Chapter: Chapter 6 - Ketegasan Sang Putri"Udara pagi ini saja sudah menusuk tulang. Pelayannya yang setia seperti anjing itu belum juga bangun.”“Apalagi, kami sengaja tidak mengantarkan kayu bakar tambahan ke kamarnya. Biar saja wanita itu mati membeku!" cetus seorang pelayan lain yang disusul tawa miring menggema di ruangan sepi itu. “Ssst! Pelankan suaramu. Kau tahu tidak? Semalam putri membawa Pangeran Lucas yang terluka.”Lalu, mereka memelankan suara.“Kata Yena yang diperintahkan semalam, Putri Charlotte yang merawatnya. Jangan sampai Pangeran mendengar hal ini,” ujar pelayan wanita lainnya. “Biarlah. Toh, Pangeran Lucas tidaklah penting. Karena dia hanyalah mantan Putra Mahkota yang tidak memiliki taring,” ujar pelayan senior.Kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak. Kara berdiri di balik pintu. Tak ada Liana di sisinya, tak ada pelayan yang membela. Namun alih-alih menangis atau takut, seulas senyum sinis yang dingin justru terukir di wajah Kara.Kara memajukan langkah dan menghempas pintu dapur kasar hingga ter
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Chapter 5 - TerhinaKeynes terlihat gugup memahami pertanyaan Sang Putri yang terdengar tanpa basa-basi. ‘Pasti ia akan marah dan menyuruhku bersujud di kakinya’ bisik Keynes memprediksi berdasarkan tingkah kelakuan Sang Putri di istana. Kara menghela napas panjang, “Ya… apa boleh buat, kau boleh berjaga di depan pintu. Barangkali aku membutuhkanmu nanti,” ujar Kara berusaha menghentikan tensi pertikaian di antara mereka. “Selamat beristirahat, Sir Keynes” ujar Kara sebelum ia menghilang di balik pintu, meninggalkan Keynes yang mematung heran. “Apakah itu benar-benar Putri Charlotte?” bisik Keynes dengan sangat perlahan. Sementara Kara yang merasa merasa sangat lelah, membuang tubuhnya dengan kasar pada salah satu sofa lembut yang diletakkan tak jauh dari ranjang. Dalam pikirnya, Kara bertanya-tanya. ‘Mengapa semua orang terlihat terkejut ya? Mulai dari Liana saat awal pertemuan, Lucas, bahkan Sir Keynes?’Lantas ia menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikirannya dan perlahan membiarkan ngan
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Chapter 4 - Ketulusan“Tidak ada. Hanya aku iba pada orang yang bernasib sama denganku,” ujar Kara acuh tak acuh. Mendengar jawaban tersebut, kulau mata itu redup secara bergantian di bawah temaram lampu minyak seakan menuntut penjelasan yang jauh lebih jujur dari sekedar kata “iba”. “Iba?” bisik Lucas ragu, dahi pria itu berkerut menahan rasa sakit. “Seorang putri kerajaan yang sangat mencintai dan mendukung suaminya, tidak mungkin mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan kompetitor suaminya hanya karena rasa iba,” Lucas mengucapkan dengan dingin. “Nyawamu jauh lebih berharga untuk tetap hidup daripada menjadi bangkai di hutan. Jadi diam dan beristirahatlah,” ujar Kara tegas. “Bagaimana… bisa aku mempercayaimu? Suamimu, Hans dan ibunya itu membenciku hingga ke tulang. Tidakkah kau menginginkan sesuatu? Mereka pasti ada maksud mengirimmu ke sini kan?” tanya Lucas. Bibir Kara terkatup rapat. Lidahnya kelu untuk menjelaskan segalanya. Namun, di detik berikutnya, sebuah fenomena ajaib kembali terjadi. Te
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Chapter 3 - Penyelamatan“Astaga Tuan, kami tidak berniat jahat. Saya bisa membantu menyelamatkannya!” ujar Kara meyakinkan. Perlahan-lahan Kara mendekat dengan sangat hati-hati, “Jadi Tuan, tolong lepaskan pelayan saya,” “Dengan segala hormat, Putri. Saya telah mengetahui niat busuk Anda dengan suami Anda!” Dugaan Kara benar. Pria ini adalah Pangeran Lucas–mantan putra mahkota sekaligus putra kedua permaisuri. Pria malang yang tahtanya direbut karena dinilai tidak sehat dan infertil hingga mahkota yang ditakdirkan untuknya sejak lahir jatuh ke tangan suami Charlotte–Hans, adik tiri Lucas. Kara kembali menatap lurus sang pengawal."Jika saya berniat jahat, saya tidak akan datang kemari hanya membawa seorang pelayan dan tanpa senjata!" tegas Kara, suaranya bergetar bersungguh-sungguh. Ia mengambil satu langkah lagi ke depan dengan tangan terbuka."Tetapi saya bukan bagian dari rencana busuk Hans! Pangeran Lucas kehabisan waktu. Kondisinya yang memburuk membuat detik-detik yang Anda pakai untuk mencuriga
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Chapter 2 - Wanita Itu‘Ah, aku mengingat wanita ini,’ batin Kara berbicara.Charlotte Brown. Putri mahkota terbuang pada serial drama pendek yang digemarinya.Kara menatap mata indah berwarna hijau peridot yang terus mengalirkan butiran air mata cantik menghiasi wajahnya. Dia sangat mengasihi nasib malang Charlotte karena difitnah melakukan percobaan pembunuhan pada anak selir suaminya yang baru lahir. Namun, Kara harus pulang. Dunia fana ini hanyalah fantasi, bukan dunia asli miliknya.Bagai mampu membaca pikiran Kara, Charlotte menangkup kedua rahang Kara dengan kuat. Dalam sekejap, pancar matanya berubah, memancarkan aura bengis dan dendam yang membara.“Pulanglah, jika kau mampu membalaskan dendamku dan mengamankan takhta milikku!” ujar Charlotte dengan suara yang menggema, meretakkan dimensi hampa tempat mereka berpijak.Detik berikutnya, kegelapan menelan kesadaran Kara.Kara membuka matanya dengan napas yang tersengal. Ia terbatuk hebat dengan dada yang terasa sesak tersayat kecewa dan amarah.Saat
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Chapter 1 - Gerbang yang Terbuka“Dokter Armond? Untuk apa dia di sini?” gumam Kara, pelan.Kara yang semula menyandarkan kepala sambil asyik menonton drama pendek kolosal favoritnya, kini membenarkan kembali duduknya. Ia berusaha terlihat ramah di depan rivalnya.“Halo, dr. Kara. Kuharap, aku tidak mengganggu waktu istirahatmu,” ujar Armond.Kara Diana, seorang profesor bedah saraf sekaligus influencer kesehatan yang memiliki followers 7M di media sosial. Ia baru saja menyelesaikan operasi selama 36 jam nonstop.Wajah Kara terlihat sangat lelah dan dia tidak bergairah melakukan apapun, selain beristirahat. Kara tersenyum paksa dan menawarkannya duduk. “Tentu tidak, dr. Armond. Apa ada hal penting? Mari duduk dulu.”“Aku punya teh hijau. Mungkin saja kau menyukainya, dan…”Suara Armond menggantung. Ia menghela napas sebelum melanjutkan bicaranya.“Aku minta maaf karena telah mengecewakanmu. Jadi, terimalah maafku ini,” ujar Armond sambil menyodorkan sekotak teh.“Wah, cantik sekali. Terima kasih, dr. Armond,” puji K
Last Updated: 2026-08-18