author-banner
AishAisyi
AishAisyi
Author

Novels by AishAisyi

Garis Tangan Sang Putra Mahkota

Garis Tangan Sang Putra Mahkota

Keraton memutuskan: Argapati, Sang Pangeran Adipati Harya, pewaris tahta, harus menikahi Kirana. Tapi hatinya sudah memilih Puspita Wandari, gadis desa pemetik teh yang tak punya gelar. Dalam satu keputusan nekat, ia menolak perjodohan di ruang sidang, walk out, lalu minggat untuk menjemput calon istrinya sendiri. Tanpa pengawal. Tanpa bekal. Hanya keberanian dan cinta yang belum pasti menang. Di perjalanan, takdir menjatuhkannya. Cedera, ia diselamatkan Adipati—gubernur yang diangkat langsung oleh keraton. Kini Sang Adipati terjepit. Setia pada keraton, atau melindungi rakyatnya yang dipacari Argapati? Pilihannya semakin sempit: menikahi Wandari berarti perang terbuka dengan keraton. Tetap pada Kirana berarti mengubur cintanya sendiri. Di bawah bayangan Gunung Wanasura, dua matahari tak bisa bersinar bersamaan.
Read
Chapter: Bab 75 Tanpa Pamit
Lembayung senja memeluk cakrawala. Kepingan uang telah menutup atap yang berlubang. Sore ini keadaan kembali seperti semula.Warseno menyeruput teh terakhirnya lalu meletakkan cangkirnya di atas meja, "kalau begitu aku pamit dulu ya Wandari" ucapnya sambil tersenyum.Wandari merasa ada sebagian dari dirinya yang akan lepas lagi. Wajahnya tak tenang mendengar Warseno yang berpamitan. "Tapi, Raden mau menginap dimana? katanya uangnya cuma sedikit untuk perjalanan pulang? Memangnya selama pengasingan, Raden tinggal dimana?" Wandari memberondongi Warseno dengan sejumlah pertanyaan.Warseno hanya tersenyum tipis, "aku bisa menginap dimana saja. Aku juga bisa mencari pekerjaan di perjalanan pulang. Selama masa pengasingan aku tinggal di Bhumi Sekarpari, waktu itu Arya pernah menjadi buruh panen di sawah bapak angkatku. Kami pernah bertemu di sawah" jelas Warseno.Wandari ingin menahan Warseno lebih lama lagi, "Sebentar lagi surup. Apa tidak sebaiknya Raden menginap di sini
Last Updated: 2026-09-25
Chapter: Bab 74 Genting Baru
Pagi itu udara sudah mulai hangat. Wandari duduk di bawah pohon dengan rumput liar sebagai alasnya. Ia duduk memandangi Megantara yang sedang memakan rumput belian.Warseno datang membawa dua nasi yang dipincuk menggunakan daun jati sebagai pembungkus luar, dan daun pisang sebagai lapisan dalam. "Ini makananmu" ucapnya sambil menyodorkan sepincuk makanan itu.Wandari pun tersenyum tipis dan menerimanya.Warseno yang merasa lapar langsung memakan makanan itu menggunakan tangannya langsung. Laki-laki itu kini sudah terbiasa makan tanpa sendok.Sementara Wandari hanya makan sedikit-sedikit sambil termenung. Jujur ia bingung bagaimana bertahan hidup setelah ini. Orangtua jauh tidak bisa dimintai tolong. Yang ia punya suami, itu pun Wandari tak tahu apakah masih bisa melanjutkan rumah tangganya atau tidak.Warseno melirik ke arah Wandari yang sedang memangku makanannya, "Kenapa tidak dimakan? tidak suka ya? mau aku carikan makanan lain?" tanyanya.Wandari tersenta
Last Updated: 2026-09-24
Chapter: Bab 73 Kangmas
Malam sudah larut. Argapati memindahkan Wandari ke kamar dengan cara mengangkat tubuhnya. Setelahnya ia juga membantu Arya berjalan dengan memapah tubuhnya hingga berbaring di sebelah Wandari.Argapati mengomel saat memapah Arya, "aku tidak menyangka terjebak dalam situasi seperti ini. Aku harus membantu orang yang sudah merebut calon istriku. Dan membantu perempuan yang sudah meninggalkan ku menikah dengan laki-laki lain" ucapnya.Arya sudah berbaring di samping Wandari sambil meringis kesakitan. Ia tak mungkin diam saja dikatai seperti itu oleh Argapati. "Opo? ditinggal rabi? gak keliru to? kamu yang nikah duluan. Nyalahin Wandari?" Arya memang masih lemas tapi mulutnya masih lancar berbicara.Argapati pun berjalan keluar kamar."Syukurlah dia pergi. Aku kira dia akan ikut tidur bertiga di kasur ini" Arya sedikit lega.Beberapa saat kemudian Argapati masuk lagi dan duduk disebelah Wandari. Mata Arya membulat, "Eh eh eh... mau apa duduk di situ?" ucapnya.Ar
Last Updated: 2026-09-23
Chapter: Bab 72 Tugas Selesai
Di alam sana, Mbah Drajat tidak sendirian. Beberapa langkah di bawahnya sedang duduk jiwa seorang laki-laki yang badannya terbelenggu oleh cahaya putih. Laki-laki itu terus menangis dan memanggil nama Wandari sambil minta maaf.Saat Genderuwo Kriwil mengambil alih badan Arya. Jiwanya berterbangan tak tentu arah. Makhluk gaib lain bisa saja dengan mudah menyandera jiwa itu untuk dijadikan budak. Mbah Drajat mengamankan jiwa Arya di tempatnya supaya laki-laki itu aman.Di sana ada sebuah Sendang yang bernama Sendang Drajat. Sendang itu berisi air jernih. Kejernihannya dapat memantulkan bayangan yang terjadi di rumah Arya. Arya melihat jelas apa yang terjadi pada badannya. Selain itu ia juga melihat Argapati dan Wandari yang berusaha mati-matian bertarung dengan makhluk yang tak mereka lihat. Makhluk itu anak buah Genderuwo Kriwil yang tidak bisa menembus pintu tertutup.Oleh sebab itu mereka meniupkan angin supaya pintunya terbuka. Saat pintu terbuka anak buah Genderuwo Kr
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: Bab 71 Genderuwo Kriwil
Sedangkan di dalam rumah. Wandari masih belum berhenti dalam tangisnya. Ia benar-benar sakit mendengar suaminya sudah meniduri perempuan lain bahkan saat mereka baru dua hari tinggal di rumah baru ini.Luka itu seolah semakin perih saat Arya mengaku melakukannya di rumah yang mereka beli bersama. (Aku tidur di kamar. Dan kamu melakukannya di ruang tamu saat aku tidur? bagaimana bisa?) batinnya sedang berperang.Kepalanya begitu penuh. Ia pun berteriak sekuat tenaga, "Kyaaarrghhh...!!" teriaknya sambil mengobrak-abrik ruang tamu yang dijadikan tempat maksiat suaminya."Gubrak..! gubrak..! gubrak..!" semua meja kursi berubah tidak beraturan.Di luar sana Arya dan Warseno mendengar teriakan itu. Mereka berdua panik tak tau apa yang terjadi. Wandari juga tak mau membuka pintu saat digedor dan dipanggil namanya.Brak! Brak! Brak! Dua laki-laki itu menggedor pintu rumah."Wandari...!!" panggil keduanya saling bersahutan.Akhirnya tak ada cara lain selain membuk
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: Bab 70 Air Sendang Drajat
Matahari di atas kepala. Teriknya tak terasa sebab pepohonan menghembuskan semilir angin segar. Gemericik air terdengar tiada henti bersama burung-burung kecil yang sesekali bernyanyi.Angin kencang berhembus di sekitar sungai saat dua bibir saling menyatu. Dedaunan berterbangan tak tentu arah menyaksikan kemurkaan seseorang yang selalu diserang ilmunya.Beberapa saat kemudian, Arya merasakan gejolak dalam perutnya. Ia menarik bibirnya dengan tubuh yang mendapatkan perlawanan."Huek...!" Arya memuntahkan lagi air minum dari Sari beberapa menit tadi. Hanya air, semua makanan masih aman tersimpan di dalam saluran pencernaannya.Wandari terbelalak, "Kakang! ayo kita pulang Kang. Kakang masuk angin kan jadinya" Wandari bangun duluan untuk membantu suaminya bangun.Anehnya tubuh Arya malah terasa ringan. Ia tak lagi merasakan tanda-tanda seperti masuk angin. Saat sampai rumah pun ia tak lagi merasakan hawa panas seperti sebelumnya.Wandari mengelap tubuh suaminya
Last Updated: 2026-09-20
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status