LOGIN"Aku membayarmu mahal untuk menurut pada perintahku. Aku bisa menuntutmu atau melenyapkanmu jika aku mau, Kalila!" Kalila mengira kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan paksa ibunya adalah keputusan yang tepat. Sayangnya, pelarian itu justru menjebaknya langsung ke dalam sangkar emas milik Damian Lazuardi—seorang pria berkuasa yang dikelilingi rumor gelap dan tak kenal ampun. Akibat kecerobohan menandatangani dokumen tanpa dibaca, Kalila kini terikat kontrak pernikahan dan terancam denda penalti sebesar lima miliar rupiah jika ingin lolos dari cengkeramannya. Terperangkap menjadi istri kontrak seorang mafia, Kalila bersumpah tidak akan membiarkan harga dirinya diinjak-injak. Karena sudah terlanjur, ia bertekad untuk bangkit dan memanfaatkan seluruh kemewahan milik Damian untuk bertahan hidup. Namun, sanggupkah Kalila mempertahankan harga dirinya dan nyawanya di hadapan pria seberbahaya Damian?
View More"Tunggu di sini."
Pria itu memberi perintah, Kalila menurut lantaran dia yang membawanya ke sini untuk bekerja. Sembari menunggu, manik mata gadis itu melihat sekitar, menatap perabotan mahal dan juga lukisan-lukisan yang terlihat mengerikan. Rumah ini sangat megah, sayangnya sangat tertutup dari dunia luar. Kalila Geovani. Semalam baru saja melarikan diri dari rumah karena sang ibu memaksanya untuk menikah dengan pria yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayah dibanding suaminya. Ia bertemu dengan teman masa kecilnya, dan pria itu mau membantunya untuk mencari tempat tinggal dan pekerjaan. Di sinilah dia berada. Di rumah mewah yang jauh dari kota dan pemukiman warga, bisa dibayangkan bagaimana sepinya di sini? Hanya ada pepohonan di sekitar rumahnya, tapi cukup nyaman untuk seukuran orang yang tertutup. "Kalila, aku sudah menyerahkan dokumen kontrak perjanjian yang sudah kau tandatangani. Sebentar lagi mungkin kau akan dipanggil, tunggu di sini." Davin keluar, memberikan informasi yang membuat hatinya cukup lega. Akhirnya, ia mendapatkan pekerjaan juga tempat tinggal. Setidaknya, ia tidak khawatir besok akan makan apa karena memang ia pergi tanpa membawa apa pun. Hanya ponsel yang layarnya sudah retak lantaran dirinya terjatuh. "Kau mau ke mana, Dav?" tanya Kalila melihat Davin melangkahkan kakinya, hendak meninggalkannya. Davin tersenyum tampak menyadari kekhawatiran gadis itu. "Aku mau ke toilet sebentar," katanya. Mendengar hal itu, Kalila mengangguk polos dan membiarkan pria itu hilang dari pandangannya. Gadis itu menatap lurus ke arah pintu yang terhubung dengan ruangan yang baru saja menjadi tempat diskusi antara Davin dan pemilik rumah ini. Kalila tersentak saat pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang pria dengan tatapan datar dan pria itu menatapnya! "Kau Kalila?" Suara itu berat, Kalila langsung merasa terintimidasi mendengarnya. Gadis itu mengangguk dengan susah payah, berusaha untuk tidak gemetar di hadapan pria yang terlihat cukup berbahaya itu. "Masuk," pintanya. Setelah itu, pria itu masuk ke dalam ruangan lebih dulu. Kalila mengikuti dari belakang, merasa semua akan baik-baik saja. "Apa Davin sudah memberitahumu apa yang perlu kau lakukan di sini?" tanyanya langsung, setelah Kalila berdiri tegak di tengah ruangan. Kalila yang ditanya seperti itu bingung, Davin tak menjelaskan apa pun. Dia hanya mengatakan padanya bahwa dia akan bekerja menjadi tukang bersih-bersih, hanya itu. "Dia mengatakan akan memberiku pekerjaan untuk bersih-bersih." Sudut bibir pria itu terangkat, seperti ada yang disembunyikan. "Apa Davin sudah menjelaskan padamu tentang kontrak perjanjian yang sudah kau tandatangani ini?" tanyanya lagi, mengacungkan dokumen yang memang sudah Kalila tandatangani. "Kau sudah membacanya?" Ah itu, dia hanya menandatangani tanpa membaca. Karena Davin buru-buru, membuatnya langsung menggoreskan pena di atas materai tanpa membacanya. "Melihat reaksimu, sepertinya kau harus membacanya lebih dulu," katanya, menyerahkan dokumen itu yang jelas langsung diterima oleh Kalila. Manik matanya mulai membaca dengan hati-hati setiap deret kalimat yang ada dalam dokumen tersebut.Pihak kedua dengan kesadaran penuh menyerahkan seluruh hak kebebasan fisik dan hukumnya kepada pihak pertama. Pihak kedua wajib mematuhi seluruh perintah Pihak pertama tanpa pengecualian dan tidak diperkenankan untuk meninggalkan rumah tanpa izin pihak pertama. Jika pihak kedua melanggar, pihak pertama berhak menghukum pihak kedua dengan cara apa pun. Kalila membaca dalam hati, dengan tangan gemetar lantaran pasal-pasal yang disebutkan di perjanjian itu benar-benar merugikannya. Sayangnya, melihat tandatangannya yang tergores di bawah sana membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia jelas dijebak. "Apa maksud semua ini?" tanya Kalila. "Davin bilang itu hanya kontrak pelayan. Kenapa jadi seperti ini?" lanjutnya, Kalila sudah berkaca-kaca karena merasa bahwa ia yakin hidupnya akan kacau. "Dia tahu kau sedang putus asa, dan dia memanfaatkan kepolosanmu untuk kepentingan dirinya sendiri. Sekarang, dokumen itu sudah sah di mata hukum. Kau bukan pelayan di sini. Kau adalah milikku." Kalila mundur satu langkah, berniat berbalik dan berlari mencari Davin ke toilet. Namun, seolah bisa membaca pikirannya, pria itu kembali bersuara. "Jangan repot-repot mencarinya. Davin bahkan tidak pergi ke toilet. Dia sudah lewat pintu belakang begitu selesai bertransaksi denganku." Runtuh sudah pertahanan Kalila. Kakinya lemas, membuatnya terhuyung ke belakang. Pelarian dari ibunya ternyata justru membawanya masuk ke kandang monster yang jauh lebih mengerikan. Pria itu melangkah mendekat dan berhenti tepat di depan Kalila yang menunduk terisak, lalu dengan dua jari, ia mengangkat dagu gadis itu agar menatap langsung ke manik mata. "Selamat datang di duniaku, Kalila. Mulai hari ini, namamu, tubuhmu, dan hidupmu ... adalah milikku." Setelah mengatakan hal itu, pria itu pergi dan meminta seseorang untuk mengantarnya beristirahat. Miliknya katanya? Di tempatkan di situasi sulit seperti ini membuat pikiran Kalila tak bisa diam. Ia terus berpikir untuk melakukan pelarian. Sayangnya, jika ia lompat melalui jendela nyawanya bisa melayang di tempat. Karena jarak dari kamarnya ke tanah sangat jauh. Jika lewat pintu depan, sangat tidak mungkin karena ada dua manusia berbadan besar menjaganya. Rumah ini, bak istana tapi juga seperti penjara baginya. Setelah berbincang tadi, pria itu menguncinya di kamar ini. Kamar dengan fasilitas mewah, yang mungkin luasnya sama dengan rumah yang ia huni. Orang yang ia percaya akan menolong, justru adalah orang yang menipunya. Kenapa semesta begitu jahat? Astaga, kenapa ini terjadi padaku? Kalila membatin, dulu ia begitu tersiksa karena mama yang selalu memeras tenaga dan uangnya. Sekarang, kenapa yang ia temui hanya kesengsaraan? Ya Tuhan, tidak adakah kesempatan baginya untuk bahagia? Ceklek. Pintu dibuka dari luar, seseorang berseragam maid masuk membawa nampan berisi nasi, lauk pauk, camilan dan minuman. Kalila baru sadar, ia belum makan siang sama sekali. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, sudah sangat lewat untuk makan siang. Dan juga, mengingat pembicaraan dengan Tuan yang belum ia ketahui namanya membuatnya tak mau makan. "Silakan dinikmati, Nona." Kalimat itu kaku, seperti maid yang terpaksa melayani. Mungkin karena dirinya orang baru dan wanita itu enggan untuk ramah padanya? "Begitu caramu melayani calon istriku?" Mendengar suara bariton, wanita itu tersentak, lalu duduk bersimpuh menunduk dengan takut dan menggumamkan kata maaf berulang-ulang. Kalila yang belum sempat meredakan keterkejutannya atas kedatangan pria itu, kini makin membeku melihat reaksi spontan tersebut. "Kau pikir kau siapa?" Nada suara datar, penuh penekanan membuat siapapun merinding mendengarnya. Pria itu benar-benar terlihat sangat mengerikan sekarang, bahkan Kalila meremas ujung bajunya lantaran takut. "Maafkan saya Tuan Damian. Saya benar-benar tidak tahu kalau dia adalah calon istri Anda, Bibi Indri tidak mengatakan apa pun." Jadi namanya Tuan Damian? Kalila masih dengan pikirannya, bukan hanya reaksi pria itu yang cukup membuatnya terkejut. Tapi mengenai perkataannya, calon istri katanya? "Tahu atau tidak, sikapmu tidak bisa dimaafkan." Pria itu bersuara semakin membuat wanita itu ketakutan. "Tapi karena ini hari bahagia atas kedatangan calon istriku, kau selamat."Napas Damian tertahan saat jemari Kalila mencengkeram kemejanya. Sentuhannya membuat darah Damian berdesir, dan suara bisikan gadis itu terus terngiang di kepalanya, menghancurkan sisa-sisa akal sehat yang sejak tadi berusaha ia tahan."Kalila... kau tidak sadar dengan apa yang kau katakan," geram Damian dengan suara serak. Matanya menajam, menatap bibir Kalila yang gemetar menahan reaksi obat itu. Ia memegang kedua bahu Kalila, berusaha memberi jarak agar Kalila tersadar."Aku sadar, Damian... tapi ini sakit, panas sekali," rintih Kalila. Air mata menetes di pipinya yang memerah. Kepolosannya kalah oleh rasa panas yang membakar tubuhnya. Gadis itu makin mendekatkan wajahnya, hingga napas hangatnya terasa di kulit Damian.Garis batas itu akhirnya runtuh.Damian menarik tengkuk Kalila, membungkam bibir gadis itu dalam ciuman yang dalam. Kalila mengerang pelan, pasrah saat Damian mengambil alih kendali. Sentuhan dingin dari pria itu seolah menjadi satu-satunya penawar dari rasa pana
Di sisi lain, Karti dan Chandra dilanda kecemasan lantaran tidak ada kabar mengenai putri mereka. Karti cemas, bukan karena putrinya menghilang tapi karena Darma menuntut ganti rugi uang yang sudah ia berikan padanya. Uang yang sudah habis ia pakai, untuk memenuhi kebutuhannya. "Makanya, Ma. Kalau belum pasti uangnya nggak perlu foya-foya dulu," ujar Chandra yang juga sama cemasnya, jangankan untuk membayar denda pada Darma, untuk membayar sejumlah DP yang diberikan Darma saja mereka bingung. "Kenapa Ayah jadi nyalahin Mama sih? Ya wajar kalau mama foya-foya, selama ini memang Ayah pernah ngasih Mama uang banyak?" Tidak terima ditegur, Karti justru mengungkapkan unek-uneknya selama ini. Adam yang hanya menjadi penonton di antara mereka berdua hanya diam. Dua hari setelah kakaknya meninggalkan rumah, keadaan di tempat ini menjadi kacau. Karena memang sebelumnya segala pekerjaan rumah ditanggung oleh kakaknya. Chandra yang mendengar unek-unek istrinya hanya diam saja karena untuk p
"Ini calon istri seorang Damian?" Tanpa ada yang menjawab, tapi tampaknya diamnya orang yang ada di sini menandakan bahwa apa yang ia tanyakan benar adanya. "Bagai berlian dengan kerikil," lanjutnya dengan gerakan tangan yang benar-benar merendahkan sosok Kalila yang sedang berdiri gemetar di tengah ruangan seorang diri. "Sayang sekali, Damian yang agung malah disandingkan dengan Upik Abu sepertimu," katanya. Kalila tak mampu menjawab, karena ucapannya benar adanya. Ia bukan siapa-siapa, ia tak punya kuasa apa pun. Sialnya, yang berkuasalah yang menang. "Tapi tidak apa-apa, Upik Abu sepertimu itu bisa saja disulap jadi Cinderella dalam satu hari. Apa lagi dengan koneksi Lazuardi," katanya menyombongkan diri. "Saya Meliana Lazuardi, ibu dari Damian." Ibunya? Kalila baru melihatnya pagi ini, bahkan Damian tak menceritakan apa pun mengenai wanita di hadapannya. Beberapa orang yang ada di sini hanya memperhatikannya, sepertinya mereka mengasihani dirinya yang diinjak-injak oleh ibu
"Karti!""Aku tahu kamu sembunyikan calon istriku, kan?" Darma mengamuk di halaman rumah Karti, dekorasi pesta pernikahan sudah ditata dengan apik di hotel yang sudah disiapkan Darma. Tetapi apa yang terjadi? Calon mempelai wanitanya kabur tanpa jejak."Dia kabur, Darma." Seorang pria paruh baya yang mana adalah ayah sambung Kalila sedikit menjelaskan. "Malam-malam dia kabur lewat jendela dan menghilang sampai sekarang belum ditemukan." Raut wajah Chandra begitu panik, karena bisa gawat jika Kalila tak segera ditemukan."Aku tidak mau tahu, Chandra! Dalam dua puluh empat jam dan kamu belum menemukannya, kamu harus mengembalikan lima kali lipat dari uang yang sudah aku keluarkan untuk DP." Darma berujar dengan penuh kuasa. Bagaimanapun juga pria itu sudah mengeluarkan sejumlah uang, pastinya ia tidak mau semua ini sia-sia. Jika mereka tak bisa menemukan Kalila, maka mereka harus memberinya kompensasi!Karti yang mendengar hal itu menganga tak percaya, DP yang diberikan Darma padanya s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.