Se connecterSekian lama menduda, Abimanyu Pamungkas akhirnya kembali memiliki gairah hidup setelah mengetahui cinta pertamanya bercerai dari sang suami. Profesi keduanya yang sama-sama pengacara, membuat Abimanyu menelusuri setiap kasus yang sedang ditangani wanita itu agar bisa menjadi lawan di pengadilan. Namun, kehadiran seorang gadis muda yang menaruh perhatian pada Abimanyu membuat perasaannya sedikit goyah. Akankah Abimanyu bisa menaklukan cinta pertamanya? Atau, justru berpaling pada gadis manis yang rela melakukan semua untuknya?
Voir plusMobil CR-V hitam berhenti di depan gedung tiga lantai berwarna putih keabuan. Tak lama kemudian, seorang pria berusia empat puluh turun dari mobil tersebut. Ia mengenakan kacamata hitam dan berjalan memasuki gedung di hadapannya.
Kakinya melangkah tegas. Sepatu pantofelnya berketak-ketuk membentuk sebuah irama. Di arah jam dua belas, terlihat terdapat tangga yang akan membawanya menuju lantai dua.
Ia menaiki anak tangga itu. Setibanya di atas, matanya menyisir deretan pintu kamar yang terlihat dari muka koridor, tempatnya berpijak saat ini. Pandangannya tertuju pada kamar yang terdapat di sisi kanan urutan ke tiga.
Sejurus kemudian, ia menghampiri kamar itu dan mengetuk pintunya beberapa kali.
“Andy, bisa kita bicara?” kata pria itu. Telinganya menyimak, berusaha mendengar suara dari dalam namun ia tak mendengar ada suara yang menyahut di sana.
Di dalam, penghuni kamar kos itu tentu jelas mendengar. Dia memang tak berniat membuka pintu. Jika bertahan sebentar lagi, pria itu pasti akan pergi.
Pria itu mengetuk lagi. Ia yakin kalau ada orang yang mendengarnya di dalam.
“Saya tahu kamu ada di dalam.”
Di kamarnya, penghuni itu tak bergerak. Tetap pada posisinya, meringkuk di samping nakas tempat tidur. Sampah berserakan di lantai. Lampu ruangan sengaja di padamkan. Tirai menutup rapat jendela. Setitik cahaya tak diizinkannya masuk.
Penghuni itu sedang tidak melihat apa-apa. Ruangannya gelap, hitam, dan pekat. Terpejam atau terjaga, warna yang diterima pupil matanya tetap sama.
Kepedihan menjegalnya untuk bahagia. Tidak ada ruang baginya, seluruh ruang di hatinya telah diisi kehilangan.
“Andy, perlukah saya mendobraknya?” Pak Leo menghela napas. Lima belas menit sudah ia berada di depan kamar kos Andy. Ia hilang kesabaran.
Pak Leo menyandarkan punggungnya di pintu kamar itu. Matanya memandang ke atas sambil menghela napas beberapa kali. Ia kehabisan akal.
Ia mengetuk-ngetuk paha kanannya dengan telunjuk sambil berpikir keras. Kalimat apalagi yang harus dikatakan? Atau memang ia harus menjebol pintu yang menjadi sandarannya saat ini?
Seorang lelaki berusia awal dua puluhan melintas di selasar dan berpapasan dengan Pak Leo yang masih berdiri tegak di depan pintu kamar Andy. Lelaki itu mengamati. Menatap Pak Leo penuh arti.
“Saya belum melihat Andy keluar selama tiga hari.” Pria itu menjelaskan. Dari mimik wajah Pak Leo, jelas pria itu melihat kegelisahan.
Pikiran yang aneh mulai timbul di benak Pak Leo. Apa mungkin Andy sudah tiada dan melakukan aksi bunuh diri?
Pak Leo akhirnya memegang gagang pintu. Ia mendorong gagang itu ke atas dan ke bawah sambil mengguncang-guncang pintu berwarna abu itu. “Andy, kalau kamu tidak keluar juga, saya akan jebol pintu ini!”
Pria berusia empat puluh itu mulai mengumpulkan tenaga, menggenggam gagang pintu, menyodorkan bahu kanannya dan siap untuk mendobrak. Batinnya menghitung mundur. Tiga, dua, satu.
Tenaganya sudah siap untuk di salurkan.
Tiba-tiba, pintu itu terbuka.
Pak Leo terkejut. Suasana di dalam kamar sangat gelap. Penampakan Andy lebih lagi mengagetkan dirinya. Kantung matanya sangat tebal, sepasang mata itu terlihat sayu, rambut berantakan, dan wajah Andy seolah menua seperti tak bertemu beberapa tahun.
Pandangan mereka saling bertemu. Ada kikuk yang membuat Pak Leo bisu tiba-tiba. Ia tak menyangka, Andy berubah sangat drastis. Tubuhnya sangat kurus dan warna kulitnya pun terlihat pucat.
“Saya salah. Sebagai Kapten, saya gagal melindungi tim,” sesal Pak Leo. “Sebagai gantinya, saya punya rencana, kali ini saya jamin pasti akan berhasil.”
“Kapten, saya sudah––”
Belum selesai Andy berbicara, Pak Leo memotong. “Tolong. Beri saya kesempatan untuk menjelaskan. Setelah itu, keputusan ada di tangan kamu dan saya tidak akan mengganggu kamu lagi.”
***
Pak Leo dan Andy sudah duduk berhadapan di Barry Cafe. Satu-satunya cafe yang dekat dengan tempat tinggal Andy. Di atas meja, sudah tersuguh dua gelas latte. Ia menatap mata anggotanya itu lekat-lekat.
“Saya minta maaf. Sebagai Kapten, saya gagal melindungi tim saya sendiri.” Pak Leo melontarkan permintaan maaf untuk kedua kalinya.
Andy terdiam. Ia menunduk, menatap permukaan yang dipijakinya.
“Dunia belum berakhir,” Pak Leo memberi semangat. “Kita bisa membalaskan dendam kematian Ando.”
Kepala Andy terangkat. Kini, gilirannya yang menatap Pak Leo lekat-lekat.
Pak Leo merogoh ponsel di saku, kemudian ibu jemari mengusap layar ponsel tersebut seolah mencari sesuatu yang penting untuk ditunjukkan kepada Andy.
Andy melihat sebentar foto perempuan remaja yang ditunjukkan Pak Leo lalu menatapnya dengan tanda tanya.
“Perempuan di foto itu namanya Andini. Anak tunggalnya Adimas.”
“Lantas?” Andy minta penjelasan lebih.
“Kita tangkap Adimas dengan memanfaatkan Andini.”
“Saya tidak tertarik dengan pembalasan yang melibatkan anak-anak, Kapten,” potong Andy kemudian.
“Itu adalah foto lama Andini. Sekarang usianya sudah 25 tahun. Saya tidak minta kamu untuk menyakitinya. Saya minta kamu untuk menjadi pengawalnya.”
Mata Andy terbelalak. Apa yang didengarnya barusan sontak membuat amarahnya meledak. Spontan ia menggebrak meja. Ia tak peduli lagi dengan sosok di depannya yang merupakan seniornya selama lima tahun terakhir.
“Maksud Kapten, saya harus melindungi anak dari orang yang membunuh Kakak saya, begitu?!” Sorot mata Andy menyala, seolah siap untuk menerkam siapa pun yang ada di depannya tanpa terkecuali.
“Tolong dengarkan penjelasan saya dulu,” Pak Leo mencoba meredam amarah Andy yang berada di luar dugaannya. Ia silap kata. Harusnya ia bisa merangkai kalimat yang lebih layak untuk diutarakan.
“Saya minta kamu untuk memata-matai Adimas dengan menjadi pengawal bagi Andini. Dari informan, saya mendapat info kalau hubungan mereka tak baik. Kematian isteri Adimas membuat hubungan mereka renggang––nyaris seperti bukan ayah dan anak. Itulah kelemahan Adimas. Di balik kekuasaannya yang disegani di negara ini, semua manusia memang ditakdirkan punya kelemahan bukan?”
“Saya tidak bisa melakukannya, Kapten.”
“Andy, tolong dipertimbangkan baik-baik tawaran saya ini.”
“Berikan saja tugas ini kepada yang lain.”
“Kamu takut?”
Mendengar ucapan tersebut, emosi Andy semakin tak terkendali. Ia menggebrak meja sehingga dua gelas latte yang ada di hadapannya, nyaris tumpah semua.
“Ando sudah mati. Saat ini saya tidak takut pada apa pun! Kalau kedatangan Kapten ke sini hanya untuk membuat saya semakin emosi, lebih baik Kapten pergi!”
“Kalau kamu tidak takut, kenapa kamu tidak mau?” Pak Leo tidak kehabisan akal.
“Tidak ada gunanya berjuang dan memburu Adimas kalau ia bisa melenggang di pengadilan setelah ditangkap. Saya hanya ingin membunuhnya dengan tangan saya sendiri!” Kedua tangan Andy mengepal dengan kuat sampai-sampai urat di pergelangannya menonjol.
“Kamu bisa membunuhnya.”
“Kamu bisa membunuhnya di tempat.” Sekali lagi Pak Leo berusaha meneguhkan kalimatnya pada Andy. “Kamu bisa membunuhnya. Saya tidak akan menghalangi. Saya butuh kamu saat ini!”
Andy terdiam sejenak. Pikiran di kepalanya saling menolak juga setuju. Melibatkan anak dalam kejahatan orang tua tentu bukanlah hal yang benar. Akan tetapi, jauh di lubuk hatinya, ia ingin membunuh Adimas dan melihatnya mati di tempat. Ia ingin melihat Adimas mati dengan kedua matanya.
“Saya tunggu jawaban kamu nanti malam. Saya akan mengorbankan apa pun untuk mewujudkan keinginan kamu, Andy. Kamu sudah saya anggap seperti anak sendiri.”
Pak Leo beranjak dari kursi dan meninggalkan Andy yang masih duduk mematung.
***
Selesai bertemu dengan Pak Leo, Andy kembali ke kamar kosnya dan masih membiarkan kamar itu gelap. Ponsel yang sejak semula berada di kasur tanpa sekali pun ia pegang selama tiga hari ini, ia raih tiba-tiba. Ada sedikit gamang yang tersirat di matanya.
Sejurus ia membuka folder dan melihat fotonya yang sedang bersama Ando, kakak yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri.
Sungai itu perlahan mengalir, membasahi pipi, dan tumpah sejadi-jadinya. Pikirannya berubah. Ia tak peduli dengan pandangan salah dalam melibatkan anak terhadap kejahatan orang tua.
“Kapten, saya siap menjalankan tugas.”
Pesan itu terkirim. Andy menyalakan lampu kamar dan bersiap menyongsong dendam sebagai tujuan.
“Congraduation, Istriku.”Dengan senyum semringah nan lebarnya, Fika menghambur ke pelukan Abi yang membawa sebuah buket berisi cokelat dan boneka beruang di tengah-tengahnya.Akhirnya, hari kelulusan itu datang juga. Meskipun tertatih-tatih, tetapi Fika bisa juga meraih gelar sarjana yang sudah diimpi-impikan selama ini. Kendati ijazahnya tidak akan terpakai, tetapi setidaknya Fika tidak putus di tengah jalan.“Makasih, Mas.”“Pergi sekarang? Atau mau foto-foto sama temanmu dulu?”“Emm …” Tanpa melepas satu tangan yang mengalung pada tubuh Abi, Fika menatap beberapa teman dekatnya yang sibuk dengan keluarga masing-masing. “Tadi sempat foto-foto bentar, sih. Jadi … kita pulang aja. Aku sudah kangen sama Esta. Lagian nanti kita juga foto-foto sama orang rumah.”“Ayolah kalau begitu!” Jelas saja Abi tidak akan menolak, karena seluruh keluarga besar sudah berkumpul di kediaman Pamungkas untuk merayakan kelulusan Fika. “Lagian, Esta nggak bakal nyari kita kalau sudah ada Bening.”“Orang tu
“Abi itu memang harus jatuh dulu, baru dia bisa sadar.”Kalimat Aga tersebut, kerap terngiang di kepala Abi. Karena itu pula, Abi jadi memikirkan semua sifat dan sikapnya selama ini. Terutama dengan kehidupan pribadinya. Atau, dengan kata lain Abi sedang introspeksi.Sejauh ini, Abi memang tidak pernah mengalami kesulitan dan masalah dalam karirnya. Justru, semua pusat masalah Abi bersumber pada kehidupan pribadinya. Terlebih lagi, ketika Fika hadir dan membuat kehidupan Abi naik turun dengan berbagai sifat kekanakannya.“Mas, nanti kalau aku sudah bisa urus Esta sendiri, kita pindah aja ke rumah papa, ya?”Hening.Fika yang baru keluar dari kamar mandi, lalu duduk di meja rias segera menoleh pada Abi. Suaminya itu duduk pada sofa tunggal yang berada di samping boks bayi dan tengah menatap putrinya yang sedang tertidur pulas.“Mas …” panggil Fika sekali lagi. Karena Abi tidak kunjung merespons, Fika lantas berdiri kembali untuk menghampiri Abi. Setelah berdiri di samping pria itu, Fika
“Di mana Gara?”Bening terhenyak ketika seseorang menepuk bahunya dan bertanya tentang Gara. Meskipun sudah hafal dengan suara tersebut, tetapi Bening tetap saja terkejut karena ia sedang serius membaca buku menu MPASI untuk putranya.“Babe!” Bening membuang napas cepat, lalu terkekeh sembari melihat Rasyid duduk perlahan di sebelahnya. “Baru datang?”Rasyid balas terkekeh dengan anggukan. “Ngapain sendirian di sini? Fika sama mamamu ada di dapur, tapi kamu malah duduk di teras samping sendirian.”“Dapur lebih aman kalau nggak ada saya.” Bening kembali terkekeh tanpa malu sama sekali. Ia tidak akan menutupi kekurangan, yang sampai saat ini masih saja melekat pada dirinya. Bening tidak terlalu pintar memasak dan ia juga tidak berencana untuk belajar memasak. Setidaknya, untuk saat ini.“Terus ke mana perginya anak-anak?” Rasyid menengok ke arah pintu teras dan ke sekitarnya, tetapi tidak melihat suara berisik dari mana pun. Saat menemui Dean bersama Awan di depan, mereka hanya mengataka
“Mbak Ning sudah datang.” Fika memberi tahu, ketika sudah memasuki kamarnya di kediaman Nugraha. Ia segera menghampiri Abi yang duduk bersandar pada sofa dan tengah menggendong putri mereka. Satu tangan Abi dengan kokoh menyangga Esta dan tangan yang lainnya sedang memegang botol susu.“Papaku sudah datang?”“Belum.” Fika duduk perlahan di samping Abi, lalu mengusap pelan pipi putrinya yang semakin gembul itu. “Barusan dibawain ASI lagi sama mbak Ning.” Kemudian, bibir Fika mengerucut dan menghela. Fika bukan tidak bisa meng-ASI-hi putrinya, tetapi ASI yang dikeluarkannya tidaklah terlalu banyak seperti Bening. Padahal, Fika sudah memakan semua makanan bergizi dan melakukan segala cara untuk memperlancar produksi ASInya. Namun, tetapi saja miliknya tidak bisa sebanyak milik Bening.“Sudah minum ASI boosternya?” tanya Abi mengingatkan ketika Fika menyinggung masalah ASI. Karena Aga telah mewanti-wanti Abi sebelumnya, maka ia sungguh berhati-hati ketika berbicara dengan Fika. Jangan samp
“Sudah urus cuti buat lahiran Fika, Bi?” tanya Rasyid saat melihat Abi masuk ke ruang kerja yang berada di rumahnya. “Sudah.” Abi mendesah panjang, saat menghempaskan tubuhnya di sofa panjang. Kemudian, ia berbaring sembari menatap Rasyid dengan memeluk bantal sofa yang ada di perutnya. “Habis lahir
“Nggak usah.” Fika menolak tegas, ketika Abi hendak mengabari Clara mengenai kondisinya. Karena tidak terjadi sesuatu yang serius, maka Fika memutuskan untuk tidak memberi informasi apa pun pada keluarganya. Cukup dirinya dan Abi yang mengetahui hal tersebut.“Kalau nanti ada apa-apa, mama sama papam
“Segara Cakrawala.” Fika menatap bayi mungil yang sedang tertidur di samping Bening. “Jadi ingat pak Pras.” “Kenapa pak Pras? Bukan pak Raja?” tanya Aga yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Padahal yang jadi gubernur itu pak Raja, tapi orang-orang selalu ingatnya sama Pras.” “Serius masih tanya
Lega.Hal itulah yang Abi rasakan setelah mereka kembali dari babymoon. Sikap Fika mulai melunak, setelah mereka melakukan pembicaraan singkat malam itu. Meskipun masih terkesan moody, tetapi Fika sudah mau bicara secara baik-baik dengan Abi.Sejak saat itu pula, Abi lebih berhati-hati lagi ketika mel






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus