Chapter: Penekanan Oma Dewi"Leon, apa yang mau kamu lakukan?" tanya Selina, mendadak gugup setengah mati.Leon tak menjawab. Ia justru kembali melumat bibir ranum itu dengan kelembutan yang menyengat. Dalam kungkungan tubuh tegap suaminya, Selina memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan debar jantungnya semakin tak beraturan.Sentuhan itu perlahan menyusuri rahang Selina, lalu membakar leher mulusnya dengan kecupan yang semakin intens dan penuh damba."Mph... Leon!" desah Selina pasrah, tangannya refleks meremas bahu kokoh pria itu saat sensasi hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.Leon tidak memberi jeda sedikit pun. Gairah yang tertahan bertahun-tahun kini meledak, menyapu bersih sisa ragu di mata Selina.Setiap sentuhan dan kecupan intens yang Leon berikan perlahan meruntuhkan seluruh pertahanan wanita itu. Atmosfer di dalam kamar seketika memanas, oleh hasrat yang membakar.Suara helaan napas berat dan desahan halus saling bersahutan di keheningan malam, menjadi saksi permainan intim yang seolah tak ingin Leo
Last Updated: 2026-10-02
Chapter: Kecupan kecil"Leon, apa kita akan melakukannya sekarang?" tanya Selina polos, menatap serius dengan netra bulatnya."Menurutmu bagaimana, Sayang? Apa aku harus menundanya?"Selina menelan ludah kasar. Tatapan intens pria itu membuat tubuhnya meremang hebat, terlebih dengan jarak mereka yang begitu dekat."Kalau aku belum siap, bagaimana?"Raut kekecewaan seketika terpancar di wajah Leon. "Alasannya apa?""Tidak ada. Aku cuma merasa sungkan, setelah sekian lama berpisah lalu mendadak dipertemukan lagi. Bahkan langsung diikat pernikahan, walaupun cuma nikah kontrak," ujar Selina pelan.Leon tertawa mendengar penuturan polos itu. "Pernikahan kontrak? Kamu pikir setelah sekian lama aku menginginkanmu, lalu berhasil mendapatkanmu hari ini, aku bakal mempertahankan kontrak konyol itu?"Kening Selina mengerut bingung. "Maksud kamu apa?""Dokumen konyol itu sudah kumusnahkan tepat setelah kamu menandatanganinya," bisik Leon dengan senyum miring di bibirnya. "Jadi, jangan pernah berharap kamu bisa kabur da
Last Updated: 2026-10-02
Chapter: Hari Bahagia"Selamat, Sayang. Akhirnya kalian berdua sudah resmi menjadi sepasang suami istri," ucap Oma Dewi seraya menyerahkan sebuah kotak beludru merah ke hadapan Selina.Selina menerima kotak itu dengan bingung. "Oma, ini apa?""Ini perhiasan turun-temurun keluarga Hartono. Sekarang kamu sudah resmi menjadi Nyonya Hartono, jadi kamu berhak memilikinya," jawab Oma Dewi lembut.Selina membelalak. Tangannya mendadak gemetar memegang kotak berharga itu. "Terima kasih banyak, Oma. Aku terima hadiah ini.""Jelas diterima dengan senang hati! Itu perhiasan mewah, bukan imitasi," sindir Bu Juwita sinis dengan wajah tidak bersahabat.Leon yang berdiri di samping Selina langsung menatap ibunya dingin. "Sampai kapan Mama mau terus-terusan memojokkan Selina?""Mama tidak memojokkan, Mama cuma bicara fakta. Khawatirnya, istri barumu itu mengira ini emas murahan yang biasa dijual di pinggir jalan," balas Bu Juwita enteng."Selina bukan perempuan bodoh, Juwita!" tegas Oma Dewi dengan tatapan tajam mengunci
Last Updated: 2026-10-02
Chapter: Tersipu"Tuan, makanan sudah siap di meja," potong seorang pelayan, membuat Selina sontak mundur menjauhi Leon. Leon mendengus kesal. "Lain kali, kalau kami sedang berdua, jangan mengganggu!" Pelayan itu menunduk canggung. "Ma-maafkan saya, Tuan." Selina mendelik ke arah Leon yang emosi hanya karena masalah sepele. "Tidak perlu minta maaf, Mbak. Kamu tidak salah," seloroh Selina cepat, tak mau memperpanjang masalah. Ia lalu menatap Leon tajam. "Jangan bentak-bentak orang cuma karena hal sepele." Leon hanya mengacak rambutnya frustrasi, lalu menarik napas panjang. "Terserah. Ayo makan dulu, kamu belum makan dari tadi." Selina mengangguk, lalu mengekor di belakang Leon. Begitu sampai di meja makan, deretan hidangan mewah yang menggugah selera tersaji rapi. Selina meneguk ludah. Ia jarang sekali menemukan hidangan semewah ini di rumahnya. Leon tersenyum tipis melihat reaksi itu. Ia menarik lembut lengan Selina agar duduk di kursi. "Jangan cuma dilihat. Semua hidangan ini dibua
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Sebuah perlindungan"Juwita! Jaga ucapanmu!" bentak Oma Dewi tajam, mulai jengah pada kelakuan menantunya."Mama! Wanita ini sudah jelas cuma cewek matre yang mau memanfaatkan Leon. Kenapa Oma justru membelanya?" pekik Juwita seraya menatap nyalang ke arah Selina.Tatap penuh kebencian itu membuat Selina mendadak tidak nyaman dan semakin menundukkan kepala."Cukup, Ma," sela Leon dingin, menahan kekesalan yang mulai memuncak. "Mama tidak kenal Selina. Jadi jangan asal menilai tanpa tahu apa-apa!""Mama ini ibumu, Leon! Mama tahu mana wanita yang benar-benar baik dan mana yang cuma mengincar hartamu!" balas Juwita tidak mau kalah.Leon terkekeh sinis, lalu menarik Selina berdiri di sampingnya. "Kalau begitu, terserah Mama mau mikir apa. Yang jelas, keputusan Leon sudah bulat.""Leon!""Leon tidak butuh persetujuan Mama untuk memilih pendamping hidup," potong Leon tegas, mengunci pandangan ibunya. "Kalau Mama tidak bisa menghormati calon istri Leon di rumah ini, lebih baik kami yang pergi."Tanpa menunggu
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bianca kalah telak"Leon, kamu keterlaluan!" bentak Bianca dengan netra berkaca-kaca. "Orang tua kita sangat setuju dengan perjodohan ini, tapi kamu malah tega membawa wanita jalang ini kesini!"Leon semakin menatap Bianca dengan tajam, tak suka jika wanitanya direndahkan. "Jaga ucapanmu. Siapa pun yang berani menyakiti calon istriku, dia akan berurusan denganku!""Leon, kamu benar-benar gila!" Juwita menatap tajam putranya dengan amarah menggebu-gebu. "Sampai kapan pun, yang akan menjadi menantu keluarga Hartono hanya Bianca!" tekan wanita itu penuh intimidasi."Juwita! Jangan terlalu menekan cucuku!"Oma Dewi akhirnya angkat suara setelah sejak tadi diam menyimak. Langkah pelan Oma Dewi mendekat ke arah Leon dan Selina. Pandangannya yang teduh terfokus pada jemari mereka yang saling bertaut erat, sebelum beralih menatap wajah Selina yang masih tampak pucat dan penuh ketakutan."Biarkan Leon memilih jalannya sendiri," tegas Oma Dewi seraya tersenyum tipis ke arah Selina. "Lagi pula, mataku tidak bisa
Last Updated: 2026-10-01