Chapter: CHAPTER 5 – Kamu yang Membunuh Kami“Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “Jangan mendekat!,” katanya tegas. “Aku nggak kenal kamu.”“Nay, dengerin baik baik, kita tadi bareng. Kita datang ke sini. Kita...”“Aku datang sendiri,” potong Naya cepat.Raka menggeleng. “Nggak. Itu nggak mungkin. Kita...” Ia berhenti saat menyadari bila Naya sungguh sungguh tidak ingat.“Coba lihat ini,” kata Raka cepat, meraih ponselnya lalu membuka aplikasi booking, kemudian menunjukkannya pada Naya.“Ini nama kita!” Kalimatnya terhenti.Layar itu berubah. Daftar tamu hanya menampilkan satu nama.RakaTidak ada Naya.Raka menatap layar itu dengan napas tercekat. “Tadi ada,” bisiknya. “Tadi ada nama lo!”Naya menggeleng pelan, “Kamu aneh,” katanya. “Aku nggak suka ini.”Raka mengangkat t
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-10
Chapter: CHAPTER 4 – Satu yang HilangRak! Buruan! Kita check in dulu!”Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal. Pelan-pelan, ia menatap sekeliling. Koper masih belum dibuka. Semua tampak kembali seperti awal, seperti saat mereka pertama kali masuk.“Ini loop,” gumamnya. Kata itu terasa berat keluar dari mulutnya. Loop yang mengulang, menghapus, mengganti dan yang paling menakutkan adalah menghilangkan. Raka langsung meraih ponselnya. Aplikasi itu masih terbuka, kali ini ada foto hotel yang lebih terang, lebih hidup dan terlihat baru seakan bukan bangunan tua yang mereka lihat tadi. Tertulis rating: 4.9, Review teramat bagus.“Rak! Lama banget sih!” Suara Naya terdengar tak sabar.Raka pun berdiri, Kali ini ia tidak akan bertindak seperti sebelumnya. Kalau ini loop, maka dia harus mengubah sesuatu. Kem
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-10
Chapter: CHAPTER 3 – Reset PertamaNaya mundur satu langkah seolah tubuhnya menolak apa yang terlihat. “Itu…,bukan gue!” suaranya bergetar penuh penyangkalan cenderung sedikit histeris. Mendengar itu, Raka tidak menjawab karena dia juga melihatnya. Sosok di ujung lorong itu, tinggi, bentuk tubuh, rambut, bahkan cara berdirinya sama persis dengan Naya yang berdiri di sampingnya sekarang. Tidak ada perbedaan kecuali satu hal. Senyumnya terlalu lebar dan kaku. Seakan dipaksa tersenyum oleh sesuatu yang bukan manusia.“Nay.” bisik Raka pelan, “jangan mendekat.”“Aku nggak…” Naya menggeleng cepat.Tapi sosok itu bergerak satu langkah ke depan. Suara langkahnya tidak terdengar seolah dia tidak menyentuh lantai.Raka refleks menarik tangan Naya mundur. “Balik ke kamar. Sekarang.”“Tapi...”“SEKARANG!”Mereka berlari menelusuri lorong yang terasa lebih panjang. Dan di belakang mereka tidak terdengar suara langkah. Tapi Raka tahu jika sosok itu masih mengikuti, bahkan lebih cepat dari sebelumnya, hingga akhirnya sampai di kamar
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-10
Chapter: CHAPTER 2 – Tamu yang Tidak TerdaftarRaka membeku mematung tak mampu bergerak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Suara itu terlalu dekat, seolah seseorang benar-benar berdiri di belakangnya, menempel di punggungnya. Ia menoleh cepat. Kosong. Hanya pintu kamar mandi yang masih terbuka sedikit, menganga seperti mulut gelap.“Ini nggak lucu…” gumamnya pelan, tidak ada jawaban. Ia menelan ludah, lalu dengan gerakan cepat menutup pintu kamar mandi. Klik. Tangannya masih gemetar saat ia memutar kunci pengaman.Raka langsung meraih ponselnya. Sinyal timbul tenggelam, namun tetap dicoba membuka aplikasi booking tempat mereka menginap tadi. Loading, lama. Kemudian error. Raka mengernyit lalu mengetik ulang nama hotel itu. Masih tidak muncul. Tiba-tiba ada notifikasi masuk. Raka langsung membukanya.“SELAMAT DATANG KEMBALI.”Belum sempat ia berpikir, kembali terdengar suara ketukan, kali ini dari pintu kamar.“Raka! Buka! Cepat!” Suara Naya panik.Raka langsung berlari ke pintu dan membukanya. Naya berdiri di sana dengan napas te
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-10
Chapter: CHAPTER 1 – Hotel yang Tidak Ada di PetaHujan turun seperti seseorang sedang menghapus dunia, berhiaskan kilatan petir yang liar bebas menyambar.Raka menatap layar ponselnya, sinyal naik turun di sudut kanan atas. Jalanan yang mereka lewati sejak tadi berubah jadi jalur sempit, gelap, dan sepi. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada rumah. Hanya pepohonan yang berdiri seperti bayangan hitam.“Ini serius tempatnya?” Naya bertanya dari kursi penumpang, suaranya setengah kesal, setengah penasaran.Raka memperbesar peta di layar. Titik biru berkedip pelan.“Katanya di sini,” jawabnya. “Rating-nya juga tinggi. Banyak yang bilang hidden gem.”Naya mendengus. “Hidden banget sampai hilang dari dunia nyata.”Mobil mereka melambat. Di depan, kabut turun tipis seperti tirai. Kemudian Bangunan itu muncul. Sebuah hotel tua. Lampu di bagian depan berkedip lemah. Cat temboknya mengelupas. Tulisan nama hotel di atas pintu masuk sudah pudar, hanya menyisakan huruf-huruf samar yang sulit dibaca.Raka memicingkan mata. “Aneh, difoto kelihatan bagu
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-10