แชร์

Mencari Jawaban (part 2)

ผู้เขียน: BoardMarker
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-07 12:01:39

Tina tidak menjawab. Matanya menyapu Wandi dari ujung rambut yang acak-acakan sampai sepatu bot yang masih berlumur debu dan darah kering. Tatapan itu dingin, datar, seperti memandang orang asing yang baru masuk ke rumahnya. Udara di dalam kontrakan terasa pengap dan panas, tetapi Wandi merinding hingga bulu kuduknya berdiri.

“Tin, aku…”

“Berasnya mana?” potong Tina. Suaranya datar, tanpa nada.

Wandi terdiam. Mulutnya terbuka, tetapi lidahnya kelu. Beras. Ia lupa. Benar-benar lupa.

“Ta-tadi aku kecelakaan, Tin,” katanya tergesa, suaranya serak. “Tabrakan dengan mobil di Thamrin. Kepalaku…”

“Berasnya mana?” Tina mengulang, masih dengan suara yang sama. Dingin seperti es.

“Tin, dengarkan aku dulu…”

“WANDI!” teriak Tina tiba-tiba. Suaranya memecah ruangan kecil itu. Nila yang tertidur di gendongannya tersentak bangun, langsung menangis kencang, tubuh kecilnya menggeliat.

Tina tidak menggubris. Matanya yang berkaca-kaca tetap tertuju pada Wandi. “BERASNYA MANA? SUDAH BERKALI-KALI AKU BILANG BERAS HABIS! NILA SUDAH DUA HARI MAKAN BUBUR INSTAN! DUA HARI, WANDI!”

“Aku peduli, Tin! Aku…”

“PEDULI APA?!” Tina bangkit berdiri dengan cepat, tetap menggendong Nila yang semakin meraung. Bahunya naik-turun, tangan kirinya mengepal di samping tubuh. “Kamu hanya peduli pekerjaan! Paket ini, paket itu! Keluarga di rumah ini kamu lupakan! Beras habis, uang habis, utang menumpuk, tetapi kamu…”

“Aku kecelakaan, Tin! Lihat ini!” Wandi menunjuk kepalanya yang masih berdenyut, plester kotor di pergelangan tangan, baju seragam yang kaku oleh darah kering. “Aku bisa mati hari ini!”

“BIAR MATI!” kata Tina tajam.

Kata-kata itu menggantung di udara. Tina sendiri tersentak, matanya membesar, bibirnya gemetar. Air mata mengalir deras di pipinya yang tirus. Nila menangis semakin kencang, tangan kecilnya meraih baju ibunya.

Wandi berdiri membeku di ambang pintu. Dadanya terasa diremas kuat. Kata “biar mati” itu berputar di kepalanya, berulang-ulang, semakin keras. Ia ingin membentak balik, ingin membanting sesuatu, ingin pergi. Namun, kakinya menempel di lantai ubin retak, tidak mau bergerak.

Di tengah kekacauan itu, matanya tertuju ke atas kepala Tina.

Angka hijau menyala di sana. 1.208. Angka itu kecil, jauh lebih kecil daripada yang pernah dilihatnya. Tepi-tepinya mulai memudar menjadi kekuningan, seperti daun yang mulai layu di ujung. Berkedip perlahan, seolah lemah.

“Tin,” bisik Wandi, suaranya bergetar. “Angkamu… angkamu kecil sekali.”

“APA?!” Tina membentak, suaranya pecah. “ANGKA APA LAGI?! KAMU SUDAH GILA YA?! BENTURAN KEPALA MEMBUAT KAMU GILA?!”

“Bukan, Tin. Dengarkan aku…”

“Tidak mau!” Tina meletakkan Nila di kasur dengan gerakan kasar. Nila menangis tersedu, tubuh kecilnya berguncang. Tina berdiri tegak di depan Wandi, tangan di pinggul, wajahnya merah padam. “Aku lelah, Wandi. Sangat lelah. Tiga tahun menikah, kamu masih kurir. Gaji tidak pernah naik. Kadang dapat, kadang kosong. Utang di mana-mana. Cicilan motor macet. Nila kurang gizi, dokter bilang begitu. Anak kita hanya makan bubur instan murahan!”

Wandi hanya bisa berdiri diam. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal di samping tubuh. Ia menatap lantai, semut-semut kecil berbaris di retakan ubin, membawa butiran gula. Angka kecil di atas kepala semut-semut itu berubah terlalu cepat untuk dibaca.

Tina melanjutkan, suaranya semakin meninggi. “Kamu masih sempat meminta ‘itu’ setiap malam. Aku lelah, Wandi. Mengurus rumah, mengurus Nila, masak, cuci, semuanya sendiri. Tetapi setiap malam kamu merayu. Dan aku… bodohnya aku, selalu memberikan. Karena dulu aku terpesona pada wajahmu, pada badanmu, pada… ya itu. Tetapi sekarang? Wajah ganteng tidak membeli beras. Badan tegap tidak membayar utang. Kehebatan di ranjang tidak membuat Nila kenyang.”

Dadanya naik-turun cepat. Air mata terus mengalir. Nila di kasur sudah mulai terisak perlahan, kelelahan.

“Wandi,” kata Tina dengan suara yang tiba-tiba datar dan dingin. “Aku minta cerai.”

Kata itu jatuh seperti batu berat. Wandi merasa lantai di bawah kakinya bergoyang. Ia menggenggam kusen pintu kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dunia terasa sempit, hanya ada suara tangis Nila dan detak jantungnya sendiri yang keras.

“Cerai?” ulangnya lirih, hampir tidak terdengar.

“Aku tidak pernah lebih serius daripada ini.”

“Tetapi… Nila?”

“Nila akan kubawa ke orang tuaku di kampung. Di sana setidaknya dia bisa makan tiga kali sehari.”

Wandi menunduk dalam. Matanya memerah, air mata menggenang di pelupuk meskipun ia berusaha menahannya. Pria tidak boleh menangis, kata ayahnya dulu. Tetapi air mata itu tetap jatuh, menetes ke lantai ubin.

“Tin, aku minta maaf,” bisiknya. “Aku tahu aku gagal. Aku janji kali ini…”

“Janji?” Tina tertawa pahit, suaranya serak. “Janjimu sudah terlalu sering, Wandi. Janji mencari pekerjaan lebih baik. Janji membayar utang. Janji membeli susu bagus. Semua janji. Tetapi yang ada hanya utang dan kelaparan.”

“Aku akan buktikan, Tin. Kali ini berbeda…”

“TIDAK!” Tina menggeleng keras, rambutnya acak-acakan. “Keputusanku sudah bulat. Aku sudah menyiapkan surat cerai. Bapak RT siap menjadi saksi. Kamu tinggal menandatanganinya.”

Wandi menatap istrinya lama. Angka 1.208 di atas kepala Tina terus berkedip, tepinya semakin kuning pudar. Apa artinya? Berapa lama lagi? Dan mengapa warnanya berubah?

Di luar, malam Jakarta mulai turun. Suara gang masih ramai, televisi tetangga, anak-anak bermain, motor lewat. Namun, di dalam rumah kecil ini, segalanya terasa akan runtuh. Wandi berdiri di ambang pintu, tubuh lelah penuh luka, pikiran dipenuhi angka-angka misterius, dan sekarang… ancaman kehilangan segalanya.

Ia menatap Nila yang terisak perlahan di kasur, lalu Tina yang berdiri tegar meskipun air mata masih mengalir. Pertanyaan-pertanyaan baru muncul di benaknya, semakin banyak, semakin gelap.

Apakah angka kecil di kepala Tina ada hubungannya dengan keputusan cerai ini? Apakah ia bisa mengubahnya? Atau ini baru awal dari sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang dimulai dari laser keemasan di Jalan Thamrin sore tadi?

Wandi tidak tahu. Yang ia tahu, malam ini belum selesai. Namun besok, angka-angka itu mungkin akan menunjukkan sesuatu yang tidak ingin ia lihat.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kurir Pemilik Sistem   Keputusan Baru (part 2)

    Vex'Ra menggerakkan tentakelnya lagi. Layar holografik menampilkan gambar Tina yang sedang tidur di kamarnya di rumah Wandi. Wajahnya tenang, napasnya teratur."Komandan, kami juga telah mengamati Tina, mantan istri subjek. Dia telah berubah secara signifikan sejak dia tinggal bersama subjek dan keluarganya.""Berubah bagaimana, Letnan?""Tina dulu egois, penuh dengan rasa takut dan ketidakpercayaan. Sekarang, dia mulai belajar untuk percaya pada orang lain. Dia mulai belajar untuk menerima bantuan. Dia mulai belajar untuk menjadi bagian dari sebuah keluarga.""Ini menarik, Letnan. Subjek W-2771 tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri. Dia juga menyelamatkan orang lain.""Ya, Komandan. Subjek memiliki kemampuan untuk mengubah orang di sekitarnya. Dia membuat mereka menjadi lebih baik."Komandan Thar'Xul berdenyut dengan cahaya keemasan, rasa puas. "Ini adalah data yang sangat berharga, Letnan. Catat semua pengamatan tentang Tina.""Siap, Komandan."Vex'Ra menggerakkan tentakelnya la

  • Kurir Pemilik Sistem   Keputusan Baru (part 1)

    Di atas pesawat alien berbentuk kristal hitam yang mengorbit Bumi, suasana di ruang kendali utama terasa tenang tetapi penuh dengan konsentrasi. Lampu-lampu di langit-langit berwarna biru kehijauan menyala redup, menciptakan suasana yang dingin dan steril. Layar holografik raksasa di hadapan Komandan Thar'Xul menampilkan gambar Bumi dari ketinggian, planet biru yang indah dengan bercak-bercak putih awan, hijau daratan, dan kilauan lampu kota di malam hari. Di sudut kanan layar, ada tampilan lain: gambar Wandi yang sedang duduk di teras rumahnya, merenung di bawah langit malam yang gelap.Komandan Thar'Xul duduk di kursi tertinggi, tubuh plasmanya yang besar berdenyut dengan ritme yang teratur, biru keemasan, warna yang dalam bahasa mereka berarti ketenangan dan kewaspadaan. Matanya yang tidak memiliki kelopak, tetap tertuju pada layar holografik, mengamati setiap detail kehidupan Wandi dengan saksama."Letnan Vex'Ra, laporkan perkembangan terbaru dari Subjek W-2771," perintah Komandan

  • Kurir Pemilik Sistem   Sebuah Pertanda (part 3)

    "Pa, Noval kenyang," ucap Noval sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit."Kenyang, Nak? Alhamdulillah.""Pa, supnya enak banget. Noval mau lagi besok.""Besok Papa buatkan lagi. Tapi Noval harus sehat dulu.""Noval sehat, Pa. Demam Noval udah turun."Wandi menempelkan punggung tangannya ke dahi Noval lagi. Benar, demamnya sudah turun. Tidak setinggi tadi pagi. Wandi tersenyum lega."Syukurlah, Nak. Kamu pasti cepat sembuh.""Pa, Noval mau tidur lagi.""Tidurlah, Nak. Papa di sini."Wandi menurunkan Noval perlahan, meletakkan kepalanya di atas bantal. Dia menarik selimut tipis ke atas, menutupi tubuh Noval yang masih hangat. Noval memejamkan matanya, napasnya mulai teratur."Pa, Noval sayang Pa," bisik Noval setengah tidur."Papa juga sayang Noval, Nak. Selamanya."Noval tersenyum dalam tidurnya.Wandi masih duduk di tepi kasur, menatap Noval yang tertidur pulas. Tangannya yang besar mengusap rambut Noval sekali lagi, lalu dia berdiri pelan, berjalan keluar kamar, dan menutup p

  • Kurir Pemilik Sistem   Sebuah Pertanda (part 2)

    Noval menggeleng lagi, tetapi kali ini ada yang berbeda. Matanya yang sayu menatap Wandi dengan tatapan yang tidak bisa dia sembunyikan."Pa, Noval rindu Mama."Wandi mengerjap. "Rindu Mama? Mama Arini?""Iya, Pa. Noval rindu Mama."Wandi mengusap rambut Noval. "Mama Arini sedang bekerja, Nak. Dia pergi ke Malaysia. Dia hanya pergi dua minggu."Noval menggeleng. "Tapi Pa, Noval takut...""Takut apa, Nak?""Noval takut kalau... kalau ada orang lain yang akan menggantikan Mama."Wandi terdiam. Dadanya terasa sesak. Kata-kata Noval menusuk hatinya. Dia teringat kejadian semalam. Tina yang mendekatkan wajahnya, hendak menciumnya. Hampir saja. Hampir saja dia membalas. Hampir saja dia melakukan kesalahan besar."Noval... anak itu bisa merasakan. Dia bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres. Dia bisa merasakan bahwa ada yang mengancam keluarganya.""Noval, tidak ada yang akan menggantikan Mama," ucap Wandi dengan suara tegas."Benaran, Pa? Papa janji?""Papa janji, Noval. Papa tidak akan p

  • Kurir Pemilik Sistem   Sebuah Pertanda (part 1)

    Matahari pagi bersinar cerah di atas Cipinang ketika Wandi terbangun dari tidurnya. Langit biru tanpa awan, sinar matahari yang hangat mulai menembus jendela-jendela kamar, menciptakan pola-pola cahaya di lantai kayu yang mengkilap. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Suasana pagi yang tenang, penuh dengan harapan dan kebahagiaan.Hari itu seperti biasa, Wandi bangun, mandi, dan menyiapkan sarapan untuk keluarga. Tina sudah bangun sejak lebih awal, membantu Wandi menyiapkan meja makan. Noval dan Nila masih di kamar mereka, mungkin masih tidur atau sedang bermain.Tina memakai daster panjang berwarna krem yang sederhana, rambutnya diikat kuncir santai, dan wajahnya segar tanpa makeup. Dia terlihat lebih tenang pagi ini, tidak ada bekas-bekas kejadian semalam di wajahnya. Mungkin dia sudah benar-benar melupakan atau setidaknya berusaha melupakan. Dia sedang menata piring-piring di meja makan deng

  • Kurir Pemilik Sistem   Malam di Ruang Tamu (part 2)

    "Wan, aku...""Tina, ingat, aku sekarang suaminya Arini. Dan statusmu juga... masih istrinya Andre."Tina menunduk. Air mata mulai mengalir di pipinya."Wan... aku... aku minta maaf. Aku... aku hampir khilaf. Aku tidak bermaksud...""Tina, aku mengerti. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi kita tidak bisa. Kita tidak boleh.""Iya, Wan. Kamu benar. Aku... aku minta maaf."Tina menangkupkan kedua tangannya di wajahnya, menangis pelan.Wandi melihat Tina yang menangis. Dadanya terasa sesak. Dia tidak ingin melihat Tina menangis. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Tina melakukan hal yang salah."Tin," panggil Wandi dengan suara lembut.Tina tidak menjawab. Dia terus menangis."Tin, lihat aku."Tina mengangkat wajah. Matanya yang merah dan basah menatap Wandi."Tin, aku mengerti. Aku mengerti bahwa kamu masih memiliki perasaan. Aku juga memiliki perasaan yang sama. Tapi kita tidak bisa. Kita sudah punya kehidupan masing-masing. Aku sudah punya Arini. Kamu masih punya Andre. Kita harus m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status