LOGINRaka dan Naya harus menghadapi sesuatu yang mengerikan pada saat mereka memutuskan untuk melakukan booking di sebuah hotel yang penuh dengan misteri maut
View MoreHujan turun seperti seseorang sedang menghapus dunia, berhiaskan kilatan petir yang liar bebas menyambar.
Raka menatap layar ponselnya, sinyal naik turun di sudut kanan atas. Jalanan yang mereka lewati sejak tadi berubah jadi jalur sempit, gelap, dan sepi. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada rumah. Hanya pepohonan yang berdiri seperti bayangan hitam.
“Ini serius tempatnya?” Naya bertanya dari kursi penumpang, suaranya setengah kesal, setengah penasaran.
Raka memperbesar peta di layar. Titik biru berkedip pelan.
“Katanya di sini,” jawabnya. “Rating-nya juga tinggi. Banyak yang bilang hidden gem.”
Naya mendengus. “Hidden banget sampai hilang dari dunia nyata.”
Mobil mereka melambat. Di depan, kabut turun tipis seperti tirai. Kemudian Bangunan itu muncul. Sebuah hotel tua. Lampu di bagian depan berkedip lemah. Cat temboknya mengelupas. Tulisan nama hotel di atas pintu masuk sudah pudar, hanya menyisakan huruf-huruf samar yang sulit dibaca.
Raka memicingkan mata. “Aneh, difoto kelihatan bagus.”
Naya sudah mengeluarkan ponselnya, kamera aktif. “Justru ini bagus. Konten horror vibes.
“Ini bukan konten, Nay. Ini…” Raka berhenti bicara.
Pintu utama hotel itu perlahan terbuka sendiri, berderit hingga mendirikan bulu kuduk, seolah memberi sambutan hangat pada mereka.
Dengan perasaan campur aduk, kaki mereka pun melangkah masuk menjejak lantai. Udara terasa dingin sampai merayap ke tulang. Lobi luas, tapi kosong. Lampu gantung tua berayun pelan tanpa angin. Bau kayu lapuk terhirup bebas. Seperti lembap yang terlalu lama tidak disentuh manusia.
“Halo?” suara Naya menggema.
Tidak ada jawaban.
Raka melangkah mendekati meja resepsionis. Kayu meja itu penuh goresan. Di atasnya ada buku tamu tebal, terbuka di halaman kosong. Seorang pria tua duduk seperti mematung. Menatap mereka dengan tatapan samar susah ditebak.
“Selamat datang,” suara pria itu serak, seperti sudah lama tidak dipakai berbicara. “Kami sudah menunggu.”
Naya langsung tersenyum,“Kami booking online. Atas nama Naya.”
Pria itu tidak bergerak. Tidak mengetik. Tidak membuka komputer. Ia hanya menarik buku tamu ke arahnya, menuliskan sesuatu dengan perlahan. “Tidak perlu, nama kalian sudah tercatat.”
Raka mengerutkan kening. “Tapi kami baru booking tadi sore.”
Pria itu berhenti menulis, sambil menatap Raka lama, ia menjawab, “Tamu selalu datang tepat waktu,” Ada sesuatu dalam cara dia bicara, seolah kalimat itu punya makna lain.
Naya menyikut Raka kecil. “Udah, jangan ribet. Kita cuma butuh istirahat.”
Pria itu mendorong dua kunci ke arah mereka.Tidak ada nomor kamar di gantungannya. Hanya angka yang terukir samar: 305, 306
“Lantai tiga,” katanya. “Lorong kiri.”
Raka mengambil kunci itu. Dingin. Terlalu dingin untuk sekadar logam. “Pak, ada tamu lain?” tanya Raka.
Pria itu tersenyum tipis, “Ada.”
“Banyak?”
Pria itu tidak langsung menjawab. Matanya bergeser ke arah lorong gelap di belakang mereka. “Kalian akan bertemu mereka,” katanya pelan.
Tanpa menunggu lagi, Raka dan Naya bergegas mencari dan melangkah cepat menuju lift yang tampak mengundang. Ternyata, lift tidak berfungsi. Tak ada pilihan, mereka terpaksa naik tangga. Setiap langkah menghasilkan bunyi berderit yang terlalu keras untuk bangunan kosong. Lampu di tangga berkedip-kedip, kadang terang, kadang hampir mati. Naya masih merekam.
“Gila sih ini aesthetic-nya,” bisiknya ke kamera. “Kalau gue hilang di sini, minimal views gue naik.”
“Jangan ngomong gitu,” Raka menegur.
“Relax. Bercanda.” Sambar Naya.
Tapi Raka tidak tertawa. Ada perasaan aneh sejak mereka masuk. Seperti… dia pernah berada di tempat ini, padahal jelas-jelas belum pernah, Ia lalu berhenti di tengah tangga.
“Nay”
“Apa?”
Raka menggeleng pelan. “Nggak. Perasaan doang.”
Lantai tiga, lorong panjang membentang, dengan pintu-pintu kamar di kiri dan kanan. Karpet merah tua menutupi lantai, tapi warnanya sudah kusam, hampir seperti cokelat gelap, lampu di lorong lebih redup dibanding bawah. Dan sunyi, bahkan terlalu sunyi. Mereka pun berjalan pelan hingga akhirnya tiba di kamar mereka yang bersebelahan.
“Gue di sini ya,” kata Naya sambil mengangkat kunci 305.
Raka mengangguk. “Kalau ada apa-apa, langsung panggil.”
Naya tersenyum. “Santai, Bang. Ini hotel, bukan rumah hantu.”
Raka ingin membalas, tapi urung. Karena tepat saat itu dari ujung lorong ada bayangan seseorang.
Raka menatap.“Lo lihat itu?” bisiknya.
Naya menoleh, lorong kosong. “Apaan?” katanya.
Raka kembali melihat ke ujung lorong. Tidak ada siapa-siapa. Ia menghela napas. “Nggak jadi.”
“Capek lo,” kata Naya sambil membuka pintu kamarnya.
Klik.
Pintu terbuka, gelap di dalam sana.
“See you,” katanya sebelum masuk, kemudian pintu tertutup.
Raka berdiri beberapa detik di Lorong, lalu membuka kamar 306.
Ternyata kamar itu lebih bagus dari perkiraan. Interiornya rapi. Tempat tidur bersih. Lampu hangat. Seolah dua dunia berbeda antara luar dan dalam.
Raka menutup pintu, menguncinya. Kemudian meletakkan tas, duduk di tepi kasur, lalu menghempaskan diri ke pembaringan.Tapi perasaan aneh itu belum hilang. Ia mengambil ponsel, ternyata sinyal hilang.
“Bagus,” gumamnya pelan sarkas.
Ia bangkit, berjalan ke kamar mandi dan menyalakan lampu. Normal, cermin bersih, sama sekali tidak ada yang aneh. Ia mencuci muka dengan air yang terasa dingin seperti air yang tidak pernah tersentuh matahari. Raka mengangkat kepala dan menatap cermin. Untuk sesaat, ia merasa bayangannya terlambat bergerak sepersekian detik, lalu normal lagi. Raka melangkah mundur. “Capek,” bisiknya menenangkan diri sendiri.
Ia kembali ke kamar,menjatuhkan tubuh ke kasur. Matanya kosong menatap langit-langit. Hujan masih terdengar di luar. Detik berlalu berubah menjadi menit. Menit pun berlalu menjelma menjadi jam. Pelan-pelan, matanya mulai terpejam.
TOK
Raka membuka mata. Sunyi. Ia menoleh ke arah pintu dan tidak ada apa apa disana. Mungkin suara dari kamar sebelah. Ia memejamkan mata lagi.
TOK TOK
Lebih jelas. Asal suara seperti dari dalam kamar. Raka langsung terduduk memandang sekeliling ruangan. Kosong, Tidak ada siapa-siapa. Lalu, suara terdengar lagi.
TOK
Kali ini… dari arah kamar mandi. Raka menahan napas sebab pintu kamar mandi .Lampu di dalamnya mati, padahal ia tidak mematikannya.
Perlahan, ia berdiri lalu melangkah pelan satu per satu mendekati pintu kamar mandi. Tangannya terangkat dan berhenti di gagang pintu. Tidak ada suara lagi. Ia menelan ludah. “Cuma perasaan…” hiburnya.
Tangannya pelan memutar gagang. Pintu terbuka sedikit. Gelap dan kosong. Raka menghela napas lega dan hampir menutup kembali pintu itu saat suara itu terdengar lagi.
TOK
Tepat di belakangnya dari dalam kamar mandi, padahal pintunya sudah terbuka dan tidak ada siapa-siapa di dalam. Raka membeku, Jantungnya berdetak keras. Perlahan dalam ketegangan, dari dalam kegelapan kamar mandi, terdengar suara napas, bukan miliknya. Kemudian terdengar suara berbisik tepat di telinganya.
“Kamu terlambat.”
Kemudian secara pasti pintu aula perlahan terbuka bagai dalam gerakan lambat. Kali ini tidak ada teriakan atau pun senjata yang terlibat. Yang terdengar hanya suara kursi-kursi yang bergeser ketika lebih dari seratus orang berdiri bersamaan.Beberapa saat kemudian Raka memberanikan diri untuk melangkah masuk.Satu, dua, tiga langkah sudah diambil olehnya dengan diiringi tatapan dari seluruh peserta yang hadir disana. Tatapan yang tampak murni tanpa kebencian. Namun ada yang jauh terasa lebih mengganggu perasaan Raka, yaitu gerakan dan gestur mereka semua yang terlihat lega, seolah seseorang yang telah lama dinanti akhirnya datang juga disana.Sementara itu di ujung ruangan, pria berkacamata berseragam hitam berdiri dengan tegap, akan tetapi ia sama sekali tidak tersenyum, namun juga tidak terlihat terkejut."Selamat datang." Terdengar sambutan darinya dengan suara hampir terdengar datar saja apa adanya, sama sekali tidak ada gejolak atau apapun dari reaksinya.Sambutan yang seakan tan
Tiba tiba sirene berhenti dan meninggalkan keheningan yang justru terasa lebih mengancam daripada sebelumnya.Lalu dengan perlahan dan waspada, Surya menutup buku lusuh itu, kemudian memandang Raka tanpa berkedip. "Kalau mereka sampai mengadakan siding, berarti mereka sudah kehilangan sesuatu.""Kehilangan sesuatu? Apakah itu?" Tanya Raka dengan pandangan mata yang tak kalah tegangnya.Tanpa diduga, ternyata Surya menggelengkan kepalanya. "Itu yang harus kita cari tahu."Sementara itu, Paras wajah Bima tampak penuh dengan keraguan."Kalau kita datang ke Ruang Sidang Utama, berarti kita masuk ke sarang mereka.""Kalau kita tidak datang," jawab Surya tenang, "kita membiarkan mereka menentukan cerita tanpa satu pun sanggahan atau perlawanan."Kalimat yang terucap dari mulut Surya itu langsung membuat semua terdiam. Selama ini mereka selalu bergerak diam-diam, mengambil serpihan informasi, lalu melarikan diri. Namun untuk yang kali ini, Surya mengusulkan hal yang berlawanan dan berbeda, ya
Kemudian suara perempuan itu dengan cepat menghilang begitu saja menyisakan kesunyian kembali dalam ruangan.Laci-laci baja pun menutup sendiri satu per satu.Klik, Klik, Klik.Seolah seluruh bangunan baru saja mengambil keputusan yang tidak mereka ketahui sama sekali dan justru memunculkan kecemasan baru nan kian mencekam serta mengancam.Sambil berpikir keras, Raka masih memandangi map hitam di tangannya. "Sepertinya ini salah."Ternyata tak seorang pun yang menjawab atau sekadar menanggapi ucapan Raka barusan.Hanya Bima yang merespon dengan mendekati Raka secara perlahan."Justru itu yang membuatku takut.""Maksudnya?""Dalam setiap proyek besar, orang yang paling berbahaya bukan yang mengejar kekuasaan." Ujar Bima seraya menatap mata Raka dengan pandangan tajam. "Tetapi orang yang dikejar oleh kekuasaan itu sendiri.”Lalu Mira mengambil map hitam tersebut dan membolak-balik setiap halaman dengan lebih cermat. Tidak ada tanda tangan, tidak ada stempel, serta tidak ada nama penyusun
Tidak seperti biasanya, bunyi alarm yang terdengar tidaklah meraung kencang, melainkan hanya berbunyi pelan saja.Tik...,Tik..., Tik...Suara yang hampir tidak terdengar itu justru membuat Bima kehilangan ketenangan dan kesabarannya. "Segera matikan bunyi itu!""Aku juga mau matikan, hanya tidak tahu caranya," jawab Mira dengan nada penuh kekesalan."Kalau begitu, Jangan sentuh apa pun!" Bima menarik napas panjang. “Sepertinya itu bukanlah alarm keamanan.”"Lalu? Bunyi alarm apa?" Mira bertanya sambil celingukan karena masih penasaran dengan apakah ada cara untuk mematikan alarm itu."Itu kemungkinan besar adalah alarm kedatangan." Sambung Bima lagi."Kedatangan siapa?"Bima memejamkan sepasang matanya selama beberapa saat seperti sedang berusaha mengingat sesuatu. "Dulu setiap kali suara itu muncul, berarti seseorang yang memiliki hak penuh atas proyek sedang memasuki kompleks."Mendengar hal itu, ruangan mendadak terasa jauh lebih sempit bagi mereka karena ada perasaan ancaman bahay
“Kamu adalah alasan hotel itu lahir.”Kalimat Mira membuat seluruh ruangan terasa membeku.Hujan masih menghantam kaca toko elektronik di luar, tapi suara itu terdengar jauh dan samar, seolah dunia mulai menjauh dari Raka. “Bullshit…” gumamnya pelan.Mira tidak bereaksi apapun. Dia tahu bahwa penje
TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “A
“Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,
“Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “J
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews