"Kamu siapa?" Dia memang kembali, kembali tanpa ingatan yang dia bawa lagi. Kembali dengan separuh memori yang hilang dengan sendiri. Di saat Amanda tengah berusaha menguatkan diri guna menghadapi cobaan yang datang bertubi-tubi, sosok itu datang menawarkan diri. Mana yang Amanda pilih? Suami yang sedang dia usahakan pulih atau masa lalu yang minta kembali dipilih? Ikuti kisah cinta penuh lika-liku mereka dalam judul yang merupakan lanjutan dari kisah "Di Ujung Senja". Follow sosial media saya (@)selfiehurtness untuk info update, judul terbaru dan giveaway. Terimakasih. Cover by @reistyaa
View More"Aldo jadi pulang kan hari ini? Jam berapa pesawatnya landing?"
Mendengar hal tersebut, seorang wanita dengan perut buncit karena tengah mengandung menghentikan langkahnya. Tanpa suara, Amanda mendekatkan dirinya ke celah pintu kamar mertuanya, tidak jadi ke pintu depan.
“Bang Aldo pulang hari ini?” batinnya bertanya-tanya.
Amanda memasang telinga, memastikan bahwa memang ia mendengar nama itu disebut,nama yang tidak lain dan tidak bukan adalah suaminya. Dan mama mertuanya tadi mengatakan bahwa suaminya akan pulang sebentar lagi?
Tentu Amanda bertanya-tanya. Bukan apa-apa, semenjak pergi 5 bulan yang lalu dalam sebuah misi perdamaian, ia sama sekali tidak mendapatkan kabar apa-apa tentang Aldo. Termasuk kabar kepulangan suaminya jika apa yang dia dengar barusan adalah benar.
'Tapi bukankah dia di sana dua tahun? Kenapa mendadak pulang?' batin Amanda.
"Iya aku ngerti, Mas. Aku nggak bilang sama Amanda soal ini." suara itu kembali terdengar, membuat Amanda untuk kesekian kalinya terkejut bukan main.
Kenapa harus dirahasiakan dari dia? Amanda ini istri sah Aldo! Kenapa dia tidak boleh tahu mengenai kabar kepulangan sang suami?
Amanda mendekat ke arah pintu, hendak lebih lama mencuri dengar Redita, ibu tiri Aldo sekaligus mertuanya, yang tampak tengah menelepon sang suami.
"Nanti biar aku yang jemput Aldo balik, Mas. Kamu jangan khawatir. Nanti aku kabari lagi."
Dengan mata terpejam, Amanda menghirup udara dalam-dalam. Ia masih menyimak dan tentu saja menunggu obrolan itu terhenti. Ia hendak mengkonfirmasi berita yang baru saja dia dengar.
"Iya Sayang. Kamu semangat kerjanya, ya! Jangan pikirkan apapun. Aku kabari terus nanti."
Sunyi.
Tidak lagi terdengar obrolan di dalam kamar, membuat Amanda kemudian memberanikan diri mengetuk pintu kamar mertuanya.
Tok ... Tok ... Tok
Jantung Amanda berdegup kencang, dalam hati dia sangat cemas dan tentu saja penasaran. Apakah yang dia dengarkan itu benar? Dan kenapa mertuanya harus merahasiakan kepulangan sang suami?
"Loh, Nda? A-ada apa, Nda?"
Wajah ayu milik sang mertua tampak terkejut dengan mata membulat dan paras sedikit pucat ketika melihat Amanda. Ekspresi tersebut membuat Amanda tersenyum kecut dengan hati berdesir cemas. Ada apa ini?
"Manda boleh masuk, Ma? Manda pengen ngomong sesuatu."
Redita kembali tampak terkejut luar biasa. Sorot matanya menyimpan sejuta misteri, membuat Amanda makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ah i-iya. Silakan masuk, Sayang!"
Seulas senyum tersungging di wajah Amanda. Ia bergegas masuk ke dalam, diikuti Redita yang menyusul setelah menutup pintu kamar.
"Manda pengen ngomong apa?" tanya suara itu lembut, namun Amanda mampu mendengar getar khawatir di balik suara lembut itu.
Amanda menjatuhkan diri ke atas ranjang, mengelus perutnya yang membukit dengan begitu lembut. Redita pun ikut menjatuhkan diri di sebelah Amanda, ikut mengelus perut itu dengan sama lembutnya.
"Sebelumnya, Manda pengen minta maaf sama Mama." Amanda menjeda kalimatnya, ia menghela napas panjang. "Apa benar bang Aldo hari ini pulang, Ma?"
Sama seperti saat Redita muncul membukakan pintu untuk dirinya, ekspresi wajah Amanda tampak sangat terkejut. Kali ini bukan hanya raut terkejut yang tergambar di sana, tetapi juga ekspresi takut, gelisah, dan khawatir yang membaur menjadi satu.
"Kamu tau dari mana, Nda?" Bukannya langsung menjawab, Redita malah melontarkan kalimat tanya yang makin meremas-remas hatinya dengan begitu luar biasa.
Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Manda minta maaf, Ma ... Manda nggak sengaja denger tadi pas Mama telpon sama Papa." jawab Amanda jujur dengan tangan mengelus lembut perut membukitnya.
"Ah ... i-tu ... itu ...."
"Kenapa Mama sama Papa merahasiakan semua ini dari Manda, Ma? Benarkan Bang Aldo pulang hari ini?" Kembali Amanda mendesak, kenapa kepulangan suaminya perlu dirahasiakan sampai seperti ini?
Aldo pergi hanya berselang beberapa minggu setelah mereka menikah! Bukan salah Amanda kalau kemudian dia begitu antusias dan berharap Aldo benar-benar pulang hari ini?
Redita menghela napas panjang, memejamkan mata lalu mengangguk perlahan.
"Jadi benar, Ma?" tanya Amanda memastikan, matanya membulat dengan sorot bahagia. "Tapi kenapa mama sama papa nggak ngasih tau Amanda soal ini?"
"Ya sebenarnya kami pengen kasih kamu kejutan, Nda." kilah Redita dengan senyum getir.
Amanda mengela napas panjang, "Ma ... yang harusnya dikasih kejutan itu harusnya bang Aldo dong. Jam berapa dia landing? Amanda harus ikut! Dia harus lihat ini!"
Redita menatap ke arah jari Amanda menunjuk, apalagi kalau bukan perutnya yang membuncit?
"Amanda siap-siap dulu, Ma ... tunggu, ya!"
Amanda segera bangkit, melangkah keluar dari kamar Redita dengan wajah berbinar cerah. Langkahnya begitu ringan dan bahagia.
“Kira-kira, bagaimana tanggapan Abang nanti pas lihat perutku?”
***
“Mana ya Bang Aldo ....”
Seperti biasa, suasana bandara nampak hiruk-pikuk. Amanda sudah mengganti bajunya dengan dress kuning dengan corak bunga putih. Wajahnya dia rias sederhana. Begitu segar dengan lipcream nude pink favoritnya.
Di tangan Amanda sudah bertengger buket bunga dengan foto USG yang ditempel di salah satu tangkai bunga. Sebuah hadiah penyambutan yang pastinya akan mengejutkan Aldo dengan begitu luar biasa. Senyum Amanda mengembang, kira-kira apa bagaimana reaksi Aldo nanti? Melompat girang? Atau berteriak saking gembiranya? Amanda sama sekali tidak bisa membayangkan!
Ia begitu bahagia, meskipun hatinya masih bertanya-tanya, kenapa kepulangan suaminya jauh dari waktu yang sudah dijadwalkan. Namun Amanda tidak ingin menduga-duga mengenai sesuatu yang belum pasti dan membuatnya cemas. Lagipula, ia bisa mendengar alasan tersebut nanti dari suaminya sendiri, bersamaan dengan cerita Aldo ketika pria itu bertugas di sana.
Tiba-tiba, wanita yang tengah hamil lima bulan itu melihat sosok familier di tengah kerumunan. Sosok yang berbulan-bulan ini begitu ia rindukan.
"Itu Bang Aldo, Ma!" teriak Amanda riang, satu tangannya menunjuk sosok gagah dengan seragam hijau. Aldo tampak tengah berdiri berhadapan dengan beberapa lelaki dengan seragam yang sama.
Mereka terlihat tengah berbincang, gerak mulutnya terlihat, namun sayang ... suaranya tidak terdengar sampai telinga Amanda. Apa yang sedang dibicarakan? Apakah akan lama? Ia sudah tidak sabar lagi!
Amanda menanti sosok itu melangkah ke arah mereka. Ingin dia peluk erat-erat tubuh itu untuk membayar semua rindu yang dia pendam selama ini. Amanda sudah sangat merindukan sosok itu! Sangat merindukan sekali! Dan ketika sosok itu berbalik, melangkah ke arahnya, Redita rasanya ingin pingsan!
"Nda, mau kemana?" Redita memekik terkejut ketika Amanda berlari menghambur ke arah Aldo, ia hendak meraih tangan Amanda, namun terlambat!
Amanda sudah berlari menghampiri Aldo, merentangkan kedua tangan, memeluk tubuh tinggi tegap dan gagah itu dengan cucuran air mata. Bukan balas pelukan hangat yang Amanda dapatkan, lelaki itu bahkan hanya berdiri mematung di tempatnya, membeku hingga kemudian suara itu bertanya tanpa ekspresi apa-apa.
"Maaf, kamu siapa?"
"Ah! Pelan, Nda!"Mata Aldo terpejam, kakinya sesekali bergetar ketika Amanda memijat miliknya dengan lembut. Rasanya begitu nikmat dan hangat. Sebuah perasaan yang entah mengapa rasanya cukup familiar dalam diri Aldo. Ia membuka mata, menatap Amanda yang duduk di hadapannya, sembari terus melakukan hal itu. Jadi ini rahasia mereka? Kembali mata Aldo terpejam, berusaha menyibak memori yang ada dalam otaknya. Namun, rasa nikmat yang Aldo rasakan, membuat konsentrasi Aldo buyar, tubuhnya lebih memilih merespon sentuhan sensual itu daripada menggali ingatan yang entah dimana adanya. "Nda ... cepetin, Nda!" racau Aldo yang sudah tidak kuat lagi menahan ledakan yang sudah di ubun-ubun itu. Benar saja, tak perlu waktu lama ledakan itu menyapa Aldo dengan begitu nikmat. Ia melengguh panjang, satu tangannya mencengkram kuat rambut Amanda, tubuh Aldo bergetar hebat, bersamaan dengan menyemburnya cairan hangat itu hingga memenuhi rongga mulut Amanda.Perang di pagi itu usai! Aldo kalah, i
"Aku paham Abang mungkin masih bertanya-tanya dan belum bisa percaya kalo ini beneran anak kamu setelah kejadian itu. Tapi Tuhan tahu, Bang ... tahu sekali siapa bapak dari anak ini." lanjut Amanda seolah menampar Aldo keras-keras. "Tuhan juga tahu bahwa selama hidupku, diusiaku saat ini, aku hanya pernah tidur dengan satu laki-laki."Aldo mengangkat wajah, menatap Amanda yang tengah sibuk menyeka air mata. Perlahan ia menarik tangan dari perut Amanda, sedikit bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. "Bantu aku buat ingat semua, Nda." ucap Aldo kemudian, mendadak ia benci melihat Amanda menangis. Amanda mengangguk, senyum itu kembali menghiasi wajahnya. "Tanpa kamu minta, itu yang akan aku lakukan, Bang. Jangan khawatir." ucapnya lirih. "Karena Abang baru tidak enak badan, untuk hari ini Abang bisa istirahat dulu."Aldo mengangguk, ia setuju dengan apa yang Amanda sarankan barusan. "Kamu mau kemana?"Bisa Aldo lihat wajah itu nampak terkejut, ia menatap Aldo dengan tatapan tidak
"Apa?"Kamila memejamkan mata, ia mendengar dengan jelas pekikan itu dari seberang. Sembari memijit pelipis, ia bersandar di kursi, menantikan reaksi lanjutan dari lawan bicaranya. "Hari ini mereka ada janji, kan? Atau biar nanti Al--""Jeng!" potong Kamila sebelum kalimat itu selesai. "Papa Josselyn mati-matian nggak setuju kalau Josselyn sama Aldo."Hening. Tidak kunjung ada jawaban membuat Kamila jujur resah. Gunawan sudah bertitah bahkan setengah mengancam. Bukan main-main, akan menjadi masalah besar kalau sampai Kamila nekat merealisasikan rencananya bersama Yuri. "Tapi kenapa, Jeng? Kita udah sepakat dan keduanya pun mau." Kamila menggigit bibir, ia harus mencari cara supaya Yuri tidak tersinggung dengan penolakan yang hendak dia katakan. "Karena status Aldo, Jeng. Bagaimanapun dia suami orang, dan istrinya sedang ha--""Astaga!" potong suara itu cepat. "Mereka akan segera bercerai, Jeng. Dia tidak hamil anak Aldo."Kembali Yuri menginterupsi, setengah memaksa seperti biasa
"Lyn, ada acara hari ini?"Josselyn membelalak, mulutnya yang penuh oatmeal membuat Josselyn tidak bisa langsung menjawab. Buru-buru ia menelan overnight oatmeal dalam mulut, lalu menjawab pertanyaan yang dilontarkan Gunawan. "Ng-nggak ada, ada apa, Pa?" Tentu Josselyn penasaran, apakah ini ada hubungannya dengan pembicaraan mereka semalam? "Sekali-kali, ikutlah papa ke kantor, Lyn. Sampai jam makan siang aja deh. Gimana, tertarik?" Tawar Gunawan yang makin membuat Josselyn yakin ini ada hubungannya dengan obrolan mereka semalam.Josselyn melirik ke arah sang mama, Kamila nampak pura-pura sibuk dengan semangkuk salad di atas meja, membuat Josselyn kembali menatap ke arah Gunawan dan mengangguk pelan."Oke! Habis ini Josselyn ganti baju dulu." Ucapnya yang seketika membuat Gunawan tersenyum lebar. "Nah gitu dong! Papa pengen kamu sekarang tiap hari ikut ke kantor, terus nanti papa mau tempatin kamu di jajaran manager, sekalian belajar." Titah Gunawan yang kembali membuat Josselyn me
"Al ... Aldo? Kamu nggak apa-apa, Al?"Aldo dengar suara itu, suara yang sangat familiar di telinganya. Siapa lagi kalau bukan Adnan? Perlahan-lahan Aldo memaksakan diri membuka mata, rasanya begitu berat, terlebih sakit yang mencengkeram kepalanya makin membuatnya sedikit kesulitan. "Pelan-pelan, Al. Jangan dipaksa!" Gumam suara itu diikuti remasan tangan yang kuat tapi lembut di telapak tangan Aldo.Kalau ini, Aldo yakin bukan tangan papanya! Tangan Adnan tidak sekecil dan selembut ini! Aldo terus berusaha, hingga kemudian akhirnya Aldo berhasil membuka pelupuk mata. Perlahan-lahan Aldo menatap sekeliling, benar saja, ada Adnan di sana dan jangan lupa, wanita dengan wajah khawatir itu duduk tepat di sisi Aldo, meremas tangannya dengan begitu lembut. "Papa ... Aku kok bisa di sini?" Tanya Aldo sedikit terkejut. Bukannya tadi .... "Memang tadi kamu di mana, Al?" Tanya Adnan dengan seulas senyum tipis. "Di kamar mandi. Tadi aku mau mandi mandi, Pa!" Jawab Aldo yang ingat betul bahw
"Kamu belum tidur?"Aldo terkejut, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Dia macam maling yang tertangkap basah. Mendadak ada sebuah perasaan takut menjalar di hatinya, sebuah ketakutan yang sama seperti ketika ia melihat Adnan berdiri menatapnya dengan tatapan tajam di depan pintu. Apa Jangan-jangan ... "Belum, Bang. Nungguin kamu pulang." Wajah itu tersenyum, tanpa ada sorot kemarahan di sana yang seketika membuat Aldo refleks menghela napas panjang. Dengan perlahan Aldo menutup pintu, melangkah masuk ke dalam dengan hati yang sedikit lebih tenang. Ia masih tidak tahu harus berbuat apa, berkata apa atau membahas apa, ketika kemudian pertanyaan itu terlontar dari bibir Amanda. "Abang mau mandi? Biar aku siapkan baju gantinya."Aldo menoleh, sorot mata itu masih tidak berubah membuat Aldo lantas menganggukkan kepalanya dengan cepat. Memang dia perlu mandi, mungkin guyuran shower bisa sedikit menenangkan hati dan pikirannya yang kacau. "Yaudah kalau gi--""Nda!" Aldo refleks me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments