Home / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Mencari Jawaban (part 3)

Share

Mencari Jawaban (part 3)

Author: BoardMarker
last update publish date: 2026-07-07 12:03:52

Wandi mengangkat wajah perlahan. Matanya menatap Tina lama, menelusuri garis lelah di wajah istrinya, lalu beralih ke Nila yang sudah tertidur lagi di kasur tipis. Pipi mungil Nila masih basah oleh air mata, bibir kecilnya mengerucut seperti sedang menahan mimpi buruk.

Di atas kepala Tina, angka hijau itu terus berdetak. 1.208. Sekarang 1.175. Angka kecil yang menyusut perlahan, tepinya semakin kuning pudar seperti daun yang mulai layu di musim kemarau.

“Tin,” kata Wandi perlahan, suaranya hampir hilang di antara isak tangis Nila. “Aku hanya minta satu hal.”

“Apa?” Tina bersedekap, bahunya tegang.

Wandi melangkah mendekat. Tangan kirinya yang tidak terluka meraih kedua tangan Tina. Jari-jarinya kasar, dingin, kapalan karena mencuci piring dan pakaian tanpa sabun yang cukup. Ia menggenggamnya dengan lembut, merasakan getar kecil di telapak tangan istrinya.

“Aku minta maaf,” ucapnya, suaranya rendah dan berat. “Bukan hanya hari ini. Tetapi untuk semua hari yang sudah kita lewati. Maaf karena aku hanya pria kecil dengan kemampuan kecil. Maaf karena aku tidak bisa memberikan kamu kehidupan yang layak. Maaf karena aku terlalu sibuk bertahan sampai lupa kamu juga sedang berjuang sendirian.”

Tina mendengus. Matanya berkaca-kaca lagi, tetapi ia tidak menarik tangannya. “Omong kosong.”

“Bukan omong kosong. Ini dari sini.” Wandi menekan dada kirinya dengan kepalan tangan. “Kamu berhak kecewa. Aku juga kecewa pada diri sendiri. Tetapi aku belum siap kehilangan kamu, Tin. Bukan hari ini. Bukan seperti ini.”

Tina diam. Matanya menatap Wandi dengan campuran lelah dan keraguan yang dalam, seolah sudah terlalu sering mendengar kata-kata serupa.

“Satu bulan,” lanjut Wandi cepat. “Beri aku satu bulan. Satu bulan untuk membuktikan aku bisa berubah. Kalau setelah itu masih sama, aku menandatangani surat cerai tanpa bantah.”

Tina terdiam lama. Dadanya naik-turun perlahan. “Satu bulan? Untuk apa? Kamu pikir dalam satu bulan kamu bisa jadi kaya mendadak?”

“Bukan kaya, Tin. Cukup. Cukup untuk membayar utang, membeli beras tanpa memikirkan dua kali, dan memberikan susu yang layak untuk Nila.”

Tina menarik tangannya perlahan, tetapi tidak mundur. “Bisa bagaimana?”

Wandi ragu. Ia menatap lantai ubin retak sejenak, lalu mengangkat wajah lagi. “Kamu mungkin tidak percaya. Tetapi hari ini, setelah kecelakaan, sesuatu berubah dalam diriku. Aku bisa melihat hal yang tidak bisa dilihat orang lain.”

“Apa?” Tina menyipitkan mata.

“Sisa waktu kehidupan,” jawab Wandi perlahan, tatapannya lurus ke mata Tina. “Angka di atas kepala orang. Hijau, biru, merah. Aku melihat semuanya. Aku melihat angka di atas kepalamu, Tin.”

Tina mengerjap. Lalu tertawa kecil, suara pahit yang tidak sampai ke matanya. “Kamu benar-benar gila sekarang.”

“Mungkin. Tetapi aku akan membuktikannya.” Wandi melepaskan genggaman dan berjalan ke pintu. Ia membukanya lebar-lebar. Udara malam Jakarta yang hangat masuk, membawa bau masakan tetangga, asap gorengan, dan suara motor melintas di gang. “Besok pagi aku keluar. Mencari cara memanfaatkan ini. Dan aku akan pulang membawa kabar baik.”

“Atau pulang dengan tangan kosong seperti biasa,” gumam Tina.

“Kali ini tidak.” Wandi menoleh. “Karena kali ini aku punya sesuatu yang lebih dari tenaga. Aku punya… hadiah.”

“Dari mana?”

“Dari langit.”

Tina menghela napas panjang. Ia mendekat, berdiri tepat di hadapan Wandi. Untuk sesaat, Wandi menyiapkan diri untuk tamparan. Tetapi Tina hanya mengamati lukanya, luka di kepala, pergelangan tangan bengkak, bajunya penuh noda darah kering. Tangannya terulur ragu, lalu menyentuh perlahan luka di pelipis Wandi.

“Kamu masuk dulu,” katanya akhirnya, suaranya lebih lembut meski masih tegang. “Luka ini harus dibersihkan. Nanti infeksi.”

Wandi tersenyum tipis, senyum lega yang tidak sepenuhnya bahagia. “Terima kasih, Tin.”

“Jangan berterima kasih dulu. Aku masih mau cerai,” jawab Tina sambil berbalik ke lemari kayu tua. Ia mengeluarkan kotak P3K yang sudah usang, membawanya ke kasur.

Wandi mengikuti dan duduk perlahan di samping Nila. Tubuh kecil anaknya naik-turun perlahan saat bernapas. Tina membersihkan lukanya dengan kapas dan Betadine. Gerakannya kasar di awal, tetapi kemudian teliti, hati-hati menyeka darah kering dari pelipis Wandi. Bau obat menyengat hidung.

Di atas kepala Tina, angka terus menyusut. 1.163. 1.162. 1.161. Tepi kuning semakin melebar.

Wandi menatapnya diam-diam, dada terasa sesak. Ia tidak tahu satuan waktunya. Tetapi angka sekecil itu untuk perempuan berusia dua puluh lima tahun terasa salah. Terlalu cepat. Terlalu kejam.

“Aku tidak akan membiarkan angkamu habis, Tin,” bisiknya dalam hati. “Apa pun harganya.”

Malam semakin larut. Di gang luar, suara tetangga perlahan redup. Namun, di kepala Wandi, pertanyaan-pertanyaan berputar semakin kencang. Bisakah angka itu diubah? Bisakah ia menggunakan kemampuan ini untuk menyelamatkan keluarganya? Atau justru kemampuan ini yang akan menghancurkan semuanya?

Di luar angkasa, lebih dari empat ratus kilometer di atas Bumi, di dalam pesawat kristal hitam yang tersembunyi di balik bayangan Bulan, Komandan Thar’Xul berdenyut dengan cahaya biru keemasan yang semakin terang. Tubuh plasmanya bergetar halus, tanda antisipasi yang tinggi.

“Fase emosional telah dimulai,” lapor Letnan Vex’Ra. Tentakel plasmanya bergerak lincah di depan layar holografik yang menampilkan gambar Wandi dan Tina di kontrakan kecil mereka. “Subjek W-2771 kini memiliki motivasi kuat. Istri dan anak menjadi katalisator tambahan.”

Komandan Thar’Xul berdenyut perlahan, cahayanya berubah warna. “Eksperimen semakin menarik. Apakah cinta mampu mengalahkan logika angka? Ataukah pria bernama Wandi ini akan hancur oleh hadiah yang kami berikan?”

Di layar, Wandi menatap angka di atas kepala Tina dengan tatapan penuh tekad. Sementara itu, di sudut layar lain, angka-angka lain di Jakarta mulai berkedip, berwarna hijau, biru, dan beberapa merah yang semakin cepat mendekati nol.

Pesawat kristal tetap diam di kegelapan angkasa, menunggu, menonton, dan mencatat setiap detik yang berlalu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kurir Pemilik Sistem   Tak Perlu Diulang (part 2)

    Tina menyalakan mesin, dan NMAX melaju perlahan meninggalkan halaman. Wandi berdiri di teras, melambaikan tangan."Dadah, Pa!" seru Noval sambil melambaikan tangan."Dadah, Om!" seru Nila sambil melambaikan tangan."Dadah, Nak!" jawab Wandi.Setelah Tina, Noval, dan Nila pergi, Wandi masuk ke rumah. Dia mulai merapikan meja makan, mencuci piring-piring kotor, dan menyapu lantai ruang tamu. Gerakannya teratur, tidak terburu-buru. Dia menikmati ketenangan pagi ini.Di tengah pekerjaannya, dia berhenti sejenak. Dia menatap motor bebek butut di sudut ruangan. Motor itu mengingatkannya pada masa lalu. Masa lalu yang pahit, tetapi juga manis."Dulu, aku sering naik motor itu bersama Tina dan Nila. Kita sering berboncengan bertiga, berjuang untuk bertahan hidup. Sekarang... Tina dan Nila tinggal bersamaku. Kita semua bersama. Keluarga ini semakin besar."Wandi tersenyum."Dan sekarang, aku memiliki kemampuan baru. Aku bisa merasakan perasaan orang lain. Aku bisa merasakan apa yang mereka ras

  • Kurir Pemilik Sistem   Tak Perlu Diulang (part 1)

    Matahari pagi baru saja muncul di ufuk timur ketika Wandi membuka matanya. Langit yang tadinya gelap pekat, kini mulai berubah menjadi biru keunguan tipis, seperti kanvas yang baru saja dicuci dan belum sempat kering. Awan-awan tipis bergerak lambat, seperti kapas yang ditiup angin, sesekali menutupi matahari, sesekali membiarkannya bersinar dengan lembut. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, menyambut datangnya pagi dengan riuh rendah yang khas. Suara ayam tetangga yang berkokok dari kejauhan menambah semarak suasana pagi yang segar.Wandi meregangkan tubuhnya di atas kasur. Dia tidur nyenyak semalam, mungkin karena kelelahan setelah merawat Noval yang sakit, atau mungkin karena pikirannya mulai tenang setelah kemampuan barunya muncul. Yang jelas, pagi ini dia merasa segar. Tidak ada beban. Tidak ada rasa bersalah. Hanya ketenangan yang mendalam.Dia menoleh ke samping. Kasur di sebelahnya kosong. Arini masih di Malaysia. Wandi menghela napas panjang. Dia

  • Kurir Pemilik Sistem   Keputusan Baru (part 2)

    Vex'Ra menggerakkan tentakelnya lagi. Layar holografik menampilkan gambar Tina yang sedang tidur di kamarnya di rumah Wandi. Wajahnya tenang, napasnya teratur."Komandan, kami juga telah mengamati Tina, mantan istri subjek. Dia telah berubah secara signifikan sejak dia tinggal bersama subjek dan keluarganya.""Berubah bagaimana, Letnan?""Tina dulu egois, penuh dengan rasa takut dan ketidakpercayaan. Sekarang, dia mulai belajar untuk percaya pada orang lain. Dia mulai belajar untuk menerima bantuan. Dia mulai belajar untuk menjadi bagian dari sebuah keluarga.""Ini menarik, Letnan. Subjek W-2771 tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri. Dia juga menyelamatkan orang lain.""Ya, Komandan. Subjek memiliki kemampuan untuk mengubah orang di sekitarnya. Dia membuat mereka menjadi lebih baik."Komandan Thar'Xul berdenyut dengan cahaya keemasan, rasa puas. "Ini adalah data yang sangat berharga, Letnan. Catat semua pengamatan tentang Tina.""Siap, Komandan."Vex'Ra menggerakkan tentakelnya la

  • Kurir Pemilik Sistem   Keputusan Baru (part 1)

    Di atas pesawat alien berbentuk kristal hitam yang mengorbit Bumi, suasana di ruang kendali utama terasa tenang tetapi penuh dengan konsentrasi. Lampu-lampu di langit-langit berwarna biru kehijauan menyala redup, menciptakan suasana yang dingin dan steril. Layar holografik raksasa di hadapan Komandan Thar'Xul menampilkan gambar Bumi dari ketinggian, planet biru yang indah dengan bercak-bercak putih awan, hijau daratan, dan kilauan lampu kota di malam hari. Di sudut kanan layar, ada tampilan lain: gambar Wandi yang sedang duduk di teras rumahnya, merenung di bawah langit malam yang gelap.Komandan Thar'Xul duduk di kursi tertinggi, tubuh plasmanya yang besar berdenyut dengan ritme yang teratur, biru keemasan, warna yang dalam bahasa mereka berarti ketenangan dan kewaspadaan. Matanya yang tidak memiliki kelopak, tetap tertuju pada layar holografik, mengamati setiap detail kehidupan Wandi dengan saksama."Letnan Vex'Ra, laporkan perkembangan terbaru dari Subjek W-2771," perintah Komandan

  • Kurir Pemilik Sistem   Sebuah Pertanda (part 3)

    "Pa, Noval kenyang," ucap Noval sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit."Kenyang, Nak? Alhamdulillah.""Pa, supnya enak banget. Noval mau lagi besok.""Besok Papa buatkan lagi. Tapi Noval harus sehat dulu.""Noval sehat, Pa. Demam Noval udah turun."Wandi menempelkan punggung tangannya ke dahi Noval lagi. Benar, demamnya sudah turun. Tidak setinggi tadi pagi. Wandi tersenyum lega."Syukurlah, Nak. Kamu pasti cepat sembuh.""Pa, Noval mau tidur lagi.""Tidurlah, Nak. Papa di sini."Wandi menurunkan Noval perlahan, meletakkan kepalanya di atas bantal. Dia menarik selimut tipis ke atas, menutupi tubuh Noval yang masih hangat. Noval memejamkan matanya, napasnya mulai teratur."Pa, Noval sayang Pa," bisik Noval setengah tidur."Papa juga sayang Noval, Nak. Selamanya."Noval tersenyum dalam tidurnya.Wandi masih duduk di tepi kasur, menatap Noval yang tertidur pulas. Tangannya yang besar mengusap rambut Noval sekali lagi, lalu dia berdiri pelan, berjalan keluar kamar, dan menutup p

  • Kurir Pemilik Sistem   Sebuah Pertanda (part 2)

    Noval menggeleng lagi, tetapi kali ini ada yang berbeda. Matanya yang sayu menatap Wandi dengan tatapan yang tidak bisa dia sembunyikan."Pa, Noval rindu Mama."Wandi mengerjap. "Rindu Mama? Mama Arini?""Iya, Pa. Noval rindu Mama."Wandi mengusap rambut Noval. "Mama Arini sedang bekerja, Nak. Dia pergi ke Malaysia. Dia hanya pergi dua minggu."Noval menggeleng. "Tapi Pa, Noval takut...""Takut apa, Nak?""Noval takut kalau... kalau ada orang lain yang akan menggantikan Mama."Wandi terdiam. Dadanya terasa sesak. Kata-kata Noval menusuk hatinya. Dia teringat kejadian semalam. Tina yang mendekatkan wajahnya, hendak menciumnya. Hampir saja. Hampir saja dia membalas. Hampir saja dia melakukan kesalahan besar."Noval... anak itu bisa merasakan. Dia bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres. Dia bisa merasakan bahwa ada yang mengancam keluarganya.""Noval, tidak ada yang akan menggantikan Mama," ucap Wandi dengan suara tegas."Benaran, Pa? Papa janji?""Papa janji, Noval. Papa tidak akan p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status