author-banner
Hati Wanita
Hati Wanita
Author

Novel-novel oleh Hati Wanita

Ternyata Putraku Malu Memanggilku Ibu

Ternyata Putraku Malu Memanggilku Ibu

"Ibu nggak usah pulang. Aku masih perlu uang, jadi Ibu lanjut kerja saja di sana beberapa tahun lagi." Setelah kontrak kerjaku di Dubai habis, aku justru divonis tidak bisa hidup lama. Karenanya, aku memutuskan untuk pulang ke tanah air untuk menghabiskan hari-hari terakhirku dengan putra semata wayangku--tanpa menduga bahwa ia justru mengusirku karena malu mengakui ibunya selama ini bekerja sebagai TKW semata, bukan pengusaha seperti yang diceritakan oleh Hariss. Tapi, Anakku, sesungguhnya kamu tidak tahu kalau kamu baru saja menolak mengakui ibumu yang baru saja menerima dana hibah senilai ratusan triliun dari majikannya.
Baca
Chapter: Menampar Kesombongan Pegawai Bank
Kutatap sekali lagi pantulan diriku di cermin guest house yang buram. Kilau air mata yang sempat membasahi pipi kini telah mengering, digantikan oleh sorot mata yang dingin dan penuh tekad. Tidak seharusnya seorang anak memperlakukan ibunya seperti itu. Dunia zaman sekarang ternyata sudah sekejam ini. Penampilan yang sederhana, pakaian yang nyaman tanpa merek dan wajah polos tanpa riasan langsung dicap sebagai simbol kemiskinan. Orang-orang begitu mendewakan bungkus hingga lupa melihat isi. Tragisnya, racun itu pula yang telah merusak otak Hariss, putra tunggalku sendiri. Anak yang dulu kurawat dengan penuh kasih, kini tega membuang ibunya demi menjaga gengsi di depan keluarga pejabat. Dia terlalu silau dengan kekayaan calon mertuanya, tanpa pernah tahu rahasia besar yang selama ini kusimpan rapat-rapat di dalam tas jinjing terpal lusuh itu. Aku berjalan mendekati sudut kamar, lalu meraih tas tersebut. Di dalamnya, tumpukan dokumen resmi berbahasa Arab dan Inggris dengan segel holo
Terakhir Diperbarui: 2026-10-15
Chapter: Kebohongan Hariss
Deg. Aku terkejut bukan main. Kenapa ia malah bertanya mengapa aku pulang? Padahal, jelas-jelas ia akan segera menikah. Tidak mungkin seorang ibu absen di hari paling penting dalam hidup anak tunggalnya, bukan?"Majikan Ibu tidak akan marah, Hariss..." kataku, suaraku bergetar namun kuusahakan tetap selembut mungkin. "Beliau sudah wafat bulan lalu. Jadi Ibu sudah tidak punya ikatan kerja lagi di sana. Kontrak Ibu sudah selesai. Lagi pula... kanker di tubuh Ibu sudah memasuki stadium lanjut, Nak. Dokter Faisal sempat melarangku terbang, tapi Ibu nekat demi kamu...""Nah! Apalagi baru meninggal! Dan kondisi Ibu lagi sakit, kenapa malah nekat jalan jauh?!" potong Hariss cepat, nadanya semakin tidak sabar, berapi-api, dan terdengar sangat defensif. "Pasti banyak yang harus Ibu urus di sana, kan? Urusan administrasi, sisa gaji, pemakaman, atau tahlilan untuk orang meninggal, Bu! Masa gak ada yang kaya gitu di sana?! Lagian di sini Ibu gak usah datang jauh-jauh, nanti malah repot! Ibu di sa
Terakhir Diperbarui: 2026-10-15
Chapter: Buah Rindu
Pagi harinya, ketika Dokter Faisal dan Mr. Rashid datang berkunjung, aku menyampaikan keputusan bulatku."Nyonya Sartika! Anda tidak bisa menolak operasi ini begitu saja!" protes Dokter Faisal keras saat aku meminta izin untuk pulang."Kondisi kanker Anda sangat agresif! Pergi keluar negeri dalam kondisi seperti ini sangat berbahaya!""Saya tahu risiko medisnya, Dokter," jawabku tenang, dengan senyum tipis yang memancar dari wajahku yang pucat. "Tapi ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar sisa umur saya. Anak saya akan menikah di Indonesia. Saya harus hadir."Mr. Rashid memandangku dengan tatapan entah. Ia menghela napas panjang lalu mengangguk pelan. Tampaknya dia memahami apa yang kami obrolkan dalam bahasa Indonesia.“Jika ini benar-benar keputusan akhirmu yang bulat, Nyonya Sartika... Maka aku, dalam kapasitasku sebagai pelaksana wasiat Syaikhat Latifah, akan menyiapkan seluruh dokumen kepemilikan aset atas namamu agar siap ditandatangani dan dialihkan kapan pun engkau ingin
Terakhir Diperbarui: 2026-10-01
Chapter: Keputusan Bulat
Dari seberang sana, terdengar Hariss menghela napas panjang. "Bu, Ibu kan kerja ikut orang di sana. Majikan Ibu kan galak dan ketat banget dari cerita Ibu dulu. Hariss gak mau gara-gara Ibu nekad izin pulang ke Indonesia cuma buat acara pernikahan Hariss, nanti majikan Ibu marah terus Ibu dipecat!"Hariss menepis jeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada sok dewasa. "Hariss ini belum kerja mapan banget, Bu. Karin itu anak orang kaya. Hariss masih butuh dukungan Ibu di sana. Belum lagi biasa pendidikan S2-ku. Kalau Ibu dipecat sekarang, nanti bagaimana? Udah, Ibu fokus kerja aja di Dubai. Gak usah repot-repot pulang ke Indonesia. Lagian ongkos tiket pesawat kan mahal banget, Bu. Mending uangnya ditransfer aja buat tambahan biaya resepsi Hariss di sini."Aku tertegun. Lidahku mendadak kelu, membeku kaku di dalam mulut.Hariss tidak tahu. Anakku sama sekali tidak tahu bahwa majikan yang dia sebut galak itu sudah meninggal dunia. Dia tidak tahu bahwa ibunya ini bukan lagi seorang pembant
Terakhir Diperbarui: 2026-08-20
Chapter: Yang Lebih Menyakitkan
Layarnya menyala, menampilkan nama kontak keponakanku yang ada di Indonesia. Safira.Dengan berat, kutekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telingaku."Assalamualaikum. Halo... Safira?" Suaraku parau, berat oleh sisa tangis."Waalaikumsalam. Halo, Bulek Sartika!" Suara Safira terdengar riang dan ceria di seberang sana, sangat kontras dengan kepedihan yang sedang mencabik-cabik dadaku."Bulek! Bulek sehat, kan di Dubai?"Aku menyapu air mata dengan cepat, mencoba menata napas agar suara terdengar normal."Alhamdulillah, Safira... Bulek sehat. Ada apa, Nak? Kok tiba-tiba telepon?""Bulek! Ada kabar bahagia banget!" seru Safira antusias. "Mas Hariss, Bulek! Mas Hariss sebentar lagi mau menikah! Bulek pasti sudah dikabarin Hariss kan?"Jantungku seperti melompat dari tempatnya. Aku terkejut. Kenapa Hariss tak bilang? Namun begitu, kabar pernikahan itu... seketika menyiramkan sepercik kehangatan di tengah padang pasir keputusasaan yang membakar hatiku. Mungkin dia lupa, karena terlal
Terakhir Diperbarui: 2026-08-20
Chapter: Harta dan Sakit Kronis
Aku terbangun di dalam sebuah ruangan yang sangat asing. Bau aroma karbol yang menyengat menembus indra penciuman, digantikan oleh suara bip-bip yang ritmis dari mesin di sebelah kiriku. Ketika mata berhasil terbuka sempurna, langit-langit ruangan berwarna putih bersih dengan lampu LED lembut menyambut pandanganku. Ada jarum infus menancap di punggung tangan kiriku, dan sebuah selang bening terpasang di hidungku.Seorang dokter pria berwajah blesteran Arab Indonesia dengan jas putih bersih sedang berdiri di ujung ranjang, memegang sebendel papan rekam medis bersama dua orang perawat. Dia adalah salah satu dokter langgananku dan Madam selama ini."Nyonya Sartika? Anda sudah sadar?" tanya dokter itu dalam bahasa Indonesia.Aku mencoba menggerakkan tubuhku, namun rasa nyeri tumpul di pinggang belakang masih tersisa, membuatku meringis pelan."Saya... apa yang terjadi dengan saya, Dokter?"Dokter itu menarik kursi dan duduk di samping ranjangku. Wajahnya yang semula ramah mendadak berub
Terakhir Diperbarui: 2026-08-20
Anda juga akan menyukai
Kamu Pasti Menyesal, Mas!
Kamu Pasti Menyesal, Mas!
Rumah Tangga · Anggrek Bulan
13.3K Dibaca
PELAKOR ITU KAKAK IPARKU
PELAKOR ITU KAKAK IPARKU
Rumah Tangga · Triyani Soeyatno
13.2K Dibaca
Anak Untuk Suamiku
Anak Untuk Suamiku
Rumah Tangga · Cristi Rottie
13.2K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status