Mag-log inKeraton memutuskan: Argapati, Sang Pangeran Adipati Harya, pewaris tahta, harus menikahi Kirana. Tapi hatinya sudah memilih Puspita Wandari, gadis desa pemetik teh yang tak punya gelar. Dalam satu keputusan nekat, ia menolak perjodohan di ruang sidang, walk out, lalu minggat untuk menjemput calon istrinya sendiri. Tanpa pengawal. Tanpa bekal. Hanya keberanian dan cinta yang belum pasti menang. Di perjalanan, takdir menjatuhkannya. Cedera, ia diselamatkan Adipati—gubernur yang diangkat langsung oleh keraton. Kini Sang Adipati terjepit. Setia pada keraton, atau melindungi rakyatnya yang dipacari Argapati? Pilihannya semakin sempit: menikahi Wandari berarti perang terbuka dengan keraton. Tetap pada Kirana berarti mengubur cintanya sendiri. Di bawah bayangan Gunung Wanasura, dua matahari tak bisa bersinar bersamaan.
view moreArgapati keluar dari pintu penjara. Disana ada Rangga Wesi yang masih setia menunggu, serta Adipati Surenggana. Mereka menunggu diluar karena Argapati meminta privasi bersama tawanan."Lepaskan mereka Adipati" ucap Argapati.Adipati Surenggana mengerutkan keningnya."Tapi mereka belum menjalani sidang Raden" jawab Adipati.Argapati tersenyum palsu."Tidak perlu. Aku sudah memberinya peringatan. Tadi aku sedang ke desa untuk sidak sekalian mengirim surat. Tapi di desa sedang heboh ada laki-laki yang memaksa seorang gadis menikah dengannya lalu membawa kabur. Aku berusaha mengejar laki-laki itu, dia sudah ku beri peringatan. Perempuan itu sudah terlanjur menikah dengannya jadi dia sudah terikat dengan laki-laki itu. Lepaskan mereka, obati sampai sembuh dulu. Aku akan kembali ke keraton sekarang" ucap Argapati.Adipati Surenggana pun memerintah prajuritnya untuk mengambil tandu dan melepaskan tawanan.Argapati beralih pada pengawalnya."Rangga Wesi! siap
Argapati berjalan di lorong kadipaten bersama Adipati Surenggana yang menunjukan dimana mereka mengamankan buronan. Sementara Wandari juga ikut di belakang mereka dengan dikawal dua prajurit. Mereka berlima berjalan bersama menuju sel tempat Arya yang katanya 'buronan' itu di amankan.Mereka mulai menuruni anak tangga yang mengarah ke sel bawah tanah. Perlahan udara semakin menipis tapi cukup untuk kebutuhan oksigen manusia normal. Lembab, panas, gelap, karena penerangan hanya dari satu dimar ublik untuk ruangan seluas itu, banyak suara tikus berlarian kesana kemari.Dari balik jeruji besi, Arya yang masih diikat badan dan tangannya serta mulut yang masih disumpal, bisa mendengar ada langkah kaki yang kian mendekat. Ia mencoba berdiri dengan salah satu kakinya yang diikat menggunakan rantai besi. Dalam gelapnya sel, ia bisa melihat siluet beberapa orang mendekat.Lamat-lamat ia mulai bisa mendengar jelas obrolan mereka. "Kenapa sel ini kosong""Semua tawanan sudah di eksekusi Raden,
Beberapa waktu berlalu, rombongan Argapati sudah tiba di kediaman Adipati Surenggana.Suara klok klok dari kaki kuda berhenti. Argapati langsung melompat turun dari punggung kuda dan masuk ke ndalem kadipaten.Adipati Surenggana langsung melangkah menyambut kedatangan sang Pangeran Adipati Harya. "Sugeng rawuh Raden Mas. Buronan sudah berhasil kami bekukan." ucap Adipati Surenggana.Argapati tersenyum mendapat angin segar ditengah rasa lelahnya. "Kerja bagus Adipati, dimana buronan itu beserta perempuan yang dia bawa kabur?" tanya Argapati.Mereka berjalan masuk ke dalam kadipaten bersama dengan langkah kaki Adipati sedikit di belakangnya."Mari kulo tunjukkan, Raden mau ke sel dulu atau ke kamar tamu dulu. Mereka kami amankan ditempat terpisah Raden" jawab Adipati yang setia berjalan di belakang Argapati.Sang putra mahkota itu berhenti berjalan lalu berbalik badan. Terlihat Adipati juga berhenti melangkah lalu menundukkan wajahnya. "Antar aku
Seluruh warga desa gempar sebab anak buah Ki Lurah menggeledah semua rumah untuk mencari Wandari. Semua berhamburan menyelamatkan diri di pelataran rumah. Ibu-ibu mendekap anak-anak mereka yang hanya menatap orang-orang masuk ke dalam rumah mereka.Orangtua Wandari dan Arya pun harap harap cemas tak tau putra putri mereka ada dimana. Mereka hanya bisa mondar-mandir di depan rumah anaknya sebab tak tahu harus apa.Salah satu anak buah Ki Lurah datang menghadap Ki Lurah yang sedang duduk gemetar di rumahnya bersama Argapati. Anak buah tersebut datang bersama mandor erek rombongan buruh panen yang Arya ikuti.Mandor tersebut memberikan kesaksian kepada Argapati bahwa Arya tadi bolos kerja setelah rombongannya melintas.Rahang Argapati mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga buku jaringa nampak memutih."Jadi! laki-laki yang berlari dipematang sawah tadi! suami Wandari yang akan membawa kabur calon istriku!" Argapati mulai menyadari keberadaan Arya beberapa waktu la


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.