Chapter: Bab 24Mereka kembali ke kamar Elara tanpa diketahui siapa pun. Setidaknya, begitulah yang mereka kira.Elara tidak menceritakan seluruh isi ruang rahasia yang ia baca kepada Kanala karena masih takut ada seseorang yang mengawasi mereka.Dan ia takut Kanala makin syok dan takut. Peta yang ditemukan disembunyikan Elara di tempat aman. Hanya dia yang tahu. Bahkan, Kanala tidak tahu juga. “Jangan percaya Duke Blackthorn.Tapi jangan biarkan dia mati.”Pesan itu selalu berdengung dengan sangat jelas di telinga dan selalu menari-nari dalam pikiran Elara. Ia masih belum bisa mencerna dengan baik. bagaimana mungkin dua perintah yang bertentangan bisa berasal dari sumber yang sama. Pasti, ada satu hal yang luput dari pengetahuan Elara saat ini. Kaelen. Apakah ia musuh atau bukan? Ini tiba-tiba menjadi pertanyaan lagi buat Elara. Karena sebelumnya ia selalu Kaelen adalah monster yang menjadi musuhnya.Kelelahan dengan pikirannya sendiri membuat Elara jatuh tertidur tanpa sadar. Melihat ia sudah
Last Updated: 2026-08-16
Chapter: Bab 23Setelah Kanala memberitahu tentang sosok pembawa simbol lilin hitam, Elara menjadi semakin gelisah dan pikirannya kembali penuh. Ia teringat diary istri ketiga.Ia juga teringat enam wanita dalam mimpinya.Semua petunjuk seperti mengarah pada satu tempat.“Kalau mereka benar-benar ingin memperingatkanku...”“Pasti mereka meninggalkan sesuatu sebagai kunci untuk memecahkan misteri ini.”Elara mulai mengingat kembali tempat-tempat yang pernah ia datangi di Blackthorn.Ia kemudian teringat ruang tempat portrait keenam istri Kaelen berada. Tanpa menunggu lagi. Elara pergi ke ruangan tempat portrait keenam istri Kaelen disimpan.Kanala ikut menemaninya.Lorong terasa sepi karena para pelayan jarang melewati tempat itu. Hanya desiran angin yang terdengar. Kanala terlihat takut.“Lady, sebaiknya kita tidak berada di sini.”“Kenapa?”“Duke tidak pernah mengizinkan siapapun masuk keruangan itu apalagi untuk menyentuh portrait mereka.”Elara semakin penasaran. “Justru karena itu aku ingin m
Last Updated: 2026-08-15
Chapter: Bab 22 Pagi menyambut dengan sinar matahari yang berkilau, keadaan Elara sudah lebih baik. Tubuhnya masih terasa lemah. Tapi itu Wajar, karena racun yang menggerogoti tubuhnya semalam belum sepenuhnya hilang dari aliran darahnya. Namun setidaknya, rasa sakit yang tadi malam hampir merenggut kesadarannya sudah tidak terasa. Ia sudah bisa duduk dan sudah tidak merasakan kesakitan lagi. Hanya saja energinya masih lemah. Tabib membawakan ramuan penawar racun yang harus di minum pagi ini. “Bagaimana keadaanmu, Lady? tanya Tabib. “Lebih baik.” “Racun yang Anda minum semalam termasuk jenis yang sangat berbahaya, Lady. Dalam dosis sebesar itu, manusia biasa mungkin tidak akan bertahan.” Elara terdiam mendengar penuturan Tabib. “Berarti tubuhku cukup keras kepala untuk menolak mati,” jawab Elara santai. Padahal, dia sendiri kebingungan terhadap respon tubuhnya. “Dimana pelayan yang menuangkan minuman anggur?” Elara menatap Tabib itu yang lagi sibuk membereskan ramuannya. “Semua Pel
Last Updated: 2026-08-13
Chapter: Bab 21Setelah kejadian Elara meminum racun tersebut, suasana di Blackthorn berubah menjadi tegang dan mencekam. Hanya desiran angin yang menyapa dengan ramah. Tidak ada satu pun pintu yang dibiarkan tanpa penjagaan. Pengawal berdiri di setiap lorong, sementara gerbang utama Blackthorn telah dikunci rapat. Tidak seorang pun diperbolehkan meninggalkan kaste selama proses penyelidikanl. Penjagaan makin diperketat terutama di kamar Elara. Semua pelayan yang ada di Blackthorn diperiksa baik yang ada di perjamuan maupun yang tidak ada. Kemurkaan Kaelen sangat mencekam, sehingga Bayangannya selalu muncul. pertanda bahwa Kaelen benar-benar berada di level kemarahan tertinggi. Semua Pelayan telah berkumpul di Aula untuk diperiksa. Kaelen menunjuk pertama kali Pelayan yang menuangkan minuman anggur. Pelayan tersebut maju dengan seluruh tubuh gemetar dengan mata Berkaca-kaca. Keringat dingin memenuhi dahinya padahal terpaan angin cukup kencang. “Siapa yang memberimu botol itu?”
Last Updated: 2026-08-12
Chapter: Bab 20 Elara dibaringkan di kamarnya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Suhu tubuhnya meningkat drastis. Wajahnya pucat, bibirnya kering, sementara napasnya terdengar berat dan tidak teratur. Tabib datang tidak lama kemudian. Aroma ramuan pahit bercampur dengan udara kamar yang dingin. Beberapa lilin di sekitar ranjang hampir padam, membuat bayangan bergerak-gerak di dinding. Kaelen berdiri di sisi ranjang. Tidak bergeming. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah pucat Elara. Telapak tangannya masih menyimpan sisa panas tubuh wanita yang tergeletak tak berdaya itu, seolah menjadi pengingat bahwa kematian sedang berdiri terlalu dekat. Tabib segera memeriksa denyut nadi Elara. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah serius. “Duke...” “Apa?” “Lady Elara terkena racun.” Kaelen tidak menunjukkan reaksi. Wajahnya datar. “Seberapa parah?” Tabib menarik napas pelan. “Cukup untuk membunuh manusia biasa.” Tatapan Kaelen langsung mengeras. Udara di sekitar mereka seolah ikut berubah
Last Updated: 2026-08-11
Chapter: Bab 19Hari-hari berlalu. Namun, Elara masih belum menemukan jawaban dari semua petunjuk yang terus menghantui pikirannya. Enam arwah dalam mimpinya. Simbol lilin hitam. Nama Orin. Dan rahasia yang seolah tersembunyi di setiap sudut Blackthorn. Semuanya seperti potongan puzzle yang sengaja dipisahkan agar tidak pernah bisa disatukan. Meski begitu, kehidupan di Blackthorn tetap berjalan seperti biasa. Hari ini, sebuah perjamuan pribadi kembali diadakan. Tidak banyak orang yang diundang. Hanya beberapa bangsawan dan orang-orang kepercayaan Kaelen yang memiliki urusan penting dengan Blackthorn. Elara sebenarnya tidak ingin datang. Namun sebagai istri ketujuh Duke Blackthorn, keinginannya bukanlah sesuatu yang selalu dipertimbangkan. Ia duduk di sisi Kaelen dengan sikap yang telah diajarkan beberapa hari terakhir. Punggung tegak, bahu rileks, kedua tangan berada di atas pangkuan, dan senyum tipis terpasang di wajahnya. Setidaknya, untuk malam ini, ia berusaha tidak membuat K
Last Updated: 2026-08-10