LOGINNeira Askara Dinasa tidak pernah tahu rasanya menjadi prioritas. Di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, ia justru terjebak di tengah badai pertengkaran kedua orang tuanya yang tak kunjung usai. Keadaan kian menyakitkan karena sang ibu terang-terangan pilih kasih, mencurahkan seluruh kasih sayang hanya untuk kedua kakaknya, sementara Neira dibiarkan tumbuh dalam kesepian. Ketidakharmonisan keluarga itu membentuk Neira menjadi gadis yang tertutup dan sulit bergaul. Beruntung, ia memiliki Luna yang polos dan Kara yang selalu menjadi penengah di antara mereka. Namun, di balik perlindungan para sahabatnya, Neira tetap menyimpan luka batin yang dalam. Hingga suatu hari, muncul Renan Luca Kalundra. Laki-laki tinggi dengan tatapan hangat yang selalu menampakkan lengkungan bulan sabit di matanya setiap kali tersenyum. Renan hadir menawarkan kebahagiaan yang selama ini Neira nantikan. Namun, Neira segera menyadari bahwa Renan bukanlah sosok tanpa cela; laki-laki itu pun membawa luka fisiknya sendiri dan menyimpan pedih yang coba ia sembunyikan di balik senyumannya. Di antara tuntutan keluarga yang menyesakkan dan kehadiran Renan yang menenangkan, Neira harus belajar membuka diri. Akankah luka yang sama justru menyatukan mereka, ataukah rahasia di masa lalu akan kembali meruntuhkan kebahagiaan yang baru saja Neira temukan?
View More"Ra? Kamu kenapa gak keluar kamar? Ibu sisain kamu sayap ayam, kesukaan kamu." Ucap wanita paruh baya di depan kamar putrinya.
Neira yang sedang duduk di meja belajarnya menoleh menatap kearah pintu, "nanti aku turun." Jawabnya, terdengar langkah kaki Ibunya menuruni tangga. Neira membuka buku hariannya, lalu menuliskan beberapa kata "Neira gak pernah suka sayap ayam, Ibu tidak tahu ya? Neira sukanya paha ayam. Ibu selalu memberikan itu ke Abang." Saat menuruni tangga, samar-samar Neira mendengar percakapan Abangnya dengan sang Ibu. "Lah ini tadi yang Kean makan pahanya tinggal 1 Bu? Adik gimana? Dia kan paling suka paha." "Kamu ini ngaco, Neira kan sukanya sayap ayam." Lalu Neira melihat Ayahnya keluar dari kamar yang tepat di depan tangga, "tidak usah di ambil pusing, makan saja yang ada!" Neira langsung melanjutkan langkahnya menuju meja makan, mengambil bagiannya lalu kembali naik ke atas, ke kamarnya. Gerak-gerik Neira tak luput dari pandangan Kean, lelaki itu merasa bersalah ke adiknya. Neira duduk di kursi belajarnya dan meletakkan sepiring makanan di meja. Ia lebih memilih membuka buku harian, lalu menulis: “Lagi dan lagi Ibu emang gak pernah inget soal Neira. Hanya ada Kakak dan Abang di hati ibu, Neira jadi gak laper lagi, Bu." Ponselnya bergetar, menampilkan panggilan grup dari kedua temannya. Neira menghela nafasnya, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. "KARAA, NEIRAA! Besok kita bekal makan yuk!" Suara teriakan di sebrang sana membuat Neira sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Luna pelan-pelan bisa gak sih!" Balas Neira tidak terima. Suara tertawa Kara membuat Neira melihat ke ponselnya, "Udah Ra, Lun kalian ini gak bisa banget untuk berkomunikasi." Ucap Kara menengahi kedua temannya. "Ya lagian ni bocah mau bertanggungjawab apa kalau semisalnya gendang telinga gue ini rusak!" Jawab Neira. Luna cekikikan, "gak apa apa Nei, kan bisa beli gendang baru." Neira memutar bola matanya malas saat mendengar suara Luna, dan Kara malah tertawa. "Yeu kalo deket gue banting Lun!" "Apa Luna, mau ngomong apa? Gue lupa," Tanya Kara agar kedua temannya berhenti berdebat. "Besok bekal makan gitu, Luna masakin juga buat kalian mau gak?" Neira menelan ludahnya, terakhir kali dirinya mencoba makanan buatan Luna, Neira langsung diare. Entah makanan apa yang anak itu buat, entah melihat resep darimana. "Hah? Enggak deh Lun!" Suara Kara dan Neira secara bersamaan. "Loh kalian kompak gitu! Lagi barengan ya!" "Yakali Lun! Udah ah, gue sibuk." Ucap Neira, lalu mematikan ponselnya. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, helaan nafas terus terdengar. Malam ini dirinya tidur dengan perasaan yang sulit di jelaskan. Bahkan, makanan yang tadi dirinya bawa masih utuh. Neira melirik kearah jam dinding, jarum pendek menunjukkan pukul 01.30 malam. Neira merasa haus, dirinya terduduk di atas kasur, kakinya sudah menyentuh lantai yang dingin. Namun, suara teriakan dari lantai bawah membuat Neira kembali ke tengah kasur. "Mas! Aku capek, kamu selalu saja pulang jam segini!" Teriak Ranti sambil menunjuk kearah jam. "Jam berapa ini! Kamu mabuk lagi? Iya!" Lelaki setengah baya itu menghela nafas kasar, "Kamu ini kenapa, Ranti? Saya baru pulang Ini!" "Aku capek mas!" Galih membanting vas bunga di meja membuat Ranti berteriak, "Kamu pikir saya tidak capek!" Di dalam kamar bernuansa putih abu, Neira duduk di atas kasurnya, memeluk lututnya, dan pandangannya lurus kearah pintu. Hampir setiap hari dirinya terbangun di tengah malam hanya untuk mendengarkan kedua orangtuanya bertengkar. Padahal, Neira kira malam ini akan terasa sunyi. Tidak terasa air matanya menetes, rumah ini sangat berisik. Neira meringkuk di atas kasur, mencoba memejamkan matanya, walaupun suara kedua orangtuanya terus terdengar. Pagi yang tidak tenang untuk Neira, dirinya kesiangan, lagi. Neira menuruni tangga dengan langkah cepat, saat anak tangga terakhir kaki gadis itu sampai keseleo. "Hati-hati lah, Ra!" Teriak Ibunya dari arah dapur. "Bu, aku langsung berangkat." Ucapnya langsung melenggang pergi. Neira harus mengejar bus yang menuju ke sekolahnya, Ayah nya tidak pengertian. Padahal berangkat pagi bisa sambil mengantarkan dirinya ke sekolah. Tetapi, Ayahnya sudah tidak kelihatan. Saat sudah sampai penurunan halte bus di dekat sekolahnya, Neira langsung bayar, dan buru-buru berlari. Pintu gerbang sudah di tutup, kali ini Neira merutuki dirinya yang selalu menunda alarm tambah 5 menit. "Neira! Lagi-lagi kamu ya saya lihat! Kamu ini bagaimana? Apa perlu saya memanggil orang tua kamu? Hari-harinya kamu kesiangan terus!" Teriak guru BK saat Neira mencoba memasuki gerbang. Neira menghela nafasnya gusar, lagi-lagi dirinya pasti harus berdiri di depan bendera dan memberi hormat. "Maaf bu." Hanya itu yang bisa Neira ucapkan, dirinya sudah pasrah. "PERGI HORMAT DI LAPANGAN, SE KA RANG!" Neira membulatkan matanya langsung berlarian ke arah lapang, masih untung dirinya di perbolehkan masuk. Pagi ini ada yang berbeda dari biasanya, di sebelah Neira, ada anak lelaki yang di hukum juga. Tetapi, siapa dia? Neira merasa, dirinya baru melihat lelaki itu untuk yang pertama kali. "Gue tau gue ganteng." Neira membuang mukanya, dia tidak sengaja memperhatikan lelaki itu secara terang-terangan. Apa katanya tadi? Ganteng? Tapi, menurut Neira memang seperti itu sih. Walaupun, terlihat ada luka lebam di wajahnya. "Gue sering liat lo di hukum, kali ini gue temenin." Neira kembali menatap lelaki di sebelahnya, "gue gak nanya!" Jawab Neira dengan lantang, pagi nya ini sangat membosankan. Jam mata pelajaran kedua berbunyi, akhirnya Neira bisa masuk ke dalam kelasnya. Dengan langkah gontai dan wajah yang memucat, Neira duduk di bangkunya. "Ra! You okay? Udah makan belum sih lo?" Pertanyaan dari Kara mendapatkan jawaban gelengan kepala dari Neira. "Ya ampun, Ra! Ayo ikut Luna ke kantin, kita bolos aja lah yu!" Kara menjitak kepala Luna yang berdiri di sebelahnya, "gue saranin lo simpen aja ide-ide lo itu dek." Luna mendengus sambil mengusap-usap kepalanya, "udah gue gak apa-apa. Kalian duduk gih!" Ucap Neira membuat kedua temannya langsung menduduki kursi mereka. Sudah hampir mendekati jam istirahat, Neira sudah tidak tahan. Cacing di perutnya meronta-ronta meminta makanan. "Lun, kali ini gue setuju untuk ikut lo ke kantin. Kali-kali bolos!" Ucap Neira menarik turunkan alisnya. "Nah mantap! Ayo Kar kita capcus!" Kara memutar bola matanya malas, padahal di depan guru sedang menjelaskan, tapi ide Neira tidak buruk juga. Mereka bertiga berhasil keluar kelas, dengan alasan ingin pergi ke toilet. Tapi, disini lah mereka sekarang, Kantin. Luna langsung memesankan makanan untuk kedua temannya. Neira merasa risih, karena sedari tadi seorang lelaki menatapnya, yang tadi pagi di hukum bersamanya. Neira terus mengusap belakang lehernya, dirinya tidak tahu apa yang sekarang telah ia rasakan. "Ra, kenapa?" Akhirnya Kara yang duduk tepat di depan Neira bersuara, karena gerak-gerik temannya itu sangat berbeda. Neira memang lurus kearah depan, belakangnya punggung Kara. "Dia manusia bukan sih? Lo bisa lihat dia?" Seketika Kara langsung melihat ke belakang. Tawanya terdengar kencang membuat Neira mengernyitkan keningnya, "Ra! Ya ampun HAHAHAHA," Karena sekarang lelaki itu menatap mereka dengan mengernyitkan dahinya juga, Neira langsung menepuk-nepuk tangan Kara. "Ihh stop! Apaan sih Kara?" Tanya Neira dengan sewot. "Ya, lo sih! Itu manusia tulen, lo gak tau dia? Makanya ikut gue sama Luna kalo kita pergi ke kantin!" Jawab Kara. Kara menoleh ke belakang, lalu menatap Neira dengan pandangan serius. "Dia itu Renan Luca Kalundra."Neira menegang di kursinya. Suara gesekan kursi-kursi lain yang mulai berdiri terdengar seperti lonceng kematian baginya. Ia melirik Kara dengan tatapan minta tolong yang sangat amat putus asa. Kara, sang penengah yang selalu sigap, langsung menangkap sinyal itu. Saat Bu Endang baru saja akan memimpin lagu, Kara mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan wajah yang sangat serius. "Maaf, Bu Endang! Interupsi sebentar," potong Kara dengan nada sopan namun tegas. Bu Endang mengernyit, membetulkan kacamatanya. "Ada apa, Kara? Kita mau mulai menyanyi." "Itu, Bu... Neira kakinya kram berat," ujar Kara sambil menunjuk ke arah kaki Neira yang sengaja diselonjorkan dengan kaku. "Tadi habis dihukum lari keliling lapangan sama Pak Bambang karena telat. Kayaknya ototnya ketarik, Bu. Jangankan berdiri, digerakkan sedikit saja dia sudah merintih kesakitan." Luna yang duduk di sebelah Neira langsung bereaksi dengan bakat aktingnya yang baru saja terasah. Ia memegangi bahu Neira dengan wajah
"Oke, beres! Ini sudah kuat, Nei," bisik Kara sambil menusukkan peniti terakhir dengan presisi. Ia menepuk rok Neira pelan, memastikan lipatannya terlihat natural meskipun ada tiga peniti yang menahan beban kain corduroy itu di balik jaket. Neira mengembuskan napas lega yang sangat panjang. "Makasih banget, Kar. Gue nggak tahu harus gimana kalau nggak ada lo sama Luna." Luna langsung memeluk lengan Neira dengan ceria. "Sama-sama, Neira! Aku seneng banget kalau kamu sudah nggak sedih lagi. Tapi jaket Renan jangan dilepas dulu ya, nanti kalau penitinya copot pas kamu jalan, bisa gawat!" Renan berbalik setelah memastikan Fanya benar-benar hilang dari cakrawala kantin. "Sudah aman? Ayo, bel masuk bentar lagi bunyi. Gue anter sampai depan kelas kalian." Mereka berempat berjalan beriringan menuju gedung utama. Neira berjalan agak kaku, tangannya terus memegang ikatan jaket di pinggangnya, sementara Kara dan Luna mengapitnya seperti pengawal pribadi. Renan berjalan di sisi luar, sese
"Jangan berlebihan, Fan." Suara Renan terdengar rendah, namun ada nada peringatan yang sangat dingin di sana. Ia berdiri tegak di antara Neira dan Fanya, menatap gadis itu dengan tatapan yang belum pernah Neira lihat sebelumnya—tajam dan tidak bersahabat. Fanya meringis, mencoba menarik tangannya kembali. "Apaan sih, Ren? Gue cuma mau bantu dia benerin jaketnya, kok lo yang sewot?" Renan tidak melepaskan cengkeramannya sampai ia yakin Fanya tidak akan mencoba hal aneh lagi. "Dia nggak butuh bantuan lo. Urus aja urusan lo sendiri di kelas. Atau mau gue laporin ke guru BK kalau lo sengaja gangguin orang yang lagi jalanin hukuman?" Melihat tatapan serius Renan, nyali Fanya mendadak ciut. Ia mendengus kesal, menyentak tangannya lepas, lalu melenggang pergi sambil menggerutu tidak jelas. Begitu Fanya menjauh, Renan langsung berbalik menghadap Neira. Ia segera berjongkok di depan gadis itu untuk merapikan kembali ikatan jaketnya yang sempat melonggar. Tangannya bergerak cekatan, mem
Wajah Neira seketika memucat, lebih pucat dari awan mendung yang mungkin sedang menggantung di atas mereka. Suara sobekan itu terdengar begitu nyata di telinganya, mengalahkan deru mesin motor Renan yang masih melaju stabil. Renan, yang belum menyadari drama di jok belakang, sedikit menoleh karena merasakan pegangan Neira pada jaketnya mendadak mengencang—atau lebih tepatnya, mencengkeram. "Nei? Kenapa? Pegangan yang bener, bentar lagi sampai sekolah," ucap Renan setengah berteriak agar suaranya menembus helm. Neira tidak menjawab. Tangannya perlahan meraba ke arah belakang, dan benar saja, jemarinya menyentuh serat kain corduroy yang kini mencuat tak beraturan. Ada celah menganga di sana. Hawa dingin yang menyentuh kulitnya bukan lagi sekadar firasat. Panik mulai mengambil alih. Pikirannya berputar cepat: Pertama: Bagaimana ia bisa turun dari motor tanpa terlihat aneh? Kedua: Ia sedang bersama Renan, cowok yang baru saja membuatnya merasa nyaman, dan sekarang ia harus menghada
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.