FAZER LOGINZora Evangeline Virel menikah dengan Alby Laurent dalam sebuah perjodohan dan menghabiskan tiga tahun menjadi istri sempurna yang tak pernah dicintai. Saat Alby justru semakin dekat dengan Selena, adik kandung Zora yang dianggap lebih pantas mendampinginya, hati Zora perlahan memilih untuk berhenti berharap. Namun ketika Zora benar-benar mulai meninggalkan hidupnya, Alby baru menyadari bahwa wanita yang selama ini ia abaikan adalah rumah yang tak tergantikan. Sayangnya, penyesalan sering kali datang setelah semuanya terlambat.
Ver mais"Sudah tiga tahun aku menjadi istrimu, Alby. Apakah kau tahu siapa nama lengkapku?"
Suara Zora memecah keheningan ruang makan lantai utama Laurent Manor.
Alby tidak mendongak. Jemarinya yang panjang dan kokoh terus menari di atas keyboard tablet, meninjau laporan manufaktur dari Swiss. Wajah dengan rahang tegas itu tetap datar, sedingin marmer Paris di luar jendela.
"Jika ini tentang anggaran rumah tangga, bicarakan dengan Martha nanti," jawab Alby pendek. Suaranya bariton, berat, dan tanpa intonasi.
Zora tersenyum getir, mengabaikan pengalihan suaminya.
Tiga tahun. Tiga tahun hidup bersama seorang pria. Tiga tahun tidur di ranjang yang sama. Tiga tahun sarapan di meja yang sama. Tiga tahun menghafal setiap kebiasaan kecilnya.
Tetapi tidak pernah sekalipun pria itu menyebut namanya.
Alby meraih cangkir kopinya. Ia menyesapnya sekali, lalu kembali menatap layar tablet.
Secangkir kopi yang diracik Zora dengan hati-hati, memastikan suhunya tepat enam puluh derajat dan hanya menambahkan sedikit gula, sesuai dengan selera Alby yang sudah ia hafal di luar kepala.
"Besok sore tim kurator galeri nasional datang ke kantor," ucap Alby kaku, membuka dokumen baru di layarnya. "Siapkan gaun formal hitam. Kau harus mendampingiku selama tiga puluh menit pertama untuk sesi foto media."
"Hanya tiga puluh menit?"
"Itu waktu yang cukup untuk menunjukkan pada publik bahwa urusan domestik kita stabil," Alby akhirnya mendongak. Sepasang mata hitam legamnya yang tajam menatap Zora, memberikan tekanan intimidasi yang kuat. "Aku tidak suka ketidakefisienan di depan pers."
"Tiga puluh menit untuk tiga tahun pernikahan," Zora memberikan senyum samar. "Terdengar seperti kesepakatan bisnis yang adil."
Alby menghentikan gerakan jemarinya di atas layar. Keningnya berkerut tipis. "Pernikahan ini adalah wujud dari wasiat tertulis Kakek. Kau tahu itu sejak hari pertama, bukan?"
"Tentu saja. Aku tidak pernah melupakannya," jawab Zora tenang. "Wasiat yang menyatakan bahwa posisi kepemimpinanmu di Laurent Group hanya sah jika kau menikahi putri tertua keluarga Virel. Aku mengingat setiap detail hukumnya, Alby."
"Bagus. Kalau begitu kau tahu apa kewajibanmu besok," Alby menurunkan pandangannya kembali ke layar tablet, memutuskan kontak mata secara sepihak. "Gunakan perhiasan dari koleksi musim lalu. Jangan yang terlalu mencolok."
"Aku mengerti."
Alby mendorong kursinya ke belakang, menciptakan derit halus yang memotong kesunyian ruang makan. Ia berdiri tegak, merapikan letak jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya tanpa memandang Zora yang masih duduk terpaku.
Sebelum langkah kakinya melewati ambang pintu ruang makan, Alby menghentikan langkahnya sesaat, menoleh ke arah Martha yang berdiri tak jauh dari meja makan.
"Martha," panggil Alby, suaranya sedatar biasanya. "Kopi racikanmu akhir-akhir ini sempurna. Suhu air dan takaran gulanya tepat, tidak terlalu manis. Pertahankan racikan seperti ini setiap hari."
Martha tertegun, matanya bergerak panik antara Alby dan Zora. Wanita paruh baya itu meremas jemarinya, maju selangkah. "Tapi, Tuan... kopi itu…"
"Cukup pastikan standarnya tidak berubah," potong Alby cepat, melirik sekilas ke arah arloji seolah detik yang terbuang adalah kerugian besar.
Tanpa menunggu balasan, langkah kaki Alby menjauh, berdentang tegas di atas lantai marmer lobi utama hingga terdengar suara pintu depan yang tertutup rapat.
Suasana ruang makan kembali mencekam. Di atas meja, sarapan Zora, roti panggang dan telur setengah matang, bahkan hampir tidak tersentuh sama sekali.
Martha berjalan mendekat, gurat penyesalan tercetak jelas di wajah tuanya. "Nyonya Zora... maafkan saya. Tuan Alby tidak bermaksud…"
"Tidak apa-apa, Martha," sela Zora lembut. Ia meletakkan garpunya tanpa suara, lalu memberikan senyum tipis yang tampak begitu tenang, seolah hatinya tidak baru saja digores oleh belati tak kasatmata. "Alby memang selalu menyukai hal-hal yang presisi. Kau tahu itu."
Zora bangkit dari duduknya, merapikan gaun rumahnya yang berdesir halus. "Tolong hubungi supir. Mintalah dia menyiapkan mobil sekarang. Aku ingin pergi berbelanja ke supermarket."
Martha mengerutkan kening, tampak heran. "Berbelanja, Nyonya? Jika ada bahan yang dibutuhkan, saya bisa meminta pelayan lain untuk membelinya."
"Tidak untuk hari ini," Zora menatap kalender digital di ponselnya yang menunjukkan tanggal hari ini. "Nanti malam adalah ulang tahun pernikahan kami yang ketiga. Aku ingin menyiapkan makan malam spesial untuk Alby."
**
Langkah kaki Zora terasa sedikit berat saat ia menyusuri koridor supermarket organik di kawasan elite Place des Vosges. Tubuhnya yang ringkih, dibalut mantel kasmir abu-abu yang longgar, tampak kontras di antara deretan bahan makanan yang benderang. Jemarinya yang pucat bergerak selektif, memilih daging sapi Wagyu dengan guratan lemak terbaik, lalu beralih memilih sayuran asparagus segar yang ukurannya seragam.
Setiap detail ia periksa sendiri. Di tengah pengabaian yang ia terima setiap hari, Zora tetap menolak untuk menjadi istri yang cacat cela. Baginya, menyajikan yang terbaik untuk Alby adalah sisa harga diri terakhir yang ia miliki sebagai seorang istri.
Sore harinya, dapur Laurent Manor dipenuhi aroma gurih panggangan dan rebusan kaldu yang pekat. Zora berdiri di depan kompor besar, mengaduk saus demi-glace dengan ketukan yang konstan. Keringat tipis mulai membasahi pelipisnya yang pucat.
Martha masuk membawa nampan berisi potongan rempah, lalu buru-buru mendekat saat melihat napas Zora yang sedikit terengah. "Nyonya, biar saya yang melanjutkan. Anda terlihat sangat lelah. Beristirahatlah di kamar."
Zora menggeleng dengan senyum sopan, mengambil alih mangkuk rempah dari tangan Martha. "Terima kasih, Martha. Tapi hari ini, aku benar-benar ingin melakukannya sendiri dari awal sampai akhir."
Martha menghela napas panjang, bersandar samar pada meja konter dapur. "Nyonya... kalau boleh saya bertanya, mengapa Anda memilih bersusah payah seperti ini? Menghabiskan waktu berjam-jam di dapur dalam kondisi Anda yang kurang sehat... Padahal, menyewa seorang koki bintang lima untuk memasak makan malam spesial di rumah ini akan jauh lebih praktis dan tidak melelahkan bagi Anda."
Gerakan tangan Zora yang sedang mengaduk saus mendadak terhenti sesaat. Mata cokelat terangnya menatap riak cairan kecokelatan di dalam panci.
"Alby tidak akan terkesan dengan hal-hal praktis seperti itu, Martha," jawab Zora, suaranya terdengar sunyi, mengalun di antara desis kompor. "Bagi Alby, kemewahan yang bisa dibeli dengan uang adalah hal yang biasa. Dia dikelilingi oleh hal-hal seperti itu setiap detik di kantornya."
Zora memberikan senyum getir, mengingat memori setahun yang lalu. "Tahun lalu, aku memesan tempat di restoran Prancis terbaik, berniat mengajaknya merasakan atmosfer ulang tahun pernikahan di luar rumah. Kau tahu apa yang dikatakannya lewat sekretarisnya?"
Martha diam, mendengarkan dengan tatapan iba.
"Dia menolak," lanjut Zora, kembali mengaduk sausnya dengan gerakan lambat. "Alby bilang... menghabiskan waktu dua jam penuh hanya untuk duduk dan makan di luar rumah adalah tindakan tidak efisien yang membuang-buang waktu. Jadi, jika aku memasak sendiri di sini, setidaknya dia tidak perlu membuang waktu dua jam di jalan. Dia hanya perlu turun ke ruang makan."
Martha tidak mampu menjawab lagi. Kalimat Zora terlalu matang, terlalu terbiasa menelan kekecewaan hingga tidak ada lagi nada amarah di dalamnya.
"Keluar...!" jerit Zora parau, suaranya melengking tinggi merobek dinding kamar tidur utama yang bermandikan pendar redup.Wanita itu merosot jatuh dari tepi tempat tidur, terduduk di atas karpet tebal dengan napas yang memburu tak beraturan. Jemari kurusnya mencengkeram erat serat kain gaun tidurnya tepat di atas dada kiri, tempat organ jantung baru berdetak dengan ritme yang kini terasa begitu menyiksa dan asing.Alby terperanjat di atas lantai. Pria tegap itu mencoba meraih lengan istrinya dengan gerakan refleks yang penuh keputusasaan."Jangan sentuh aku!" bentak Zora histeris, menepis kasar uluran tangan Alby seolah sentuhan itu adalah bara api yang membakar kulitnya.Sepasang mata cokelat terangnya menatap sang suami dengan binar horor dan kebencian telanjang. Tidak ada lagi sisa kelembutan atau pengertian, yang tersisa hanya reruntuhan jiwa yang terbakar oleh amarah duka yang teramat pekat.Alby membeku di lantai. Tangannya menggantung kaku
"Kenapa kau belum berbaring, Alby?"Suara Zora mengalun lembut, memecah kesunyian kamar tidur utama Laurent Manor yang dinaungi pendar redup lampu sudut. Wanita itu bersandar di atas peraduan, merapikan selimut gading tebal yang membungkus kakinya. Sepasang mata cokelat terangnya memperhatikan sosok tegap Alby yang berdiri mematung di dekat dinding kaca kamar mereka.Alby tidak langsung memutar tubuhnya. Jemari tangan besarnya mengepal kaku di dalam saku celananya. Ia memejamkan matanya rapat, menghirup oksigen dengan helaan napas yang berat dan menyiksa.Stabilitas fisik Zora yang dikonfirmasi Profesor Moreau tadi pagi adalah sinyal penutup bagi panggung kepalsuan yang ia bangun.Alby membalikkan tubuh tegapnya perlahan. Pria itu melangkah kaku menyeberangi karpet tebal, lalu mendudukkan tubuh jangkungnya di tepi tempat tidur."Zora..." panggil Alby bariton, suarasa merendah sangat parau. Sepasang mata hitamnya mengunci lurus pandangan istrinya de
"Grafik toleransi imunologis dan integrasi jaringan organ barunya sudah mencapai indikator seratus persen, Monsieur Laurent."Suara Profesor Moreau mengalun mantap di dalam ruang konsultasi kardiologi steril. Pria tua berambut perak itu meletakkan papan klip rekam medis dan lembaran hasil pemindaian echocardiogram terbaru milik Zora di atas meja kaca.Alby yang berdiri tegap di samping meja menatap grafik tersebut tanpa berkedip. Sepasang mata hitam legam sang CEO mencerna setiap angka parameter yang disajikan oleh tim spesialis kardiologi Eropa.Julian, yang berdiri di samping Profesor Moreau, melangkah satu tapak mendekati Alby."Fungsi sirkulasi mandiri di dadanya memompa oksigen dengan ritme yang teramat sangat kuat," tutur Julian pelan, menyuarakan konfirmasi medis yang tak terbantahkan. "Risiko reaksi penolakan organ secara akut (graft rejection) atau pendarahan sistemik sudah sepenuhnya berada di titik aman."Profesor Morea
"Satu sendok lagi, Zora. Sup ini dibuat khusus untuk membantu penyerapan imunosupresanmu."Suara bariton Alby mengalun lembut, memecah kesunyian ruang perawatan steril ICU. Pria tegap itu duduk di tepi ranjang, memegang mangkuk porselen kecil dengan telaten. Ibu jarinya yang besar mengusap pelan sudut bibir Zora dengan saputangan setelah menyuapkan kaldu hangat.Zora mengunyah pelan, lalu menelan sup tersebut dengan sedikit kepayahan. Rona pucat masih menyelimuti kulit wajahnya, namun binar di sepasang mata cokelat terangnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.Ia menatap Alby, memperhatikan bagaimana suaminya yang dulu kaku kini dengan tekun meniup sendok sup berikutnya agar tidak terlalu panas untuk tenggorokannya."Kau tidak perlu duduk di sini sepanjang hari, Alby," bisik Zora parau, mengulas senyum tipis yang amat sangat layu. "Kau belum menyentuh tempat tidur sejak pembedahan kemarin."Alby menyodorkan sendok berikutnya ke depan bib


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliaçõesMais