Home / Romansa / Aku ,Target balas dendam CEO / Batas yang Sengaja Dihapus

Share

Batas yang Sengaja Dihapus

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-02 09:01:49

Beberapa minggu setelah perubahan jadwal itu, kehidupan Aruna benar-benar berubah hari-harinya seperti tidak lagi memiliki jeda ,pagi sering kali berakhir menjadi siang tanpa ia sadari ,siang berubah menjadi malam lalu malam kembali menjadi pagi tanpa benar-benar memberi kesempatan bagi tubuhnya untuk beristirahat ,Aruna mulai hafal berbagai macam rasa lelah ,lelah karena berdiri berjam-jam mendampingi proses persalinan ,lelah karena harus memantau beberapa pasien sekaligus ketika ruang VK se

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Seseorang dari Masa Lalu

    Perjalanan pulang sore itu ternyata jauh lebih lama dari yang mereka perkirakan ,kemacetan membuat mobil nyaris tidak bergerak selama beberapa waktu ,ditambah beberapa ruas jalan yang padat, mereka baru sampai di rumah setelah waktu isya ,begitu turun dari mobil, Aruna langsung melihat jam.“Aku harus bersiap.”Ia bahkan tidak sempat duduk berleha, tubuhnya memang lelah, matanya masih berat setelah acara tadi, tetapi malam ini ia kembali harus bekerja Aruna langsung masuk ke kamar mengganti pakaian, lalu memasukkan beberapa barang ke dalam tas ,tidak lama kemudian, ia keluar lagi ,Oxavio yang sejak tadi berada di ruang tengah memperhatikannya.“Kamu mau berangkat sekarang?”“Iya.”“Aku antar.”Aruna berhenti ia menatap Oxavio seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak biasa.“Kamu?”Oxavio mengerutkan kening.“Kenapa?”“Tidak apa-apa.”Aruna mengambil ponselnya.“Aku sudah pesan ojek.”Kalimat itu membuat Oxavio terdiam ,ia seb

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Jarak yang Sengaja Diciptakan

    Setelah Aruna pergi bekerja, Oxavio masih berdiri di ruang tengah ,pintu rumah sudah tertutup ,suara langkah Aruna pun perlahan menghilang namun pria itu tidak segera beranjak ,pikirannya justru kembali pada satu kalimat yang terlanjur keluar dari mulutnya "Aku tidak suka "Oxavio mengusap wajahnya kasar ,ia tidak suka mengingatnya lebih buruk lagi ia tidak suka alasan di balik kalimat itu ,seharusnya ia tidak peduli ,Aruna hanya tertawa bersama teman-temannya dan tidak ada yang salah ,namun entah mengapa, melihat senyum perempuan itu di layar ponselnya membuat sesuatu di dalam dirinya terusik ,Oxavio mengambil ponselnya lagi ,video itu masih ada Aruna sedang tertawa ,wajahnya terlihat ceria ,Oxavio menatap layar lagi sebelum akhirnya mematikannya.“Tidak.”Ia menggeleng pelan.“Bukan itu.”Ia tidak cemburu ,tidak mungkin ,perasaan seperti itu terlalu tidak masuk akal untuk orang seperti dirinya ,selama ini ia hanya ingin melihat Aruna tersakiti ,ia ingin perempu

  • Aku ,Target balas dendam CEO    Cemburu ?

    Tangis Aruna perlahan mereda ,ia mengusap pipinya yang basah sambil tersenyum malu."Maaf...""Aku menangis begini."Nina langsung menggeleng sambil berbisik"Justru bagus Run , jangan dipendam terus.""Selama ini kamu selalu terlihat kuat padahal aku tahu kamu juga capek."Aruna hanya tersenyum kecil ,entah mengapa...dadanya terasa lega ,sudah lama sekali ia tidak merasakan kehangatan sesederhana ini.Saat suasana mulai kembali tenang, Rani tiba-tiba masuk sambil membawa dua kantong besar di kedua tangannya."Wah...""Sudah datang!"serunya dengan wajah berbinar ,di belakangnya, dua anak PKL lain ikut membantu membawa kantong minuman Nina langsung tertawa."Pas banget."Rani mulai membagikan satu per satu gelas minuman kepada para bidan yang sedang berjaga."Kami patungan Mbak sebagai hadiah ulang tahun."Aruna langsung menggeleng cepat."Lho, jangan begitu.""Kalian masih sekolah."Rani tersenyum lebar."

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Kejutan Kecil

    Siang hari ,Aruna akhirnya tertidur setelah perdebatan panjang dengan Oxavio pagi tadi, tubuh dan pikirannya benar-benar terkuras ,ia bahkan tidak ingat sejak kapan tertidur yang ia tahu, begitu kepalanya menyentuh bantal kesadarannya langsung menghilang.Ruangan itu sunyi hanya terdengar suara pendingin ruangan dan napasnya yang perlahan mulai teratur namun ketenangan itu tidak berlangsung lama ,ponselnya berdering memecah keheningan kamarSekaliDua kali.Tiga kali tanpa henti Aruna mengernyit pelan matanya berat karena masih mengantuk ketika meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal, begitu melihat nama yang muncul di layar, dahinya langsung berkerut."Rani "Anak PKL itu hampir tidak pernah menghubunginya di luar jam kerja dengan jantung yang mulai berdegup cepat, Aruna segera mengangkat telepon."Halo, Rani?"Suara gadis itu terdengar tergesa-gesa."Mbak Aruna... cepat ke rumah sakit, ya."Aruna langsung terduduk."Ada apa?"

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Gema yang Tertahan

    Suara benturan pintu masih bergema di lorong,seolah menjadi gema terakhir dari kesabaran yang baru saja patah. Di balik pintu yang bergetar itu, Oxavio berdiri mematung ,napasnya memburu, tangan kanannya masih terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih dan bergetar halus ,yang paling membuatnya marah bukanlah bantahan Aruna, melainkan kenyataan bahwa untuk sesaat, perempuan itu berhasil mengucapkan sesuatu yang selama ini mati-matian ia sangkal pada dirinya sendiri ,bahwa ia peduli ,bahwa ia tidak benar-benar ingin melihat Aruna hancur total. Pengakuan diam-diam itu lebih menakutkan dari apa pun ,karena jika Aruna benar, maka seluruh fondasi permainan yang ia bangun bertahun-tahun hanyalah ilusi dan Oxavio tidak pernah mau mengakui , Ia menarik napas panjang, mencoba memaksa detak jantungnya kembali normal, menekan rasa asing yang menggerogoti dadanya ,di sudut hati yang paling gelap ,tidak ia tidak boleh lemah. Sedangkan Aruna masih diam di tempat yang sama ,seragam masih mele

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Hal yang Dibenci Oxavio .

    Aruna tidak segera menjawab ,tatapan Oxavio masih tertuju padanya namun kali ini tatapan itu tidak lagi sekadar ingin melihatnya kesulitan, melainkan seperti tatapan seseorang yang sudah lelah menunggu."Aku lelah menunggumu memilih."Kalimat itu masih menggantung di udara ,Aruna menarik napas pelan."Lalu... apa yang kamu inginkan dariku?"Oxavio tersenyum tipis. "Kamu masih bertanya?"Aruna menatapnya. "Aku ingin mendengarnya langsung darimu."Ruangan kembali sunyi ,Oxavio melangkah semakin dekat, hanya menyisakan satu langkah di antara mereka."Aku ingin kamu berhenti mencari jalan lain." Suaranya rendah dan tenang dan justru terdengar lebih mengancam. "Aku ingin setiap kali kamu punya masalah kamu datang padaku memohon bantuanku."Aruna menggeleng pelan "Itu tidak akan terjadi.""Kamu yakin?" tanya Oxavio sambil tersenyum."Aku yakin.""Padahal jalanmu semakin sedikit."Aruna menggenggam ujung bajunya. "Aku akan tetap mencari."

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Racun yang dipaksakan

    Malam itu terasa berbeda ,Aruna menyadarinya bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke dalam rumah. Langit sudah gelap ketika ia pulang dari perpustakaan sekolah seharian ia sengaja pulang lebih lama, Rumah selalu terasa lebih aman ketika ibunya belum membawa tamu Namun begitu ia membuka pintu, ia la

  • Aku ,Target balas dendam CEO   luka yang dibawa pulang.

    Langit sudah mulai berubah jingga ketika Aruna berjalan pulang dari sekolah ,Langkahnya pelan, tapi pasti. Tas sekolahnya terasa lebih berat, meskipun isinya tidak bertambah apa-apa. Mungkin karena pikirannya yang penuh oleh kata-kata yang masih terngiang di kepalanya ,Perempuan malam ,

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Luka yang Tidak Terlihat

    Sekolah seharusnya menjadi tempat yang tenang.Tempat di mana aku bisa melupakan rumah kecil yang selalu penuh dengan orang asing.Tapi kenyataannya… tidak pernah benar-benar seperti itu ,Aku berjalan melewati gerbang sekolah dengan langkah cepat ,Matahari pagi masih hangat, dan halaman s

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Malam yang Tidak Pernah Sunyi

    Malam di rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi ,Selalu ada suara. Kadang suara tawa laki-laki yang berat dan kasar ,Kadang suara gelas yang beradu di meja kayu tua ,Kadang juga suara pintu kamar ibuku yang tertutup keras diikuti suara yang membuatku menutup telinga dengan kedua tangan. Aku sud

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status