Chapter: Chapter 50 : Kebenaran Dalam USBSeperti pencuri, Cantika mengendap-endap memasuki ruang kerja Adrian. Aneh, padahal dia tidak melakukan kesalahan. Alibinya sempurna, ada laporan pasien di tangan dan juga laptop pribadinya.Hanya saja, di balik cardigan tebal putihnya ini, Cantika menyimpan sebuah rahasia. Mungkin itu yang membuat jantungnya terus berdegup kencang hingga sekarang.Perlahan Cantika menaruh laptopnya di meja kerja Adrian, bersisian dengan laptop pribadi pria itu. Digesernya kursi kerja Adrian, lalu didudukinya untuk dirinya sendiri.Sesaat, Cantika terdiam dan menunggu layar laptopnya menyala sempurna, sebelum dia berpangku dagu hanya untuk melamun. Wanita itu berpikir, haruskah dia langsung mencari tahu isi USB itu atau tidak. Atau dia mengalihkan pikirannya lagi dengan mengerjakan laporan pasien yang tidak mendesak itu?
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: Chapter 49 : Mati PenasaranSelama bermenit-menit, Cantika hanya tertegun menatap USB itu. Matanya yang sudah tinggal beberapa watt itu mengerjap. Sedangkan otaknya yang agak kosong tak menemukan korelasi antara pasien kecilnya dengan USB ini.“Apa… isinya video ucapan terima kasih?” pikir Cantika.Wanita itu manggut-manggut. Bisa saja itu terjadi, lagi pula karena masih anak-anak, tidak mau mengeluarkan uang lebih untuk memberikan sesuatu yang mahal, jadi memberikan video ucapan terima kasih adalah hal yang wajar.“Terima kasih ya, pasien kecil,” gumam Cantika. Senyum kecilnya mengembang lebar.Sayangnya, Cantika tidak bisa langsung melihat video ataupun isi USB itu sekarang juga. Terlebih dia sudah menguap lebar-lebar sekarang.
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: Chapter 48 : Hadiah MisteriusSesuai janjinya dengan Mario, Cantika bergegas menuju taman belakang rumah sakit. Langit masih keemasan saat dia keluar area bangunan. Hal yang membuat wanita itu merasakan perbedaan besar dengan taman belakang tengah malam itu.Saat ini, taman belakang tampak cukup padat oleh manusia. Beberapa pasien terlihat dari kondisi mereka yang diperban atau terus batuk-batuk. Sementara yang lain pengantar. Ada juga para nakes yang berjaga, baik untuk tugas atau memang melepas penat.Cantika sendiri jarang ke taman belakang. Baginya tempat ini terlalu ramai. Dia lebih suka di tempat kerja dan menenggelamkan diri dalam laporan-laporan pasien atau tugas dari konsulen lainnya.Ramai membuat Cantika agak kesusahan mencari keberadaan Mario. Terlebih pria itu tidak memberitahukan lokasi keberadaan.
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: Chapter 47 : Izin Menampar MertuaAdrian sama sekali tidak bisa tenang. Tangannya terus mengetuk-ketuk pahanya dengan tidak sabaran. Tatapannya tertuju pada jalanan padat merayap ibu kota saat jam makan siang. Sedangkan sejak tadi, dia tak tenang dan kepalanya penuh berisikan Cantika.Bayangan akan adegan Aruna menampar Cantika terus berputar di kepala Adrian. Hati pria itu sakit. Ibu kandungnya menyakiti istri yang dia cintai. Pantas saja Cantika menceraikannya bahkan meminta cek dua puluh miliar itu.“Pak Budi,” panggil Adrian di sela-sela lamunannya. Dia melirik Budi yang kini menoleh di kursi sebelah sopir. “Saya nggak bisa biarin Bu Aruna bersikap buruk terhadap istri saya. Saya butuh cara untuk membuatnya berhenti.”Budi terdiam sejenak, sebelum berkata, “Mungkin… jalan-jalan ke luar negeri untuk menjernihk
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: Chapter 46 : Pak PresidenAdrian datang tepat waktu. Pukul sebelas kurang lima menit, mobilnya sudah berhenti tepat di pintu masuk istana kepresidenan. Para penjaga langsung berbaris rapi untuk menyambutnya seolah pria itu adalah tamu penting.Mobil berhenti dan sebelum Adrian turun, pria itu berpesan pada Budi yang duduk tepat di sebelah sopir, “Pak, kalau saya nggak keluar sampai jam tiga tolong atur orang buat antar Cantika. Oh satu lagi, perketat penjagaan istri saya.”Budi mengangguk patuh, sebelum akhirnya Adrian turun dari mobil.Seperti biasa, begitu Adrian menginjakkan kaki di istana kepresidenan, maka asisten pribadi Candra akan langsung menyambutnya. Senyum yang terukir di wajahnya memang terkesan ramah, tetapi semua hanya topeng saja.Dalam pemerintahan atau tepatnya dunia
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: Chapter 45 : Menantu vs MertuaBel rumah berbunyi seperti pertanda mimpi buruk Cantika akan segera datang. Sesaat wanita itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Sebelum bergerak pelan menuju pintu dan membukanya.Sesuai yang tidak diharapkan, Aruna berdiri di depan pintu. Rambut panjangnya yang selalu disanggul itu siang ini tampak cantik dengan hiasan rambut berwarna merah. Gaun panjang putih dengan corak bunga pas badan. Tangannya menenteng tas kulit buaya yang terkenal mahal.Aruna bersedekap. Dia menatap Cantika sejenak, sebelum mendengkus keras seraya membuang muka.“Dasar wanita sombong dan nggak tahu malu.” Aruna mulai mengeluarkan kata-kata hinaan untuk Cantika. Dia melenggang masuk apartemen dan dengan sengaja menabrak pundak Cantika keras-keras. “Bisa-bisanya hapus saya dari daftar pemegang akses masuk apa
Last Updated: 2026-07-28