My Husband was a Cartel Boss
Dark RomanceDewasaPosesifMafiaTawananBenci jadi Cinta
(21+)
Sebuah ledakan di Pelabuhan Busan mengubah hidup Traya Gayatri dalam semalam. Berniat mencari murid-murid TK-nya yang hilang dalam kondisi terluka, guru asal Indonesia itu justru salah melangkah masuk ke bunker rahasia milik Kim Muyeol (27) bos kartel kejam yang dijuluki ‘Iblis dari Barat’.
Tak sengaja melihat apa yang seharusnya tidak boleh dilihat, Traya hanya diberi dua pilihan: keluar sebagai mayat, atau tinggal untuk dihancurkan.
Malam itu juga, di atas yacht mewah di tengah pekatnya laut Busan, Muyeol merampas paksa kesucian Traya. Bukan karena cinta, melainkan sebuah dominasi mutlak agar gadis itu bungkam selamanya.
Saat sang Iblis menolak untuk membunuhnya, sanggupkah Traya bertahan di dunia yang siap menelannya hidup-hidup?
Lesen
Chapter: Hukuman sang AsistenChapter 6 Pagi pertama sebagai asisten administrasi pribadi Kim Muyeol dimulai dengan debaran jantung yang tidak keruan, rasanya seperti berjalan pelan menuju tiang gantungan. Setelah Bibi Jung mengantarkan sepasang pakaian rajut berwarna krem yang sopan serta flat shoes yang pas di kakiku, aku langsung digiring oleh salah satu pengawal berjas hitam menuju perpustakaan pribadi di lantai dua. Sepanjang koridor yang sunyi, kepalaku terus berputar memikirkan bagaimana aku harus bersikap di depan pria yang semalam baru saja mempermainkan mentalku di atas ranjang yang sama. Begitu pintu ganda kayu dibuka, mataku langsung disambut oleh kemegahan ruangan yang teramat luas. Rak-rak buku tua menjulang tinggi hingga ke langit-langit, dipenuhi oleh ribuan jilid berkas rahasia yang tersusun rapi. Aroma kertas, kayu premium, dan wangi maskulin khas Muyeol yang dominan bercampur dalam ruangan itu. Di tengah ruangan, Muyeol sudah duduk di balik meja kerja marmernya yang megah. Dia mengenakan ke
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-10
Chapter: Batasan di Ambang MalamChapter 5Ketakutan murni kembali mencengkeram dadaku begitu kakiku melangkah melewati ambang pintu kamar utama milik Kim Muyeol. Kamar ini jauh lebih luas daripada kamarku sebelumnya, dengan dominasi warna hitam dan abu-abu arang yang memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Di tengah ruangan, sebuah ranjang besar berlapis sprei sutra gelap tampak seperti altar penghakiman bagiku.Aku berdiri mematung di dekat pintu, meremas gaun tidur katunku hingga kuku-kuku jariku memutih. Kepalaku menunduk, tidak berani menatap sosok pria yang kini berjalan santai menuju sofa panjang di sudut ruangan."I won't repeat my order twice, Cariño. Get on the bed," ucap Muyeol tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya. Suaranya datar, namun getaran baritonnya membangkitkan bulu kudukku.Aku melangkah masuk dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara. Alih-alih langsung naik ke atas kasur, langkahku mendadak terhenti di tengah ruangan. Aku berdiri dengan ragu-ragu, meremas ujung gaun tidur
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-10
Chapter: Ilusi KebebasanChapter 4 Rasa lapar ternyata memiliki batas toleransi yang kejam. Setelah dua hari lebih menolak menyentuh makanan apa pun yang disajikan, tubuhku mulai memberikan sinyal protes. Perutku melilit, lambungku terasa diaduk-aduk, dan kepalaku berputar pening setiap kali aku mencoba menggerakkan badan. Di tengah kesunyian malam yang mencekam, setelah badai besar di luar sedikit mereda menjadi gerimis tipis, ego dan harga diriku akhirnya runtuh total oleh rasa sakit fisik yang tak bisa kutahan. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku meraih mangkuk bubur abalon dingin yang diantarkan oleh Bibi Jung sore tadi. Makanan itu sudah sepenuhnya mendingin, permukaannya tampak mengeras karena pendingin ruangan, dan aromanya tidak lagi menggugah selera. Namun, demi bertahan hidup, aku menyuapkan makanan dingin itu ke dalam mulutku sembari meneteskan air mata hangat. Rasanya hambar, terasa sangat berat dan kesat saat melewati tenggorokanku yang kering. Sungguh sebuah ironi, aku menangis bukan hanya
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-31
Chapter: Sentuhan di Balik BadaiChapter 3Dua hari telah berlalu sejak malam mengerikan di pelabuhan itu, dan aku masih terkurung di dalam kamar mewah yang kini terasa seperti penjara berlapis emas. Pintu kamar ini selalu dikunci dari luar, kecuali saat pelayan tua bernama Bibi Jung masuk untuk mengantarkan makanan atau memeriksa perban di keningku. Aku menolak untuk menyentuh makanan mewah yang disajikan, membuat tubuhku semakin lemas dan tak bertenaga. Pikiranku terus berputar pada murid-muridku dan bagaimana hancurnya keluargaku di Indonesia jika mereka mengira aku sedang sekarat di rumah sakit Korea. Malam ini, badai besar melanda Busan. Suara gemuruh petir dan hantaman hujan deras pada dinding kaca kamarku membuat suasana semakin mencekam. Aku meringkuk di lantai di sudut kamar, memeluk lututku erat-erat sambil menangis tertahan. Rasa takut dan rindu rumah bercampur aduk, meremukkan seluruh pertahananku. Ceklek. Suara pintu yang terbuka di tengah malam buta membuatku tersentak. Aku mendongak dengan pandangan
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-21
Chapter: Sangkar Emas sang IblisChapter 2 Saat mataku kembali terbuka, rasa dingin dari lantai beton bunker semalam telah lenyap. Aku terbangun di atas ranjang king-sized yang luar biasa empuk, berselimut kain sutra mahal di dalam sebuah kamar tidur mewah yang sangat luas. Dinding kamar itu didominasi warna putih dan abu-abu arang, memancarkan kesan minimalis yang maskulin sekaligus mengintimidasi. Melalui dinding kaca raksasa antipeluru di sisi kamar, aku bisa melihat hamparan laut lepas Busan dari ketinggian perbukitan eksklusif. Aku menyadari luka di keningku telah diobati dengan rapi menggunakan perban baru. Kemeja putihku yang kotor dan robek semalam pun telah diganti dengan sepotong gaun tidur katun yang longgar. Ketakutan mendadak menjalar ke seluruh tubuhku. Siapa yang mengganti pakaianku? Bagaimana dengan tubuhku.. "Are you awake, Miss?" Aku tersentak dan menoleh cepat. Seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan berdiri di dekat pintu kamar mandi, memegang baskom kecil. "Young Master ordered me to
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-21
Chapter: Awal TakdirChapter 1“You have seen what you shouldn't have seen. Now you have two options. Leave as a corpse, or be mine." ucapnya dengan nada datar yang dingin. Aku membeku ketakutan, napasku seolah tercekat di tenggorokan. Menghadapi pilihan mematikan dari sang bos kartel dan menyadari diriku terperangkap di bunker bawah tanah yang mustahil kutembus, seluruh pertahanan mental yang kupunya runtuh sepenuhnya. Rasa pusing kembali menghantam kepalaku, pandanganku berputar kabur, hingga akhirnya kesadaranku habis total. Aku kembali jatuh pingsan di kursi tersebut, sepenuhnya berserah pada takdir di tangan pria asing yang mengerikan itu. Namaku Traya Gayatri. Di usiaku yang baru menginjak 24 tahun, aku berhasil membangun kehidupan impian yang damai di Busan, Korea Selatan. Berbekal ijazah dari salah satu universitas ternama di sini melalui jalur beasiswa, passion mengajar membawaku menjadi seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah internasional bergengsi di kota pelabuhan ini. Aku sangat men
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-21