LOGINElena Russo selalu percaya bahwa kebenaran lebih penting dari segalanya. Sebagai jurnalis investigasi, ia terbiasa membongkar kebohongan para pria berkuasa tanpa rasa takut. Hingga suatu hari, ia harus menyelidiki Leonardo Moretti CEO muda yang sempurna, berpengaruh, dan terlalu bersih untuk menjadi nyata. Namun semakin dekat Elena pada bukti, semakin ia terseret ke dalam dunia yang tidak pernah ia bayangkan. Dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya yang tak terlihat. Dan yang paling berbahaya bukanlah kebenaran yang ia temukan melainkan perasaan yang tumbuh untuk pria yang seharusnya ia hancurkan. Jika mengungkapnya berarti kehilangan segalanya, akankah Elena tetap memilih kebenaran?
View MoreLangit Milan berubah jingga ketika matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung kaca kota. Namun di lantai 59 Moretti Motors Headquarters, senja hanyalah warna yang tak pernah disentuh oleh Leonardo Moretti, Pria itu berdiri dengan punggung tegak, menatap kota dari balik jendela setinggi langit-langit.
Setelan hitamnya terpasang sempurna, kontras dengan mata kelam yang menyimpan begitu banyak hal yang tidak pernah diucapkan. Dari kejauhan, ia tampak seperti CEO ideal yang hanya hidup untuk angka dan kesuksesan. Namun semua orang tahu, atau lebih tepatnya mengira, bahwa Leonardo hanyalah seorang pengusaha muda yang perfeksionis. Tak ada yang benar-benar memahami dunia yang ia jalani.
“Signor Moretti?” Sofia, asistennya, membungkuk sedikit sambil membawa berkas tebal. “Rapat direksi dimulai dalam dua menit.” Leonardo mengangguk pelan.
“Pastikan semua anggota hadir,” kata Leonardo.
“Sudah, signore. Para investor juga.” Ia berbalik, langkahnya mantap dan tenang.
Tidak ada kebisingan, tidak ada keraguan. Aura kekuasaan mengalir dari setiap gerakannya, membuat siapapun yang berada di dekatnya merasa harus menjaga jarak. Di ruang rapat sudah ada belasan orang, semuanya berdiri ketika Leonardo masuk.
“Duduk.” Leonardo bersuara dengan suara dalam dan dingin, namun membawa wibawa yang membuat semua patuh.
Rapat dimulai, pembahasan tentang ekspansi pabrik baru di Napoli, kontrak internasional, dan laporan laba kuartal ini. Leonardo mendengarkan dengan seksama, jarinya mengetuk meja pelan kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan ketika menghitung kemungkinan yang tidak terlihat di permukaan.
“Saya ingin laporan detail mengenai dana masuk dari Giovanni Group.” Nada suaranya berubah lebih tajam.
Direktur keuangan menelan ludah. “Baik … tapi ada sedikit ketidaksesuaian angka, pak.”
Leonardo menatapnya. Tatapannya cukup membuat pria itu terdiam. “Ketidaksesuaian seperti apa?”
“Kami masih menelusuri, tetapi—” Leonardo mengangkat tangan, menghentikannya.
“Saya ingin jawabannya malam ini. Tidak besok. Tidak minggu depan. Malam ini.”
Direktur itu mengangguk cepat. “Ya, tentu.”
Sofia, yang berdiri di belakang Leonardo, mencatat semuanya tanpa ekspresi. Namun ia tahu, hanya dari nada suara tuannya itu, bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi. Rapat berlangsung lebih dari satu jam sebelum Leonardo akhirnya menutupnya dengan satu kalimat yang membuat semua orang tegang:
“Mulai hari ini, siapa pun yang bermain di belakang saya … akan saya singkirkan.” Seketika semua keluar, suasana ruang rapat berubah sunyi. Sofia tidak beranjak.
“Signor Moretti.” ia ragu sejenak.
“Apakah ini tentang keluarga Santoro?” Leonardo membuka kancing lengan jasnya “Mereka bergerak lagi.”
Sofia menghela napas tipis. “Mereka tidak akan berhenti sampai—”
“Mereka mendapatkan kepalaku,” potong Leonardo, datar.
“Aku tahu.” Hening sesaat sebelum interkom di dinding berbunyi.
“Panggilan untuk Anda, signore.” Sofia menutup mata. Panggilan itu bukan dari keluarga biasa.
Leonardo mengambil telepon tanpa ekspresi. “Aku dalam perjalanan.”
Setelah malam memeluk kota, mobil hitam panjang meluncur keluar dari gedung Moretti Motors, menuju jalanan tersembunyi yang tidak pernah terlihat di peta resmi Milan. Mobil berhenti di sebuah villa tua yang dikelilingi patung batu dan pohon sycamore besar. Di sinilah dunia lain milik Leonardo berada.
Dunia hitam. Dunia keluarga Moretti, ketika ia masuk, para penjaga memberi hormat. Ruangan remang-remang itu dipenuhi aroma cerutu dan kayu tua. Di ujungnya, seorang pria tua duduk di kursi besar, wajahnya keras dan dingin Vittorio Moretti, ayah Leonardo.
“Kau terlambat,” ujar Vittorio.
Leonardo duduk dengan tenang. “Aku adalah CEO. Tidak mungkin aku meninggalkan kantor begitu saja.”
“Kau pewaris keluarga Moretti sebelum kau seorang CEO,” suara Vittorio bergetar oleh otoritas yang tak pernah pudar.
Leonardo hanya terdiam,ia sudah mendengar kalimat itu ribuan kali. Sudah dari awal Leonardo ingin masuk ke dunia Mafia.
“Keluarga Santoro menyerang gudang kita di Roma,” kata Vittorio kemudian.
“Mereka ingin memancingmu keluar,” jawab Leonardo,
Leonardo mengeraskan rahang. “Biarkan mereka mencoba.”
“Kau harus lebih berhati-hati, Leo. Mereka mengincar wanita itu,” kata Vittorio
Leonardo menatap ayahnya. “Wanita yang mana?”
“Yang kau selamatkan tujuh tahun lalu.” Leonardo Hening seketika, nama yang tidak pernah ia sebut selama bertahun-tahun tiba-tiba memenuhi benaknya.
“Elena, sekarang dia adalah jurnalis sekarang.” Vittorio menyeringai tipis.
“Dan dia menggali kasus yang tak seharusnya dia jamah.” Jantung Leonardo berdegup lebih cepat, untuk pertama kalinya malam itu.
“Dia tidak tahu apapun tentang kita,” tegasnya.
“Belum.”Vittorio mencondongkan tubuh.
“Dan itu hanya soal waktu sampai keluarga.” Pintu villa tiba-tiba terbuka dengan keras.
Salah satu anak buah berlari masuk. “Signor! Polisi! Mereka melakukan penyelidikan mendadak di pelabuhan kita!”
Vittorio berdiri. “Santoro membocorkan sesuatu!”
Leonardo menghela napas pelan. “Aku yang akan pergi.”
“Apa kau gila?” Vittorio membentaknya. “Kau CEO, Leonardo! Kau tidak boleh terlihat di pelabuhan atau—”
“Santoro ingin perang.”Leonardo mengambil mantel hitam panjangnya.
“Dan aku tidak pernah kalah dalam perang.”Sofia masuk tergesa-gesa.
“Signore! Anda tidak bisa pergi sendirian—” Leonardo menatapnya tajam.
“Aku tidak pernah sendirian,” kata Leonardo lalu pergi.
Pelabuhan malam itu dipenuhi polisi, lampu merah-biru berputar di udara dingin. Leonardo berdiri di kejauhan, bersembunyi di balik gudang besar yang gelap. Anak buahnya mengintai, siap memberi perintah kapanpun, tetapi pandangannya terhenti ketika ia melihat seseorang berdiri di tepi area investigasi.
Seorang wanita dengan rambut cokelat panjang dan tatapan tajam penuh analisis, memegang buku catatan dan kamera kecil, Leonardo membeku, ia melihat Elena Russo.
Wanita itu tampak tidak menyadari bahaya yang mengintai di sekelilingnya. Ia berbicara dengan seorang polisi, menunjukkan foto-foto, lalu memotret kontainer yang sedang dibuka.
“Kita tidak bisa membiarkannya disini,” gumam salah satu anak buah Leonardo.
“Dia tidak boleh tahu,” kata Leonardo dengan suara rendah, hampir seperti desahan.
“Tapi dia sudah tahu terlalu banyak, signore,” ucapan itu membuat Leonardo menatap pria tersebut dengan tajam.
“Sentuh satu helai rambutnya,” katanya dingin,
“dan aku akan memastikan kau menghilang dari muka bumi.” Anak buahnya menelan ludah.
Sebelum Leonardo sempat bergerak mendekati Elena, sebuah suara tiba-tiba memecah malam. Terdengar suara yang cukup sekeras dan ternyata orang tersebut adalah polisi.
“Hey! Ada orang di atas!” Lampu polisi mengarah tepat pada atap gudang tempat Leonardo berdiri.
Semuanya terjadi dalam detik-detik yang terasa seperti mimpi buruk, polisi mengarahkan senjata ke atas.Elena menoleh ke arah cahaya.Dan diantara sorotan lampu itu matanya bertemu dengan mata Leonardo, ia tampak shock, kaget, tidak percaya.Dan seakan waktu berhenti. Leonardo mundur satu langkah lalu dua langkah, namun suara polisi kembali mengaum
“Turun! Angkat Tangan kalian! Kami sudah melihat Anda!” Elena menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia baca.
Leonardo hanya punya dua pilihan, Melarikan diri atau menghadapi wanita yang paling ingin dilindungi. Namun sebelum ia memilih, sebuah tembakan dilepaskan dan terdengar suara
DOR!
Peluru menghantam dekat kakinya. Polisi semakin mendekat. Elena berlari ke arah cahaya, hendak melihat siapa pria itu, dan tepat ketika wajah Elena semakin jelas terlihat.
“Bukan malam ini.” Leonardo berbisik pada dirinya sendiri,
Ia menjatuhkan dirinya ke sisi belakang atap dan menghilang dalam kegelapan. Elena menatap kosong ke arah tempat pria itu menghilang namun di antara bayangan, ia menemukan sesuatu terjatuh di lantai pelabuhan sebuah cincin hitam dengan simbol Moretti Family.
"ELENA, JANGAN INGAT "Terlambat. sangat terlambat, karena retakan terakhir di dalam jiwa Elena akhirnya pecah. CRAAAAAAKKKKK, bukan langit, bukan dunia, bukan realitas. Namun kenangan, kenangan yang selama ini terkunci jauh lebih dalam daripada fragmen. Jauh lebih dalam daripada siklus, jauh lebih dalam daripada waktu dan saat segel itu hancur seluruh keberadaan menjadi putih. Tidak ada suara, tidak ada cahaya, tidak ada dunia hanya Elena sendirian. Di tengah kehampaan, lalu perlahan seseorang muncul, seorang gadis, rambut panjang, mata yang sama seperti miliknya dan senyum yang terasa sangat familiar. Bukan Elena pertama, bukan fragmen, bukan bayangan melainkan dirinya sendiri. Versi dirinya yang paling asli, ersi dirinya sebelum dunia ada. Sebelum waktu lahir, sebelum cinta, sebelum perpisahan dan saat Elena melihatnya air matanya langsung jatuh.Karena akhirnya ia mengingat semuanya, dulu sebelum segalanya. Hanya ada dua keberadaan, dirinya dan seseorang yang selalu berada di samp
"Aku akhirnya menemukanmu." Kalimat itu menggema.Bukan di udara, bukan di langit, bukan di dunia yang sedang runtuh. Namun langsung di dalam jiwa Elena dan bersamaan dengan itu seluruh realitas berhenti, total, tidak ada suara, tidak ada waktu, tidak ada gerakan. Hanya Elena dan makhluk yang berdiri di balik retakan langit. Air mata Elena jatuh perlahan, karena untuk pertama kalinya sejak semua siklus dimulai ia merasakan sesuatu. Bukan ketakutan, bukan kesedihan. Namun kerinduan, kerinduan yang begitu tua begitu dalam hingga terasa lebih tua daripada dunia. Lebih tua daripada waktu, lebih tua daripada dirinya sendiri. Makhluk itu menatap Elena lama, sangat lama seolah memastikan sesuatu. Seolah memastikan bahwa orang yang selama ini ia cari akhirnya benar-benar berdiri di hadapannya lalu ia mengucapkan nama itu lagi.Nama yang tidak pernah terdengar dalam satu siklus pun, nama yang bahkan tidak berani diingat oleh waktu dan saat nama itu terdengar seluruh keberadaan Elena bergetar.
"Mungkin sebenarnya baru saja dimulai." Kalimat itu menggantung di antara retakan langit.Di antara dunia yang runtuh, di antara waktu yang kehilangan makna dan di tengah semua itu, Elena berdiri diam, air matanya masih jatuh. Namun kali ini bukan karena takut. Bukan karena kehilangan, bukan karena dunia yang hampir berakhir, melainkan karena akhirnya ia mengerti. Selama ini ia dan Leonardo tidak pernah melawan takdir. Tidak pernah melawan fragmen, tidak pernah melawan entitas. Mereka hanya terus bergerak di dalam permainan yang jauh lebih besar. Permainan yang bahkan lebih tua daripada waktu. Retakan langit semakin melebar dan dari baliknya Elena melihat sesuatu. Bukan sosok, bukan makhluk. Bukan dewa.Namun benang, jutaan, milyaran, benang cahaya. Menghubungkan seluruh kehidupan, seluruh dunia, seluruh kemungkinan dan yang paling mengejutkan setiap benang yang terhubung ke Elena juga terhubung ke Leonardo. Dalam setiap kehidupan, dalam setiap siklus, dalam setiap dunia, mereka selal
"Tolong ... jangan lihat yang itu." Suara Leonardo masih bergetar.Rapuh, lebih rapuh daripada saat tubuhnya mulai menghilang, lebih rapuh daripada saat dunia pertama runtuh. Karena kali ini yang ia takutkan bukan kehancuran dunia. Melainkan kebenaran, kebenaran yang selama ribuan siklus ia sembunyikan dari Elena. Namun Elena tidak bisa berpaling lagi. Ia sudah terlalu jauh melangkah, terlalu banyak kehilangan, terlalu banyak mengingat dan sekarang ia harus tahu. CRAAAAKKK Langit terbelah. Kenangan terakhir terbuka, bukan perlahan. Namun sekaligus dan Elena melihatnya, dunia pertama, dunia yang belum mengenal fragmen. Belum mengenal siklus, belum mengenal penderitaan tanpa akhir. Dan di tengah dunia itu ia melihat dirinya, Elena pertama. Berdiri di bawah hujan cahaya, menangis, memeluk seseorang. Seseorang yang tubuhnya dipenuhi retakan.Seseorang yang sedang sekarat.Leonardo atau nama asli yang selama ini hilang dari ingatan. Air mata Elena langsung jatuh, karena dalam seluruh kenan
Pintu itu terus terbuka perlahan. Namun setiap celah yang bertambah membuat dunia kehilangan sesuatu, warna, suara, kenangan bahkan waktu dan di tengah kehancuran itu Elena hanya bisa menatap satu hal. Leonardo karena untuk pertama kalinya ia melihat proses itu dengan jelas. Leonardo benar-benar se
"Kalau itu benar dia..." Leonardo tidak pernah menyelesaikan kalimatnya.Karena sosok yang keluar dari retakan itu akhirnya membuka matanya sepenuhnya dan pada detik yang sama seluruh dunia kehilangan keseimbangannya DUUUUMMMM, jantung raksasa di langit meledak menjadi ribuan retakan cahaya. Seluru
"Dan di detik itu … Leonardo akhirnya terlihat benar-benar hancur."Dunia menjadi sunyi, bukan sunyi karena tidak ada suara. Namun sunyi karena semuanya menunggu, langit menunggu, fragmen menunggu. Entitas-entitas kuno menunggu, bahkan realitas itu sendiri seolah menahan napas.Menunggu keputusan E
“Tolong jangan pergi ke mereka.” Suara Leonardo bergetar.Rapuh, nyaris hilang bersama tubuhnya sendiri dan untuk pertama kalinya Elena tidak langsung bergerak mendekatinya. Karena sesuatu di langit terus memanggilnya lebih kuat.“Kami menemukanmu.” Ribuan su












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.