FAZER LOGINSelina baru dipecat dari perusahaannya, membuat selina putus asa karena harus menjadi tulang punggung keluarganya yang toksik. Merasa tak ada jalan lain, Selina memilih untuk bekerja sebagai wanita malam di sebuah club ternama. Saat Selina akan bertemu dengan pelanggan pertamanya, ia dibuat kaget oleh takdir. Pelanggan pertamanya ternyata mantan pacarnya sendiri. Yang paling membuat Selina kaget, sang mantan kekasih menawarkan pernikahan kontrak.
Ver mais"Anak nggak berguna! Pasti kamu nggak becus kerja, kan?! Makanya kamu dipecat!” hardik Bu Arum dengan emosi di ujung tanduk.
Tanpa belas kasihan, wanita paruh baya itu melayangkan gesper kulit ke tubuh Selina. "Ibu, ampun! Sakit, Bu!" jerit Selina. Selina meringkuk di lantai dan berusaha melindungi kepalanya sambil menahan panas dan perih yang menjalar di kulitnya. "Rasakan! Biar kamu kapok!" Bu Arum terus mencambuk tanpa belas kasih, melampiaskan amarahnya yang sudah membumbung tinggi. "Bu... tolong… hentikan..." lirih Selina. Dengan suara yang mulai melemah, diselingi isakan tangis, Selina terus meminta ampun pada sang ibu. Napas Bu Arum terengah-engah. Ia akhirnya melempar gesper itu sembarangan, lalu menatap putrinya dengan pandangan murka. "Nggak usah drama! Pergi kamu dari sini! Jangan berani menampakkan muka sebelum dapat kerjaan baru!" perintah bu Arum emosi. "Bu, tapi ini udah malam... Biarin Selina istirahat dulu, tolong..." mohon Selina sambil menatap ibunya dengan penuh harapan. "Nggak ada istirahat! Keluar sekarang!" tolak bu Arum mentah-mentah. BRAK! Pintu langsung ditutup keras oleh bu arum tepat di hadapan muka Selina. Hening malam mendadak mencekam, meninggalkan gadis itu sendirian di teras. Dengan tubuh bergetar dan sendi-sendi yang lemas akibat rasa lapar karena sejak pagi belum makan, Selina perlahan bangkit walau sedikit sempoyongan. Kaki lemasnya dipaksa terus melangkah menyusuri jalanan. Setiap hembusan angin yang menerpa punggungnya membuat luka di bekas cambukan terasa perih. "Bu... kenapa aku selalu dibedakan?" bisik Selina lirih. Tangan Selina mengepal erat ketika mengingat fakta bahwa dirinya selalu dipaksa bekerja keras layaknya sapi perah, sementara adiknya dimanjakan bagai ratu. Langkahnya melambat, matanya menyapu sekeliling. Sempat terlintas harapan akan hadirnya keajaiban, namun realita segera menamparnya. Di dunia nyata, keajaiban tidak pernah datang cuma-cuma. "Ke mana lagi aku harus cari kerja?" gumamnya pasrah. Langkah Selina terhenti di depan sebuah bangunan yang memantulkan cahaya neon. Musik berdentum hingga keluar jalan, dengan riuh tawa pengunjung yang keluar masuk. Pandangannya seketika terpaku pada beberapa wanita berpakaian minim yang bergelayut manja di lengan pria-pria tua. "Tempat ini..." bisik Selina, menelan ludah. "Kayaknya ini satu-satunya cara menghasilkan uang dengan cepat." Persetan dengan harga dirinya sekarang, Selina sudah tidak peduli. Yang penting malam ini dia harus membawa uang agar bisa pulang ke rumah. Toh walaupun terjadi sesuatu padanya, ibunya juga tidak akan peduli. Selina nekat masuk ke klub malam itu dengan pakaian lusuh dan kotor. Kulitnya yang kusam, membuat beberapa pengunjung melirik jijik ke arahnya. Bau menyengat rokok dan alkohol membuat Selina terbatuk-batuk, tetapi dia terus melangkah ke dalam. Seorang wanita berambut sebahu yang tengah mengisap rokok mengernyitkan kening saat melihat wanita lusuh yang melangkah masuk. Ia beranjak mendekat dengan tatapan curiga. "Siapa kamu? Pengemis?!" tanyanya sambil mengamati Selina dari ujung kaki hingga kepala. Wanita itu merogoh saku celananya, lalu mengulurkan lembaran uang lima ribu ke arah Selina. Selina menatap wanita itu dengan wajahnya yang tegas membuat Selina ciut. "Saya... Saya bukan pengemis." "Terus apa? Penampilanmu kotor begini. Siapa yang tidak mengira kamu pengemis?" sahut wanita itu sinis. Tangan Selina mengepal. Ia merasa semua orang, bahkan orang tuanya sendiri, memandangnya rendah. Jika bukan karena sangat butuh uang, ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di tempat ini. "Saya butuh pekerjaan!" tegas Selina, mencoba memberanikan diri. Wanita itu justru tertawa geli, lalu menatap penampilan Selina dari ujung kepala sampai kaki. "Dengan penampilan lusuh begini?" tanyanya remeh. Selina menahan emosinya. Ia tahu, sedikit saja salah bersikap, kesempatannya akan hilang. "Tapi, aku bisa mempertimbangkannya. Asalkan kamu masih perawan,” kata wanita itu santai. “Saya Merry, panggil saja Mommy atau Mom Merry. Saya menaungi banyak wanita yang juga menyerahkan seluruh tubuh dan harga dirinya pada saya sama seperti yang kamu lakukan saat ini,” jelas wanita itu. Mata Selina membelalak. Tenggorokannya merasa tercekat, bahkan ia sulit menelan ludahnya sendiri. Namun, ia sadar di mana ia berada sekarang. Di tempat seperti ini, hal itu sudah menjadi komoditas biasa. "Saya masih perawan," jawab Selina pelan sambil menunduk. Senyum puas terukir di wajah Merry. Ia memberi isyarat tangan kepada dua wanita yang duduk di sofa tak jauh dari mereka. "Kalau mau kerja di sini, kamu harus siap dengan konsekuensinya. Tugasmu membuat pelanggan puas, dan uang yang kamu dapat bakal sangat banyak. Kebetulan malam ini ada pengusaha kaya yang minta dicarikan gadis," jelas Merry. Merry mencolek dagu Selina, lalu memaksa gadis itu menatapnya. "Bagaimana? Kamu setuju, Sayang?" Selina semakin tercekat. Bayangan pengusaha kaya berkulit keriput yang akan merenggut kesuciannya malam ini membuat ia ingin kabur sekarang juga dari tempat ini. "Gimana? Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu jawabanmu!" tekan Merry. Refleks, Selina menganggukkan kepalanya. "Bagus!" ucap wanita itu dengan seringai tipis. Merry melirik ke arah dua wanita yang berada di sampingnya. "Kalian, rias dia secantik mungkin. Ingat, dandanannya harus totalitas karena yang dia layani malam ini pengusaha kaya raya. Dia pasti rela membayar miliaran rupiah!” perintah Merry mutlak. "Siap, Mom. Tenang saja," sahut salah satu dari mereka. Keduanya langsung menarik lengan Selina dan membawanya masuk ke ruang ganti. Setelah berdandan selama satu jam lebih, Selina disulap mengenakan gaun panjang tali spageti berwarna merah maroon dengan belahan paha tinggi. Riasan tebal menempel di wajahnya, sementara rambutnya yang semula kusut kini ditata bergelombang berhasil membuat Merry sampai menatapnya tanpa kedip. "Sayang, kamu benar-benar cantik! Mommy yakin kalau pengusaha kaya itu pasti suka sama kamu!” puji Merry antusias. Selina justru sibuk menyilangkan tangan di dada, merasa risih karena belahan dada gaunnya terlalu rendah. "Mom… tapi aku risih pakai baju begini…" bisik Selina jujur. Merry tersenyum santai. "Itu cuma karena kamu belum terbiasa, Sayang. Percayalah, begitu melihat uang melimpah nanti, kamu pasti bakal percaya diri,” jawab Merry santai, lalu menghidupkan rokoknya dengan tenang. "Reno, antar gadis Mommy ini ke Hotel Mustika. Pastikan dia sampai dengan aman,” perintah Merry pada seorang pria berbadan kekar. "Baik, Mom," jawab pria itu patuh. Selina pun masuk ke dalam mobil. Perasaannya campur aduk antara takut dan cemas. Selama perjalanan, tangannya terus menyilang erat di dada, khawatir Reno akan berbuat macam-macam padanya. "Kamu anak baru, ya?" tanya Reno saat menyadari raut gugup Selina dari kaca spion. "I-iya," jawab Selina singkat. Reno terkekeh pelan. "Pantas saja, kamu masih kelihatan lugu. Tapi, sayang sekali kamu memilih jalan ini. Uang cepat dari tempat seperti ini biasanya cuma bikin hidupmu semakin rumit nantinya." Selina makin meremas gaunnya, mencoba meneguhkan keputusannya. "Kalau aku punya pilihan lain, aku juga tidak akan pernah berada di sini. Tapi dunia terlalu kejam buat orang miskin," sahut Selina datar. "Aku bukan berniat menghinamu. Aku cuma mengingatkan," ujar Reno menimpali. "Aku sudah tahu konsekuensinya…" balas Selina lirih. "Tapi, orang sepertiku rasanya tidak pernah diberi pilihan untuk memilih." Perjalanan terasa singkat hingga mobil akhirnya berhenti di pelataran Hotel Mustika, sesuai petunjuk Merry. Reno bergegas turun dan membukakan pintu. Pandangannya tertuju pada Selina yang masih tampak tegang dan ketakutan. "Masuklah ke kamar 205, klien mu sudah menunggu di dalam," kata Reno memberi petunjuk. "Ingat, tetap percaya diri. Kalau sampai membuat klien kecewa, Mami Meri yang akan menghukummu." Selina mengangguk pelan. "Iya, terima kasih. Aku masuk dulu," ucapnya serak. Dengan langkah yang berat, Selina perlahan menyeret kakinya. Reno hanya berdiri memperhatikan punggung gadis itu yang makin menjauh, lalu menghembuskan napas panjang. Selina langsung berjalan menuju meja resepsionis untuk menanyakan kamar tujuan. "Ada di lantai dua, Nona. Kamar VIP," jawab resepsionis ramah, yang dibalas anggukan pelan oleh Selina. Gadis itu melangkah menuju lift. Begitu pintu lift terbuka di lantai dua, pandangannya menyusuri jajaran nomor di sepanjang koridor. Langkahnya terhenti tepat di depan kamar bernomor 205. Tangannya mendadak bergetar hebat dan jantungnya berdegup kencang, terlebih saat melihat dua penjaga bertubuh tegap berdiri di depan pintu tersebut. "Selina... kamu pasti bisa. Ini satu-satunya jalan untuk dapat uang," bisiknya menenangkan diri, berharap rasa takut itu perlahan memudar. Selina memejamkan mata sejenak, mengatur napas untuk meredakan gelisah. Setelah merasa agak tenang, ia melangkah mantap menghampiri dua penjaga itu. "Permisi, saya wanita yang dipesan untuk kamar ini," ucap Selina. Kedua penjaga mengangguk singkat. "Silakan masuk." Belum sempat Selina menekan bel, pintu kayu tebal di hadapannya mendadak terbuka. Berdiri disana seorang pria muda bertubuh tegap dengan tatapan mata tajam. Pandangan mereka beradu, yang seketika membuat dunia Selina seakan terhenti. Matanya membelalak tak percaya ketika melihat wajah yang tak asing baginya. "Ka-kamu..." gumam Selina terbata. Pria itu menyipitkan mata, meneliti paras wanita di depannya. "Selina?!" Pikiran Selina mendadak kalut. Dia mengenal sosok di hadapannya, ia panik setengah mati dan langsung berbalik mengambil langkah seribu. "Hei! Mau ke mana kamu?!" teriak pria itu keras. Ia lalu menoleh tajam ke penjaganya. "Kalian tunggu apa lagi? Kejar dia sekarang!""Leon, apa yang mau kamu lakukan?" tanya Selina, mendadak gugup setengah mati.Leon tak menjawab. Ia justru kembali melumat bibir ranum itu dengan kelembutan yang menyengat. Dalam kungkungan tubuh tegap suaminya, Selina memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan debar jantungnya semakin tak beraturan.Sentuhan itu perlahan menyusuri rahang Selina, lalu membakar leher mulusnya dengan kecupan yang semakin intens dan penuh damba."Mph... Leon!" desah Selina pasrah, tangannya refleks meremas bahu kokoh pria itu saat sensasi hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.Leon tidak memberi jeda sedikit pun. Gairah yang tertahan bertahun-tahun kini meledak, menyapu bersih sisa ragu di mata Selina.Setiap sentuhan dan kecupan intens yang Leon berikan perlahan meruntuhkan seluruh pertahanan wanita itu. Atmosfer di dalam kamar seketika memanas, oleh hasrat yang membakar.Suara helaan napas berat dan desahan halus saling bersahutan di keheningan malam, menjadi saksi permainan intim yang seolah tak ingin Leo
"Leon, apa kita akan melakukannya sekarang?" tanya Selina polos, menatap serius dengan netra bulatnya."Menurutmu bagaimana, Sayang? Apa aku harus menundanya?"Selina menelan ludah kasar. Tatapan intens pria itu membuat tubuhnya meremang hebat, terlebih dengan jarak mereka yang begitu dekat."Kalau aku belum siap, bagaimana?"Raut kekecewaan seketika terpancar di wajah Leon. "Alasannya apa?""Tidak ada. Aku cuma merasa sungkan, setelah sekian lama berpisah lalu mendadak dipertemukan lagi. Bahkan langsung diikat pernikahan, walaupun cuma nikah kontrak," ujar Selina pelan.Leon tertawa mendengar penuturan polos itu. "Pernikahan kontrak? Kamu pikir setelah sekian lama aku menginginkanmu, lalu berhasil mendapatkanmu hari ini, aku bakal mempertahankan kontrak konyol itu?"Kening Selina mengerut bingung. "Maksud kamu apa?""Dokumen konyol itu sudah kumusnahkan tepat setelah kamu menandatanganinya," bisik Leon dengan senyum miring di bibirnya. "Jadi, jangan pernah berharap kamu bisa kabur da
"Selamat, Sayang. Akhirnya kalian berdua sudah resmi menjadi sepasang suami istri," ucap Oma Dewi seraya menyerahkan sebuah kotak beludru merah ke hadapan Selina.Selina menerima kotak itu dengan bingung. "Oma, ini apa?""Ini perhiasan turun-temurun keluarga Hartono. Sekarang kamu sudah resmi menjadi Nyonya Hartono, jadi kamu berhak memilikinya," jawab Oma Dewi lembut.Selina membelalak. Tangannya mendadak gemetar memegang kotak berharga itu. "Terima kasih banyak, Oma. Aku terima hadiah ini.""Jelas diterima dengan senang hati! Itu perhiasan mewah, bukan imitasi," sindir Bu Juwita sinis dengan wajah tidak bersahabat.Leon yang berdiri di samping Selina langsung menatap ibunya dingin. "Sampai kapan Mama mau terus-terusan memojokkan Selina?""Mama tidak memojokkan, Mama cuma bicara fakta. Khawatirnya, istri barumu itu mengira ini emas murahan yang biasa dijual di pinggir jalan," balas Bu Juwita enteng."Selina bukan perempuan bodoh, Juwita!" tegas Oma Dewi dengan tatapan tajam mengunci
"Tuan, makanan sudah siap di meja," potong seorang pelayan, membuat Selina sontak mundur menjauhi Leon. Leon mendengus kesal. "Lain kali, kalau kami sedang berdua, jangan mengganggu!" Pelayan itu menunduk canggung. "Ma-maafkan saya, Tuan." Selina mendelik ke arah Leon yang emosi hanya karena masalah sepele. "Tidak perlu minta maaf, Mbak. Kamu tidak salah," seloroh Selina cepat, tak mau memperpanjang masalah. Ia lalu menatap Leon tajam. "Jangan bentak-bentak orang cuma karena hal sepele." Leon hanya mengacak rambutnya frustrasi, lalu menarik napas panjang. "Terserah. Ayo makan dulu, kamu belum makan dari tadi." Selina mengangguk, lalu mengekor di belakang Leon. Begitu sampai di meja makan, deretan hidangan mewah yang menggugah selera tersaji rapi. Selina meneguk ludah. Ia jarang sekali menemukan hidangan semewah ini di rumahnya. Leon tersenyum tipis melihat reaksi itu. Ia menarik lembut lengan Selina agar duduk di kursi. "Jangan cuma dilihat. Semua hidangan ini dibua






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.