author-banner
Peter Samudra
Peter Samudra
Author

Novels by Peter Samudra

Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Deandra selalu punya satu aturan sederhana dalam hidupnya: jangan pernah jatuh cinta. Di usia 24 tahun, ia sudah terlalu sering melihat bagaimana cinta menghancurkan orang. Jadi ia memilih aman-bertato, bersikap dingin, menjaga jarak. Semua orang boleh dekat, tapi tak boleh terlalu dalam. Sayangnya, hati tidak pernah benar-benar patuh pada logika. Di tengah terapi yang ia jalani untuk menyembuhkan trauma masa kecilnya, Deandra justru dipaksa menghadapi satu hal yang paling ia hindari: perasaan yang tumbuh tanpa izin. Tatapan yang terlalu lama. Kepedulian yang terasa berbeda. Seseorang yang tak pergi meski ia berkali-kali menyuruhnya menjauh. Ia tahu risikonya. Ia tahu bagaimana akhirnya nanti. Tapi bagaimana kalau untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak ingin menyelamatkannya, melainkan memilih tinggal dan berjalan bersamanya? Di antara luka yang belum sembuh dan masa lalu yang terus mengejar, Deandra harus memilih: tetap memeluk ketakutannya... atau mencoba mempercayai cinta, meski itu berarti membuka kemungkinan untuk hancur lagi. Karena terkadang, yang paling menakutkan bukanlah patah hati- melainkan bahagia, dan tidak tahu cara mempertahankannya. Esensi Cinta adalah cerita tentang trauma yang tidak selesai, tentang keluarga yang tidak sempurna, dan tentang keberanian paling sulit: membiarkan diri sendiri bahagia.
Read
Chapter: Eps. 47 Malam yang Menghancurkan Segalanya
“Sial… seharian ini gue belum makan apa pun,” gumam gue dalam hati. “Eh, maaf-maaf ya bro. Nggak sengaja,” ucap gue ramah. Tapi ia justru menatap dengan wajah menantang.“Bra bro bra bro. Jangan sok asik lo! Norak! Biasa minum di trotoar ya nyet.” Gue menguatkan diri. “Lho gue kan udah minta maaf. Nggak sengaja juga. Kenapa lo malah ngata-ngatain?”Temannya ikut memprovokasi, memaki sembarangan.Gue menghitung cepat—empat orang. Nafas gue menahan bara yang mulai berkumpul di kedua telapak tangan ini. “Pokoknya gue nggak mau mulai duluan,” bisik gue, mengingat janji kepada Sonya. Setelah semua pelatihan boxing yang dia ajarkan ke gue.“Yaudah, yang penting gue udah minta maaf, oke,” ucap gue sambil memanggil bartender untuk meminta bill. Tapi tampaknya mereka tidak puas. Sebuah tangan menarik bahu gue, dan sebelum sempat bereaksi, sebuah pukulan keras mendarat di wajah ini. Bukk! Gue jatuh tersungkur.Dan untuk sesaat, di antara kabur lampu-lampu neon, gue berpikir: mungkin ini caranya
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Eps. 46 Telepon Tengah Malam
Diana“Din, tadi kamu nggak ketemu Kakakmu? Katanya dia dapet proyek di hotel tempatmu kerja?” Ibu memastikan. “Iya, ketemu kok, Ma,” jawab gue sambil mengeringkan rambut seusai mandi.“Terus, kok nggak pulang bareng?” Ibu menatap heran. “Ya ngapain? Kan kendaraannya udah masing-masing,” jawab gue, bingung dengan pertanyaan Ibu. “Ya, iya sih. Cuma Kakakmu itu pergi dari siang lho. Ini udah jam sebelas malam masa acaranya belum selesai.”Gue langsung menoleh. “Ya, keluar kali. Orang acaranya udah selesai dari sore, eh—” Gue keceplosan. “Lho, berarti Kakakmu pergi ke mana?” Ibu tampak khawatir. “Ya nggak tau, Ma. Lagian tumben Mama khawatir? Kak Andra kan emang sering pulang tengah malem.” Tampak Ibu berpikir sejenak. “Iya, Mama tau… tapi perasaan Mama dari tadi kayak nggak enak gitu.” Gue tertawa geli di dalam hati. Mengingat Kak Andra tadi sedang bersama seorang wanita.Tiga jam berlalu. Gue sudah di dalam kamar hendak beristirahat. Sesaat sebelum terlelap, tiba-tiba ponsel gue berder
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Eps. 45 Kebenaran yang Disembunyikan
“Sebentar…” Gue menelan ludah, merasakan rongga dada gue mengencang. “Kalo gue perhatikan lagi… gaya rambut wanita di tempat Aya itu… mirip sama Joana. Sial!” Degup jantung gue melonjak tanpa izin, seperti tubuh gue bereaksi lebih cepat daripada otak.“Kalau… wanita itu emang Joana…” suara gue berubah menjadi bisikan gemetar, “Pantas aja ia terlihat terkejut dan terburu-buru menutupi wajahnya.” Kepala gue berpacu, merangkai potongan-potongan peristiwa yang tadinya tidak pernah gue kira bisa saling terkait.“Kalau itu Joana… berarti Aya… mereka…”Gue terdiam. Hening yang menampar. “Berarti selama ini Aya udah kenal Joana.” Kalimat itu jatuh di dalam diri gue seperti batu yang dilempar ke sumur—tenggelam dalam-dalam, tapi suaranya menggema panjang. Gue mengepal tangan, rahang mengeras.“Gue harus konfirmasi langsung ke Aya.” Napas gue memburu, amarah dan kecurigaan saling sikut berebut ruang. “Kalau memang itu kenyataannya…” Gue menatap lantai seakan lantai itu punya jawaban. “Berarti s
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Eps. 44 Datang Hanya Untuk Pergi
Hari ini gue dan Abay datang ke acara launching batik kenalan Vero itu. Sebenarnya cuma untuk memastikan hasil pekerjaan kami aman, tapi entah kenapa langkah gue terasa berat sejak awal.Acaranya lumayan semarak—aroma kain baru, sorot lampu yang hangat, dan denting musik tradisional yang dicampur beat modern. Mereka memperkenalkan batik dengan cara yang tidak pernah gue lihat sebelumnya; seperti masa lalu yang merangkul masa kini tanpa rasa canggung.“Dra, kayaknya acara reuni sebelah udah dimulai tuh. Gue ke sana ya?” ucap Abay, sambil melirik ke arah meja resepsionis yang baru siap di depan ballroom samping. “Iye, sono.” Gue berusaha terlihat santai, padahal kepala gue mengintip ke luar terus dari tadi.“Kenapa lo kayak orang sembunyi dari utang?” Abay bingung. “Berdiri aja di sini?” lanjutnya memberi contoh. “Ah, ogah. Ntar ketemu anak-anak yang nggak pengen gue temuin. Males.” Abay geleng-geleng.Tiba-tiba—“Eh, Joana tuh!” Gue langsung panik mirip rampok ketahuan tidur di loteng.
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Eps. 43 Takdir yang Diketuk Sekali Lagi
Beberapa minggu belakangan ini gue beraktivitas bagaikan zombie—bukan zombie versi film yang jalannya patah-patah dan suka ngeluh “arrggh,” tapi zombie multitasking yang kerjanya sambil melamun, minum kopi terasa air putih, dan cuma off ketika akhirnya kepala gue mendarat di atas keyboard komputer.Ada beberapa faktor yang membuat gue ngegas sekeras ini. Salah satunya: gue ingin hidup nyaman di hari tua dengan melakukan hobi yang gue suka. Inspirasi gue? Ayahnya Sonya. Pria pensiunan yang hidupnya tenang, damai, dan fokus sama kesenangan pribadi—bukan omongan orang lain.Untuk menuju ke sana, gue harus mulai merapikan masa depan dari sekarang. Di balik itu semua, ada alasan lain yang sebenarnya lebih… gelap, yaitu semacam pembuktian diri ke ayah kandung gue. Bukan supaya dia bangga, tapi supaya gue tidak terus dihantui oleh rasa bersalah hanya karena asal-usul kelahiran sendiri.“Bay, buat acara batik besok udah aman kan? Apa masih ada yang belom jadi?” tanya gue memastikan, terkait p
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Eps. 42 Cinta yang Kehilangan Waktu
Aya“Menurutmu… dengan kondisiku sekarang, apa aku sebaiknya menemui Deandra, Ay?” Suara Joana pecah seperti kaca tipis yang retak tanpa suara. Matanya sembab, meninggalkan jejak malam yang terlalu panjang untuk ditanggung seorang diri. Gerak bahunya naik turun, menahan sesuatu yang lebih berat dari sekadar tangis.“Awalnya…” aku mulai pelan, “waktu dulu mendengar ceritamu… aku ingin sekali menemukan pria itu untukmu, Jo. Setidaknya… hanya itu yang bisa aku lakukan.” Kata-kataku menggantung di udara. “Tapi dengan situasi kalian saat ini… aku jadi ragu.” Joana mengangkat wajah, tampak rapuh tapi memaksa dirinya untuk tetap bertahan.“Bukan, Ay. Bukan itu yang mau aku dengar. Aku butuh jawabanmu sebagai sahabatku. Bukan Aya—seorang psikolog,” ujar Joana. Aku terdiam, lalu menarik napas panjang, merelakan kejujuran menembus ruang di antara kami.Hening. Tapi bukan hening yang tenang—ini hening yang berdenyut, berisik, penuh percakapan yang hanya terjadi di dalam kepalanya. Aku bisa melih
Last Updated: 2026-04-22
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status