LOGINAku bukan orang kaya, tapi aku menikah dengan orang kaya bermodalkan cinta dan ketulusan untuk mengabdi pada suami dan keluarganya. Tapi ternyata ketulusan itu tidak berlaku di zaman sekarang. Yang laku itu hanya uang, uang, dan uang. Semuanya adalah tentang uang. Lalu bagaimana aku yang bukan orang kaya ini bisa membuat mereka bertekuk lutut?
View MoreAsap mengepul ke udara membuat langit malam semakin gelap hingga menghalangi pandangan siapa pun yang ada di sana untuk menyaksikan mobil yang mengguling, menabrak pembatas jalan tol dan terbakar.
Suara sirene mobil ambulans beradu dengan sirene mobil pemadam kebakaran juga kepolisian berusaha menyelamatkan korban serta mengatur lalu lintas jalanan yang cukup ramai. Hati dan pikiran Naura terbelah menjadi berkeping-keping melihat asap tebal dari mobil sedan yang terguling menembus pembatas jalan.
Tubuh langsing Naura gemetar hebat melihat api mobil yang ditumpang oleh suami dan sahabatnya. Kaki jenjangnya lemas dan tidak mampu menopang tubuhnya hingga terjatuh duduk di atas aspal yang dingin.
Salah seorang petugas kepolisian menghampiri Naura yang terduduk lesu, “Sebaiknya Anda ke rumah sakit karena korban sudah di evakuasi.”
“Apa?”
“Petugas kepolisian sempat menyelamatkan dua korban di dalam mobil sebelum terjadi ledakan.”
“Dua? Bukan tiga?”
“Saat kami akan kembali menyelamatkan pengemudi setelah mengevakuasi korban yang ada di bangku penumpang, mobil meledak dan terbakar.”
“Ah …” raung Naura. Air mata tidak lagi terbendung membasahi pipi mulus Naura. Tangisnya pecah membayangkan pengemudi yang tidak lain adalah suaminya dilalap oleh api.
“Kami akan mengantar Anda ke rumah sakit tempat korban di rawat.”
Tangan kokoh petugas kepolisian tersebut membantu Naura berdiri dan menopang tubuh lemahnya untuk berjalan menuju mobil polisi yang telah menunggu. Ditemani oleh dua petugas kepolisian, ia menembus kepadatan lalu lintas dengan suara sirene yang keras memecah kepadatan jalanan.
“Aku harus tetap sadar,” gumam Naura. Yang mereka miliki saat ini hanya dirinya seorang, jika ia berlarut-larut dalam keterpurukkan semua hanya akan berjalan ke arah yang lebih buruk.
“Astagfirullah hal adzim …” ucap Naura berulang kali sambil menarik nafas panjang hingga ia mendapatkan ketenangan.
Saat pikirannya mulai tenang, ia pun teringat dengan mobil lain yang mengawal pasangan Werner bersama suaminya.
“Bagaimana dengan mobil yang lain?” tanya Naura ke petugas kepolisian.
“Satu mobil yang melaju paling depan aman, untuk mobil yang ada di belakan mobil korban menabrak pembatas jalan yang cukup jauh dari TKP dan hanya mengalami luka benturan.”
“Jadi, hanya mobil itu yang mengalami kecelakaan hebat?”
“Ya.”
Bingung, itulah yang Naura pikirkan saat mendengar penjelasan dari petugas kepolisian. Jika hanya mobil yang ditumpangi oleh pasangan Werner yang mengalami kecelakaan hebat maka bisa dibilang mereka memiliki jarak yang cukup jauh dari mobil di belakang mereka. Jarak tersebut cukup untuk membuat mobil yang ada di belakang melakukan pengereman mendadak tanpa harus menabrak mobil mereka dan ikut menerobos pembatas jalan.
“Kita sudah sampai.”
Naura membuka pintu mobil dan melihat orang-orang yang mengawal pasangan Werner sudah berada di UGD rumah sakit. Dua dari mereka berada di dalam UGD mengawasi perawatan yang diberikan oleh perawan ke pasangan Werner, dan satu penjaga lainnya berdiri di luar UGD seolah sedang menunggu seseorang.
“Akhirnya Anda datang juga,” kata pengawal yang berdiri di luar UGD.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Naura yang telah mendapatkan ketenangannya kembali.
“Para pengawal hanya mengalami luka memar akibat benturan tanpa ada risiko patah maupun gagar otak.”
“Lalu, bagaimana dengan Arvin dan Shanaz?”
Hening, pengawal tersebut hanya menundukkan kepala tanpa sepatah kata pun yang keluar untuk menjelaskan kondisi pasangan Werner. Naura memperlebar serta mempercepat langkahnya menuju UGD tempat pasangan Werner tersebut di rawat.
“Astagfirullah hal adzim,” ucap Naura saat melihat kondisi Arvin
Tubuh pria itu dipenuhi oleh darah yang mengucur dari kepala, telinga serta hidungnya. Tampak darah juga membasahi celana kain Arvin yang sudah dirobek oleh petugas kesehatan untuk melakukan pertolongan pertama.
“Pak Arvin ditemukan dalam keadaan memeluk Bu Shanaz saat petugas kepolisian melakukan penyelamatan.”
Dengan kaki gemetar, Naura mendekati ranjang tempat pasangan Werner sedang dilakukan perawatan oleh para dokter jaga juga perawat. Alat monitor pasien terpasang di kedua korban dan menunjukkan tanda-tanda vital yang tidak stabil terutama Arvin.
Dua dokter jaga memberikan CPR secara bergantian untuk mendapatkan denyut jantung yang semakin melemah. Dengan nafas tersengal, salah seorang dokter melihat Naura berdiri mematung melihat keadaan pasien yang masih dibantu CPR.
“Apa Anda wali dari korban?” tanya dokter muda tersebut.
“Ya. Bagaimana keadaan mereka?”
“Seperti yang Anda lihat, untuk keadaan saudara Arvin cukup parah. Dari hasil CT Scan dan USG …” Dokter tersebut hanya menggelengkan kepala sebagai bentuk permintaan maaf.
“Apa banyak tulang yang patah?”
“Bukan hanya hanya itu, benturan yang terlalu kuat juga membuat beberapa organ dalam seperti lever mengalami pendarahan yang cukup para dan harus segera di operasi. Masalahnya adalah ….”
Jeda yang terjadi membuat Naura melihat ke arah Arvin yang masih mendapatkan bantuan CPR untuk mendapatkan denyut nadinya kembali.
“Selain itu, dari hasil CT Scan, pendarahan yang terjadi di otak juga cukup parah dan kalaupun kami berhasil menghentikan pendarahan yang terjadi di lever, ada kemungkinan pasien akan mengalami mati otak.”
“Ya Allah,” gumam Naura.
“200 joule …” teriak dokter yang tengah menangani Arvin.
“Ya Allah,” ucap Naura.
“Permisi,” ucap dokter, lalu meninggalkan Naura.
Para perawat berlarian melaksanakan perintah dokter untuk mempertahankan hidup Arvin yang berada di ambang kematian. Angka-angka di monitor semakin menurun dan berbunyi keras membuat Naura harus berusaha keras menghirup oksigen. Dadanya terasa sesak membuat ia harus berpegang ke meja perawat untuk menopang tubuhnya yang lemas dan pandangannya yang mulai menggelap.
“Anda baik-baik saja?” tanya pengawal yang terus berada di sisi Naura.
Naura mengangkat sebelah tangan memberi isyarat agar diberi ruang untuk dan menenangkan diri dan menstabilkan nafas. Teriakan dokter dan suster tidak lagi mampu ia dengar, ia hanya bisa melihat kesibukan serta kepanikan petugas kesehatan dengan kondisi monitor yang semakin menurun.
Angka-angka di monitor semakin menurun begitu pula dengan grafik yang semakin tidak lagi terlihat bergelombang. Naura cemas dan takut namun ia berusaha untuk tetap tegak dan tegar demi mengatasi situasi yang masih membuatnya bingung.
Tit …
Bunyi keras monitor membuat dokter juga perawat akhirnya menyerah. Denyut jantung Arvin tidak kunjung kembali setelah hampir tiga puluh menit dilakukan CPR. Semua angka di monitor menunjukkan angka nol yang berarti sudah tidak ada lagi denyut jantung.
Setelah menyatakan kematian Arvin di hadapan petugas kesehatan, dokter menghampiri Naura untuk memberitahukan kematian Arvinyang diakibatkan oleh pendarahan otak juga gagal jantung.
“Dokter!” Teriakan dari ranjang sebelah membuat mereka beralih ke Shanaz.
Denyut jantung Shanaz yang stabil tiba-tiba menurun.
“Tidak …” ucap Naura ikut berlari menghampiri Shanaz.
Dengan cekatan dokter memberikan CPR untuk membuat denyut jantung Shanaz kembali. Mereka memberi ruang ke Naura untuk mendekat dan membiarkan menggenggam tangan Sahana yang terkulai lemas.
“Kau harus bertahan demi bayi yang ada dalam kandunganmu,” ucap Naura.
Sekilas terbersit keinginan untuk membalasnya, mencaritahu jawaban atas rasa penasaran di pikiranku namun kuurungkan saja. Meski tidak memblokir nomornya, tapi aku sudah bulat untuk menutup akses komunikasi dengannya.Aku pun menyimpan kembali ponselku ke tempat semula. Belum ada lima menit berselang suara notifikasi berbunyi lagi, kali ini sebuah panggilan suara dari Mas Hangga yang membuatku terperanjat. Ada apa lagi dia menggangguku di malam pengantinnya?! Bukankah dia sudah berbahagia dengan istri pilihannya?Jari jempolku ragu-ragu antara memijit tombol hijau atau merah. Hijau berarti menerima panggilannya, merah berarti aku tak mau menjawabnya.“Mirna, siapa yang menelepon malam-malam begini?” Suara ibu dari kamar sebelah menyadarkanku.Akhirnya kupilih membiarkan panggilan suara itu sampai dia berhenti sendiri.*Jam delapan pagi aku sudah berjalan lima langkah dari rumah, tujuanku adalah Mbak Murni. Ibu menyuruhku untuk datang ke sana membungkus keripik hari ini. Setelah tak b
Cepat kutepis pikiran serta ingatan tentang Linda sebelum pusing di kepalaku kembali kambuh. Kenangan di rumah Mas Hangga membuatku trauma, mengingatnya akan membuatku takut. Oleh karena itu, aku harus bisa melupakan semuanya dan kepulanganku ke sini adalah langkah awal menuju kehidupanku yang baru, yang apa adanya, jauh dari kemanipulatifan.Biarlah mereka pernah mengataiku sebagai orang yang polos, lugu, naif dan semacamnya. Selama ini aku hanya mengikuti kata hati yang menurutku benar, aku punya ketulusan walaupun itu mereka anggap sebagai kebodohan sehingga membuangku setelah habis manisku. Tapi lihatlah, suatu saat mereka akan menyadari nilai positif dalam diriku ini.Tak terasa semua wadah selesai kucuci. Karena kondisi hamil muda dan flashback ke masa lalu akhirnya kerjaku jadi lambat. Sebenarnya ibu melarangku untuk mengerjakan pekerjaan rumah, hanya saja aku tidak terbiasa berdiam diri, tak tahan lihat cucian menumpuk dan rumah yang berantakan.Suara pintu rumah dibuka dengan
Aku semakin tak kuat mengontrol emosi yang menguasai diri, kepalaku rasanya panas dan mau pecah. Tiba-tiba saja penglihatanku gelap dan tidak sadarkan diri. Hanya sayup-sayup suara beberapa orang di sekeliling yang masih dapat kudengar. Sepertinya sedang terjadi kepanikan.“Kamu sih ngomongnya sembarangan pakai nuduh Mirna hamil anak orang lain segala.”“Emang Mirna beneran Hamil? Kan aku cuma nebak. Enggak ngomong langsung nuduh gitu.”“Kayaknya bener hamil. Kemarin saya lihat dia keluar dari rumah bidan Elsa, terus barusan dia muntah hebat. Ya pasti positif hamil lah.”“Memang benar anak saya hamil. Hamil anak Hangga—suaminya, bukan anak orang lain. Selama ini gossip yang sampai ke telinga kalian menuduh Mirna mandul, ternyata Mirna tidak mandul. Buktinya dia hamil. Baru ketahuan kemarin sore setelah periksa ke bidan Elsa. Jadi, mulai sekarang jangan ada komentar miring tentang anak saya lagi ya, dia dicerai Hangga karena mereka kira Mirna mandul, bukan karena Mirna hamil anak orang
Meski aku menepisnya, namun dalam hati mulai tumbuh keyakinan bahwa aku benar hamil. “Besok Ibu akan beli testpack untuk memastikan. Kalau kamu benar hamil, Ibu akan pergi ke rumah mertuamu dan mengatakannya dengan lantang bahwa anak Ibu tidaklah mandul!” Binar bahagia di mata ibuku begitu bersinar hingga ia lupa bahwa semua sudah terlambat, aku sudah menutup pintu untuk Mas Hangga. Jadi seandainya benar aku hamil pun, itu tidak akan mengubah nasib rumahtanggaku. Namun biarlah Ibu dengan perasaan bahagianya sendiri. Aku memilih untuk beristirahat. *Hari ini pernikahan Mas Hangga dengan Linda digelar namun aku akan bersikap tidak peduli dan tidak mau tahu. Aku mendapati surat undangan di bawah taplak meja tempat ibuku menjajakan gorengan. Rupanya, Ibu Mertua memberikan surat undangan ini pada Ibu di hari kepulanganku dua hari yang lalu dan Ibu menyembunyikannya dariku, pantaslah pada saat itu Ibu menyambutku dengan perasaan bersedih. Dengan cepat kusimpan kembali surat undangan i
“Ada apa ini?” bantahku. “Mas Hangga memang menyuruhku pulang, tapi dia tak menyuruhku mengemasi semua barang dan baju. Aku akan pulang untuk sementara, tidak untuk selamanya.”“Ngeyel!” Linda menggerutu sambil berlalu dari hadapanku, meninggalkan koper-koper tergeletak begitu saja.Kini tinggal Ibu M
Seketika aku langsung berlari ke kamar dengan menghentakkan kaki keras-keras ke lantai. Bukannya melawan ataupun membela diri di hadapan mereka, aku memilih pergi. Aku tak boleh gegabah dalam bertindak. Jika aku marah dan mengeluarkan kata-kata sedikit saja, mereka pasti akan menang karena itu akan
Sorot mata Linda semakin menantang, aku jadi terpancing. “Kamu ambil saja Mas Hangga jika bisa. Akan kupastikan kamu yang menangis karena dia tak akan meninggalkanku!” Tanpa merasa takut aku membalas tantangan Linda. Sementara itu, Ibu Mertua menarik tangan Linda dan membawanya menjauh
Hancurnya rumah tanggaku berawal dari curhat. Kebiasaan Ibu Mertua yang selalu menceritakan segala kekuranganku kepada Linda—mantan kekasih suamiku—membuka jalan bagi perempuan itu untuk masuk ke dalam kehidupan pernikahanku bersama Mas Hangga.“Salah apa sih, si Mirna itu, Ma?” tanya Linda kepada






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.