LOGIN"Makasih," gumam Neira singkat, masih dengan nada jual mahal yang tersisa.
Renan menerima helm itu sambil memperhatikannya dengan saksama, memastikan gadis di depannya sudah benar-benar tenang. "Masuk sana, langsung istirahat. Jangan dipikirin lagi yang tadi, ya? Maaf udah bikin lo takut." Neira hanya mengangguk pelan, lalu berbalik menuju gerbang. Namun, sebelum benar-benar masuk, ia sempat menoleh sedikit dan mendapati Renan masih setia menunggu di sana, memastikan dirinya masuk dengan aman ke dalam rumah. Rasa kesal yang tadi membubung kini perlahan terkikis, digantikan oleh kehangatan kecil yang menyusup di hatinya. Begitu Neira memutar kenop dan melangkah masuk, suara debuman pintu yang tertutup di belakangnya seolah menjadi lonceng peringatan. Di ruang tamu yang hanya diterangi lampu temaram, ayahnya sudah duduk menanti dengan rahang mengeras. "Dari mana kamu jam segini baru pulang?" Suara bariton itu menggelegar, memecah sunyi rumah yang mencekam. Neira mematung di ambang pintu, tangannya masih meremas tali tas dengan kuat. Belum sempat ia membuka mulut untuk membela diri, sang ayah sudah berdiri dan melangkah mendekat dengan tatapan mengintimidasi. "Ayah sudah bilang berkali-kali, Neira! Anak perempuan tidak pantas keluyuran sampai larut malam. Mau jadi apa kamu, hah?" Segala kehangatan yang sempat ia rasakan dari perlakuan Renan tadi seketika menguap, digantikan oleh rasa sesak yang jauh lebih menyakitkan. Di depan ayahnya, Neira kembali menjadi gadis kecil yang tidak punya ruang untuk menjelaskan. "Tadi Neira enggak dapet kendaraan untuk pulang, Neira sem—" Prang! Kalimat Neira terputus seketika saat Andra—ayahnya—tiba-tiba menyambar gelas di atas meja dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga itu membuat Neira tersentak hebat, jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa detik. "Jangan cari-cari alasan!" bentak Andra, napasnya memburu penuh amarah. "Harusnya kamu bisa telepon rumah atau pulang lebih awal kalau memang tahu susah cari kendaraan! Kamu sengaja mau bikin malu Ayah dengan keluyuran malam-malam, hah?" Neira menatap nanar serpihan kaca yang berserakan di dekat kakinya, sama hancurnya dengan perasaannya saat ini. Penjelasan yang sudah ia susun di kepala mendadak hilang tak berbekas, tertelan oleh rasa takut yang luar biasa. "Mas, sudah!" Tiba-tiba ibunya datang menengahi, menahan lengan Andra yang masih tampak murka. "Neira, ke kamar saja, sayang. Ganti baju lalu istirahat," lanjutnya dengan suara bergetar, mencoba melindungi sang putri dari amukan yang lebih parah. Neira hanya bisa mengangguk cepat dengan mata berkaca-kaca. Ia segera berlari menaiki tangga, berusaha menulikan telinga dari segala kekacauan di lantai bawah. Namun, apakah semuanya selesai begitu saja? Tentu tidak. Begitu pintu kamar Neira tertutup rapat, suara teriakan yang lebih kencang justru meledak dari ruang tamu. Ayah dan ibunya mulai bertengkar hebat; saling melempar tuduhan dan meneriaki satu sama lain. Suara barang yang bergeser dan bentakan Andra yang menggelegar menembus celah pintu kamar, membuat Neira hanya bisa meringkuk di balik pintu sambil menutup telinganya rapat-rapat. Malam yang seharusnya menjadi tempat untuk beristirahat, justru berubah menjadi medan perang yang menghancurkan jiwanya. Suara dari ponselnya mengalihkan atensi Neira. Dengan cepat, ia membuka pesan tersebut. "Hai, lo langsung tidur, kan?" Itulah isi pesan singkat yang masuk. Pengirimnya adalah Renan. Pesan singkat dari Renan seolah menjadi tali penyelamat yang dilemparkan ke tengah badai. Di tengah kebisingan yang memekakkan telinga dari luar kamar, layar ponsel yang bercahaya itu terasa seperti satu-satunya ruang aman yang tersisa bagi Neira. Neira tidak membalas pesan itu dengan teks. Dengan jempol yang gemetar, ia justru menekan ikon gagang telepon. Hanya butuh dua nada sambung sebelum suara berat Renan terdengar di ujung sana. "Halo, Nei? Tumben telepon—" "Ren, jangan tutup teleponnya. Tolong, jangan diam," potong Neira dengan suara serak. Ia sengaja mengatur volume loudspeaker ponselnya hingga maksimal. Neira berdiri, menggenggam ponsel itu seperti sebuah jimat, lalu menyentak pintu kamarnya hingga terbuka lebar. Di ruang tamu, Andra baru saja hendak melayangkan makian baru kepada istrinya, namun langkah kaki Neira yang tegas dan suara bising dari ponselnya membuat suasana mendadak mati kutu. "Neira! Masuk ke kamar!" bentak Andra, matanya merah padam. Namun, Neira tidak bergerak. Ia justru mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke arah ayahnya. Dari speaker ponsel, suara Renan terdengar bingung namun cemas, "Nei? Lo kenapa? Itu suara siapa yang teriak? Nei, jawab gue!" Kehadiran suara asing dari "dunia luar" itu seperti siraman air es bagi kedua orang tuanya. Andra tertegun, tangannya yang semula menunjuk-nunjuk kini turun perlahan, menyadari bahwa aib dan kemarahannya baru saja bocor ke telinga orang lain. "Dengar itu, Yah? Ibu?" Neira bersuara, dingin dan bergetar. "Teman-teman Neira tau. Dunia tau rumah ini seperti apa. Jadi, mau lanjut teriak sampai tetangga juga ikut menelepon polisi?" Suasana menjadi hening yang menyakitkan. Renan di seberang sana mulai memanggil nama Neira dengan nada panik, menyadari ada yang tidak beres. Neira tetap menatap ayahnya dengan berani, meski air mata kini mulai membanjiri pipinya. Setelah gertakan itu, amarah di ruang tamu seolah kehilangan oksigennya. Andra, yang biasanya mendominasi dengan suara menggelegar, kini hanya mampu terdiam dengan napas memburu dan rahang yang mengeras—bukan karena emosinya reda, melainkan karena rasa malu yang amat sangat. Ibunya pun hanya bisa terduduk di sofa sambil menutup wajahnya, terisak pelan tanpa kata-kata. "Masuk ke kamarmu, Neira," ucap Andra dengan nada yang jauh lebih rendah, meski masih tersirat ketajaman di sana. Tanpa menunggu balasan, ia berbalik dan membanting pintu kamar utama dengan keras, diikuti oleh ibunya yang bergegas masuk ke ruang kerja. Ruang tamu itu mendadak kosong, menyisakan keheningan yang perih dan aroma ketegangan yang masih menggantung di udara. Neira perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Ia kembali ke kamarnya, mengunci pintu, dan merosot ke lantai. Di ujung telepon, suara Renan masih terdengar, namun kini lebih lembut dan hati-hati. "Nei? Mereka udah pergi?" tanya Renan pelan. Neira memejamkan mata, membiarkan punggungnya bersandar pada kayu pintu yang dingin. "Ya. Mereka berhenti. Makasih ya, Ren. Makasih udah tetap di telepon." "Gue nggak ke mana-mana, Nei," balas Renan dengan nada yang memberikan rasa aman yang tidak pernah ia dapatkan dari orang-orang di balik pintu kamarnya sendiri. "Lo mau cerita, atau mau gue temenin diem sampai lo merasa tenang?" Untuk pertama kalinya malam itu, Neira merasa ia tidak perlu lagi menutup telinganya rapat-rapat. "Lo tidur aja, gue udak gak apa-apa." "Teleponnya nggak usah dimatiin, gue temenin lo tidur. Hal ini menurut lo nggak alay, kan?" Neira yang mendengarnya mengerutkan keningnya, "gue nggak tau, soalnya pertama kali buat gue". Jawab Neira seadanya. Gelak tawa dari Renan membuat Neira melihat ke ponselnya, "ternyata gue yang pertama?" Mendengar Renan bertanya seperti itu, entah mengapa muka Neira memerah. "Yaudah terserah lo aja, gue coba tidur, ya? Gue ngantuk." "Okay, sleep tight!" Setelah sambungan telepon itu terputus, keheningan di kamar Neira tidak lagi terasa mencekam seperti sebelumnya. Ucapan Renan yang terakhir masih terngiang, meninggalkan rasa hangat yang sedikit mengaburkan sisa-sisa trauma dari pertengkaran orang tuanya tadi. Neira menarik selimutnya tinggi-tinggi, mencoba mencari kenyamanan di tengah kamar yang biasanya terasa seperti penjara. Detak jantungnya yang tadi berpacu karena ketakutan, kini melambat karena sesuatu yang berbeda—perasaan aneh yang ia sendiri belum mengerti. Namun, tepat saat ia mulai memejamkan mata, sayup-sayup suara isakan dari balik dinding kamar sebelahnya terdengar kembali. Ibunya. Neira terdiam dalam kegelapan. Ternyata, meski badai besar telah berhenti, sisa-sisa reruntuhannya masih nyata. Ia menatap layar ponselnya yang kini gelap, mempertimbangkan apakah ia benar-benar bisa tidur, atau justru rasa bersalah karena membiarkan ibunya menangis sendiri akan terus menghantuinya sepanjang malam. Neira memejamkan mata erat-erat, menarik selimut hingga menutupi seluruh kepalanya. Suara isakan ibunya memang terdengar memilukan, namun rasa lelah yang teramat sangat telah mematikan empatinya malam itu. Ia sudah memberikan seluruh energinya untuk berdiri di ambang pintu tadi; ia tidak punya sisa tenaga lagi untuk menjadi penenang bagi orang dewasa yang seharusnya melindunginya. Baginya, malam ini cukup. Ia sudah cukup hancur. Layar ponselnya kembali menyala sebentar, menampilkan wallpaper standar yang redup. Neira memunggunginya, berusaha menulikan pendengarannya dari suara-suara di luar sana. Biarlah kali ini ia menjadi egois. Ia hanya ingin tenggelam dalam kantuk, membawa rasa hangat dari pesan Renan ke dalam mimpinya, dan berharap saat ia bangun besok, dunia sedikit lebih ramah padanya. Perlahan, napasnya mulai teratur, dan kesadarannya perlahan hanyut, meninggalkan rumah yang masih menyimpan luka itu dalam sunyi.Wajah Neira seketika memucat, lebih pucat dari awan mendung yang mungkin sedang menggantung di atas mereka. Suara sobekan itu terdengar begitu nyata di telinganya, mengalahkan deru mesin motor Renan yang masih melaju stabil. Renan, yang belum menyadari drama di jok belakang, sedikit menoleh karena merasakan pegangan Neira pada jaketnya mendadak mengencang—atau lebih tepatnya, mencengkeram. "Nei? Kenapa? Pegangan yang bener, bentar lagi sampai sekolah," ucap Renan setengah berteriak agar suaranya menembus helm. Neira tidak menjawab. Tangannya perlahan meraba ke arah belakang, dan benar saja, jemarinya menyentuh serat kain corduroy yang kini mencuat tak beraturan. Ada celah menganga di sana. Hawa dingin yang menyentuh kulitnya bukan lagi sekadar firasat. Panik mulai mengambil alih. Pikirannya berputar cepat: Pertama: Bagaimana ia bisa turun dari motor tanpa terlihat aneh? Kedua: Ia sedang bersama Renan, cowok yang baru saja membuatnya merasa nyaman, dan sekarang ia harus menghada
Sinar matahari mampu menerobos masuk lewat celah-celah gorden, membuat seorang gadis di atas kasurnya menggeliat. Namun, sedetik kemudian, gadis itu terlonjak kaget. Jam berapa sekarang? Apakah dirinya kesiangan lagi? Dengan tangan gemetar, ia menyambar ponsel yang tergeletak di atas nakas. Layarnya menyala, menunjukkan angka 07.15. "Gawat!" pekiknya tertahan. Hanya tersisa lima belas menit sebelum gerbang sekolah dikunci rapat. Tanpa memedulikan rambutnya yang berantakan seperti sarang burung, ia melompat turun dari tempat tidur. Lalu menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi. Neira berlarian ke sana dan kemari mencari perlengkapan sekolahnya, Neira bahkan berlari sambil memakai kaus kaki, lalu berlari sambil memakai dasi walaupun hasilnya miring, dan gadis itu bahkan memakai sepatu dengan terburu-buru sampai baru menyadari bahwa dirinya memakai kaus kaki yang berbeda. Beginilah gambarannya: "Hah?! Jam 07.22?! Mati aku!" Di tengah kepanikan itu, Neira berlarian ke sana ke
"Makasih," gumam Neira singkat, masih dengan nada jual mahal yang tersisa. Renan menerima helm itu sambil memperhatikannya dengan saksama, memastikan gadis di depannya sudah benar-benar tenang. "Masuk sana, langsung istirahat. Jangan dipikirin lagi yang tadi, ya? Maaf udah bikin lo takut." Neira hanya mengangguk pelan, lalu berbalik menuju gerbang. Namun, sebelum benar-benar masuk, ia sempat menoleh sedikit dan mendapati Renan masih setia menunggu di sana, memastikan dirinya masuk dengan aman ke dalam rumah. Rasa kesal yang tadi membubung kini perlahan terkikis, digantikan oleh kehangatan kecil yang menyusup di hatinya. Begitu Neira memutar kenop dan melangkah masuk, suara debuman pintu yang tertutup di belakangnya seolah menjadi lonceng peringatan. Di ruang tamu yang hanya diterangi lampu temaram, ayahnya sudah duduk menanti dengan rahang mengeras. "Dari mana kamu jam segini baru pulang?" Suara bariton itu menggelegar, memecah sunyi rumah yang mencekam. Neira mematung di ambang
"Dia itu pinter banget, Nei! Walaupun sering bolos gitu, tapi posisi ranking 1 gak pernah ada yang bisa rebut dari dia!" Jelas Kara dengan lantang. Neira mengangguk, "oh gitu ya." Kara menyipitkan kedua matanya, "jangan-jangan lo suka dia!" Tanya Kara dengan lantang membuat Neira terlonjak merasa kaget. Neira memutar bola matanya malas, "itu dia tadi pd abis! Jauh-jauh deh dari manusia kayak gitu." "Yeu, pd itu bagus! Gak kayak lo, yang kerjaannya di kelas mulu. Main dek main!" Luna berjalan kearah meja mereka, sambil tersenyum ceria, "jeng jeng jeng! Ini punya Kara, ini punya Neira, dan ini punya Luna!" Ucapnya sambil duduk di kursi tempatnya. "Makasih ya, Lun." Ucap Neira dan Kara secara bersamaan membuat mereka bertiga tertawa riang. "Makan, biar kenyang!" Ucap Luna. Notifikasi masuk di ponselnya membuat Neira membukanya, pesan dari nomor baru berhasil mengalihkan perhatiannya. "Save gue masa depan lo." Gumam Neira di dalam hatinya, berani-beraninya orang ini mengir
"Ra? Kamu kenapa gak keluar kamar? Ibu sisain kamu sayap ayam, kesukaan kamu." Ucap wanita paruh baya di depan kamar putrinya. Neira yang sedang duduk di meja belajarnya menoleh menatap kearah pintu, "nanti aku turun." Jawabnya, terdengar langkah kaki Ibunya menuruni tangga. Neira membuka buku hariannya, lalu menuliskan beberapa kata "Neira gak pernah suka sayap ayam, Ibu tidak tahu ya? Neira sukanya paha ayam. Ibu selalu memberikan itu ke Abang." Saat menuruni tangga, samar-samar Neira mendengar percakapan Abangnya dengan sang Ibu. "Lah ini tadi yang Kean makan pahanya tinggal 1 Bu? Adik gimana? Dia kan paling suka paha." "Kamu ini ngaco, Neira kan sukanya sayap ayam." Lalu Neira melihat Ayahnya keluar dari kamar yang tepat di depan tangga, "tidak usah di ambil pusing, makan saja yang ada!" Neira langsung melanjutkan langkahnya menuju meja makan, mengambil bagiannya lalu kembali naik ke atas, ke kamarnya. Gerak-gerik Neira tak luput dari pandangan Kean, lelaki itu meras