan yang sempat muncul di ujung jarinya dua hari lalu. Angin menyambutnya seperti biasa, menerpa wajah, membuat ujung jubahnya berkibar, dan dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengingat cara memberi ruang seperti yang diajarkan Bai Muchen, bukan memaksa.Dia tidak menyadari kehadiran itu sampai bayangannya sendiri di atas tanah berbatu tiba-tiba mendapat teman.Seorang wanita berdiri di ujung le

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 43: Kehangatan yang Menunggu

    Hari ketiga dimulai lebih hening daripada dua hari sebelumnya. Tidak ada percakapan panjang sebelum mereka duduk, tidak ada koreksi berulang yang biasa menyertai posisi tangan atau tarikan napas yang belum tepat. Hanya Bai Muchen yang memberi isyarat kecil dengan tangannya, dan Yue Chen yang mengikuti tanpa banyak bertanya, seolah keduanya sudah menemukan ritme yang tidak perlu lagi dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan cara mereka duduk pun sudah berubah sejak hari pertama, tidak lagi kaku seperti murid yang takut salah, melainkan seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal caranya masing-masing bernapas.Angin pagi membawa aroma bunga plum dari taman sekte, bercampur dengan sisa embun yang belum sepenuhnya menguap dari batu tempat mereka duduk. Batu itu dingin di bawah telapak tangan Yue Chen, tapi dinginnya tidak lagi terasa mengganggu seperti dua hari sebelumnya. Yue Chen menutup mata, dan kali ini, alih-alih mencoba mengingat instruksi satu per satu sep

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status