LOGINFIORELLA BIANCHI terpaksa melarikan diri dari ayah tirinya yang kejam, setelah ibunya meninggal karena over dosis. Tapi ella justru terjebak dalam lingkaran perbudakan yang kelam. Dijual dari satu tangan ke tangan yang lain. Hingga akhirnya dia di beli oleh ARTHUR WILLIAM DENARO, pemimpin Mafia Italia. Yang selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
View MoreBaru beberapa menit lalu dia masih bernapas, dan sekarang dia sudah tidak ada. Tapi anehnya, kepergiannya sama sekali tidak membuatku sedih. Lagipula, dia memang tidak pernah peduli padaku.
Ibuku mati karena ulahnya sendiri. Bukan karena sengaja bunuh diri, tapi karena kebodohannya yang kecanduan heroin. Awalnya dia cuma menyuntik benda itu beberapa kali seminggu, lalu berubah jadi sekali tiap beberapa jam. Dan di sinilah aku sekarang—berdiri di kamarnya, menatap tubuhnya yang terbujur kaku tak bernyawa, dengan jarum suntik yang masih menancap di lengan kirinya. Aku cuma bisa berdiri mematung. Padahal, tujuan awalku masuk ke kamar ini cuma untuk mengantarkan segelas alkohol yang di perintahkannya. Ya, perintah, bukan minta tolong. Karena baginya, aku bukan seorang anak, melainkan pelayan. Cuma sebatas itu arti keberadaan ku di matanya selama ini. Ayah kandungku orang Rusia. Dia menghamili ibuku saat ibu sedang berlibur di sana. Karena mengira mereka saling mencintai, ibu tanpa ragu memberi tahu ayah soal kehamilannya. Tentu saja, ayah langsung ikut pindah ke Amerika bersamanya. Segalanya berjalan sangat indah, sampai aku menginjak usia empat tahun. Setelah itu, semuanya berubah. Ibu mulai depresi dan mengabaikan ku. Hari-hari mereka cuma diisi pertengkaran. Pernah suatu kali, ayah harus pergi bekerja ke luar kota selama akhir pekan. Ibu lupa memberiku makan. Seharian dia cuma berbaring di tempat tidur, dan malah membentakku saat aku menangis meminta makanan atau sekadar pelukan hangat. Aku terpaksa mengunyah roti basi dan biskuit kedaluwarsa demi bertahan hidup sampai ayah pulang. Momen itu tampaknya jadi puncak kesabaran ayah. Dia menceraikan ibuku dan membawa kasus ini ke pengadilan untuk menuntut hak asuh penuh atas diriku. Tentu saja ayah menang mudah, terutama setelah pengadilan tahu kalau ibuku butuh bantuan psikologis, yang membuatnya harus mendekam di rehabilitasi jiwa selama enam bulan. Tiga tahun berikutnya adalah masa-masa paling bahagia dalam hidupku bersama ayah. Tapi ternyata, cinta tidak selalu bisa mengalahkan segalanya, dan kebahagiaan selalu punya cara untuk direnggut—dalam hal ini, oleh kematian. Ayah terkena serangan jantung saat aku sedang di sekolah. Aku baru tahu hari itu ketika tidak ada yang menjemputku pulang, dan polisi setempat mengantarku setelah melihat bocah tujuh tahun mencoba berjalan pulang sendirian. Hatiku hancur lebur saat polisi terpaksa mendobrak pintu rumah dan menemukan ayah sudah tak bernyawa. "Ayahmu sudah berada di langit, makanya dia tidak menjemputmu," begitu cara mereka menyampaikan kabar buruk itu padaku. Saat ambulans datang, aku sempat mendengar petugas medis berbicara soal ventricular fibrillation atau semacamnya, yang memicu serangan jantung mendadak. Aku tidak paham istilah medis rumit itu. Tapi yang paling tidak kupahami adalah: kenapa kemalangan ini harus menimpaku? Tidak ada lagi yang bisa merawatku. Kakek dan nenek dari pihak ayah tinggal jauh di Rusia, sedangkan dari pihak ibu keduanya sudah meninggal. Aku tidak punya bibi, paman, ataupun saudara kandung. Akhirnya, aku terpaksa pulang ke rumah ibuku. Bedanya, kali ini dia sudah punya pasangan baru. Pitter. Ayah tiriku. Aku tahu ibuku sudah menikah lagi diam-diam beberapa tahun setelah cerai, tapi aku tidak menyangka kalau pria pilihannya adalah seorang monster. Pitter adalah pria paling kejam dan sadis yang pernah kutemui, tapi ibuku tetap 'mencintainya'. Lebih tepatnya, dia mencintai uang dan koneksi Pitter yang bisa menyokong kecanduan narkobanya. Sejak pertama kali melihat Pitter, aku tahu dia adalah pembawa petaka. Ibuku sendiri kesal karena harus mengurusku lagi. Tapi, karena takut berurusan dengan hukum, dia tetap memberiku makan, memandikanku, dan memberiku tempat bernaung—yang semuanya dia anggap sebagai beban berat. Sebaliknya, Pitter justru tampak senang dengan kehadiranku. Lebih tepatnya, dia menikmati setiap momen saat dia bisa menyakitiku. Tiap kali ibuku mabuk atau pergi keluar dan meninggalkanku sendirian bersama Pitter, pria itu akan menenggak alkohol lalu memukuliku tanpa alasan jelas. Bahkan saat sedang sadar pun, dia tetap mencari cara untuk menindasku. Dia menyuruhku menyemir sepatunya, menyetrika, dan memasak. Kalau aku salah sedikit saja, taruhannya adalah pukulan atau ancaman. Meski begitu, Pitter tidak pernah melecehkanku secara seksual saat aku masih kecil. Dia cuma pernah berbisik, "Kalau kamu sudah lebih besar nanti, aku akan tunjukkan apa yang kulakukan pada ibumu setiap malam." Aku baru memahami maksud menjijikkan dari kalimat itu baru-baru ini. Aku baru menginjak usia enam belas tahun beberapa bulan lalu, dan sejak saat itu, Pitter mulai melecehkanku dan memaksaku melakukan hal-hal yang membuatku mual. Tiap kali aku menolak, dia akan menggunakan kekerasan fisik untuk memuaskan egonya. Dan setelah selesai menyiksaku, dia akan memuaskan dirinya sendiri di depanku seolah rasa sakitku adalah obat perangsang baginya. Pernah suatu kali dia memukuliku begitu parah hingga beberapa tulang rusukku patah dan aku harus dilarikan ke rumah sakit. Di depan dokter, dengan santainya dia berbohong kalau aku jatuh dari tangga. Kadang, dia sengaja mengambil foto Polaroid dari wajahku yang babak belur, lalu memperlihatkannya padaku cuma untuk menegaskan betapa 'tidak berharganya' diriku, sebelum menyimpan foto-foto itu di dalam kotak di kamarku. Bagiku, aku tidak butuh selembar foto pun untuk mengingatkanku betapa malangnya hidupku. Dan di sinilah aku sekarang. Di kamar ibuku yang sudah terbujur kaku. Karena syok, gelas di tanganku jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai. Pitter sedang pergi bekerja, jadi aku tidak bisa meneleponnya untuk minta bantuan—lagipula, aku tidak sudi melakukannya. Aku langsung menyambar telepon di meja samping tempat tidur ibu, berusaha keras menepis pandangan dari matanya yang kosong tak bernyawa. Dengan cepat kutekan nomor 911, menunggu panggilan tersambung, lalu menjelaskan situasinya. Operator bilang bantuan medis sedang meluncur ke sini. Aku pun menutup kelopak mata ibuku karena tidak tahan terus ditatap olehnya, lalu duduk di kursi meja rias, memandangi jasad itu tanpa ekspresi sedikit pun. Aku tidak bisa menangis, dan itu sempat membuatku merasa bersalah. Kematian seorang ibu harusnya jadi momen paling menyedihkan bagi seorang anak, tapi tidak denganku. Aku justru merasa lega. Aku tidak perlu lagi merasa jadi bebannya, dan aku tidak perlu lagi takut kalau suatu hari dia akan sengaja mendorongku dari tangga supaya bisa bebas tanpa harus membiayai hidupku. Aku duduk diam di sana sampai bel pintu berbunyi. Aku langsung berlari keluar kamar, menuruni tangga, dan membuka pintu depan. Suara sirene meraung-raung di lingkungan pinggiran kota kami yang biasanya sepi. Setidaknya ada lima petugas medis dan polisi di luar. Tanpa banyak bicara, beberapa dari mereka langsung bergegas masuk membawa tandu menuju lantai atas. "Kamu pasti Fiorella Stone, saya—" seorang petugas polisi yang memegang papan jalan mendekatiku dan mulai bicara. "Bianchi. Nama saya Fiorella Bianchi," potongku, nyaris berbisik. Stone adalah nama belakang Pitter, dan aku benci itu. "Ah, ya, maaf. Di sini tertulis kalau Rose dan Pitter Stone tinggal di sini bersama putri mereka, Fiorella. Seperti yang saya katakan tadi, saya Jack," ucapnya sambil memeriksa lembar data keluarga kami. Aku tidak repot-repot menyahut karena tidak punya energi untuk menjelaskan betapa rumitnya isi rumah ini. Petugas itu berdehem untuk memecah keheningan yang canggung, lalu melanjutkan, "Jadi, di mana ayahmu sekarang, Fiorella?" tanya Jack sopan. "Dia ayah tiriku, dan dia sedang bekerja. Dia akan segera pulang," jawabku pelan. "Baiklah, saya yakin berita ini akan membuatnya sangat terpukul. Tapi, dia harus menandatangani formulir dari Pengadilan ini untuk menegaskan kalau dia akan menjadi walimu selama dua tahun ke depan..." Jack terus berbicara, dan setelah itu, semua suaranya cuma terdengar seperti dengungan samar di telingaku. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak bisa membiarkannya. Saat ibuku masih hidup saja keadaannya sudah seperti di neraka. Ketika dia sedang tidak terlalu mabuk, Pitter masih bisa memilih ibuku dibanding aku. Sekarang setelah ibu tiada, aku tidak akan pernah bisa lepas dari cengkeramannya. Aku bahkan sudah tidak sekolah umum dan cuma belajar daring. Kalau Pitter jadi waliku, aku tidak akan pernah punya celah untuk kabur. Menghabiskan 24 jam sehari bersamanya selama dua tahun ke depan adalah hukuman mati, dan aku tidak bisa diam saja. "Fiorella? are you okay? Apa kamu mengerti apa yang baru saja saya katakan?" tanya Jack lembut, menatapku cemas saat aku tersentak dari lamunanku. "S-saya cuma... saya harus ke kamar mandi. Kepalaku agak pusing," kataku cepat sebelum berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah, menerobos beberapa petugas medis yang sibuk berlalu-lalang. Aku berlari ke kamarku, mengunci pintu, lalu mondar-mandir dengan panik. Aku harus bergerak cepat. Aku tidak boleh membiarkan Pitter menang. Langkahku mendadak terhenti oleh ketukan keras di pintu. Mengira itu Jack, aku langsung membukanya. Tapi begitu melihat Pitter berdiri di sana dengan wajah datar tanpa ekspresi, rasanya jantungku langsung copot. "Ibumu sudah mati." Dia mengatakan fakta itu dengan dingin sambil menyisir rambut panjangnya yang ikal dan berminyak menggunakan jari, lalu melangkah masuk ke kamarku. Dia memakai setelan jas kerja lengkap—sebuah ironi, karena dia tidak bekerja di kantor legal mana pun. Aku bahkan tidak tahu pasti apa pekerjaannya, yang kutahu dia cuma menjalankan bisnis yang mencurigakan. "A-aku tahu..." jawabku lirih, nyaris tak terdengar. Tanganku gemetar hebat saat aku menggigit bibir bawahku. Kukira Pitter akan menunjukkan sedikit rasa sedih atau meneteskan air mata untuk istrinya. Tapi di luar dugaan, ekspresi datarnya perlahan berubah jadi seringai yang mengerikan. "Itu berarti sekarang cuma tinggal kita berdua, Ella..." mulainya sambil menendang pintu kamarku hingga tertutup rapat. Tanpa mengalihkan pandangannya dariku, dia mulai melangkah maju sementara aku perlahan mundur sampai punggungku membentur dinding kamar. "Sekarang, jangan menjauh dariku, gadis kecil nakal," kekehnya saat aku menatapnya dengan penuh rasa muak. Jika bukan karena kepribadiannya yang toxic dan menjijikkan, dia sebenarnya pria yang cukup tampan untuk usianya. Posturnya kurus berotot dengan tinggi sekitar 178 cm, punya rahang tegas di balik janggut tipis pirangnya, dan rambut pirang ikal alami yang sayangnya selalu terlihat berminyak. Aku menelan ludah saat wajahnya mendekat. "Kamu dan aku..." dia menarik napas dalam-dalam, "...akan bersenang-senang tanpa ibumu. Bahkan, aku akan tunjukkan kepadamu persis apa yang kulakukan padanya di tempat tidur saat dia masih hidup," bisiknya seraya mengarahkan tangannya ke pahaku, perlahan merayap naik ke atas. Secara refleks aku menggeliat jijik, "T-tolong, jangan," mohonku setengah mati. "Ya. Kalimat itulah yang persis akan kamu ucapkan saat aku memaksamu nanti, gadis kotor," katanya sambil mengertakkan gigi, mencengkeram kakiku lebih erat hingga membuatku merintih kesakitan. Kata-kata menjijikkannya membuat mataku mulai berkaca-cara. Aku tidak bisa hidup seperti ini—terus-terusan ketakutan akan diperkosa atau dipukuli kapan saja dia mau. "Jangan khawatir, bella. Kamu belum siap sekarang," aku benci sekali cara dia memanggilku dengan sebutan itu, "tapi akan tidak akan lama lagi. Begitu aku rasa kamu sudah siap," jelasnya sebelum mendaratkan kecupan dingin dengan bibirnya yang pecah-pecah di dahiku. Dia melepaskan cengkeramannya dan melangkah mundur, lalu tiba-tiba membentak keras, "Tatap aku kalau aku sedang bicara padamu lain kali!" membuat mataku seketika langsung terarah padanya karena terkejut. "Good girl," kata Pitter sambil berjalan menuju pintu. "Sekarang aku mau keluar sebentar untuk mengurus beberapa hal dan akan kembali dalam beberapa jam. Jadi silakan berkabung atau lakukan apa pun yang kamu mau," ucapnya acuh tak acuh sebelum mengedipkan sebelah mata dan melangkah keluar. Aku mengembuskan napas panjang, yang baru kusadari sempat kutahan sejak tadi. Aku berhitung sampai sepuluh sebelum menjauhkan diri dari dinding dan bergegas menuju lemari pakaian. Aku tahu apa yang harus kulakukan: aku harus pergi dari sini sekarang juga. Begitu mendengar pintu depan dibanting dan tidak ada lagi suara petugas yang memindahkan barang, aku tahu aku sedang sendirian. Dengan tergesa-gesa kusambar koper hitam kecilku, menarik beberapa pakaian dari gantungan, dan melemparkannya ke dalam. Aku bergerak cepat di dalam kamar, memasukkan barang-barang penting yang punya nilai kenangan, termasuk kalung pemberian ayah kandungku yang langsung kupakai saat itu juga. Menyadari kalau aku tidak punya uang sepeser pun, aku memutuskan untuk menyelinap masuk ke kamar ibuku. Meski rasanya tidak sopan, ini situasi darurat. Aku menggeledah barang-barangnya dan akhirnya menemukan tumpukan uang tunai yang sengaja dia simpan untuk membeli obat-obatan. Ada sekitar seribu dolar di sana, dan aku mengambil semuanya tanpa sisa. Setelah mengemasi beberapa barang tambahan dan memastikan semua yang berharga sudah masuk, aku menutup koper itu rapat-rapat. Aku mengenakan sebuah sweatshirt longgar dan menyambar ponsel Nokia lamaku, lalu segera menelepon taksi. Aku meminta mereka menjemputku di ujung jalan agar tidak memancing kecurigaan tetangga sekitar. Aku menatap kamarku yang kini hampir kosong untuk terakhir kalinya, mengembuskan napas berat, lalu menutup pintu dan melangkah menuruni tangga. Sembari menunggu taksi datang, aku mengambil beberapa makanan dan minuman di dapur sebagai bekal perjalanan ke mana pun tujuan sialan itu nanti. Dan tentu saja, aku tidak lupa mengambil sejumlah uang dari dompet Pitter yang tergeletak begitu saja di atas meja. Begitu sopir taksi menghubungiku, aku bergegas keluar rumah menuju mobil yang sudah terparkir di ujung jalan. Aku membuka pintu belakang dan langsung meluncur masuk ke dalam kabin. "Mau ke mana, Nona?" tanya sopir bertubuh gempal itu ramah. "Uh... tolong pergi jauh, jauh sekali dari sini," kataku, kebingungan harus menentukan arah. "Kalau tujuannya itu, saya bisa mengantarkannya," kekeh sang sopir sebelum mulai menginjak pedal gas. Aku menatap keluar jendela dan merasakan setetes air mata hangat mengalir di pipi. Mungkin sekarang, aku akhirnya bisa bebas dan menjalani kehidupan yang sedikit normal, pikirku dengan yakin. Sayangnya, karena ini adalah kisah hidupku, kenyataan yang terjadi sama sekali tidak seindah itu. Sama sekali tidak.Arthur mulai melangkah menaiki tangga dan sempat menoleh sekilas ke belakang untuk memastikan apakah aku masih berdiri di tempaku.Maksudku, tentu saja aku masih di sini. Aku terlalu takut untuk pergi ke tempat lain.Saat kami tiba di puncak tangga, ia berbelok ke kanan. Hal ini terasa tidak biasa karena sebelumnya ia pernah memberi tahu bahwa aku tidak boleh pergi ke lorong sebelah kanan.*Mungkin dia sedang menjebakku untuk melihat apakah aku akan melanggar aturan lagi,* pikirku.Jadi, aku melakukan hal yang kurasa paling masuk akal; aku berhenti melangkah dan berdiri di dekat pintu masuk lorong tersebut.Seolah sudah bisa merasakan kalau aku berhenti mengikutinya, Arthur dengan cepat berbalik dan mengangkat sebelah alisnya ke arahku."Kamu benar-benar menguji kesabaranku malam ini, bukan, pelayan? Bisa tolong jelaskan kenapa kamu tidak mengikutiku?" tanyanya dengan nada jengkel yang tersembunyi di balik suaranya."S-saya... begini, Anda memberi tahu saya untuk tidak pergi ke san
Sudah satu jam berlalu sejak aku menghidangkan makan malam dan semua orang pergi ke ruang tamu. Sekali lagi Alexa menawarkan diri untuk membantuku, tetapi aku menolaknya. Sudah menjadi tugasku untuk bersih-bersih dan mengurus para tamu, bukan tugasnya.Meski begitu, aku bersyukur dia cukup peduli untuk menawarkan bantuan. Aku berharap dia bisa lebih sering berkunjung ke sini.Akhirnya, aku selesai membereskan meja makan dan memasukkan semua piring ke dalam mesin pencuci piring, sebelum akhirnya mengelap semua permukaan meja hingga semuanya tampak bersih berkilau.Aku memutuskan untuk mengisi sebuah teko penuh dengan lemonde buatan sendiri yang sudah kusiapkan tadi, lalu membawanya untuk para tamu dan arthur di ruang tamu. Tadi aku juga membeli cheesecake dari toko, jadi aku menaruhnya di piring dan memotongnya agar mereka bisa mengambilnya kapan saja mereka mau.Setelah selesai dan menata semuanya di atas nampan perak, aku melangkah dengan hati-hati menuju ruang tamu.Entah mengapa
Aku membuka pintu rumah Arthur; hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai.Dengan tergesa-gesa aku berjalan ke dapur, meletakkan kantong belanjaan, dan mulai membongkar isinya."Kamu pergi cukup lama." Sebuah suara tiba-tiba terdengar.Aku langsung menjatuhkan apa yang sedang kupegang karena terkejut. Untunglah itu bukan telur, melainkan hanya sebungkus Snack.Aku mendongak lalu melihat Arthur sedang bersandar di meja."M-maaf Tuan, saya tidak bisa menemukan tokonya."Aku berbohong. Aku tidak mungkin memberi tahu dia tentang Tuan Daniels—maksudku, Nicholas."Kamu tidak bisa menemukannya padahal ada puluhan papan petunjuk yang tersebar di sana?" tanyanya dengan nada gel.Aku terus membongkar belanjaan agar tanganku tetap sibuk, berjaga-jaga agar dia tidak melihatku gemetar dan menyadari kebohonganku."Y-ya, uh, tapi aku sempat tersesat, Tuan," ucapku gugup sambil meletakkan roti di atas meja."Aku tidak percaya padamu," kata Arthur saat dia akhirnya melangkah, menjulang tin
Aku mengikuti papan penunjuk jalan yang tersebar di area ini. Meski awalnya kukira ini tempat yang aneh karena sangat terpencil, ternyata kawasan ini merupakan permukiman elit yang cukup tertutup.Aku bisa melihat banyak rumah dan jalanan yang berpagar rapat, serta sesekali sebuah mansion megah yang berdiri sendiri. Namun, begitu aku mencapai area utama, suasananya terasa lebih seperti perkotaan.Posisiku sekarang lebih dekat ke toko dan kedai-kedai daripada ke area supermarket. Namun, papan penunjuk jalan tadi menyebutkan bahwa jalan utama untuk ke supermarket hanya berjarak sepuluh menit berjalan kaki.Mungkin Arthur akan mengizinkanku pergi ke sana kapan-kapan... pikirku.Akhirnya aku sampai di toko bernama 'Spurellies', yang kemungkinan besar merupakan bisnis keluarga.Sebelum masuk, aku segera mengirim pesan ke Arthur—satu-satunya kontak di ponselku selain mantan pemilikku terdahulu dan matteo—untuk memberi tahu bahwa aku sudah sampai. dia langsung membalas, "Cepatlah."Aku b






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews