author-banner
laalibraa
Author

Romances de laalibraa

Aku Baik-baik Saja, Katanya.

Aku Baik-baik Saja, Katanya.

Neira Askara Dinasa tidak pernah tahu rasanya menjadi prioritas. Di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, ia justru terjebak di tengah badai pertengkaran kedua orang tuanya yang tak kunjung usai. Keadaan kian menyakitkan karena sang ibu terang-terangan pilih kasih, mencurahkan seluruh kasih sayang hanya untuk kedua kakaknya, sementara Neira dibiarkan tumbuh dalam kesepian. Ketidakharmonisan keluarga itu membentuk Neira menjadi gadis yang tertutup dan sulit bergaul. Beruntung, ia memiliki Luna yang polos dan Kara yang selalu menjadi penengah di antara mereka. Namun, di balik perlindungan para sahabatnya, Neira tetap menyimpan luka batin yang dalam. Hingga suatu hari, muncul Renan Luca Kalundra. Laki-laki tinggi dengan tatapan hangat yang selalu menampakkan lengkungan bulan sabit di matanya setiap kali tersenyum. Renan hadir menawarkan kebahagiaan yang selama ini Neira nantikan. Namun, Neira segera menyadari bahwa Renan bukanlah sosok tanpa cela; laki-laki itu pun membawa luka fisiknya sendiri dan menyimpan pedih yang coba ia sembunyikan di balik senyumannya. Di antara tuntutan keluarga yang menyesakkan dan kehadiran Renan yang menenangkan, Neira harus belajar membuka diri. Akankah luka yang sama justru menyatukan mereka, ataukah rahasia di masa lalu akan kembali meruntuhkan kebahagiaan yang baru saja Neira temukan?
Ler
Chapter: Bagian 5
Wajah Neira seketika memucat, lebih pucat dari awan mendung yang mungkin sedang menggantung di atas mereka. Suara sobekan itu terdengar begitu nyata di telinganya, mengalahkan deru mesin motor Renan yang masih melaju stabil. Renan, yang belum menyadari drama di jok belakang, sedikit menoleh karena merasakan pegangan Neira pada jaketnya mendadak mengencang—atau lebih tepatnya, mencengkeram. "Nei? Kenapa? Pegangan yang bener, bentar lagi sampai sekolah," ucap Renan setengah berteriak agar suaranya menembus helm. Neira tidak menjawab. Tangannya perlahan meraba ke arah belakang, dan benar saja, jemarinya menyentuh serat kain corduroy yang kini mencuat tak beraturan. Ada celah menganga di sana. Hawa dingin yang menyentuh kulitnya bukan lagi sekadar firasat. Panik mulai mengambil alih. Pikirannya berputar cepat: Pertama: Bagaimana ia bisa turun dari motor tanpa terlihat aneh? Kedua: Ia sedang bersama Renan, cowok yang baru saja membuatnya merasa nyaman, dan sekarang ia harus menghada
Última atualização: 2026-03-18
Chapter: Bagian 4
Sinar matahari mampu menerobos masuk lewat celah-celah gorden, membuat seorang gadis di atas kasurnya menggeliat. Namun, sedetik kemudian, gadis itu terlonjak kaget. Jam berapa sekarang? Apakah dirinya kesiangan lagi? Dengan tangan gemetar, ia menyambar ponsel yang tergeletak di atas nakas. Layarnya menyala, menunjukkan angka 07.15. "Gawat!" pekiknya tertahan. Hanya tersisa lima belas menit sebelum gerbang sekolah dikunci rapat. Tanpa memedulikan rambutnya yang berantakan seperti sarang burung, ia melompat turun dari tempat tidur. Lalu menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi. Neira berlarian ke sana dan kemari mencari perlengkapan sekolahnya, Neira bahkan berlari sambil memakai kaus kaki, lalu berlari sambil memakai dasi walaupun hasilnya miring, dan gadis itu bahkan memakai sepatu dengan terburu-buru sampai baru menyadari bahwa dirinya memakai kaus kaki yang berbeda. Beginilah gambarannya: "Hah?! Jam 07.22?! Mati aku!" Di tengah kepanikan itu, Neira berlarian ke sana ke
Última atualização: 2026-03-12
Chapter: Bagian 3
"Makasih," gumam Neira singkat, masih dengan nada jual mahal yang tersisa. Renan menerima helm itu sambil memperhatikannya dengan saksama, memastikan gadis di depannya sudah benar-benar tenang. "Masuk sana, langsung istirahat. Jangan dipikirin lagi yang tadi, ya? Maaf udah bikin lo takut." Neira hanya mengangguk pelan, lalu berbalik menuju gerbang. Namun, sebelum benar-benar masuk, ia sempat menoleh sedikit dan mendapati Renan masih setia menunggu di sana, memastikan dirinya masuk dengan aman ke dalam rumah. Rasa kesal yang tadi membubung kini perlahan terkikis, digantikan oleh kehangatan kecil yang menyusup di hatinya. Begitu Neira memutar kenop dan melangkah masuk, suara debuman pintu yang tertutup di belakangnya seolah menjadi lonceng peringatan. Di ruang tamu yang hanya diterangi lampu temaram, ayahnya sudah duduk menanti dengan rahang mengeras. "Dari mana kamu jam segini baru pulang?" Suara bariton itu menggelegar, memecah sunyi rumah yang mencekam. Neira mematung di ambang
Última atualização: 2026-03-08
Chapter: Bagian 2
"Dia itu pinter banget, Nei! Walaupun sering bolos gitu, tapi posisi ranking 1 gak pernah ada yang bisa rebut dari dia!" Jelas Kara dengan lantang. Neira mengangguk, "oh gitu ya." Kara menyipitkan kedua matanya, "jangan-jangan lo suka dia!" Tanya Kara dengan lantang membuat Neira terlonjak merasa kaget. Neira memutar bola matanya malas, "itu dia tadi pd abis! Jauh-jauh deh dari manusia kayak gitu." "Yeu, pd itu bagus! Gak kayak lo, yang kerjaannya di kelas mulu. Main dek main!" Luna berjalan kearah meja mereka, sambil tersenyum ceria, "jeng jeng jeng! Ini punya Kara, ini punya Neira, dan ini punya Luna!" Ucapnya sambil duduk di kursi tempatnya. "Makasih ya, Lun." Ucap Neira dan Kara secara bersamaan membuat mereka bertiga tertawa riang. "Makan, biar kenyang!" Ucap Luna. Notifikasi masuk di ponselnya membuat Neira membukanya, pesan dari nomor baru berhasil mengalihkan perhatiannya. "Save gue masa depan lo." Gumam Neira di dalam hatinya, berani-beraninya orang ini mengir
Última atualização: 2026-03-08
Chapter: Bagian 1
"Ra? Kamu kenapa gak keluar kamar? Ibu sisain kamu sayap ayam, kesukaan kamu." Ucap wanita paruh baya di depan kamar putrinya. Neira yang sedang duduk di meja belajarnya menoleh menatap kearah pintu, "nanti aku turun." Jawabnya, terdengar langkah kaki Ibunya menuruni tangga. Neira membuka buku hariannya, lalu menuliskan beberapa kata "Neira gak pernah suka sayap ayam, Ibu tidak tahu ya? Neira sukanya paha ayam. Ibu selalu memberikan itu ke Abang." Saat menuruni tangga, samar-samar Neira mendengar percakapan Abangnya dengan sang Ibu. "Lah ini tadi yang Kean makan pahanya tinggal 1 Bu? Adik gimana? Dia kan paling suka paha." "Kamu ini ngaco, Neira kan sukanya sayap ayam." Lalu Neira melihat Ayahnya keluar dari kamar yang tepat di depan tangga, "tidak usah di ambil pusing, makan saja yang ada!" Neira langsung melanjutkan langkahnya menuju meja makan, mengambil bagiannya lalu kembali naik ke atas, ke kamarnya. Gerak-gerik Neira tak luput dari pandangan Kean, lelaki itu meras
Última atualização: 2026-03-02
Você também pode gostar
Perfect Match
Perfect Match
Young Adult · Adhista wp
3.2K visualizações
Tentang Kita
Tentang Kita
Young Adult · Dhona Aliqhiya
3.2K visualizações
Ruang hati
Ruang hati
Young Adult · Aqila Hasna
3.1K visualizações
Dilema Cinta
Dilema Cinta
Young Adult · Buah_Kaktus
3.1K visualizações
Wait At 24
Wait At 24
Young Adult · Ghandistri
3.1K visualizações
Gagal Move On!
Gagal Move On!
Young Adult · donatlumer
3.1K visualizações
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status