Beranda / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / mencari Jawaban (part 4)

Share

mencari Jawaban (part 4)

Penulis: BoardMarker
last update Tanggal publikasi: 2026-07-07 12:06:19

Matahari baru saja terbit ketika Wandi melangkah keluar dari kontrakannya. Langit Jakarta masih jingga muda, diselimuti kabut tipis yang membuat udara terasa lebih ringan sebelum panas menyengat datang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir pusing yang masih menempel di kepala.

Semalam Tina membersihkan lukanya dalam diam. Hanya desahan kesal sesekali yang keluar dari bibirnya saat kapas menyentuh luka. Wandi tahu istrinya masih marah. Masih kecewa. Masih memikirkan cerai. Tetapi tangannya tetap teliti menyeka darah kering, mengoleskan Betadine, dan memasang perban baru. Itu sudah cukup untuk membuat Wandi berharap.

Nila rewel sepanjang malam. Perut kecilnya kosong. Wandi hanya bisa memanaskan bubur instan sisa, tiga bungkus tipis yang dibagi untuk pagi, siang, dan malam. Besok? Ia tidak berani memikirkannya.

Dompetnya hanya menyisakan empat puluh ribu rupiah. Hitungannya kemarin salah. Uang ongkos kirim sudah habis untuk hal-hal kecil yang tidak ia ingat lagi.

“Pokoknya hari ini harus membawa pulang beras,” gumamnya sambil mengunci pintu dengan gembok berkarat. Tina belum bangun. Ia hanya berbalik di atas kasur, membelakangi suaminya, dan menarik selimut tipis menutupi Nila. Wandi berbisik perlahan, “Aku pergi dulu, Tin. Doakan aku.” Tidak ada jawaban.

Ia memutuskan meninggalkan motor. Bensin hampir habis, dan uang tidak cukup untuk membeli bensin sekaligus beras. Lagi pula, setang bengkok dan spion putus membuat motor terasa tidak aman. Oleh karena itu, Wandi berjalan kaki.

Kaki kirinya nyeri setiap melangkah. Perban di pergelangan tangan kanan mulai kotor oleh debu jalan. Perban di kepala terasa longgar, tetapi ia tidak peduli. Yang penting ia bergerak. Yang penting ia mencoba.

Dari Cipinang Muara ia berjalan ke timur, menuju Jatinegara. Pasar loak kumuh di sana sudah mulai ramai saat ia tiba pukul setengah sembilan pagi. Terpal-terpal tua dibentangkan di pinggir jalan.

Pedagang menggelar barang dagangan tanpa aturan: tumpukan baju bekas berbau apek, rak buku roboh dengan sampul sobek, onderdil motor berkarat, piring penyok yang direkatkan dengan lem, mainan anak rusak, jam dinding yang jarumnya copot.

Di atas kepala para pedagang, angka-angka melayang seperti biasa. Sebagian besar hijau. Beberapa biru pucat. Wandi sudah mulai terbiasa, tetapi matanya tetap tertarik.

Seorang ibu setengah baya berjualan baju bekas: 234.109. Bapak bertubuh gemuk penjual onderdil: 43.887. Anak kecil berusia sepuluh tahun yang membantu orang tuanya: 1.204.789. Angka besar, penuh harapan.

Wandi berjalan perlahan di antara lapak. Matanya menyapu setiap benda. Apakah barang-barang ini juga mempunyai angka? Apakah benda mati mempunyai sisa waktu?

Tidak ada. Tumpukan baju diam saja. Rak buku tidak bersuara. Onderdil motor tidak menunjukkan apa pun. Benda-benda itu kosong.

Hampir putus asa, ia nyaris melewati lapak paling ujung. Lapak itu tersembunyi di balik tumpukan kardus basah. Seorang pria tua dengan kumis putih panjang duduk bersila di atas tikar bambu. Kaus oblongnya menguning, sarung kotak-kotaknya robek di pinggir. Di depannya hanya beberapa barang: sisir patah, sepatu usang, dan sebuah benda kecil di atas kain hitam lusuh.

Cahaya redup memancar dari benda itu.

Wandi mendekat. Matanya menyipit. Sebuah gantungan kunci berbentuk miniatur arca. Logam kehitaman, ukiran aus, patina hijau menempel di lekukan. Buatan tangan, bukan pabrik. Sangat tua.

Di samping benda itu, teks tipis melayang di udara. Bukan bahasa Indonesia. Bukan bahasa Inggris. Tetapi Wandi memahaminya seketika, seperti bisikan langsung ke otak.

[Arca Ganesha perunggu. Kerajaan Majapahit, abad ke-14 Masehi. Kepemilikan: Pendeta kerajaan. Fungsi: Jimat pelindung keluarga penguasa. Kondisi: 78% utuh. Nilai pasaran: Rp125.000.000–Rp187.500.000.]

Wandi membeku. Mulutnya terbuka lebar. Matanya membeliak.

Teks itu seperti hologram samar yang hanya ia lihat. Di sudut teks, angka nominal rupiah berkedip perlahan.

Seratus dua puluh lima juta hingga seratus delapan puluh tujuh juta rupiah.

Tangan Wandi gemetar. Bukan karena luka, melainkan karena gelombang adrenalin yang tiba-tiba membanjiri dada. Benda kecil ini… bernilai ratusan juta. Sementara pria tua di depannya duduk tenang, mata setengah terpejam, tidak tahu apa yang ia jual.

Wandi menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada yang memperhatikan. Pedagang lain sibuk tawar-menawar. Anak kecil berlarian. Suara klakson dan teriakan pedagang memenuhi udara.

Ia menunduk lagi, menatap gantungan kunci itu. Jantungnya berdegup kencang. Dengan kemampuan melihat angka kehidupan, sekarang ia juga bisa melihat nilai benda. Sejarah. Harga. Ini bukan kebetulan. Ini senjata.

Tetapi bagaimana cara mendapatkannya? Uang di dompetnya hanya empat puluh ribu. Pria tua ini pasti menjualnya murah, mungkin puluhan ribu saja, karena tidak tahu nilai aslinya. Namun, Wandi tidak punya cukup uang.

Apa yang harus ia lakukan? Menawar? Mencuri? Atau mencari cara lain?

Pria tua itu membuka mata perlahan. Kumis putihnya bergerak saat ia tersenyum tipis ke arah Wandi. “Mau melihat, Mas? Barang antik. Jarang laku, tetapi bagus.”

Wandi menelan ludah. Tangan kanannya yang terluka berdenyut. Pikirannya berputar cepat. Satu benda ini saja bisa mengubah segalanya. Bisa membayar utang. Bisa membeli beras. Bisa memberikan susu untuk Nila. Bisa membuktikan kepada Tina.

Tetapi risikonya besar. Kalau diketahui orang, ia bisa dipenjara. Kalau gagal, Tina benar-benar akan pergi.

Di kejauhan, sirene ambulans terdengar samar, mengingatkannya akan kecelakaan kemarin. Wandi menatap arca kecil itu lagi. Cahaya redupnya seolah memanggil.

Apakah ini berkah? Atau jebakan yang lebih dalam?

Ia mengulurkan tangan perlahan, jari-jarinya gemetar mendekati gantungan kunci itu. Pria tua masih tersenyum, tidak tahu apa yang sedang terjadi di depan matanya.

Di langit Jakarta yang semakin terang, sesuatu seolah mengawasi. Sebuah titik kecil keperakan samar, hilang ditelan cahaya matahari pagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kurir Pemilik Sistem   Tak Perlu Diulang (part 2)

    Tina menyalakan mesin, dan NMAX melaju perlahan meninggalkan halaman. Wandi berdiri di teras, melambaikan tangan."Dadah, Pa!" seru Noval sambil melambaikan tangan."Dadah, Om!" seru Nila sambil melambaikan tangan."Dadah, Nak!" jawab Wandi.Setelah Tina, Noval, dan Nila pergi, Wandi masuk ke rumah. Dia mulai merapikan meja makan, mencuci piring-piring kotor, dan menyapu lantai ruang tamu. Gerakannya teratur, tidak terburu-buru. Dia menikmati ketenangan pagi ini.Di tengah pekerjaannya, dia berhenti sejenak. Dia menatap motor bebek butut di sudut ruangan. Motor itu mengingatkannya pada masa lalu. Masa lalu yang pahit, tetapi juga manis."Dulu, aku sering naik motor itu bersama Tina dan Nila. Kita sering berboncengan bertiga, berjuang untuk bertahan hidup. Sekarang... Tina dan Nila tinggal bersamaku. Kita semua bersama. Keluarga ini semakin besar."Wandi tersenyum."Dan sekarang, aku memiliki kemampuan baru. Aku bisa merasakan perasaan orang lain. Aku bisa merasakan apa yang mereka ras

  • Kurir Pemilik Sistem   Tak Perlu Diulang (part 1)

    Matahari pagi baru saja muncul di ufuk timur ketika Wandi membuka matanya. Langit yang tadinya gelap pekat, kini mulai berubah menjadi biru keunguan tipis, seperti kanvas yang baru saja dicuci dan belum sempat kering. Awan-awan tipis bergerak lambat, seperti kapas yang ditiup angin, sesekali menutupi matahari, sesekali membiarkannya bersinar dengan lembut. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, menyambut datangnya pagi dengan riuh rendah yang khas. Suara ayam tetangga yang berkokok dari kejauhan menambah semarak suasana pagi yang segar.Wandi meregangkan tubuhnya di atas kasur. Dia tidur nyenyak semalam, mungkin karena kelelahan setelah merawat Noval yang sakit, atau mungkin karena pikirannya mulai tenang setelah kemampuan barunya muncul. Yang jelas, pagi ini dia merasa segar. Tidak ada beban. Tidak ada rasa bersalah. Hanya ketenangan yang mendalam.Dia menoleh ke samping. Kasur di sebelahnya kosong. Arini masih di Malaysia. Wandi menghela napas panjang. Dia

  • Kurir Pemilik Sistem   Keputusan Baru (part 2)

    Vex'Ra menggerakkan tentakelnya lagi. Layar holografik menampilkan gambar Tina yang sedang tidur di kamarnya di rumah Wandi. Wajahnya tenang, napasnya teratur."Komandan, kami juga telah mengamati Tina, mantan istri subjek. Dia telah berubah secara signifikan sejak dia tinggal bersama subjek dan keluarganya.""Berubah bagaimana, Letnan?""Tina dulu egois, penuh dengan rasa takut dan ketidakpercayaan. Sekarang, dia mulai belajar untuk percaya pada orang lain. Dia mulai belajar untuk menerima bantuan. Dia mulai belajar untuk menjadi bagian dari sebuah keluarga.""Ini menarik, Letnan. Subjek W-2771 tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri. Dia juga menyelamatkan orang lain.""Ya, Komandan. Subjek memiliki kemampuan untuk mengubah orang di sekitarnya. Dia membuat mereka menjadi lebih baik."Komandan Thar'Xul berdenyut dengan cahaya keemasan, rasa puas. "Ini adalah data yang sangat berharga, Letnan. Catat semua pengamatan tentang Tina.""Siap, Komandan."Vex'Ra menggerakkan tentakelnya la

  • Kurir Pemilik Sistem   Keputusan Baru (part 1)

    Di atas pesawat alien berbentuk kristal hitam yang mengorbit Bumi, suasana di ruang kendali utama terasa tenang tetapi penuh dengan konsentrasi. Lampu-lampu di langit-langit berwarna biru kehijauan menyala redup, menciptakan suasana yang dingin dan steril. Layar holografik raksasa di hadapan Komandan Thar'Xul menampilkan gambar Bumi dari ketinggian, planet biru yang indah dengan bercak-bercak putih awan, hijau daratan, dan kilauan lampu kota di malam hari. Di sudut kanan layar, ada tampilan lain: gambar Wandi yang sedang duduk di teras rumahnya, merenung di bawah langit malam yang gelap.Komandan Thar'Xul duduk di kursi tertinggi, tubuh plasmanya yang besar berdenyut dengan ritme yang teratur, biru keemasan, warna yang dalam bahasa mereka berarti ketenangan dan kewaspadaan. Matanya yang tidak memiliki kelopak, tetap tertuju pada layar holografik, mengamati setiap detail kehidupan Wandi dengan saksama."Letnan Vex'Ra, laporkan perkembangan terbaru dari Subjek W-2771," perintah Komandan

  • Kurir Pemilik Sistem   Sebuah Pertanda (part 3)

    "Pa, Noval kenyang," ucap Noval sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit."Kenyang, Nak? Alhamdulillah.""Pa, supnya enak banget. Noval mau lagi besok.""Besok Papa buatkan lagi. Tapi Noval harus sehat dulu.""Noval sehat, Pa. Demam Noval udah turun."Wandi menempelkan punggung tangannya ke dahi Noval lagi. Benar, demamnya sudah turun. Tidak setinggi tadi pagi. Wandi tersenyum lega."Syukurlah, Nak. Kamu pasti cepat sembuh.""Pa, Noval mau tidur lagi.""Tidurlah, Nak. Papa di sini."Wandi menurunkan Noval perlahan, meletakkan kepalanya di atas bantal. Dia menarik selimut tipis ke atas, menutupi tubuh Noval yang masih hangat. Noval memejamkan matanya, napasnya mulai teratur."Pa, Noval sayang Pa," bisik Noval setengah tidur."Papa juga sayang Noval, Nak. Selamanya."Noval tersenyum dalam tidurnya.Wandi masih duduk di tepi kasur, menatap Noval yang tertidur pulas. Tangannya yang besar mengusap rambut Noval sekali lagi, lalu dia berdiri pelan, berjalan keluar kamar, dan menutup p

  • Kurir Pemilik Sistem   Sebuah Pertanda (part 2)

    Noval menggeleng lagi, tetapi kali ini ada yang berbeda. Matanya yang sayu menatap Wandi dengan tatapan yang tidak bisa dia sembunyikan."Pa, Noval rindu Mama."Wandi mengerjap. "Rindu Mama? Mama Arini?""Iya, Pa. Noval rindu Mama."Wandi mengusap rambut Noval. "Mama Arini sedang bekerja, Nak. Dia pergi ke Malaysia. Dia hanya pergi dua minggu."Noval menggeleng. "Tapi Pa, Noval takut...""Takut apa, Nak?""Noval takut kalau... kalau ada orang lain yang akan menggantikan Mama."Wandi terdiam. Dadanya terasa sesak. Kata-kata Noval menusuk hatinya. Dia teringat kejadian semalam. Tina yang mendekatkan wajahnya, hendak menciumnya. Hampir saja. Hampir saja dia membalas. Hampir saja dia melakukan kesalahan besar."Noval... anak itu bisa merasakan. Dia bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres. Dia bisa merasakan bahwa ada yang mengancam keluarganya.""Noval, tidak ada yang akan menggantikan Mama," ucap Wandi dengan suara tegas."Benaran, Pa? Papa janji?""Papa janji, Noval. Papa tidak akan p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status