Mag-log in"Dari kecil, semua yang aku suka, pasti kamu ingin merebutnya! Selamat, kamu berhasil lagi!"Cintia terpaksa merelakan kekasih yang telah bersamanya selama 3 tahun.Sejak saat itu, Cintia memutuskan untuk tidak lagi menjalin cinta dengan pria mana pun. Akan tetapi di luar dugaannya, muncul seorang anak laki-laki berusia enam tahun, dengan suara yang sangat manis, membujuknya untuk 'pulang bersama'.Kemudian, Cintia dihadapkan dengan sosok 'Suami' yang merupakan seorang bos besar berwajah tampan ditambah auranya yang sangat mendominasi. Dengan tegas, Cintia berterus terang, "Aku pernah dikhianati.""Jadi, aku tidak bisa memercayai siapa pun lagi," kata Cintia tetap teguh pada pendiriannya."Kamu seharusnya tidak membandingkan aku dengan bajingan itu!" kata pria itu sambil mengangkat alisnya."..." Cintia terpaku. Pria macam apa ini?Semua orang mengatakan Tuan Samuel Purnomo memiliki sosok yang dingin dan kaku, tidak sembarang orang bisa mendekatinya. Terlepas dari pandangan masyarakat terhadapnya, hanya Cintia yang tahu watak asli pria ini. Sungguh menyebalkan! Entah bagaimana Cintia bisa bertemu dengan orang seperti ini.
view moreThe men came on a Tuesday, which Tobin Leith would later find almost funny, because Tuesdays had always been the most unremarkable day of his week. He was sitting at the kitchen table in his brother's apartment, cleaning a handgun that didn't belong to either of them, when the front door opened without a knock and three men in dark coats walked inside like they owned the air in the room.
Jude was on the couch. Tobin didn't need to look at his brother to know what was happening to his face, because he had seen that particular shade of terror before, the colour draining from the skin so fast it looked like someone had pulled a plug somewhere underneath. Jude owed the Saal syndicate an amount of money that he could not pay in this lifetime or the next, and these men were here to collect something other than cash.
The tallest of the three did the talking. He explained, with the bored patience of someone who had delivered this speech many times, that the debt had matured past the point of negotiation. The syndicate required collateral in the form of a living body, someone who would remain on the estate of Emeric Saal until the financial obligation was resolved. The alternative was articulated with a brief and meaningful glance at Jude's kneecaps.
Jude opened his mouth, and Tobin could see the surrender forming on his brother's lips, the weak and familiar willingness to let things happen to him because fighting had never been part of his vocabulary. Tobin set the gun down on the table and stood up before Jude could finish his first syllable.
"I'll go," Tobin said.
The tall man looked at him with mild curiosity, the way you might look at a stray dog that wandered into a restaurant. He asked who Tobin was, and Tobin told him, and the man made a phone call that lasted less than a minute. When he hung up, he nodded once and told Tobin to pack a bag.
Jude grabbed his arm in the hallway, his fingers trembling, his eyes wet with the kind of guilt that never actually translates into action. He told Tobin he was sorry and that he would fix this and that Tobin didn't have to do this, and Tobin listened to all of it with the patience of a man who had spent his entire adult life cleaning up after someone else's disasters.
"Stay out of trouble," Tobin said. "And stay away from the tables."
He packed a single bag: two changes of clothes, a toothbrush, a paperback novel he had no intention of reading, and a tension wrench disguised as a luggage zipper pull that he had built himself from surgical steel. Then he walked out the front door and climbed into the back of a black SUV and watched his brother's apartment building shrink in the rear window until it disappeared entirely.
The Saal estate sat on the outskirts of the city like something that had been built to outlast the civilization around it. High stone walls, security cameras mounted at intervals that Tobin catalogued automatically, and a wrought-iron gate that opened with a mechanical smoothness suggesting it had been engineered to keep very specific things out and very specific things in.
The grounds were extensive and meticulously maintained, with gravel paths and hedgerows trimmed to surgical precision. The manor itself was a converted industrial building, all dark stone and reinforced glass, beautiful in the way that a well-made weapon is beautiful. Tobin counted the visible security personnel as the SUV pulled up the main drive: four on the perimeter, two at the entrance, and at least three more visible through the ground-floor windows.
They brought him through a side entrance and up a staircase to a guest wing on the second floor. The room was larger than Jude's entire apartment, furnished with heavy dark wood and a bed that could have slept three people comfortably. There was a window overlooking the rear gardens, but it was reinforced glass with a sensor strip along the frame that Tobin identified in under two seconds.
He set his bag on the bed and stood in the middle of the room and let his training take over, the part of him that had been built by military intelligence to assess environments and threats and exit strategies before his conscious mind had finished processing the carpet pattern. Two exits from the wing: the staircase he had come up and a service corridor visible at the end of the hall. The security rotation appeared to cycle every forty minutes. The lock on his door was electronic, keyed to a card system that would take time to understand.
He was still cataloguing when the door opened behind him. No knock, no warning, just the soft click of the handle turning with an authority that made the air in the room change temperature.
Tobin turned around, and Emeric Saal was standing in the doorway.
Photographs did not do the man justice, and Tobin had studied a great many photographs. He was tall and lean in a way that suggested discipline rather than genetics, with dark hair kept short and sharp pale grey eyes that landed on Tobin with the weight of a physical touch. A thin scar ran along the left side of his jaw, and he wore a dark suit with no tie and the top button undone, and everything about him communicated a level of control so absolute it made the room feel smaller.
He looked at Tobin the way a collector looks at an acquisition, with interest that contained no warmth whatsoever. He did not introduce himself, because men like Emeric Saal did not need to introduce themselves, and he did not ask if Tobin was comfortable, because men like Emeric Saal did not care about comfort.
What he said instead was a single sentence, delivered in a voice so low and even that it took Tobin a moment to register the words.
"You don't look like a gambler's brother."
Then he turned and walked away, and the door closed behind him with a soft finality that settled into Tobin's chest like a stone dropped into deep water. Tobin stood perfectly still in the middle of the room, his pulse elevated for the first time in months, and added one critical piece of information to his mental file on Emeric Saal.
The man was observant. Dangerously, inconveniently, ruinously observant. And Tobin's mission had just become significantly more complicated than he had planned.
Hanya dengan melihatnya saja semua orang sudah tahu bahwa gelang ini tak ternilai harganya. Ini juga sejenis harta karun yang tak ternilai.Tidak mungkin dapat Cintia terima."Ini tidak ada hubungannya dengan Natasya. Kamu baru saja pulang kembali ke Keluarga Anggono. Ini adalah pertemuan pertama kita dan ini adalah hadiah dari Nenek. Tak perlu malu-malu. Kalau kamu masih tak mau menerimanya, aku pasti akan marah," ujar Nyonya Besar Ria dengan sengaja."Kak Cintia, jangan sungkan. Ini adalah niat baik dari nenekku, kamu ambil saja." Natasya yang berada di samping Nyonya Besar Ria melanjutkan omongannya, "Gelang ini sebenarnya kami pilih dari kotak perhiasan gelang giok nenek untuk waktu yang cukup lama. Leon dan aku merasa ini cocok untukmu, coba kamu pakai dan lihatlah."Cintia benar-benar tidak ingin berutang budi kepada siapa pun."Cintia, karena Nenek Ria yang memberikannya padamu, kamu ambil saja," sebut Tuan Besar Ricky yang berada di sampingnya.Cintia tidak punya pilihan selai
"Kamu tak mau pulang?" Cintia mengangkat alis matanya."Bukan itu, hanya saja ...."Hanya saja karena Leon, 'kan?Karena Erikson berpikir Leon adalah papinya, jadinya Erikson ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Leon.Cintia bahkan mulai meragukan apakah Erikson sebenarnya pergi mencari Leon hari ini.Terpikirkan akan kemungkinan ini, Cintia semakin kukuh dengan pendiriannya dan berencana untuk meninggalkan Kota Jakarta. "Oke." Erikson berkompromi.Bagaimana pun juga, Mami sudah tidak suka Papi lagi.Papi memang sudah keterlaluan.Kemarin, dia masih bisa melihat muka Mami, kemudian pergi melindungi perempuan lain dan memarahi Mami. Mami membencinya, pasti begitu."Mami, aku akan kembali tidur. Selamat tidur.""Selamat tidur."Erikson kembali ke kamarnya.Dia melihat hasil tes DNA yang berada di meja dan ingin menunjukkannya kepada Maminya.Hari ini, hanya demi kertas hasil tes DNA ini, Erikson sudah menghabiskan waktunya seharian. Namun sekarang, itu sudah tidak berguna lagi
"Oh, begitu." Keraguan Laura terhapuskan.Dalam kehidupan Cintia, selain Erikson, hanya ada Erikson.Apa pun yang Erikson mau, sudah pasti tidak akan Cintia tolak. "Omong-omong, aku sudah mulai sedikit merindukan Erik." Lily tiba-tiba mengirimkan pesan itu."Apa kamu mau menemuinya? Dia sudah tumbuh menjadi seorang pria ganteng, tinggi badannya juga kurang lebih sama denganku." Cintia berinisiatif untuk mengundang teman-temannya."Lupakan saja, kita bicarakan lagi sewaktu aku sudah mapan." Lily menolak ajakan itu dan melanjutkan mengirim pesan, "Dulunya aku hidup dengan glamor, aku tak bisa membiarkan Erik berpikir aku sudah tidak sesuai lagi. Apa pun yang kuperbuat, juga tidak terlalu rendah dari yang Tammy miliki, 'kan?""Kamu masih saja peduli dengan keberadaan Tammy," sela Laura."Omong kosong, memangnya kamu tidak? Aku hanya menerima ujian yang diberikan pencipta padaku. Tunggu aku sampai berhasil, namaku pasti akan melejit sampai ke langit."Cintia tidak bisa menahan dirinya unt
Erikson baru kembali pulang rumah larut malam.Kalau bukan karena panggilan yang terus terhubung, Cintia sudah pasti akan mengira Erikson telah diculik."Kamu pergi bermain ke mana, kenapa sangat lama?" Cintia bukan sedang menyalahkan Erikson.Cintia juga tidak akan menyalahkan Erikson.Cintia hanya merasa penasaran. Erikson selalu patuh dengan ibunya, tetapi setelah tahu kalau Erikson sudah terlalu lama jauh dari ibunya, tentu ibunya akan menjadi sangat khawatir, tetapi Erikson tetap memilih untuk pulang larut malam. Erikson lantas melihat Cintia, tidak mengatakan apa pun.Erikson masih belum sempat menjawab."Sudah pulang saja sudah bagus. Erik, lain kali harus pulang lebih awal, ya. Mami-mu hampir mau menelepon polisi, loh," canda Tuan Besar Ricky."Iya, Kakek Buyut," ujar Erikson sembari menganggukkan kepalanya."Kamu pasti lapar, ya. Mari kita makan malam." Tuan Besar Ricky menarik tangan Erikson dengan hangat dan pergi berjalan ke meja makan.Erikson berbalik dan melihat pada Ci
Raut wajah Steven menjadi lebih serius ketika berbicara kepada Jimmy, "Ini tidak akan mudah ditangani."Jelas sekali ada orang yang diam-diam mengatur semua ini. Tanpa dekingan yang kuat, tidak akan mungkin bisa sampai ke titik ini. Kalau saat ini Samuel tidak berusaha keras, mustahil Cintia bisa beb
Suara bunyi pintu yang dibuka pun terdengar.Yulia memutar kepalanya dan melihat Cintia kepada Cintia tanpa sedikit rasa marah pun tidak merasa begitu senang. Yulia memasang wajah yang ramah dan menyapanya, "Nona Cintia, kamu di sini juga. Benar-benar kebetulan, ya."Cintia tidak tahu bagaimana harus
Lily menyadari bahwa dirinya benar-benar menyukai Jimmy saat dia menghadiri upacara kelulusan Jimmy dari universitas. Pada hari itu, Jimmy ditaksir oleh banyak teman sekelas perempuannya. Lily merasa cemburu, bahkan sangat cemburu. Jadi, pada suatu malam yang gelap dan berangin, Lily menunggu Jimmy
Cintia berkata kepada Samuel, "Coba kamu cicipi."Ada semacam harapan dalam tatapannya, sangat menyilaukan.Samuel mengambil sendok, lalu mengambil sepotong ikan mandarin kukus.Dia memasukkannya dengan anggun dan lembut ke dalam mulut, lalu mengunyahnya.Tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya, jadi Ci
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore