author-banner
BoardMarker
BoardMarker
Author

Novels by BoardMarker

Kurir Pemilik Sistem

Kurir Pemilik Sistem

Wandi, adalah seorang kurir miskin yang hidup mengenaskan. Namun suatu hari, ia mengalami kecelakaan yang mengubah hidupnya. Bagaimana kisah Wandi selanjutnya? Ikuti kisahnya di buku yang bertajuk 'Kurir Pemilik Sistem' ini.
Read
Chapter: Hidup Yang Berubah (part 1)
Wandi berjalan pulang dengan langkah ringan meski kaki kirinya masih nyeri setiap menginjak tanah. Matahari sudah tinggi, pukul setengah sepuluh pagi. Udara Jakarta mulai panas, debu dan asap knalpot menempel di kulit. Tapi ia tak peduli. Tangan kanannya terus meraba saku dalam celana, memastikan gantungan kunci kecil itu masih ada di sana.Seratus dua puluh lima sampai seratus delapan puluh tujuh juta rupiah.Angka itu berputar terus di kepalanya. Ia belum pernah memegang uang sebanyak itu seumur hidup. Gaji kurir sebulan paling banter dua juta, itu pun kalau tak kena komplain pelanggan. Hidupnya selalu pas-pasan: utang tetangga, cicilan motor telat, susu Nila yang selalu merk murahan, beras eceran per liter.Sekarang, di sakunya, ada benda yang bisa mengubah segalanya.Ia harus menjualnya secepat mungkin. Tapi kepada siapa? Wandi tak kenal kolektor, tak punya koneksi. Ia hanya kurir lulusan SMA yang hafal jalan pintas Jakarta. Nanti aku cari tahu, batinnya. Yang penting pulang dulu.
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Mencari Jawabab (part 5)
Wandi meletakkan gantungan kunci itu kembali ke kain hitam lusuh dengan gerakan lambat. Napasnya tertahan, dada naik-turun cepat. Tulisan hologram tipis di samping benda itu masih melayang jelas, huruf-huruf asing yang entah bagaimana langsung masuk ke pikirannya: Arca Ganesha perunggu, Kerajaan Majapahit abad ke-14, jimat pelindung keluarga penguasa, kondisi 78% utuh, nilai pasaran seratus dua puluh lima hingga seratus delapan puluh tujuh juta rupiah.Benda berusia hampir tujuh ratus tahun itu kini tergeletak di lapak loak Jatinegara, di antara kardus basah dan barang rongsokan.Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantung yang berdegup kencang. Tangan kirinya masih gemetar saat menyentuh benda itu lagi.“Berapa, Pak?” tanya Wandi dengan nada biasa saja, seolah hanya iseng.Pria tua berkumis putih mengamati Wandi dari atas ke bawah. Matanya yang tadinya sayu berubah tajam, seperti pedagang yang sudah puluhan tahun membaca niat pembeli dari gerak tubuh.“Tertarik ya, Mas?” P
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: mencari Jawaban (part 4)
Matahari baru saja terbit ketika Wandi melangkah keluar dari kontrakannya. Langit Jakarta masih jingga muda, diselimuti kabut tipis yang membuat udara terasa lebih ringan sebelum panas menyengat datang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir pusing yang masih menempel di kepala.Semalam Tina membersihkan lukanya dalam diam. Hanya desahan kesal sesekali yang keluar dari bibirnya saat kapas menyentuh luka. Wandi tahu istrinya masih marah. Masih kecewa. Masih memikirkan cerai. Tetapi tangannya tetap teliti menyeka darah kering, mengoleskan Betadine, dan memasang perban baru. Itu sudah cukup untuk membuat Wandi berharap.Nila rewel sepanjang malam. Perut kecilnya kosong. Wandi hanya bisa memanaskan bubur instan sisa, tiga bungkus tipis yang dibagi untuk pagi, siang, dan malam. Besok? Ia tidak berani memikirkannya.Dompetnya hanya menyisakan empat puluh ribu rupiah. Hitungannya kemarin salah. Uang ongkos kirim sudah habis untuk hal-hal kecil yang tidak ia ingat lagi.“Pokoknya hari ini
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Mencari Jawaban (part 3)
Wandi mengangkat wajah perlahan. Matanya menatap Tina lama, menelusuri garis lelah di wajah istrinya, lalu beralih ke Nila yang sudah tertidur lagi di kasur tipis. Pipi mungil Nila masih basah oleh air mata, bibir kecilnya mengerucut seperti sedang menahan mimpi buruk.Di atas kepala Tina, angka hijau itu terus berdetak. 1.208. Sekarang 1.175. Angka kecil yang menyusut perlahan, tepinya semakin kuning pudar seperti daun yang mulai layu di musim kemarau.“Tin,” kata Wandi perlahan, suaranya hampir hilang di antara isak tangis Nila. “Aku hanya minta satu hal.”“Apa?” Tina bersedekap, bahunya tegang.Wandi melangkah mendekat. Tangan kirinya yang tidak terluka meraih kedua tangan Tina. Jari-jarinya kasar, dingin, kapalan karena mencuci piring dan pakaian tanpa sabun yang cukup. Ia menggenggamnya dengan lembut, merasakan getar kecil di telapak tangan istrinya.“Aku minta maaf,” ucapnya, suaranya rendah dan berat. “Bukan hanya hari ini. Tetapi untuk semua hari yang sudah kita lewati. Maaf karena
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Mencari Jawaban (part 2)
Tina tidak menjawab. Matanya menyapu Wandi dari ujung rambut yang acak-acakan sampai sepatu bot yang masih berlumur debu dan darah kering. Tatapan itu dingin, datar, seperti memandang orang asing yang baru masuk ke rumahnya. Udara di dalam kontrakan terasa pengap dan panas, tetapi Wandi merinding hingga bulu kuduknya berdiri.“Tin, aku…”“Berasnya mana?” potong Tina. Suaranya datar, tanpa nada.Wandi terdiam. Mulutnya terbuka, tetapi lidahnya kelu. Beras. Ia lupa. Benar-benar lupa.“Ta-tadi aku kecelakaan, Tin,” katanya tergesa, suaranya serak. “Tabrakan dengan mobil di Thamrin. Kepalaku…”“Berasnya mana?” Tina mengulang, masih dengan suara yang sama. Dingin seperti es.“Tin, dengarkan aku dulu…”“WANDI!” teriak Tina tiba-tiba. Suaranya memecah ruangan kecil itu. Nila yang tertidur di gendongannya tersentak bangun, langsung menangis kencang, tubuh kecilnya menggeliat. Tina tidak menggubris. Matanya yang berkaca-kaca tetap tertuju pada Wandi. “BERASNYA MANA? SUDAH BERKALI-KALI AKU BILANG BERAS
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Mencari Jawaban (part 1)
Wandi menepuk saku celananya yang sudah tipis. Uang delapan puluh ribu rupiah dari ongkos kirim hari ini masih utuh di dompet usang. Motornya meringis setiap kali roda depan menginjak aspal, spion patah menggantung miring, lampu depan pecah berserakan, setang bengkok seperti tulang yang patah tak tersambung. Besok bengkel pasti menagih dua ratus ribu, mungkin lebih. Cicilan motor yang terlambat tiga bulan menumpuk menjadi satu juta dua ratus ribu. Belum lagi utang tetangga untuk susu Nila minggu lalu. Ia menghela napas panjang, bahunya turun lesu. Jam di pergelangan tangan menunjuk pukul enam sore saat paket terakhir diserahkan. Kue ulang tahun diterima ibu-ibu di Menteng dengan senyum tipis, meskipun matanya sempat melirik boks yang penyok. Dokumen asuransi dilempar begitu saja ke meja resepsionis di Kuningan yang sibuk bermain ponsel. Baju online di Kebon Sirih hanya dititipkan kepada satpam kompleks karena penghuninya tidak ada di rumah. Beruntung tidak ada keluhan langsung. “Ya sud
Last Updated: 2026-07-07
You may also like
Pendekar Dewa Naga
Pendekar Dewa Naga
Fantasi · Zhu Phi
120.1K views
PAGODA KAISAR BELA DIRI
PAGODA KAISAR BELA DIRI
Fantasi · Dimas Saputra
120.0K views
ROH KAISAR LEGENDARIS
ROH KAISAR LEGENDARIS
Fantasi · Zaid Zaza
118.7K views
The Cold Villains Lady
The Cold Villains Lady
Fantasi · Sischa Nabilla
112.8K views
Kelahiran Kembali
Kelahiran Kembali
Fantasi · Yu Liani
111.6K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status