PELAYAN TUAN ARTHUR

PELAYAN TUAN ARTHUR

last updateLast Updated : 2026-07-15
By:  VenusUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
7Chapters
11views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Fiorella Bianchi tumbuh besar di bawah bayang-bayang ayah tirinya yang kejam dan ibu yang acuh, membuatnya terbiasa mengandalkan dirinya sendiri sejak kecil. Saat Ella (sapaan akrabnya) berusia enam belas tahun, sang ibu meninggal dunia akibat overdosis narkoba. Enggan dieksploitasi oleh Pitter, ayah tirinya yang sakit jiwa, Ella memutuskan untuk mengemas barang-barangnya dan melarikan diri. Ia berharap bisa hidup bebas dan menjalani kehidupan yang normal, namun realitas ternyata tidak seindah impiannya. Empat tahun berlalu, Ella bertahan hidup dengan bekerja sebagai pelayan dari satu rumah ke rumah lain, terjebak dalam lingkaran perbudakan yang kelam. Dijual dari satu tangan ke tangan lain dan diperlakukan layaknya barang menjadi satu-satunya kenyataan yang harus ia hadapi. Ketika pemilik terakhirnya memutuskan untuk membuangnya, Ella kembali dilempar ke pasar pelelangan. Ia sama sekali tidak menduga bahwa orang berikutnya yang akan membelinya adalah salah satu pria paling berbahaya di dunia... ARTHUR WILLIAM DENARO, sang pemimpin Mafia Italia. Di balik parasnya yang rupawan, ia adalah sosok yang sangat mengerikan. Arthur dikenal sebagai pria yang intimidatif, berwibawa, dominan, dan selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Begitu Ella menarik perhatiannya di tempat pelelangan, Arthur langsung memutuskan untuk memilikinya. Akankah Ella mampu bertahan dalam pusaran dunia Arthur yang kejam di tengah bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui, ataukah ia akan memilih untuk melarikan diri sekali lagi? Bagaimanapun juga, ia merasa dirinya... memang ditakdirkan untuk berlari. PERINGATAN: Buku ini mengandung banyak bahasa kasar, konten dewasa, kekerasan, serta hal-hal yang mungkin bisa memicu trauma atau ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca. Mohon bijak sebelum membaca.

View More

Chapter 1

Bab. 00

Baru beberapa menit yang lalu dia masih bernapas, dan sekarang ia sudah tiada. Kepergiannya sama sekali tidak mempengaruhi ku. Lagipula, dia memang tidak mempedulikan ku.

Ibuku sekarang sudah meninggal, karena ulahnya sendiri. Bukan karena disengaja, tapi karena kebodohannya yang kecanduan heroin. Awalnya dia hanya menyuntikkan beberapa kali dalam seminggu, lalu berubah menjadi sekali dalam beberapa jam. Karena itulah aku berdiri di kamarnya, menatap tubuhnya yang terbujur kaku tak bernyawa, dengan jarum suntik yang masih menancap di lengan kirinya.

Aku berdiri mematung. Padahal, tujuan awalku masuk ke kamar ini hanya untuk mengantarkan segelas alcohol yang ia perintahkan. Ya, diperintahkan, bukan dimintai tolong, karena baginya, aku bukanlah seorang anak, melainkan seorang pelayan, hanya sebatas itulah arti keberadaanku di matanya selama ini.

Ayah kandungku yang tinggal di Rusia menghamili ibuku saat ibu sedang berlibur di sana. Ibu tidak ragu memberi tahu ayah tentang kehamilannya, karena mengira mereka saling mencintai. Tentu saja,ayah kemudian ikut pindah ke Amerika bersamanya dan segalanya berjalan sangat indah, sampai aku berusia empat tahun.

Setelah itu, Ibu mulai mengalami depresi dan mengabaikanku. Hari-hari mereka diisi dengan pertengkaran. Pernah suatu kali, ayah sedang pergi bekerja di luar kota selama akhir pekan. Ibu lupa memberiku makan, seharian dia hanya berbaring di tempat tidur, dan membentakku saat aku berani meminta makanan atau sekadar pelukan sambil menangis. Aku terpaksa memakan roti basi dan biskuit kedaluwarsa sampai ayah pulang.

Tampaknya momen itulah yang membuat ayah tidak tahan lagi. Dia menceraikan ibuku dan membawanya kasus ini ke pengadilan untuk mendapatkan hak asuh penuh atas diriku. Tentu saja ayah menang setelah pengadilan menyadari bahwa ibuku membutuhkan bantuan psikologis, yang membuatnya harus menjalani rehabilitasi jiwa selama enam bulan.

Selama tiga tahun berikutnya, aku hidup bahagia bersama ayah. Namun rupanya, cinta tidak selalu bisa mengalahkan segalanya, dan selalu ada hal yang merenggut kebahagiaan–dalam hal ini, adalah kematian. Ayah terkena serangan jantung saat aku sedang di sekolah. Aku baru mengetahuinya ketika tidak ada yang menjemputku hari itu, dan pihak kepolisian setempat mengantarkanku pulang setelah mereka melihat anak berusia tujuh tahun mencoba berjalan pulang sendirian.

Hatiku hancur saat polisi terpaksa mendobrak pintu rumah, dan mendapati kenyataan pahit itu. "Ayahmu sudah berada di langit, makanya dia tidak menjemputmu," begitulah cara mereka menyampaikannya padaku. Ketika ambulans tiba, aku mendengar petugas medis berbicara tentang ventricular fibrillation (fibrilasi ventrikel) atau semacamnya, yang memicunya serangan jantung dan menyebabkan kematian mendadak. Aku tidak memahami istilah medis itu, tetapi yang paling tidak kumengerti adalah mengapa kemalangan ini harus menimpaku.

Tidak ada lagi yang bisa merawatku karena kakek dan nenek dari pihak ayah tinggal di Rusia, sedangkan dari pihak ibu keduanya sudah meninggal. Aku tidak memiliki bibi, paman, atau saudara kandung. Akhirnya, aku terpaksa pindah kembali bersama ibuku. Bedanya, kali ini dia memiliki teman hidup baru.

Pitter. Ayah tiriku. Aku tahu ibuku sudah menikah lagi secara diam-diam beberapa tahun setelah bercerai, tetapi aku tidak menyangka bahwa pria pilihannya adalah seorang monster. Pitter adalah pria paling kejam dan sadis yang pernah kukenal, namun ibuku tetap 'mencintainya'. Lebih tepatnya, dia mencintai uang dan koneksi Pitter yang bisa menyokong kecanduan narkobanya.

Sejak awal bertemu dengan Pitter, aku tahu dia akan membawa petaka bagiku. Ibuku kesal karena harus mengurusku lagi. Namun, karena takut berurusan kembali dengan hukum, dia tetap memberiku makan, memandikanku, dan memberiku tempat bernaung—yang semuanya dia anggap sebagai beban. Sebaliknya, Pitter justru tampak menikmati keberadaanku—atau lebih tepatnya, menikmati setiap momen saat dia menyakitiku.

Setiap kali ibuku sedang mabuk atau pergi keluar rumah, dan meninggalkanku sendirian bersama Pitter, dia akan menenggak banyak alkohol lalu memukuliku tanpa alasan yang jelas. Bahkan saat sedang tidak minum pun, dia tetap berusaha memanfaatkanku. Dia menyuruhku menyemir sepatunya, menyetrika pakaian, dan memasak. Jika aku tidak bisa melakukan hal itu, dia akan memukul atau mengancamku.

Meski begitu, Pitter tidak pernah melecehkanku secara seksual saat aku masih kecil, dia hanya berkata, "Kalau kamu sudah lebih besar nanti, aku akan menunjukkan apa yang kulakukan pada ibumu di malam hari." Aku tidak memahami maksud menjijikan dari kalimat itu hingga baru-baru ini.

Aku baru menginjak usia enam belas tahun beberapa bulan yang lalu, dan sejak saat itu Pitter mulai melecehkanku serta memaksaku melakukan hal-hal menjijikkan. Ketika aku menolak, dia akan menggunakan kekerasan fisik untuk memuaskan egonya. Dan setelah selesai, dia akan memuaskan dirinya sendiri di depanku seolah-olah dia merasa bergairah setelah menyisaku.

Pernah suatu kali dia memukuliku begitu parah hingga beberapa tulang rusukku patah, dan membuatku harus dilarikan ke rumah sakit. Kepada dokter, dia berbohong bahwa aku jatuh dari tangga. Terkadang, dia mengambil foto Polaroid dari wajahku yang babak belur dan memperlihatkannya kepadaku untuk menekankan betapa 'tidak berharganya' diriku, sebelum menyimpan foto-foto itu di dalam kotak yang ada di kamarku. Bagiku, aku tidak memerlukan foto-foto itu hanya untuk menyadari kemalanganku.

Dan di sinilah aku sekarang. Di dalam kamar ibuku yang telah terbujur kaku. Karena terkejut, gelas yang kupegang terjatuh dan hancur berkeping-keping di lantai. Pitter sedang pergi bekerja, jadi aku tidak bisa meneleponnya untuk meminta bantuan—lagipula, aku juga tidak sudi melakukannya.

Aku menyambar telepon di meja samping tempat tidur ibuku, berusaha keras menghindari kontak mata dengan tatapan matanya yang kosong tak bernyawa. Dengan cepat kutekan nomor 911, menunggu saluran terhubung, menjelaskan situasi yang terjadi. Aku diberi tahu bahwa bantuan medis sedang dalam perjalanan.

Aku kemudian menutup kelopak mata ibuku karena tidak tahan lagi ditatap olehnya, lalu duduk di meja rias sambil memandangnya tanpa ekspresi sedikit pun.

Aku tidak bisa menangis, dan hal itu sempat membuatku merasa bersalah. Kematian seorang ibu seharusnya menjadi momen paling menghancurkan bagi seorang anak, tetapi tidak denganku—aku justru merasa lega. Aku tidak perlu lagi merasa menjadi beban baginya, dan aku tidak perlu lagi takut jika suatu saat ia sengaja mendorongku dari tangga agar bisa hidup bebas tanpa harus membiayai kebutuhan pokokku.

Aku duduk di sana beberapa saat hingga bel pintu berbunyi. Aku langsung berlari keluar kamar, menuruni tangga, dan membuka pintu depan. Suara sirene meraung-raung di lingkungan pinggiran kota kami. Setidaknya ada lima petugas medis dan polisi di luar. Tanpa banyak bicara, beberapa dari mereka langsung bergegas masuk membawa tandu menuju lantai atas.

"Kamu pasti Fiorella Stone, saya—" seorang petugas polisi yang memegang dokumen mendekatiku dan berbicara.

"Bianchi. Nama saya Fiorella Bianchi," potongku, nyaris berbisik. Stone adalah nama belakang Pitter.

"Ah, ya, maaf. Di sini tertulis bahwa Rose dan Pitter Stone tinggal di sini bersama putri mereka, Fiorella. Seperti yang saya katakan tadi, saya Jack," ucapnya sambil memeriksa lembaran data keluarga tersebut.

Aku tidak repot-repot membalasnya karena tidak memiliki energi untuk menjelaskan kerumitan situasiku.

Petugas itu berdehem untuk memecah keheningan, lalu melanjutkan, "Jadi, di mana ayahmu sekarang, Fiorella?" tanya Jack dengan sopan.

"Dia ayah tiriku, dan dia sedang bekerja. Dia akan segera pulang," jelasku pelan.

"Baiklah, saya yakin berita ini akan membuatnya sangat terpukul. Namun, dia harus menandatangani formulir dari Pengadilan ini untuk menegaskan bahwa dia akan menjadi walimu selama dua tahun ke depan..." Jack terus menjelaskan, dan setelah itu, semua suaranya hanya terdengar seperti dengungan samar di telingaku.

Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak bisa membiarkannya . Saat ibuku masih hidup saja keadaannya sudah seburuk ini, saat keadaannya tidak terlalu mabuk, Pitter masih lebih memilih ibuku daripada aku. Kini setelah ibu tiada, aku tidak akan pernah bisa lepas darinya. Aku bahkan sudah tidak bersekolah secara umum dan hanya belajar daring. Jika Pitter menjadi waliku, aku tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk pergi. Menghabiskan dua puluh empat jam sehari bersamanya selama dua tahun ke depan adalah neraka dunia, dan aku menolak untuk tinggal diam.

"Fiorella? Are you okay? Apa kamu mengerti apa yang baru saja saya katakan?" tanya Jack dengan lembut, menatapku cemas saat aku tersentak dari lamunanku.

"A-aku hanya merasa... aku harus ke kamar mandi. Perasaanku agak tidak enak," kataku cepat sebelum berlari kembali ke dalam rumah, menerobos beberapa petugas medis yang sibuk.

Aku berlari ke kamarku, mengunci pintu, dan mondar-mandir dengan panik. Aku harus bertindak cepat. Aku tidak boleh membiarkan Pitter menang. Langkahku tiba-tiba terhenti oleh ketukan di pintu kamar. Berpikir bahwa itu adalah Jack, aku segera membukanya. Namun, saat berhadapan langsung dengan Pitter yang memasang wajah datar tanpa ekspresi, rasanya jantungku langsung copot.

"Ibumu sudah mati." Ia menyatakan fakta itu dengan dingin sambil menyisir rambut panjangnya yang ikal dan berminyak menggunakan jari, lalu melangkah masuk ke kamarku. Ia mengenakan setelan jas kerja lengkap, sebuah ironi karena ia tidak bekerja di perusahaan besar mana pun—aku bahkan tidak tahu pasti apa pekerjaannya, yang kutahu ia menjalankan bisnis yang mencurigakan.

"A-aku tahu..." jawabku lirih, nyaris menyerupai bisikan. Tanganku gemetar gugup saat aku menggigit bibir bawahku.

Kukira Pitter akan menunjukkan sedikit rasa empati atau meneteskan air mata untuk mendiang istrinya. Namun secara tak terduga, ekspresi datarnya berubah menjadi seringai yang mengerikan.

"Itu berarti sekarang tinggal kita berdua, Ella..." mulainya seraya menendang pintu kamarku hingga tertutup rapat. Tanpa memalingkan pandangan dariku, ia mulai melangkah maju sementara aku perlahan mundur hingga punggungku membentur dinding.

"Sekarang, jangan menjauh dariku, gadis kecil nakal," kekehnya saat aku menatapnya dengan penuh keengganan. Jika bukan karena kepribadiannya yang toxic dan mesum, ia sebenarnya adalah pria yang tampan untuk usianya. Posturnya kurus berotot dengan tinggi sekitar 178 cm, memiliki fitur wajah tegas di balik janggut tipis pirangnya, dan rambut pirang berminyak yang aslinya memang ikal alami.

Aku menelan ludah saat wajahnya mendekat. "Kamu dan aku..." ia menarik napas dalam-dalam, "...akan bersenang-senang tanpa ibumu. Bahkan, aku akan menunjukkan kepadamu persis apa yang kulakukan padanya di tempat tidur saat dia masih hidup," bisiknya seraya mengarahkan tangannya ke pahaku, perlahan menggerakkannya ke atas.

Secara refleks aku menggeliat jijik, "P-please, jangan," mohonku.

"Ya. Kalimat itulah yang persis akan kamu katakan saat aku memaksamu nanti, gadis kotor," katanya sambil mengertakkan gigi, mencengkeram kakiku lebih erat hingga membuatku merintih kesakitan.

Kata-katanya yang menjijikkan membuat mataku mulai berkaca-kaca. Aku tidak bisa menjalani hidup seperti ini—terus berada dalam ketakutan akan diperkosa atau dipukuli kapan saja.

"Jangan khawatir, bella. Kamu belum siap sekarang," aku benci cara ia memanggilku dengan sebutan itu, "tapi itu akan segera terjadi. Saat aku rasa kamu sudah siap," jelasnya sebelum mendaratkan kecupan dengan bibirnya yang pecah-pecah di dahiku.

Ia melepaskan cengkeramannya dan melangkah mundur, lalu tiba-tiba membentak keras, "Tatap aku kalau aku bicara padamu lain kali!" membuat mataku seketika langsung terarah kepadanya karena terkejut.

"Good girl," kata Pitter seraya berjalan menuju pintu. "Sekarang aku mau keluar lagi untuk mengurus beberapa hal dan akan kembali dalam beberapa jam. Jadi silakan berkabung atau lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan," ucapnya acuh tak acuh sebelum mengedipkan mata dan melangkah keluar.

Aku mengembuskan napas dalam-dalam, yang baru kusadari sempat kutahan sejak tadi. Aku berhitung hingga sepuluh sebelum menjauhkan diri dari dinding dan bergegas menuju lemari pakaian.

Aku tahu apa yang harus kulakukan: aku harus pergi dari sini secepatnya. Begitu mendengar pintu depan dibanting dan tidak ada lagi suara petugas yang memindahkan barang, aku tahu aku sedang sendirian. Dengan tergesa-gesa kusambar koper hitam kecilku, menarik beberapa pakaian dari gantungan, dan melemparkannya ke dalam.

Aku bergerak cepat di dalam kamar, memasukkan barang-barang penting yang memiliki nilai kenangan, termasuk kalung pemberian ayah kandungku yang langsung kupakai saat itu juga. Menyadari bahwa aku tidak memegang uang sama sekali, aku memutuskan untuk masuk ke kamar ibuku.

Meski terkesan tidak sopan, ini adalah situasi darurat. Aku memeriksa barang-barangnya dan akhirnya menemukan tumpukan uang tunai yang sengaja ia simpan untuk membeli obat-obatan. Ada sekitar seribu dolar di sana, dan aku mengambil semuanya.

Setelah mengemasi beberapa barang tambahan dan memastikan semua yang berharga telah masuk, aku menutup koper tersebut. Aku mengenakan sebuah sweatshirt dan menyambar ponsel Nokia lamaku, lalu segera menelepon taksi dan meminta jemputan di ujung jalan agar tidak memancing kecurigaan tetangga.

Aku menatap kamarku yang kini hampir kosong untuk terakhir kalinya, mengembuskan napas berat, lalu menutup pintu dan melangkah menuruni tangga. Sembari menunggu, aku mengambil beberapa makanan dan minuman sebagai bekal perjalanan ke mana pun tujuan sialan itu nanti, dan tidak lupa mengambil sejumlah uang dari dompet Pitter yang tergeletak di atas meja.

Ketika sopir taksi menghubungiku, aku segera bergegas keluar rumah menuju mobil yang sudah terparkir di ujung jalan. Aku membuka pintu belakang dan langsung duduk di dalam.

"Mau ke mana, Nona?" tanya sopir bertubuh gempal itu.

"Uh... tolong pergi sejauh mungkin, jauh sekali dari sini," kataku, kebingungan harus menentukan arah.

"Kalau tujuannya itu, saya bisa mengantarkannya," kekeh sang sopir sebelum mulai menjalankan mobilnya.

Aku menatap keluar jendela dan merasakan setetes air mata mengalir di pipi.

Mungkin sekarang, aku akhirnya bisa bebas dan menjalani kehidupan yang sedikit normal, pikirku.

Sayangnya, karena ini adalah kisah hidupku, kenyataan yang terjadi sama sekali tidak seindah itu. Sama sekali tidak.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Venus
Venus
semoga berkenan buat membacanya.. jangan lupa komen, like, dan sarannya ...
2026-07-15 18:53:56
0
0
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status