تسجيل الدخولDr. Kara Diana adalah seorang dokter bedah jenius yang terbangun di tubuh Lady Charlotte Brown, seorang putri terbuang yang dikhianati suaminya dan terasingkan. Satu-satunya jalan baginya untuk kembali ke dunia nyata adalah membalaskan dendam Charlotte dan mewujudkan mimpinya menjadi ratu. Mampukah dr. Kara kembali ke dunia asalnya? Mungkinkah ia menemukan cinta sejati di dunia yang dipikirnya fana?
عرض المزيد“Dokter Armond? Untuk apa dia di sini?” gumam Kara, pelan.
Kara yang semula menyandarkan kepala sambil asyik menonton drama pendek kolosal favoritnya, kini membenarkan kembali duduknya. Ia berusaha terlihat ramah di depan rivalnya.
“Halo, dr. Kara. Kuharap, aku tidak mengganggu waktu istirahatmu,” ujar Armond.
Kara Diana, seorang profesor bedah saraf sekaligus influencer kesehatan yang memiliki followers 7M di media sosial. Ia baru saja menyelesaikan operasi selama 36 jam nonstop.
Wajah Kara terlihat sangat lelah dan dia tidak bergairah melakukan apapun, selain beristirahat.
Kara tersenyum paksa dan menawarkannya duduk. “Tentu tidak, dr. Armond. Apa ada hal penting? Mari duduk dulu.”
“Aku punya teh hijau. Mungkin saja kau menyukainya, dan…”
Suara Armond menggantung. Ia menghela napas sebelum melanjutkan bicaranya.
“Aku minta maaf karena telah mengecewakanmu. Jadi, terimalah maafku ini,” ujar Armond sambil menyodorkan sekotak teh.
“Wah, cantik sekali. Terima kasih, dr. Armond,” puji Kara dengan senyum ramah yang dibuat-buat.
Armond mengangguk sambil tersenyum miring dan melanjutkan kalimatnya, “Ini adalah barang kuno warisan keluargaku dari negara makmur yang runtuh dalam semalam. Hanya kotak ini satu-satunya peninggalan yang tersisa.”
Ekor mata Armond melirik Kara yang tertegun dan sepertinya mulai tertarik dengan barang pemberiannya.
Melihat reaksi Kara, Armond melirik jamnya dan tersenyum puas.
“Ah, sepertinya aku sudah menghabiskan banyak waktumu. Aku kembali dulu karena tidak ada lagi jadwal operasi setelah ini,” ucap Armond.
“Oke,” jawab Kara masih dengan senyuman ramah hingga punggung pria itu menghilang di balik pintu.
Setelah Armond pergi, Kara mengamati kotak itu dengan curiga.
“Ini pasti barang imitasi. Besok akan kukembalikan,” kata Kara. “Tapi mungkin secangkir teh ini akan mengembalikan sedikit tenagaku.”
Kara terkekeh dan mulai menyeduh teh.
Saat Kara meminumnya, terasa menenangkan. Namun baru beberapa tegukan, kepalanya mendadak sakit.
“Ugh! Sakit sekali!”
Cangkir di tangannya jatuh menghantam lantai. Kesadarannya merosot tajam hingga pingsan. Tetapi samar-samar, Kara mendengar suara teriakan yang memanggil namanya.
Hingga akhirnya, sebuah gema suara bariton yang berat dan dingin menyentak kesadarannya kembali.
"Bersumpahlah bahwa kau bukan pembunuh yang sebenarnya, Charlotte Brown!"
Bulu mata Kara bergetar dua kali. Lalu, ia membuka matanya perlahan.
Kara kebingungan. “I-ini… di mana? Charlotte Brown? Siapa dia?”
Kara tersentak mendapati dirinya tengah berada di sebuah ruangan megah berarsitektur Renaissance. Jauh di depannya, seorang lelaki tua menggunakan jubah mewah khas seorang Raja duduk dengan angkuh di atas singgasana.
Sang Raja duduk didampingi oleh seorang wanita paruh baya berwajah bengis. Tak jauh dari sana, sepasang suami istri tampak tegang. Istrinya terus menangis tersedu-sedu.
“Tapi, kenapa semua orang menatapku begitu?” tanya Kara, pelan.
Kara merasa tengah berada di pengadilan internal keluarga kerajaan. Ia mengedarkan pandangan, menyerap atmosfer di sekelilingnya. Lalu, ia menyadari penampilannya yang berubah.
Kara tercengang. “I-ini… pakaian zaman kuno?”
Netranya menangkap sebuah ruangan besar dan megah dengan pilar-pilar tinggi yang menjulang. Keheningan yang mencekam membuat suara Sang Raja bergema tajam.
“Jawab, Charlotte!” bentak Raja.
Namun sebelum sempat menjawab, Kara tidak mampu berbicara apapun.
“Astaga, ada apa ini?” Kara masih mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
Tiba-tiba seorang wanita bergaun merah dengan rambut strawberry blonde berlari dan bersimpuh di hadapan Raja. Ia adalah Fiona Flowseck, selir Pangeran Hans.
Fiona memohon dengan tangisan yang memilukan, “Yang Mulia Raja, kasihanilah saya! Putri Mahkota telah mencoba membunuh anak saya, Putra Pangeran Mahkota!”
Fiona menekan setiap kalimat dengan mata bengisnya yang menatap tajam Kara.
Tiba-tiba, rasa sakit menghantam kepala Kara bersamaan dengan ribuan memori pemilik tubuh sebelumnya.
“Ah!”
Kara menghantamkan tangan ke kepalanya. Teriakannya membuat ruangan megah itu bergema.
“Ja-jadi, aku bertransmigrasi ke dalam drama pendek yang belum selesai kutonton?”
Para keluarga Royal Kerajaan menatapnya dengan aneh.
“Astaga! Putri Mahkota sudah gila.”
“Benar. Ini memalukan nama keluarga kerajaan!”
Raja segera berteriak, “Pengawal, seret Putri Mahkota ke penjara. Tangguhkan hukuman pengasingan untuknya. Katakan pada rakyat, kesehatan Putri Mahkota memburuk.”
“Baik,” sahut pengawal.
Bukannya membela istrinya, Pangeran Hans malah tersenyum sinis.
“Charlotte, terima saja hukumanmu. Berterimakasihlah karena Ayah Raja hanya memberikanmu hukuman pengasingan,” ujar Pangeran Hans, ketus.
Kara mencoba berontak. “Ja-jangan!”
Meskipun Pangeran Hans melihat Kara terus merintih kesakitan, ia tetap bersikap dingin.
Tanpa belas kasihan, dua pengawal menyeret tubuhnya ke penjara kerajaan.
Begitu para penjaga pergi, Kara bergumam, “Ini pasti hanya mimpi. Karena aku terlalu banyak begadang menonton drama pendek. Ayo bangun!”
Tidak lama, pintu sel terbuka pelan. Terdengar ketukan sepatu chopine milik Fiona.
“Lihatlah Charlotte! Inilah balasannya jika kau mencoba membunuh anakku. Rahimmu kering. Akulah yang pantas melahirkan penerus dari Putra Mahkota!”
Fiona mencengkram rahang Kara dengan kuat.
“Jangan lagi-lagi kau menghalangiku! Membusuklah di sini.”
Lalu, Fiona keluar sambil memberikan perintah pada penjaga, “Jangan berikan dia makanan dan minuman.”
Kara mengepalkan tangan. Namun, ia tidak bisa berbuat apapun karena tubuhnya lemah. Akhirnya, ia tertidur dengan perut kosong.
Ketika Kara kembali membuka mata, ia merasa berada di dimensi berbeda. Sedetik kemudian, seorang wanita berwajah pilu muncul mendekati Kara. Dia adalah Charlotte Brown.
Charlotte mencengkram erat bahu Kara dan berbisik dengan suara parau. “Kara, tolong aku. Mereka memfitnahku.”
"Udara pagi ini saja sudah menusuk tulang. Pelayannya yang setia seperti anjing itu belum juga bangun.”“Apalagi, kami sengaja tidak mengantarkan kayu bakar tambahan ke kamarnya. Biar saja wanita itu mati membeku!" cetus seorang pelayan lain yang disusul tawa miring menggema di ruangan sepi itu. “Ssst! Pelankan suaramu. Kau tahu tidak? Semalam putri membawa Pangeran Lucas yang terluka.”Lalu, mereka memelankan suara.“Kata Yena yang diperintahkan semalam, Putri Charlotte yang merawatnya. Jangan sampai Pangeran mendengar hal ini,” ujar pelayan wanita lainnya. “Biarlah. Toh, Pangeran Lucas tidaklah penting. Karena dia hanyalah mantan Putra Mahkota yang tidak memiliki taring,” ujar pelayan senior.Kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak. Kara berdiri di balik pintu. Tak ada Liana di sisinya, tak ada pelayan yang membela. Namun alih-alih menangis atau takut, seulas senyum sinis yang dingin justru terukir di wajah Kara.Kara memajukan langkah dan menghempas pintu dapur kasar hingga ter
Keynes terlihat gugup memahami pertanyaan Sang Putri yang terdengar tanpa basa-basi. ‘Pasti ia akan marah dan menyuruhku bersujud di kakinya’ bisik Keynes memprediksi berdasarkan tingkah kelakuan Sang Putri di istana. Kara menghela napas panjang, “Ya… apa boleh buat, kau boleh berjaga di depan pintu. Barangkali aku membutuhkanmu nanti,” ujar Kara berusaha menghentikan tensi pertikaian di antara mereka. “Selamat beristirahat, Sir Keynes” ujar Kara sebelum ia menghilang di balik pintu, meninggalkan Keynes yang mematung heran. “Apakah itu benar-benar Putri Charlotte?” bisik Keynes dengan sangat perlahan. Sementara Kara yang merasa merasa sangat lelah, membuang tubuhnya dengan kasar pada salah satu sofa lembut yang diletakkan tak jauh dari ranjang. Dalam pikirnya, Kara bertanya-tanya. ‘Mengapa semua orang terlihat terkejut ya? Mulai dari Liana saat awal pertemuan, Lucas, bahkan Sir Keynes?’Lantas ia menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikirannya dan perlahan membiarkan ngan
“Tidak ada. Hanya aku iba pada orang yang bernasib sama denganku,” ujar Kara acuh tak acuh. Mendengar jawaban tersebut, kulau mata itu redup secara bergantian di bawah temaram lampu minyak seakan menuntut penjelasan yang jauh lebih jujur dari sekedar kata “iba”. “Iba?” bisik Lucas ragu, dahi pria itu berkerut menahan rasa sakit. “Seorang putri kerajaan yang sangat mencintai dan mendukung suaminya, tidak mungkin mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan kompetitor suaminya hanya karena rasa iba,” Lucas mengucapkan dengan dingin. “Nyawamu jauh lebih berharga untuk tetap hidup daripada menjadi bangkai di hutan. Jadi diam dan beristirahatlah,” ujar Kara tegas. “Bagaimana… bisa aku mempercayaimu? Suamimu, Hans dan ibunya itu membenciku hingga ke tulang. Tidakkah kau menginginkan sesuatu? Mereka pasti ada maksud mengirimmu ke sini kan?” tanya Lucas. Bibir Kara terkatup rapat. Lidahnya kelu untuk menjelaskan segalanya. Namun, di detik berikutnya, sebuah fenomena ajaib kembali terjadi. Te
“Astaga Tuan, kami tidak berniat jahat. Saya bisa membantu menyelamatkannya!” ujar Kara meyakinkan. Perlahan-lahan Kara mendekat dengan sangat hati-hati, “Jadi Tuan, tolong lepaskan pelayan saya,” “Dengan segala hormat, Putri. Saya telah mengetahui niat busuk Anda dengan suami Anda!” Dugaan Kara benar. Pria ini adalah Pangeran Lucas–mantan putra mahkota sekaligus putra kedua permaisuri. Pria malang yang tahtanya direbut karena dinilai tidak sehat dan infertil hingga mahkota yang ditakdirkan untuknya sejak lahir jatuh ke tangan suami Charlotte–Hans, adik tiri Lucas. Kara kembali menatap lurus sang pengawal."Jika saya berniat jahat, saya tidak akan datang kemari hanya membawa seorang pelayan dan tanpa senjata!" tegas Kara, suaranya bergetar bersungguh-sungguh. Ia mengambil satu langkah lagi ke depan dengan tangan terbuka."Tetapi saya bukan bagian dari rencana busuk Hans! Pangeran Lucas kehabisan waktu. Kondisinya yang memburuk membuat detik-detik yang Anda pakai untuk mencuriga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.