author-banner
laalibraa
Author

Novels by laalibraa

Aku Baik-baik Saja, Katanya.

Aku Baik-baik Saja, Katanya.

Neira Askara Dinasa tidak pernah tahu rasanya menjadi prioritas. Di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, ia justru terjebak di tengah badai pertengkaran kedua orang tuanya yang tak kunjung usai. Keadaan kian menyakitkan karena sang ibu terang-terangan pilih kasih, mencurahkan seluruh kasih sayang hanya untuk kedua kakaknya, sementara Neira dibiarkan tumbuh dalam kesepian. Ketidakharmonisan keluarga itu membentuk Neira menjadi gadis yang tertutup dan sulit bergaul. Beruntung, ia memiliki Luna yang polos dan Kara yang selalu menjadi penengah di antara mereka. Namun, di balik perlindungan para sahabatnya, Neira tetap menyimpan luka batin yang dalam. Hingga suatu hari, muncul Renan Luca Kalundra. Laki-laki tinggi dengan tatapan hangat yang selalu menampakkan lengkungan bulan sabit di matanya setiap kali tersenyum. Renan hadir menawarkan kebahagiaan yang selama ini Neira nantikan. Namun, Neira segera menyadari bahwa Renan bukanlah sosok tanpa cela; laki-laki itu pun membawa luka fisiknya sendiri dan menyimpan pedih yang coba ia sembunyikan di balik senyumannya. Di antara tuntutan keluarga yang menyesakkan dan kehadiran Renan yang menenangkan, Neira harus belajar membuka diri. Akankah luka yang sama justru menyatukan mereka, ataukah rahasia di masa lalu akan kembali meruntuhkan kebahagiaan yang baru saja Neira temukan?
Read
Chapter: Bagian 8
Neira menegang di kursinya. Suara gesekan kursi-kursi lain yang mulai berdiri terdengar seperti lonceng kematian baginya. Ia melirik Kara dengan tatapan minta tolong yang sangat amat putus asa. Kara, sang penengah yang selalu sigap, langsung menangkap sinyal itu. Saat Bu Endang baru saja akan memimpin lagu, Kara mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan wajah yang sangat serius. "Maaf, Bu Endang! Interupsi sebentar," potong Kara dengan nada sopan namun tegas. Bu Endang mengernyit, membetulkan kacamatanya. "Ada apa, Kara? Kita mau mulai menyanyi." "Itu, Bu... Neira kakinya kram berat," ujar Kara sambil menunjuk ke arah kaki Neira yang sengaja diselonjorkan dengan kaku. "Tadi habis dihukum lari keliling lapangan sama Pak Bambang karena telat. Kayaknya ototnya ketarik, Bu. Jangankan berdiri, digerakkan sedikit saja dia sudah merintih kesakitan." Luna yang duduk di sebelah Neira langsung bereaksi dengan bakat aktingnya yang baru saja terasah. Ia memegangi bahu Neira dengan wajah
Last Updated: 2026-03-22
Chapter: Bagian 7
"Oke, beres! Ini sudah kuat, Nei," bisik Kara sambil menusukkan peniti terakhir dengan presisi. Ia menepuk rok Neira pelan, memastikan lipatannya terlihat natural meskipun ada tiga peniti yang menahan beban kain corduroy itu di balik jaket. Neira mengembuskan napas lega yang sangat panjang. "Makasih banget, Kar. Gue nggak tahu harus gimana kalau nggak ada lo sama Luna." Luna langsung memeluk lengan Neira dengan ceria. "Sama-sama, Neira! Aku seneng banget kalau kamu sudah nggak sedih lagi. Tapi jaket Renan jangan dilepas dulu ya, nanti kalau penitinya copot pas kamu jalan, bisa gawat!" Renan berbalik setelah memastikan Fanya benar-benar hilang dari cakrawala kantin. "Sudah aman? Ayo, bel masuk bentar lagi bunyi. Gue anter sampai depan kelas kalian." Mereka berempat berjalan beriringan menuju gedung utama. Neira berjalan agak kaku, tangannya terus memegang ikatan jaket di pinggangnya, sementara Kara dan Luna mengapitnya seperti pengawal pribadi. Renan berjalan di sisi luar, sese
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: Bagian 6
"Jangan berlebihan, Fan." Suara Renan terdengar rendah, namun ada nada peringatan yang sangat dingin di sana. Ia berdiri tegak di antara Neira dan Fanya, menatap gadis itu dengan tatapan yang belum pernah Neira lihat sebelumnya—tajam dan tidak bersahabat. Fanya meringis, mencoba menarik tangannya kembali. "Apaan sih, Ren? Gue cuma mau bantu dia benerin jaketnya, kok lo yang sewot?" Renan tidak melepaskan cengkeramannya sampai ia yakin Fanya tidak akan mencoba hal aneh lagi. "Dia nggak butuh bantuan lo. Urus aja urusan lo sendiri di kelas. Atau mau gue laporin ke guru BK kalau lo sengaja gangguin orang yang lagi jalanin hukuman?" Melihat tatapan serius Renan, nyali Fanya mendadak ciut. Ia mendengus kesal, menyentak tangannya lepas, lalu melenggang pergi sambil menggerutu tidak jelas. Begitu Fanya menjauh, Renan langsung berbalik menghadap Neira. Ia segera berjongkok di depan gadis itu untuk merapikan kembali ikatan jaketnya yang sempat melonggar. Tangannya bergerak cekatan, mem
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: Bagian 5
Wajah Neira seketika memucat, lebih pucat dari awan mendung yang mungkin sedang menggantung di atas mereka. Suara sobekan itu terdengar begitu nyata di telinganya, mengalahkan deru mesin motor Renan yang masih melaju stabil. Renan, yang belum menyadari drama di jok belakang, sedikit menoleh karena merasakan pegangan Neira pada jaketnya mendadak mengencang—atau lebih tepatnya, mencengkeram. "Nei? Kenapa? Pegangan yang bener, bentar lagi sampai sekolah," ucap Renan setengah berteriak agar suaranya menembus helm. Neira tidak menjawab. Tangannya perlahan meraba ke arah belakang, dan benar saja, jemarinya menyentuh serat kain corduroy yang kini mencuat tak beraturan. Ada celah menganga di sana. Hawa dingin yang menyentuh kulitnya bukan lagi sekadar firasat. Panik mulai mengambil alih. Pikirannya berputar cepat: Pertama: Bagaimana ia bisa turun dari motor tanpa terlihat aneh? Kedua: Ia sedang bersama Renan, cowok yang baru saja membuatnya merasa nyaman, dan sekarang ia harus menghada
Last Updated: 2026-03-18
Chapter: Bagian 4
Sinar matahari mampu menerobos masuk lewat celah-celah gorden, membuat seorang gadis di atas kasurnya menggeliat. Namun, sedetik kemudian, gadis itu terlonjak kaget. Jam berapa sekarang? Apakah dirinya kesiangan lagi? Dengan tangan gemetar, ia menyambar ponsel yang tergeletak di atas nakas. Layarnya menyala, menunjukkan angka 07.15. "Gawat!" pekiknya tertahan. Hanya tersisa lima belas menit sebelum gerbang sekolah dikunci rapat. Tanpa memedulikan rambutnya yang berantakan seperti sarang burung, ia melompat turun dari tempat tidur. Lalu menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi. Neira berlarian ke sana dan kemari mencari perlengkapan sekolahnya, Neira bahkan berlari sambil memakai kaus kaki, lalu berlari sambil memakai dasi walaupun hasilnya miring, dan gadis itu bahkan memakai sepatu dengan terburu-buru sampai baru menyadari bahwa dirinya memakai kaus kaki yang berbeda. Beginilah gambarannya: "Hah?! Jam 07.22?! Mati aku!" Di tengah kepanikan itu, Neira berlarian ke sana ke
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Bagian 3
"Makasih," gumam Neira singkat, masih dengan nada jual mahal yang tersisa. Renan menerima helm itu sambil memperhatikannya dengan saksama, memastikan gadis di depannya sudah benar-benar tenang. "Masuk sana, langsung istirahat. Jangan dipikirin lagi yang tadi, ya? Maaf udah bikin lo takut." Neira hanya mengangguk pelan, lalu berbalik menuju gerbang. Namun, sebelum benar-benar masuk, ia sempat menoleh sedikit dan mendapati Renan masih setia menunggu di sana, memastikan dirinya masuk dengan aman ke dalam rumah. Rasa kesal yang tadi membubung kini perlahan terkikis, digantikan oleh kehangatan kecil yang menyusup di hatinya. Begitu Neira memutar kenop dan melangkah masuk, suara debuman pintu yang tertutup di belakangnya seolah menjadi lonceng peringatan. Di ruang tamu yang hanya diterangi lampu temaram, ayahnya sudah duduk menanti dengan rahang mengeras. "Dari mana kamu jam segini baru pulang?" Suara bariton itu menggelegar, memecah sunyi rumah yang mencekam. Neira mematung di ambang
Last Updated: 2026-03-08
You may also like
Miss Antagonist
Miss Antagonist
Young Adult · Vinnara
34.2K views
Without You [Indonesia]
Without You [Indonesia]
Young Adult · hihelloray
33.2K views
Hey, Danish!
Hey, Danish!
Young Adult · Vinnara
31.0K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status