Chapter: BAB 266Bisikan Zora mengalun begitu jernih, membelah keheningan kamar utama seluas seratus meter persegi tersebut. Jemari lentiknya yang dingin masih hinggap di kerah kemeja sutra hitam Alby, merapikan lipatan kain itu dengan ketelitian yang seolah tanpa cela.Alby tidak segera menjawab. Manik abu-abunya yang pekat terkunci penuh pada wujud istrinya dari jarak beberapa senti.Pria itu merasakan desir hangat yang menjalar di sekitar lehernya dari embusan napas Zora. Pemandangan Zora yang berdiri tegak dalam gaun rumah rajut krem, menatapnya dengan senyuman manis nan luwes tanpa sedikit pun gertakan ketakutan, adalah kombinasi paling memikat sekaligus mematikan yang pernah dihadapi Alby.Alby meraih pergelangan tangan Zora yang hinggap di dadanya. Pria itu menangkup telapak tangan dingin istrinya, lalu membawanya naik hingga menempel persis di dada kirinya sendiri, di atas detak jantung Alby yang berpacu kencang dan berat di balik kemeja sutranya."Ujian ini seder
Huling Na-update: 2026-11-06
Chapter: BAB 265"Aku akan menilai seberapa tulus kau memerankan ketulusan ini."Belum sempat Zora menyusun sanggahan atas kalimat itu, Alby mendadak memangkas sisa jarak di antara mereka. Tangan besar pria itu menyusup cepat ke belakang tengkuk Zora, mencengkeramnya dengan kehangatan yang dominan, lalu langsung melumat bibir ranum istrinya secara mendadak.Ciuman itu tidak lembut. Ciuman Alby dipenuhi dengan kelaparan emosional yang tertahan, sebuah tuntutan mendalam untuk menelanjangi topeng ketenangan yang baru saja dipasang oleh Zora.Sentakan pelan lolos dari tenggorokan Zora.Secara refleks, kedua tangan Zora terangkat dan mendorong kuat dada bidang Alby. Otot-otot dada pria itu menegang di bawah telapak tangan Zora yang dingin, hingga akhirnya Alby melonggarkan kuncian tangannya dan membiarkan pertautan bibir mereka terlepas.Napas Zora terengah halus, bibirnya basah dan sedikit memerah.Alby menyunggingkan senyum miring, sebuah senyuman penu
Huling Na-update: 2026-11-06
Chapter: BAB 264Senyuman manis di bibir Zora perlahan-lahan mengendur, menyisakan ketenangan datar yang tak beriak. Zora berputar membelakangi Alby, melangkah perlahan menuju meja makan utama.Alby mematung di tempatnya berdiri. Manik mata abu-abunya yang dingin tak pernah lepas mengikuti setiap inci pergerakan istrinya.Di dekat meja makan, Zora meraih teko kaca berisi susu hangat yang baru disiapkan Martha. Ia menunduk perlahan, menuangkan cairan putih itu ke dalam sebuah gelas bening hingga terisi penuh. Bunyi gemercik halus dan denting bening kaca yang beradu membelah keheningan kaku di kabin dapur tersebut.Namun, sebelum Zora sempat mengangkat gelas itu, ketukan langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat dengan cepat dari balik punggungnya.Alby menarik tubuh Zora ke dalam dekapannya dari belakang. Pria tegap itu merapatkan dadanya yang hangat pada punggung Zora, menyusupkan wajahnya di celah antara leher dan bahu istrinya. Aroma maskulin bercampur wangi embun pagi
Huling Na-update: 2026-11-05
Chapter: BAB 263"Sayang... kopi ini akan dingin jika kau terus menatapku seolah aku memasukkan racun di dalamnya."Suara Zora mengalun jernih, wanita itu memiringkan kepalanya sedikit, menyunggingkan senyum tipis yang tidak pernah lagi diperlihatkannya di hadapan Alby akhir-akhir ini.Di hadapannya, Alby masih berdiri membeku bagaikan patung batu.Cangkir berisi espresso hangat yang disodorkan Zora berada tepat di dalam genggaman tangannya. Uap tipis yang menguar membawa aroma manis biji kopi kesukaannya, namun bukannya rasa rileks, uap itu justru memicu alarm bahaya tingkat satu di dalam kepala sang penguasa Laurent Group.Manik mata abu-abu Alby menyipit tajam, meneliti setiap senti garis wajah istrinya."Zora..." desis Alby dengan bariton rendah yang sarat akan kewaspadaan. Pria itu tidak menyentuh kopinya. "Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?"Zora tertawa renyah. Suara tawanya meletup ringan, seolah pertanyaan Alby adalah hal paling luc
Huling Na-update: 2026-11-05
Chapter: BAB 262Pukul tiga dini hari, tiga armada kendaraan berarmor baja Laurent Group berhenti secara halus di pelataran Laurent Manor. Hawa dingin Paris langsung menyergap ketika pintu kabin SUV terdorong terbuka.Alby melangkah turun terlebih dahulu, mengulurkan telapak tangannya untuk menopang Zora. Zora tidak menepis uluran tangan itu, namun sentuhan jemarinya begitu dingin dan kaku, hanya sekadar formalitas agar ia tidak kehilangan keseimbangan usai perjalanan panjang dari Zurich.Melangkah menembus lorong sayap timur yang membisu di bawah remang lampu dinding keemasan, Zora tidak langsung menuju kamar utama. Langkah kakinya berbelok menuju kamar nursery.Alby mengikutinya dari belakang dalam keheningan, bertindak bagaikan bayangan siaga dua langkah di belakang istrinya.Di dalam kamar bayi yang hangat dan menyebarkan aroma lavender lembut, Zora merendahkan tubuhnya di antara boks Irish dan Nael. Jemari tirusnya mengelus pelan pipi mungil Irish yang sedan
Huling Na-update: 2026-11-04
Chapter: BAB 261"Apakah kau pernah merasa bahagia, menikah denganku?"Pertanyaan jernih dari bibir Zora mengalun pelan, membelah dengung halus mesin turbofan di dalam kabin jet pribadi Laurent Group yang sedang melintasi langit malam menuju Paris.Alby yang sedang memangku komputer tabletnya seketika menghentikan gerakan jemarinya di atas layar touch-screen. Pria itu tidak langsung menjawab. Pendar lampu baca bernuansa hangat menyorot garis wajahnya yang kaku, mempertegas rahangnya yang menegang secara perlahan.Di seberang meja lipat berlapis kayu mahoni, Zora duduk bersandar di kursi beludru eksklusif. Manik cokelat terangnya menatap Alby lurus-lurus.Keheningan lima detik menggantung kaku di antara getaran kabin pesawat.Alby meletakkan tabletnya ke atas meja dengan gerakan terukur. Pria itu menengadahkan kepala, mempertemukan iris abu-abu dinginnya secara mutlak dengan tatapan Zora."Jika bahagia adalah tolak ukur dalam pernikahan, aku rasa itu keliru,"
Huling Na-update: 2026-11-04