author-banner
Indah Amirah
Author

Novels by Indah Amirah

Ketika Nyonya Jahat Tidak Lagi Peduli

Ketika Nyonya Jahat Tidak Lagi Peduli

Evelyn tiba-tiba terbangun sebagai Arischa Maheswari—istri konglomerat dingin dan ibu antagonis yang dibenci seluruh keluarganya. Di novel original, Arischa akan berakhir tragis setelah menghancurkan hidup anak-anaknya sendiri. Namun Evelyn malas mengikuti alur itu. Ia tidak berniat menjadi ibu penyayang, tidak ingin memperbaiki hubungan keluarga, dan sama sekali tidak tertarik pada drama rumah tangga kaya raya itu. Selama rekeningnya aman dan hidupnya nyaman, semuanya sudah cukup. Masalahnya… semakin Arischa bersikap dingin dan tidak peduli, suami serta anak-anaknya justru mulai terobsesi padanya. Dan untuk pertama kalinya, keluarga Maheswari mulai takut kehilangan wanita yang selama ini mereka abaikan. Karena ternyata… cara paling berbahaya untuk menaklukkan keluarga itu bukan dengan cinta. Melainkan dengan berhenti peduli sama sekali..
Read
Chapter: Perjamuan Masa Lalu
Restoran itu masih sama seperti dalam ingatan Arischa—atau setidaknya, memori dari tubuh ini. Klasik, dengan pencahayaan temaram yang dirancang untuk menciptakan privasi di tengah keramaian elit Jakarta. Arischa melangkah masuk mengenakan gaun midi bodycon berwarna hitam dengan potongan leher tinggi, memancarkan aura otoritas yang tenang. Adrian sudah duduk di sana. Ia tampak tidak tenang, jari-jarinya mengetuk meja marmer secara ritmis. Saat melihat Arischa mendekat, ia segera berdiri, sebuah gerakan sopan yang sudah lama tidak ia tunjukkan pada istrinya sendiri. "Kamu datang," ucap Adrian, suaranya terdengar lega. "Makanannya enak di sini, sayang kalau dilewatkan hanya karena ego," jawab Arischa sambil duduk. Suasana sempat kaku saat pelayan menuangkan air ke gelas mereka. Adrian memesan menu yang sama seperti sepuluh tahun lalu, sebuah upaya sentimental yang bagi Arischa terasa agak dipaksakan. "Aku tahu kamu sedang bekerja sama dengan Reihan," Adrian membuka percakapan se
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Pesta yang Tidak Diundang
Arischa menghabiskan waktu berjam-jam di ruko barunya, berdiskusi dengan kontraktor tentang tata letak pencahayaan dan pemilihan material lantai. Ia merasa jauh lebih hidup saat membicarakan blueprint bangunan daripada membicarakan menu makan malam. Namun, kedamaian itu terusik saat sebuah mobil mewah berhenti di depan rukonya yang masih berdebu. Seorang wanita dengan pakaian bermerek dari ujung kepala hingga kaki turun dengan ekspresi jijik melihat lingkungan sekitar. Itu adalah Shinta, salah satu anggota "The Diamond Queens" yang paling vokal. "Arischa! Jadi benar kamu di sini? Kami semua di grup heboh karena kamu keluar tanpa pamit!" seru Shinta sambil mengipasi wajahnya dengan tangan. "Dan apa ini? Kamu mau buka toko di tempat kumuh seperti ini? Kamu sedang bangkrut atau Adrian sedang menghukummu?" Arischa menatap Shinta seolah wanita itu adalah serangga yang mengganggu. "Shinta, kalau kamu punya waktu untuk mengkhawatirkan saldo rekeningku, mungkin itu tandanya kamu sendiri
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Perang Dingin di Balik Pintu
Arischa terbangun dengan perasaan segar, meskipun ia tahu suasana di luar kamarnya sedang tidak baik-baik saja. Setelah penolakannya terhadap Adrian semalam, ia mengira pria itu akan meledak marah. Namun, yang ia temukan di depan pintunya pagi ini bukanlah surat cerai, melainkan sebuah buket bunga mawar putih besar dengan kartu ucapan bertuliskan: "Mari bicara saat kamu tidak lelah. - A".Arischa hanya menatap bunga itu seolah-olah itu adalah tumpukan sampah mahal. Ia tidak mengambilnya, melainkan melangkahi buket itu dan berjalan menuju dapur. Baginya, bunga adalah upaya klasik pria yang tidak tahu cara berkomunikasi."Bi, buang bunga di depan pintu saya. Baunya membuat saya bersin," ucap Arischa santai saat melihat kepala pelayan di koridor.Pelayan itu terbelalak. "T-tapi Nyonya, itu dari Tuan Besar...""Saya tahu. Makanya saya suruh buang. Kalau dia tanya, bilang saja saya lebih suka saham daripada tumbuhan mati," balas Arischa sambil terus melangkah.Di ruang makan, Elian sedang
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Magnet yang Tak Disengaja
Jalanan Jakarta siang itu cukup bersahabat bagi Arischa yang sedang menikmati kemudi mobil sport putihnya. Ia tidak pergi ke mal mewah atau tempat kumpul sosialita yang biasanya menjadi habitat aslinya. Tujuannya adalah sebuah kawasan ruko tua yang sedang direvitalisasi di pinggiran Jakarta Selatan. Tempat itu punya karakter—sesuatu yang tidak ia temukan di rumah megahnya yang terasa steril."Terlalu banyak emas di rumah itu membuat mataku sakit," gumamnya sambil memarkirkan mobil dengan presisi yang mengejutkan bagi seseorang yang biasanya selalu disopiri.Ia turun dan mulai berjalan kaki menyusuri trotoar, mengamati bangunan-bangunan yang ada. Arischa ingin membuka sebuah studio desain interior atau mungkin ruang kreatif. Ia punya selera yang bagus di kehidupan sebelumnya, dan dengan dana tak terbatas milik Arischa yang sekarang, ia bisa mewujudkan apa pun tanpa harus pusing memikirkan cicilan.Namun, ketenangannya tidak bertahan lama. Ponselnya bergetar berkali-kali. Pesan dari gr
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Gangguan di Pagi Hari
Sinar matahari masuk menembus celah gorden sutra yang sengaja tidak ditutup rapat oleh Arischa semalam. Ia terbangun tanpa alarm, tanpa teriakan pelayan yang panik, dan tanpa rasa pening yang biasanya menghantui hidupnya yang dulu penuh tekanan. Arischa merentangkan tangannya, menikmati keheningan kamar yang kedap suara ini. Ia merasa seperti seorang ratu di wilayah kekuasaannya sendiri, setidaknya sampai suara ketukan pintu yang brutal menghancurkan ketenangan itu. Tok! Tok! Tok! "Ma! Keluar sekarang! Mama apakan koleksi sepatu basketku?!" Teriak Xavier dari balik pintu. Suaranya terdengar sangat marah, tipe kemarahan yang biasanya akan membuat Arischa asli langsung keluar dan membalas teriakannya sampai seisi rumah gempar. Arischa menghela napas panjang, ia menarik selimutnya sampai ke dagu dan berteriak santai, "Masuk saja, pintunya tidak dikunci. Dan jangan berteriak, ini masih pagi untuk telingaku yang berharga." Pintu terbuka dengan kasar. Xavier berdiri di sana, memegan
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Meja Makan yang Canggung
Arischa pulang saat matahari sudah hampir tenggelam, menyisakan semburat oranye di cakrawala Jakarta yang penuh polusi. Ia melangkah masuk ke dalam mansion dengan santai, hanya membawa satu tas belanja kecil berisi beberapa buku dan sebuah lilin aromaterapi. Tidak ada deretan pelayan yang mengangkut puluhan tas merek ternama seperti biasanya. Hal ini tentu saja menjadi bahan bisikan para staf di koridor, namun Arischa hanya melewatinya seolah mereka adalah bagian dari dinding. "Nyonya, Tuan Besar sudah menunggu di ruang makan untuk makan malam keluarga," lapor kepala pelayan dengan nada yang lebih formal dari biasanya. Arischa mengangguk pelan. "Oke. Saya ganti baju sebentar." Sepuluh menit kemudian, ia turun dengan mengenakan gaun rumah sederhana berbahan satin berwarna hitam. Di ruang makan, suasana terasa seperti di dalam ruang sidang. Adrian duduk di kepala meja, sementara Xavier, Leo, dan Elian sudah berada di kursi masing-masing. Ketiga anak itu tampak tegang, biasanya
Last Updated: 2026-05-12
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status