
Aku ,Target balas dendam CEO
Sejak kecil, hidupnya sudah ditentukan oleh dosa yang bukan miliknya.
Aruna tumbuh sebagai anak dari seorang wanita yang menjual tubuhnya demi uang. Ia bahkan tidak pernah tahu siapa ayahnya. Di rumah kecil yang penuh hinaan, Aruna hanya mengenal satu hal yaitu bertahan hidup.
Ibunya tak pernah peduli pada mimpi atau harga dirinya Bahkan berkali-kali mencoba menyeret Aruna ke dunia yang sama.
Namun Aruna memilih jalan yang berbeda.
Dengan tekad yang keras, ia meninggalkan rumah itu, hidup sendiri di kamar kost sederhana, dan bekerja sebagai seorang bidan. Ia merawat kehidupan baru setiap hari meski hidupnya sendiri penuh luka.
Banyak pria yang datang dan pergi, tertarik pada kecantikannya. Tetapi semuanya mundur ketika mengetahui siapa ibunya.
Sampai suatu hari, seorang pria datang dengan cara yang berbeda.
Dingin ,Tegas ,Dan terlalu gigih untuk menyerah.
Pria itu terus mendekatinya, seolah benar-benar jatuh cinta.
Tanpa Aruna ketahui, di balik tatapan lembut itu tersembunyi sebuah niat yang jauh lebih gelap yaitu Balas dendam.
Ibunya pernah menghancurkan rumah tangga keluarganya. Dan sekarang, ia ingin menghancurkan sesuatu yang lebih berharga yaitu hati Aruna,menurutnya.
Namun permainan itu berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan
yaitu Perasaan.
Ketika dendam perlahan berubah menjadi cinta, semuanya sudah terlambat Karena hati Aruna telah lama mati oleh penghinaan dunia yang tidak pernah memberinya kesempatan.
Di antara masa lalu yang kotor, luka yang dalam, dan cinta yang datang terlambat…
Apakah seorang gadis yang lahir dari dosa masih pantas mendapatkan kebahagiaan?
Read
Chapter: Kenapa Harus Kamu ?Aruna keluar dari rumah makan itu dengan langkah yang terasa tidak nyata, karena Aruna tahu betul ibunya tidak pernah mengancam tanpa benar-benar melakukannya ,jika Saraswati mengatakan akan datang dan membuat keributan di tempat kerja Aruna, maka kemungkinan besar ia benar-benar akan melakukannya "Sembilan puluh juta " angka itu terasa seperti sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan dalam waktu semalam ,gajinya cukup untuk hidup ,cukup untuk membantu kebutuhan sehari-hari ,cukup untuk memberikan sebagian kepada ibunya namun tidak pernah cukup untuk menyelesaikan masalah sebesar ini ,tangannya sedikit gemetar ketika ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya ,ia memeriksa rekeningnya satu per satu ,menghitung tabungan ,menghitung uang yang bisa ia gunakan ,menghitung segala kemungkinan namun hasilnya tetap sama jumlahnya bahkan tidak sampai sepersepuluh dari yang diminta Saraswati ,Aruna menutup layar ponselnya ia berdiri cukup lama di depan rumah makan itu ,orang-orang berlalu-lalan
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: Hutang yang Tidak Pernah Selesai.Aruna pulang ketika matahari mulai naik ,rumah masih cukup tenang begitu memasuki kamar, ia langsung meletakkan tas dimeja ,ia bahkan tidak langsung mengganti pakaian hanya duduk sebentar di tepi tempat tidur kemudian mandi ,setelah itu ia memeriksa Helena yang masih tidur ,wanita itu belum bangun dan Aruna tidak membangunkannya hanya memastikan obat dan air minum sudah tersedia di dekat tempat tidur setelah semuanya selesai, barulah Aruna kembali ke kamarnya ,ia mengisi daya ponselnya yang hampir habis kemudian berbaring dan akhirnya ia tertidur. -- Pagi berlalu dengan tenang, Aruna baru terbangun beberapa jam kemudian ia menghabiskan waktu dengan rutinitas biasa merapikan tempat tidur ,membantu menyiapkan makanan ,memeriksa kondisi Helena kemudian duduk sebentar sambil menikmati sarapan dan mungkin justru karena itulah pagi itu terasa menyenangkan Aruna bahkan sempat berbicara dengan Ibu mertuanya meskipun tetap tidak terlalu ramah ,Helena masih memasang wajah
Last Updated: 2026-07-22
Chapter: Ditahan Pulang ?Aruna menjalani shift malam dengan suasana yang cukup tenang ,ketika tiba di rumah sakit, Aruna menemukan Nina sudah berada di ruang VK sedang memeriksa beberapa berkas sambil sesekali menguap ,begitu melihat Aruna masuk, Nina langsung mengangkat wajah. "Dih baru datang?" Aruna meletakkan tasnya di loker. "Kenapa bu Nina ? ." "Telat tiga menit." Aruna menoleh. "Serius?" "Serius." Aruna melihat jam di dinding ,kemudian menatap Nina. "Kamu menghitung Nin?" "Nggak." "Terus kok tahu?" "Karena aku sudah menunggu." Aruna tertawa kecil. "Haha Drama." Nina mendengus dan tertawa bersama ,lalu kembali beraktifitas seperti biasa . Jaga malam ini tidak sepi ,juga tidak terlalu melelahkan ,beberapa pasien datang ,beberapa membutuhkan perhatian lebih tetapi semuanya masih berada dalam batas yang dapat mereka tangani ,saat Aruna duduk sebentar di ruang istirahat, Nina meletakkan sebotol air mineral di hadapannya.
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: Di Atas KebencianAruna pulang ketika langit masih berwarna abu abu, sementara sebagian besar penghuni rumah baru mulai akan beraktifitas, pagi itu ada yang berbeda ,sejak berada diperjalanan pulang,tenggorokannya kering ,tubuhnya juga terasa tidak nyaman, seperti sedang menahan sesuatu yang belum muncul ,mungkin karena kurang tidur ,Aruna berusaha tidak memikirkannya ,ia sempat berniat langsung pulang dan membuatkan bubur untuk ibu mertuanya , Namun begitu melewati penjual bubur yang masih buka di dekat rumah ,ia melambat ,perutnya kosong dan tubuhnya benar-benar tidak memiliki tenaga untuk memasak ,akhirnya ia berhenti ,beberapa menit kemudian ia kembali membawa satu bungkus bubur hangat ,bukan untuk dirinya sendiri ,ia bahkan tidak membeli apa pun untuk dirinya. Setiba dirumah Aruna langsung menuju dapur dan menyiapkanya ,lalu membawa bubur yang baru dibelinya, segelas air hangat, obat penurun tekanan darah, serta vitamin yang biasa dikonsumsi wanita itu ,Helena tampak lebih baik ,meski
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Keheningan yang MengguncangHelena mengira kondisinya hanya kelelahan biasa ,beberapa hari istirahat di rumah Oxavio seharusnya sudah cukup membuat tubuhnya kembali bugar ,ia yakin itu hanyalah dampak stres dari kasus Rumah sakit dan masalah adiknya , namun dugaan itu ternyata keliru ,hari demi hari berlalu, tubuhnya justru semakin mudah kehilangan tenaga ,nafsu makannya menurun drastis ,beberapa kali kepalanya berdenyut hebat, nyeri yang menjalar hingga ke tengkuk, hingga membuatnya memilih memejamkan mata hampir sepanjang siang ,cahaya matahari pun terasa menyakitkan ,Aruna sudah berkali-kali menyarankan pemeriksaan lebih lanjut ,suaranya selalu lembut, penuh kekhawatiran tulus seorang bidan sekaligus menantu ,namun setiap kali itu pula Helena selalu memberikan jawaban yang sama ,tembok penolakan yang kokoh. "Tidak perlu." "Ma, paling tidak periksa darah dulu ,tekanan Mama naik turun tidak stabil." "Aku bilang tidak perlu." "Kalau ternyata ada y
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Salah Menilai ?Hari-hari berlalu dengan ritme yang terasa semakin melelahkan bagi Aruna. namun hanya Aruna yang tahu bahwa kelelahan itu perlahan mulai menggerogoti tubuhnya ,siang hari yang seharusnya menjadi waktu beristirahat hampir tidak pernah benar-benar menjadi miliknya ,akibatnya setiap malam ia berangkat bekerja dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih apalagi selama beberapa minggu terakhir, Aruna hampir tidak pernah lagi berbincang lama dengan Rani dan teman-teman praktik lainnya ,paling hanya sesekali berpapasan saat Aruna hendak pulang di pagi hari ,ruang VK terasa sunyi tanpa suara-suara riuh yang biasanya dipenuhi pertanyaan demi pertanyaan ,keheningan itu membuat hari-harinya terasa semakin tidak berwarna.~Ia baru saja meletakkan tas di dalam loker ketika suara yang sudah lama tidak didengarnya menyapa dari belakang."Run."Aruna menoleh ,senyumnya langsung mengembang."Ah, Nina."Nina berjalan menghampiri sambil membawa map pasien."Akhirnya.""Ak
Last Updated: 2026-07-17