Posesif Sang Ketua Mafia
"Mulai malam ini, kau milikku. Tubuh, jiwa, dan napasmu.”
Rafael Valentino tidak pernah menginginkan sesuatu tanpa mengambilnya. Ketika Liora Ashanti menyaksikan eksekusi brutal yang dilakukan Rafe, seharusnya gadis itu mati malam itu juga. Namun, Rafe justru menculik Liora dan mengurungnya di istana mewah sang ketua mafia.
Di tengah ancaman musuh berdarah dan rahasia keluarganya sendiri, Liora berusaha bertahan dari obsesi Rafe yang semakin gelap dan posesif. Namun, semakin Liora melawan, semakin ia terjerat dalam pelukan pria yang siap menghancurkan dunia demi memilikinya.
Read
Chapter: Bab 6 : Malam Yang Tak Tenang Malam turun di mansion Valentino, membungkus bangunan itu dalam kegelapan. Lampu-lampu kristal di koridor utama menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang seolah bergerak hidup di dinding. Rafe baru saja kembali dari ruang bawah tanah tempat di mana ia biasa "mengurus" urusan bisnis gelapnya. Tangannya masih meninggalkan jejak samar bau besi, meski ia sudah membersihkannya di wastafel. Setetes darah kecil yang tak sengaja tertinggal di buku jari kanannya ia hapus dengan sapuan kasar sebelum naik ke lantai atas. Ia berhenti di depan pintu kamar Liora, mengamati monitor kecil di ponselnya. Gadis itu terlihat gelisah, mondar-mandir di dalam kamar seperti burung yang terperangkap dalam sangkar emas. Sesekali ia menatap pintu dengan mata penuh amarah. Rafe tersenyum tipis, bibirnya dengan ekspresi yang sulit dibaca antara kegembiraan dan kepuasan predator. "Masih penuh api," gumamnya. "Bagus. Api itu yang membuatmu berbeda." Ia memasukkan kode keamanan dengan cepat. Pintu ter
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Bab 5 : Rahasia Yang DisembunyikanLiora mondar-mandir di kamar mewah yang kini terasa seperti penjara mewah. Dinding-dinding berlapis wallpaper sutra lembut berwarna krem keemasan, furnitur antik dari kayu mahoni yang dipoles mengkilap, dan tempat tidur king-size dengan seprai sutra yang sehalus bulu. Namun semua itu tak berarti apa-apa. Jam dinding antik menunjukkan pukul 11.47 siang, tapi bagi Liora, waktu seolah berhenti sejak Rafe meninggalkannya sendirian setelah telepon misterius tadi pagi. Kata-kata pria itu masih bergema: "Ibumu akan segera tiba di sini. Selamat." Tapi hingga kini, tidak ada tanda-tanda kedatangan ibunya. Tidak ada suara langkah di koridor marmer, tidak ada penjelasan, hanya keheningan yang mencekik. Udara di kamar terasa berat dengan aroma vanila samar dari diffuser mahal. Liora merasa sesak. Ia mencoba membuka pintu kamar untuk kesekian kalinya. Gagang pintu yang dingin tetap terkunci rapat. Dengan frustrasi memuncak, Liora memukul daun pintu hingga kulitnya memerah dan perih. "Rafe! Kelu
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Bab 4 : Serangan Pertama“Kenapa kau diam saja pagi ini, merpati kecil?” tanya Rafe sambil menuangkan kopi hitam ke cangkir Liora. Suaranya rendah, penuh kendali. “Kau masih marah karena aku tak mengizinkanmu menelepon ibumu?” Liora menatap pria di depannya dengan mata yang masih bengkak karena menangis semalam. Gaun sutra tipis yang dipaksakan Rafe melekat di tubuhnya. “Aku bukan burung peliharaanmu, Rafe. Aku ingin tahu apakah ibuku baik-baik saja.” Rafe tersenyum tipis, tapi tatapannya dingin. “Dia akan baik-baik saja selama kau berada di sini. Bersamaku.” Liora mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Aroma kopi yang biasanya menenangkan kini justru membuat dadanya terasa sesak. Ruang makan mansion Valentino begitu megah dengan jendela-jendela tinggi yang membiarkan cahaya pagi masuk, tetapi baginya tempat itu tak ubahnya sangkar emas. Di setiap sudut berdiri pria-pria bersetelan hitam yang berjaga tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia melirik pintu keluar sejenak. Bahkan sebelum sempat memikir
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Bab 3 : Burung Kecil Yang KetakutanLiora terbangun dengan tubuh kaku dan kepala pusing. Cahaya matahari pagi menyusup lemah melalui celah tirai tebal, menerangi kamar mewah yang masih terasa asing. Ia mencoba bangkit, tapi lengannya terasa berat. Kenangan malam sebelumnya langsung membanjiri pikirannya seperti gelombang dingin. Pria itu. Rafe. Tembakan. Pelukan paksa di gang basah. Dan sekarang ia ada di sini sangkar emas yang indah. Ia duduk di tepi tempat tidur king-size, memeluk lututnya sendiri. Gaun tidur satin putih yang dikenakannya terasa terlalu lembut, terlalu mahal untuk ukurannya yang sederhana. Liora menatap sekeliling: lemari pakaian besar, meja rias dengan cermin kristal, dan pintu yang pasti terkunci. "Ibu..." gumamnya pelan. Pikirannya langsung tertuju pada ibunya yang sakit-sakitan di rumah kecil mereka. Siapa yang akan memberi obat pagi ini? Siapa yang akan menyiapkan sarapan? Suara klik pelan terdengar. Pintu kamar terbuka. Rafe Valentino masuk dengan langkah tenang, membawa nampan perak ber
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Bab 2 Burung Kecil Dalam Sangkar EmasLiora terbangun dengan kepala yang berdenyut-denyut. Bau obat bius masih menempel di hidungnya, membuat perutnya mual. Ia mencoba bangkit, tapi tangannya terasa berat. Matanya perlahan terbuka, dan dunia di sekitarnya membuatnya membeku. Ini bukan kamarnya yang sempit di rumahnya pinggir kota. Ini adalah kamar seluas rumahnya sendiri, mungkin lebih besar. Langit-langit tinggi dengan lampu kristal yang redup, dinding berwarna krem gelap dengan aksen emas, dan tempat tidur king-size yang ia tiduri sekarang terasa terlalu mewah. Seprai sutra hitam membelai kulitnya. Jendela besar tertutup tirai tebal, tapi Liora bisa mendengar suara hujan samar-samar di luar. Ia menunduk. Pakaian kerjanya yang basah sudah diganti dengan gaun tidur satin putih sederhana. Pikirannya langsung kacau. "Siapa yang mengganti bajuku…?" Rasa panik menyergapnya. Ia melompat turun dari tempat tidur dan berlari ke pintu. Terkunci. Ia mencoba membuka jendela juga terkunci dan pasti anti peluru. Liora memukul
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Bab 1 Malam Yang Salah"Siapa yang berani mengkhianati keluarga Valentino?"Suara rendah yang penuh otoritas mematikan itu menggema di gang sempit yang basah oleh hujan deras. Lampu neon di ujung jalan berkedip-kedip, memantulkan genangan air yang bercampur oli dan darah.Beberapa menit sebelumnya, Liora Ashanti berlari menyusuri trotoar dengan tas selempangnya yang sudah basah kuyup. Jam tangannya menunjukkan pukul 01.17 dini hari. Shift malam di kafe tadi lebih panjang dari biasanya karena rekan kerjanya bolos. Tubuhnya lelah, pakaiannya basah, dan yang ia inginkan hanyalah pulang ke rumah kecilnya, mandi air hangat, lalu kemudian pergi tidur.Tapi rupanya takdir punya rencana lain. Rasa penasaran yang bodoh sudah membuat dirinya melangkah mendekat ke gang ketika mendengar suara letusan senjata teredam. Ia mengintip dari balik tembok bata yang licin. Dan ia sudah melihatnya.Seorang pria tinggi berpakaian hitam sepenuhnya berdiri di tengah gang. Wajahnya yang tajam dan dingin diterangi cahaya lampu jalan
Last Updated: 2026-07-15