Share

Bagian 5

Author: Libra
last update publish date: 2026-03-18 14:38:37

Wajah Neira seketika memucat, lebih pucat dari awan mendung yang mungkin sedang menggantung di atas mereka. Suara sobekan itu terdengar begitu nyata di telinganya, mengalahkan deru mesin motor Renan yang masih melaju stabil.

Renan, yang belum menyadari drama di jok belakang, sedikit menoleh karena merasakan pegangan Neira pada jaketnya mendadak mengencang—atau lebih tepatnya, mencengkeram.

"Nei? Kenapa? Pegangan yang bener, bentar lagi sampai sekolah," ucap Renan setengah berteriak agar suaranya menembus helm.

Neira tidak menjawab. Tangannya perlahan meraba ke arah belakang, dan benar saja, jemarinya menyentuh serat kain corduroy yang kini mencuat tak beraturan. Ada celah menganga di sana. Hawa dingin yang menyentuh kulitnya bukan lagi sekadar firasat.

Panik mulai mengambil alih. Pikirannya berputar cepat:

Pertama: Bagaimana ia bisa turun dari motor tanpa terlihat aneh?

Kedua: Ia sedang bersama Renan, cowok yang baru saja membuatnya merasa nyaman, dan sekarang ia harus menghadapi situasi paling memalukan dalam sejarah hidupnya.

Ketiga: Rok krem itu adalah rok yang wajib semua murid pakai di hari-hari biasa.

"Ren..." suara Neira tercekat, nyaris hilang tertiup angin. "Ren, berhenti sebentar. Kayaknya... ada masalah."

Renan mengernyit di balik kaca helmnya, lalu perlahan menepikan motor di bawah pohon peneduh jalan yang sepi. Begitu motor berhenti sempurna, Neira tetap bergeming di posisinya, tidak berani turun.

Wajah Neira yang semula hanya pucat, kini mendadak terasa panas. Panik itu naik dua kali lipat karena ini bukan sekadar rok biasa untuk jalan-jalan—ini rok sekolah. Seragam yang harus ia pakai sampai bel pulang berbunyi, dan besok pun mungkin masih harus ia kenakan lagi.

Kain corduroy yang biasanya terasa kokoh itu kini terasa seperti pengkhianat. Robekannya cukup panjang, tepat di jahitan belakang, membuat Neira merasa angin sepoi-sepoi di jalanan terasa jauh lebih dingin dari biasanya.

Renan mematikan mesin motornya. Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara dedaunan yang bergesekan. Cowok itu turun, lalu menoleh ke belakang dengan ekspresi bingung.

"Nei? Kok nggak turun? Kakinya nyangkut?" tanya Renan, tangannya sudah bersiap ingin membantu.

Neira menggeleng cepat, tangannya masih mencengkeram erat pinggiran jok. "Ren... jangan liat ke belakang. Sumpah, jangan liat."

Renan mengernyit, tangannya terhenti di udara. "Kenapa? Ada ulat? Atau... ban bocor?"

"Bukan ban yang bocor, Ren," bisik Neira dengan nada putus asa. "Rok gue... robek. Gara-gara polisi tidur tadi."

Hening sejenak. Renan mengerjapkan mata, mencoba mencerna situasi. Ia melirik ke arah besi pegangan motornya yang memang agak sedikit tajam di ujungnya, lalu beralih ke wajah Neira yang sudah menunduk dalam, menyembunyikan rona merah padam di pipinya.

Tanpa banyak bicara, Renan langsung melepas jaket varsity yang ia kenakan. Aroma parfum maskulin yang tadi sempat menenangkan Neira kini kembali tercium, namun kali ini terasa seperti penyelamat.

"Pakai ini," kata Renan pendek, sambil menyodorkan jaketnya ke arah Neira. "Ikat di pinggang. Nggak akan kelihatan kok, jaket gue gede."

Neira mendongak, menatap jaket itu dengan ragu. "Tapi nanti lo kedinginan? Kita masih harus ke sekolah..."

"Gampang, gue kan cowok. Yang penting rok sekolah lo ketutup dulu. Ayo, buruan turun sebelum ada orang lewat," desak Renan dengan nada santai, seolah hal ini bukan masalah besar baginya.

Neira pun mengikatkan jaket Renan di pinggangnya, mereka berdua lalu menaiki motor, dan langsung menuju ke sekolah.

Kali ini mereka datang terlambat, dengan penampilan Neira yang acak-acakan, guru BK memelototi mereka. Neira dan Renan di suruh lari mengelilingi lapangan sekolah.

Neira beberapa kali berhenti dari larinya dengan nafas yang tidak teratur. Pagi ini sungguh menyiksa dirinya, Neira mulai merutuki dirinya sendiri yang bangun kesiangan tadi. Seharusnya malam tadi dirinya tidak usah menangis, Neira akui dirinya terlalu cengeng.

Keringat dingin mulai bercampur dengan keringat lelah di pelipis Neira. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, bukan hanya karena paru-parunya yang mulai terasa panas, tapi juga karena beban mental yang ia bawa sejak semalam. Matanya yang sembab—hasil dari tangisan berjam-jam di balik bantal—terasa perih saat terpapar sinar matahari pagi yang mulai terik.

Di depannya, Renan berlari dengan ritme yang lebih stabil, meski ia juga tampak kelelahan. Sesekali cowok itu menoleh ke belakang, memastikan Neira tidak tertinggal terlalu jauh.

"Nei, pelan-pelan aja. Jangan dipaksain," ujar Renan setengah berbisik saat mereka melewati pos guru BK yang sedang lengah.

Neira berhenti lagi, membungkuk sambil memegang lututnya. Napasnya tersengal, pendek-pendek dan tidak beraturan. Dadanya sesak, dan ingatan tentang alasan ia menangis semalam kembali berkelebat seperti film rusak di kepalanya. Ia merasa sangat kecil di tengah lapangan yang luas ini, dikelilingi oleh tatapan siswa lain dari jendela kelas yang mungkin sedang menertawakan nasibnya.

"Gue... gue nggak kuat, Ren," rintih Neira, suaranya parau.

Jaket yang melingkar di pinggangnya untuk menutupi rok yang robek itu terasa semakin berat dan panas. Ia menyesali semuanya: jam alarm yang ia abaikan, kesedihan yang ia biarkan berlarut-larut, hingga keputusannya untuk membiarkan dirinya terlihat selemah ini di depan Renan.

Renan berhenti berlari dan menghampirinya. Ia tidak tampak marah meski harus ikut dihukum gara-gara Neira. Sebaliknya, ia berdiri di antara Neira dan sinar matahari, memberikan sedikit bayangan teduh bagi gadis itu.

"Istirahat dulu di pinggir," kata Renan tegas tapi lembut. "Biar gue yang lari lebih banyak buat gantiin putaran lo. Guru BK nggak bakal hitung satu-satu kalau gue terus lari."

Neira mendongak, menatap mata Renan. Di saat ia merutuki kecengengannya sendiri, cowok di depannya ini justru menjadi orang pertama yang tidak menghakiminya.

Di tengah napasnya yang masih tersengal, Neira tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya dengan tajam dari koridor lantai dua. Fanya, teman seangkatan mereka yang sejak awal memang tidak menyukai kedekatan Neira dengan Renan, menyipitkan mata. Ia merasa ada yang aneh dengan penampilan Neira pagi ini.

"Tunggu, itu bukannya jaket Renan?" bisik Fanya pada temannya sambil menunjuk ke arah lapangan.

"Kenapa dililit di pinggang gitu? Padahal udaranya panas banget."

Rasa penasaran yang bercampur dengki membuat Fanya nekat turun ke lapangan. Ia berjalan santai ke arah pinggir lapangan, berpura-pura ingin mengambil bola basket yang tergeletak, namun tujuannya jelas: mendekati Neira yang sedang membungkuk kelelahan.

"Duh, kasihan banget ya, telat bareng terus dihukum bareng," sindir Fanya begitu jarak mereka tinggal beberapa meter. Ia berjalan memutari Neira dengan langkah pelan, matanya menyisir dari ujung kepala hingga ke pinggang Neira.

Neira menegang. Ia mencoba menegakkan tubuhnya, tangannya secara refleks memastikan ikatan jaket Renan di pinggangnya masih kencang.

"Gak usah ikut campur, Fan," sahut Neira parau.

"Gue cuma heran aja, Nei. Sejak kapan gaya lo jadi sok grunge pakai jaket cowok di pinggang pas lagi lari?" Fanya tersenyum sinis. "Atau... ada sesuatu yang lo sembunyiin di balik jaket itu? Jangan-jangan seragam lo nggak lengkap?"

Tanpa aba-aba, Fanya sengaja menyenggol bahu Neira cukup keras saat ia berpapasan, berpura-pura tersandung. Gerakan itu membuat salah satu lengan jaket yang diikat Neira terlepas kaitannya.

"Eh, sori!" seru Fanya dengan nada yang dibuat-buat, tangannya justru bergerak cepat seolah ingin membantu membenarkan jaket itu, padahal ia berniat menariknya agar rahasia Neira terbongkar di depan semua orang yang sedang berada di lapangan.

Detik itu juga, tepat saat jari Fanya hampir merenggut ujung lengan jaket yang melilit pinggang Neira, sebuah tangan besar dengan sigap mencengkeram pergelangan tangan Fanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Baik-baik Saja, Katanya.   Bagian 5

    Wajah Neira seketika memucat, lebih pucat dari awan mendung yang mungkin sedang menggantung di atas mereka. Suara sobekan itu terdengar begitu nyata di telinganya, mengalahkan deru mesin motor Renan yang masih melaju stabil. Renan, yang belum menyadari drama di jok belakang, sedikit menoleh karena merasakan pegangan Neira pada jaketnya mendadak mengencang—atau lebih tepatnya, mencengkeram. "Nei? Kenapa? Pegangan yang bener, bentar lagi sampai sekolah," ucap Renan setengah berteriak agar suaranya menembus helm. Neira tidak menjawab. Tangannya perlahan meraba ke arah belakang, dan benar saja, jemarinya menyentuh serat kain corduroy yang kini mencuat tak beraturan. Ada celah menganga di sana. Hawa dingin yang menyentuh kulitnya bukan lagi sekadar firasat. Panik mulai mengambil alih. Pikirannya berputar cepat: Pertama: Bagaimana ia bisa turun dari motor tanpa terlihat aneh? Kedua: Ia sedang bersama Renan, cowok yang baru saja membuatnya merasa nyaman, dan sekarang ia harus menghada

  • Aku Baik-baik Saja, Katanya.   Bagian 4

    Sinar matahari mampu menerobos masuk lewat celah-celah gorden, membuat seorang gadis di atas kasurnya menggeliat. Namun, sedetik kemudian, gadis itu terlonjak kaget. Jam berapa sekarang? Apakah dirinya kesiangan lagi? Dengan tangan gemetar, ia menyambar ponsel yang tergeletak di atas nakas. Layarnya menyala, menunjukkan angka 07.15. "Gawat!" pekiknya tertahan. Hanya tersisa lima belas menit sebelum gerbang sekolah dikunci rapat. Tanpa memedulikan rambutnya yang berantakan seperti sarang burung, ia melompat turun dari tempat tidur. Lalu menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi. Neira berlarian ke sana dan kemari mencari perlengkapan sekolahnya, Neira bahkan berlari sambil memakai kaus kaki, lalu berlari sambil memakai dasi walaupun hasilnya miring, dan gadis itu bahkan memakai sepatu dengan terburu-buru sampai baru menyadari bahwa dirinya memakai kaus kaki yang berbeda. Beginilah gambarannya: "Hah?! Jam 07.22?! Mati aku!" Di tengah kepanikan itu, Neira berlarian ke sana ke

  • Aku Baik-baik Saja, Katanya.   Bagian 3

    "Makasih," gumam Neira singkat, masih dengan nada jual mahal yang tersisa. Renan menerima helm itu sambil memperhatikannya dengan saksama, memastikan gadis di depannya sudah benar-benar tenang. "Masuk sana, langsung istirahat. Jangan dipikirin lagi yang tadi, ya? Maaf udah bikin lo takut." Neira hanya mengangguk pelan, lalu berbalik menuju gerbang. Namun, sebelum benar-benar masuk, ia sempat menoleh sedikit dan mendapati Renan masih setia menunggu di sana, memastikan dirinya masuk dengan aman ke dalam rumah. Rasa kesal yang tadi membubung kini perlahan terkikis, digantikan oleh kehangatan kecil yang menyusup di hatinya. Begitu Neira memutar kenop dan melangkah masuk, suara debuman pintu yang tertutup di belakangnya seolah menjadi lonceng peringatan. Di ruang tamu yang hanya diterangi lampu temaram, ayahnya sudah duduk menanti dengan rahang mengeras. "Dari mana kamu jam segini baru pulang?" Suara bariton itu menggelegar, memecah sunyi rumah yang mencekam. Neira mematung di ambang

  • Aku Baik-baik Saja, Katanya.   Bagian 2

    "Dia itu pinter banget, Nei! Walaupun sering bolos gitu, tapi posisi ranking 1 gak pernah ada yang bisa rebut dari dia!" Jelas Kara dengan lantang. Neira mengangguk, "oh gitu ya." Kara menyipitkan kedua matanya, "jangan-jangan lo suka dia!" Tanya Kara dengan lantang membuat Neira terlonjak merasa kaget. Neira memutar bola matanya malas, "itu dia tadi pd abis! Jauh-jauh deh dari manusia kayak gitu." "Yeu, pd itu bagus! Gak kayak lo, yang kerjaannya di kelas mulu. Main dek main!" Luna berjalan kearah meja mereka, sambil tersenyum ceria, "jeng jeng jeng! Ini punya Kara, ini punya Neira, dan ini punya Luna!" Ucapnya sambil duduk di kursi tempatnya. "Makasih ya, Lun." Ucap Neira dan Kara secara bersamaan membuat mereka bertiga tertawa riang. "Makan, biar kenyang!" Ucap Luna. Notifikasi masuk di ponselnya membuat Neira membukanya, pesan dari nomor baru berhasil mengalihkan perhatiannya. "Save gue masa depan lo." Gumam Neira di dalam hatinya, berani-beraninya orang ini mengir

  • Aku Baik-baik Saja, Katanya.   Bagian 1

    "Ra? Kamu kenapa gak keluar kamar? Ibu sisain kamu sayap ayam, kesukaan kamu." Ucap wanita paruh baya di depan kamar putrinya. Neira yang sedang duduk di meja belajarnya menoleh menatap kearah pintu, "nanti aku turun." Jawabnya, terdengar langkah kaki Ibunya menuruni tangga. Neira membuka buku hariannya, lalu menuliskan beberapa kata "Neira gak pernah suka sayap ayam, Ibu tidak tahu ya? Neira sukanya paha ayam. Ibu selalu memberikan itu ke Abang." Saat menuruni tangga, samar-samar Neira mendengar percakapan Abangnya dengan sang Ibu. "Lah ini tadi yang Kean makan pahanya tinggal 1 Bu? Adik gimana? Dia kan paling suka paha." "Kamu ini ngaco, Neira kan sukanya sayap ayam." Lalu Neira melihat Ayahnya keluar dari kamar yang tepat di depan tangga, "tidak usah di ambil pusing, makan saja yang ada!" Neira langsung melanjutkan langkahnya menuju meja makan, mengambil bagiannya lalu kembali naik ke atas, ke kamarnya. Gerak-gerik Neira tak luput dari pandangan Kean, lelaki itu meras

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status