Chapter: Bab 51Elara menatap Kaelen dengan tatapan penuh arti, berharap jawaban Kaelen bertentangan dengan segala ucapan Orin. Orin masih berdiri di depan pintu, seringainya penuh ejekan. “Apa maksud Orin ‘aku dan kau pernah melakukan ini’?” tanya Elara kembali. Rahang Kaelen mengeras, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Kedua tangannya terkepal kuat, matanya setajam pisau mengarah ke Orin, tapi mata tajam itu selalu menghindari tatapan Elara. Napas Elara memburu. Tatapan Kaelen yang menghindar itu cukup menjadi jawaban. Ada banyak hal yang tidak ia ceritakan. Orin justru tersenyum melihat reaksi itu. “Kau masih menyembunyikannya darinya?” “Diam, atau kupatahkan lehermu,” desis Kaelen. Orin hanya mengangkat bahu, mengabaikan ancaman itu. "Elara, kau pikir ini yang pertama? Dulu, jauh sebelum hari ini tiba, seseorang pernah berdiri di tempat kamu berdiri sekarang." Ia menjeda sejenak, menatap Kaelen. "Kekuatan yang sama. Perasaan yang sama, namun ikatannya belum sesakral sekaran
Last Updated: 2026-10-04
Chapter: Bab 50 Beberapa wilayah Velstra justru masih utuh, sementara bagian tertentu dihancurkan secara sengaja. “Dia tidak ingin menghancurkan seluruh kota,” gumam Elara. Matanya beralih menatap simbol Pintu Keenam, lalu simbol ketujuh di peta. “Dia sedang mencari sesuatu.” Solvaneira di tangannya berdenyut, memberikan penglihatan singkat. Elara melihat tujuh kerajaan seperti tujuh lingkaran cahaya. Kerajaan pertama menyimpan bagian pertama. Velstra menyimpan bagian kedua. Lima bagian lainnya masih tersebar di kerajaan-kerajaan lain. Ketika ketujuh bagian pecahan itu disatukan, mereka membentuk sebuah simbol seperti kunci. Namun Elara tidak bisa melihat apa yang ada di balik Pintu Keenam jika kunci itu digunakan. Lalu terdengar suara Orin di dalam penglihatan itu, dingin dan pasti. Suaranya terdengar tak bernurani. “Satu sudah jatuh. Yang kedua sebentar lagi akan menjadi milikku.” Elara tersentak keluar dari penglihatan, napasnya memburu. “Kaelen kita harus turun ke kota. Seka
Last Updated: 2026-09-30
Chapter: Bab 49Kanala menyiapkan bara kecil. Api menyala seadanya, cukup untuk menghangatkan makanan tanpa asap yang terlalu mengepul. Walaupun mereka bertiga masih syok setelah serangan tadi, perut harus tetap diisi. Sementara itu, Elara duduk di samping Kaelen dan kembali memeriksa lukanya. Kain kasa yang tadi berwarna hitam pekat kini sudah diganti, tapi tangan Elara masih dingin karena takut. Kaelen awalnya ingin mengobatinya sendiri. Namun Elara langsung menepis tangannya. “Kau mengajariku bertahan hidup.” Ia mengikat perban di lengan Kaelen dengan kencang, sedikit terlalu kencang. “Tapi satu hal yang perlu kau pelajari.” Kaelen menatapnya. “Apa?” “Menerima bantuan orang lain.” Kaelen diam. Tidak berani membantah. Ia sepertinya lebih takut menghadapi kemarahan Elara daripada luka di lengannya. Kanala yang melihat mereka pura-pura sibuk mengaduk wadah makanan agar tidak mengganggu. Namun matanya sesekali melirik ke perban itu. Setelah perban terpasang rapi, Kanala akhirn
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: Bab 48Pagi hari, sebelum matahari terlalu tinggi, Kastel Blackthorn masih dipenuhi kesibukan.Para prajurit bergerak ke sana kemari. Senjata diperiksa. Kuda dipersiapkan. Para pengawal menerima perintah terakhir sebelum keberangkatan.Di salah satu sisi halaman, Kaelen, Elara, dan Kanala telah bersiap dengan tiga ekor kuda.Mereka mengenakan jubah tanpa lambang agar tidak mudah dikenali oleh pasukan Orin.Kaelen membawa pedang utamanya.Elara membawa pedang pendek yang diberikan Kaelen sehari sebelumnya.Sementara Kanala membawa perlengkapan medis, bekal makanan dandan minuman serta beberapa senjata kecil untuk berjaga-jaga.Sebelum berangkat, Kaelen memberikan perintah terakhir kepada kepala pengawal.“Jangan mengikuti kami ataupun mengirim bala bantuan.”Tatapannya tegas.“Prioritas kalian adalah menjaga Kastel Blackthorn.”Salah satu pengawal terlihat ragu.“Apakah Duke yakin hanya bertiga?”Kaelen menaiki kudanya.“Kita tidak pergi untuk memenangkan perang.”Ia menatap ke arah gerbang.
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: Bab 47"Pasukan Orin sudah bergerak." Satu kalimat Kanala itu membuat udara di halaman latihan yang tadinya panas karena latihan, langsung membeku. Kaelen tidak lagi terlihat seperti guru pedang yang menggoda Elara beberapa menit lalu. Punggungnya tegak, rahangnya mengeras. Duke Blackthorn telah kembali. Dan bayangan menyeramkan itu langsung muncul pertanda Kaelen benar-benar marah. "Kemana arahnya?" tanya Kaelen, suaranya rendah. Datar seperti tak berperasaan. "Perbatasan Kerajaan Velstra. Kerajaan Kedua. Mata-mata kita melihat bendera Orin sudah melewati Lembah Kabut. Mereka tidak membawa pasukan besar, Duke," Kanala menelan ludah. "Mereka membawa... sesuatu." Elara mengernyit. "Sesuatu?" "Bayangan," jawab Kanala. "Seperti yang menghancurkan Kerajaan Pertama. Tidak berbentuk pasukan, tapi menghabiskan Kerajaan Ryukyu dalam semalam. Penduduk Kerajaan Velstra mulai mengungsi ke arah kita." Kaelen mengepalkan tangannya. Pedang latihan di tangannya berderak karena diremas terlal
Last Updated: 2026-09-26
Chapter: Bab 46Pagi di Kastel Blackthorn tidak pernah benar-benar tenang. Tapi pagi ini, ketegangannya berbeda.Ancaman Orin semalam masih menggantung di pikiran Elara seperti asap yang tidak mau hilang.“Datang kepadaku... atau biarkan kerajaan kedua jatuh.”Satu kerajaan di bawah naungan Blackthorn sudah hancur. Tersisa enam. Dan laporan dari mata-mata kepercayaan Blackthorn pagi ini mengatakan pasukan Orin sudah mulai bergerak lagi.Di luar, para pengawal memperketat penjagaan dua kali lipat. Denting baja dan langkah sepatu berat terdengar tanpa henti.Di dalam kamarnya, Elara tidak bisa hanya dalam terduduk tenang saja.Diam berarti menunggu enam kerajaan itu hancur satu per satu. Diam berarti terus menjadi titik lemah Kaelen. Dan dia sudah muak menjadi alasan Kaelen tidak berdaya.Dia menemukan Kaelen di halaman latihan. Tanpa jubah Duke, hanya kemeja latihan yang basah oleh keringat, pedangnya bergerak membelah udara dengan suara yang tajam dan teratur.Elara melangkah masuk ke lingkaran pasir
Last Updated: 2026-09-24