Chapter: BAB 163"Zora, kau harus melihat berkas pameran dari galeri Galatea sebelum..."Kalimat Alby terputus di ambang pintu kayu jati ruang kerja Laurent Manor. Berkas dokumen di tangannya merosot begitu saja, menghantam lantai marmer dengan suara gedebuk yang teredam. Matanya membelalak lebar saat menyaksikan tubuh Zora hilang keseimbangan di balik meja kerja, sebelum akhirnya lunglai dan ambruk ke arah lantai."Zora!"Teriakan Alby memecah kesunyian manor megah itu. Dalam hitungan detik yang terasa bagaikan keabadian, Alby melompat maju, melempar tubuhnya ke depan demi menahan benturan kepala Zora agar tidak menghantam sudut meja tajam. Pria itu menyambar tubuh lemah istrinya tepat sebelum tersentuh lantai dingin, merengkuh Zora erat-erat ke dalam pelukannya.Wajah Zora pucat pasi, nyaris transparan di bawah pendar lampu gantung kristal. Bibirnya yang biasa merona kini membiru samar, sementara matanya terpejam rapat tanpa kesadaran."Zora! Buka matamu! Zora!"
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: BAB 162"Kau harus berhenti memaksakan dirimu seperti ini, Zora," suara Alby memecah keheningan kamar tidur utama Laurent Manor yang megah pada suatu malam. Pria itu berdiri di tepi ranjang, melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas meja nakas dengan ketukan keras yang menyoroti kejengkelannya.Zora yang baru saja duduk di depan meja rias sambil mengusap wajahnya dengan handuk hangat, terhenti sejenak. Ia memandang pantulan suaminya dari cermin. Garis-garis keletihan terlihat jelas di bawah matanya sendiri, namun raut wajah Alby memancarkan campuran antara amarah yang tertahan dan rasa cemas yang teramat dalam.Hari-hari Zora belakangan ini memang kembali diserbu oleh ritme hidup yang sangat padat. Setelah badai insiden tragis yang menimpa Selena mereda, kehidupan menuntut Zora untuk kembali berdiri tegak. Ia harus kembali mengurus berbagai dokumen dan negosiasi proyek seni internasional yang sempat tertunda, mendampingi Alby dalam beberapa acara jamuan bisnis r
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: BAB 161"Tolong... jangan biarkan mereka membawaku! Zora, katakan pada mereka aku tidak gila!"Jeritan histeris Selena memecah keheningan koridor steril di paviliun kesehatan jiwa. Suaranya serak, sarat akan ketakutan yang murni tatkala dua orang petugas medis berseragam serba putih berusaha menahan kedua tangannya dengan lembut namun cekatan. Pintu ruang perawatan khusus itu berdiri kokoh, menjanjikan isolasi total dari dunia luar yang selama ini menghancurkannya.Setelah melalui rangkaian evaluasi medis dan psikologis yang ketat pasca-insiden tragis di kamar mandi malam itu, tim dokter spesialis psikiatri mengambil keputusan mutlak: Selena harus menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan jiwa tertutup. Kombinasi antara trauma berat, episode psikologis berulang yang mengancam nyawanya sendiri, depresi pasca-kejadian, serta komplikasi fisik akibat kehamilan yang tak diinginkan membuat isolasi medis menjadi satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa Selena dan janin
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: BAB 160"Itu hanya manipulasi, Zora. Sama persis dengan trik ibuku sebelumnya," ujar Alby tegas, suaranya tenang namun matanya menatap Zora tanpa berkedip sedikit pun.Di koridor rumah sakit yang dingin dan temaram, Alby merangkul bahu istrinya erat-erat. Jemarinya yang kokoh mengusap lengan Zora, berusaha menyalurkan rasa aman yang dibuat-buat demi menutupi kepanikan yang sempat mencengkeram dadanya."Kau ingat bagaimana ibuku menggunakan kalimat itu untuk merusak pikiranmu?" lanjut Alby, menunduk demi menatap langsung ke dalam manik mata Zora. "Selena mengalami trauma berat. Pikirannya tidak stabil, terdistorsi oleh gangguan persepsi dan kepahitan masa lalu. Dia menyebut tentang jantungmu hanya karena pernah merencanakan cara itu untuk mengusik kita. Mereka menginginkan satu hal, Zora, merobohkan kepercayaanmu padaku."Zora menatap suaminya lama. Nada suara Alby begitu meyakinkan, runtut, dan penuh perlindungan. Logikanya membenarkan bahwa Selena memang sedang berada
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: BAB 159"Zora, kau tidak bisa terus-menerus melakukan ini," suara Alby memecah hening di dalam mobil yang melaju membelah jalanan malam kota Paris. Tangannya menggenggam kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, memancarkan ketegangan yang menumpuk selama beberapa hari terakhir.Zora menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap pendar lampu jalan yang membias basah. "Dia adikku, Alby. Setiap kali aku melihat matanya, aku tidak melihat musuh yang pernah berusaha merusak rumah tangga kita. Aku melihat seorang gadis kecil yang hancur dan kehilangan pegangan.""Tapi dialah yang memilih jalan itu!" sahut Alby dengan nada menahan emosi. Ia menghentikan mobilnya di persimpangan saat lampu merah menyala. Pria itu menoleh, menatap istrinya dengan tatapan yang dipenuhi kecemasan mendalam. "Selena selalu mencari cara untuk menjatuhkanmu. Bahkan setelah semua yang terjadi, dalam halusinasi dan traumanya, ia masih menyimpan kepahitan itu padamu. Bagaimana jika suatu hari na
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: BAB 158"Aku tidak butuh belas kasihanmu! Keluar!"Teriakan histris itu menggema di sepanjang koridor rumah sakit bernuansa putih yang dingin, memecah kesunyian sore di paviliun perawatan intensif. Sebuah cangkir keramik melayang di udara, menghantam dinding tepat di sebelah pintu dan hancur berkeping-keping. Serpihannya berhamburan di atas lantai marmer, memantulkan bayangan samar seorang wanita yang berdiri mematung di ambang pintu.Zora tidak terkejut. Ia bahkan tidak berkedip saat pecahan keramik itu jatuh hanya beberapa inci dari ujung sepatunya. Ini adalah hari kelima berturut-turut ia datang, dan ini adalah sambutan yang sama persis seperti hari-hari sebelumnya.Di atas ranjang rumah sakit, Selena meringkuk di sudut kasur, menarik selimut tebal hingga ke dada. Wajahnya yang dahulu selalu dipoles riasan sempurna kini pucat pasi, matanya sembap dengan lingkaran hitam pekat di bawahnya. Tubuhnya gemetar hebat, memancarkan ketakutan yang mendalam sekaligus kemarahan
Last Updated: 2026-09-19