MasukLima tahun setelah berpisah, Miranti dan Adrian dipertemukan kembali dalam keadaan rapuh. Mereka sama-sama terluka, sama-sama kehilangan. Sebagai ibu susu profesional, Miranti harus merawat dan menyusui bayi Adrian. Akankah cinta terlarang mereka mendapat kesempatan kedua di tengah intrik keluarga dan bayang-bayang masa lalu? Atau takdir hanya mempermainkan hati yang telah terluka?
Lihat lebih banyakAdrian memarkir mobilnya di carport. Mesin mobil sudah mati, tapi ia belum bergerak dari kursi pengemudi. Punggungnya menempel tegak di sandaran kursi pengemudi, pandangannya kosong menatap tembok garasi di depannya.Kepalanya terasa berat. Dadanya sesak.Pengakuan ibunya terus berputar memenuhi pikirannya. Foto-foto Miranti yang dimanipulasi. Ancaman yang dilontarkan pada Miranti. Semua kebohongan yang telah merenggut lima tahun kebahagiaan mereka.Dan Miranti... wanita itu bahkan tidak tahu. Selama ini ia hidup dengan beban kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.Adrian memejamkan mata, mencoba menenangkan napasnya yang memburu. Tapi semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin jelas wajah Miranti muncul di benaknya.Senyumnya yang tulus. Kelembutan dalam setiap gerakannya saat merawat Bianca. Kesabarannya menghadapi sikap kelam mami Adrian selama ini."Bodoh," gumam Adrian pada dirinya sendiri. Tangannya mengepal. "Aku sangat bodoh."Miranti tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika keh
Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kedua tangannya memegang erat kemudi mobil. Matanya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya berkecamuk. Pengakuan Keysha terus berputar di kepalanya. Memporak-porandakan akal sehatnya.Maminya. Linda. Wanita yang selama ini ia hormati, ia percayai, ternyata dalang di balik semua penderitaan Miranti.Mobil berhenti dengan keras di depan rumah keluarga Himawan. Adrian turun dan membanting pintu mobil. Langkahnya panjang dan cepat menuju pintu utama. Ia bahkan tidak sempat menyapa supir keluarga yang kebetulan ada di carport."Adrian? Tumben kamu datang malam-malam begini?" sapa Linda dari ruang tengah. Suaranya ceria seperti biasa.Adrian berhenti di ambang pintu ruang tengah. Ia menatap ibunya yang sedang duduk santai di sofa, menonton televisi dengan secangkir teh herbal di pangkuannya.Linda duduk dengan punggung tegak dan anggun. Seolah tidak ada yang salah dengan dirinya. Seolah wanita itu tidak pernah menghancurkan kehidupan orang
Keysha menatap Adrian dengan pandangan kalut. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tubuhnya gemetar menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk. Keysha tak pernah menyangka kalau malam itu Adrian akan datang menemuinya."Kau pikir aku akan diam saja setelah semua yang kau lakukan?" Adrian melangkah mendekat, suaranya dingin dan menusuk. "Aku akan melaporkanmu ke polisi, Keysha. Kau akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu!""Adrian, tunggu….""Tidak ada yang perlu ditunggu!" bentak Adrian. Matanya menyala penuh kemarahan. "Kau sudah menghancurkan hidup Miranti. Kau memfitnahnya dengan foto-foto itu, membuat namanya tercemar dan hidupnya berantakan. Kau pikir aku akan membiarkanmu lolos begitu saja?"Keysha menggeleng cepat. Tangannya meremas ujung bajunya. "Aku... aku bisa jelaskan…""Jelaskan apa? Bukti sudah jelas di depan mata!" Adrian mengeluarkan ponselnya. "Aku sudah mengumpulkan semua bukti. Chat-mu dengan Rino. Transfer uang yang kau kirim. Semuanya sudah cukup untu
Adrian memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tuanya. Setelah mengela napas panjang, ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Tangannya mencengkeram amplop cokelat berisi tumpukan bukti yang telah ia kumpulkan selama berhari-hari. Setiap lembar di dalamnya adalah bukti kejahatan Keysha terhadap Miranti.Pintu utama terbuka sebelum Adrian membukanya. Linda, maminya, berdiri di ambang pintudengan senyum hangat yang biasa menyambutnya."Adrian, sayang! Kenapa tidak bilang mau datang? Mami kan bisa menyiapkan makanan kesukaanmu.""Mami, Papi ada?" potong Adrian. Suaranya datar, dingin.Linda mengernyit, senyumnya memudar. "Ada. Di ruang keluarga. Kenapa? Ada apa?"Adrian melewati maminya tanpa menjawab. Langka panjangnya terlihat tergesa. Linda mengikuti di belakang, wajahnya tampak gelisah melihat Adrian yang terlihat tegang.Di ruang keluarga, Wildan duduk di sofa favoritnya sambil membaca berita melalui tablet. Pria paruh baya itu mendongak ketika Adrian masuk dengan wajah te
Adrian tidak pernah main-main dengan ucapannya. Begitu janji keluar dari mulutnya, dia akan memastikan semuanya terlaksana.Karena itu, hanya dalam hitungan jam setelah percakapan terakhirnya dengan Miranti, dia sudah menghubungi seorang detektif swasta yang pernah membantunya mengurus masalah bisn
Adrian duduk di mobilnya yang terparkir di depan kos Rino. Dia sudah menunggu beberapa lama, tapi orang yang ditunggunya belum juga menampakkan batang hidungnya. Tak lama kemudian, sosok Rino tampak mendekati tempat kosnya dengan mengendarai motor matic-nya.Saat melihat mobil Adrian, Rino mengurun
Keysha membanting pintu mobilnya dengan keras. Amarah mengalir deras di setiap urat nadinya. Tangannya gemetar saat menekan nomor Rino untuk kesekian kalinya pagi ini. Tidak diangkat. Lagi."Sialan!" umpatnya sambil melempar ponsel ke jok penumpang.Tiga hari. Sudah tiga hari sejak ia mendengar kab
Miranti menggeleng cepat, menyeka air matanya. "Tidak apa-apa.""Jangan bohong." Adrian melangkah mendekat. "Siapa yang meneleponmu sampai kau seperti ini? Apa Rino?"Miranti tidak menjawab, tapi tatapan matanya sudah memberikan konfirmasi bahwa yang diperkirakan Adrian memang benar.Adrian duduk d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.