INICIAR SESIÓN“Tidak ada. Hanya aku iba pada orang yang bernasib sama denganku,” ujar Kara acuh tak acuh.
Mendengar jawaban tersebut, kulau mata itu redup secara bergantian di bawah temaram lampu minyak seakan menuntut penjelasan yang jauh lebih jujur dari sekedar kata “iba”.
“Iba?” bisik Lucas ragu, dahi pria itu berkerut menahan rasa sakit. “Seorang putri kerajaan yang sangat mencintai dan mendukung suaminya, tidak mungkin mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan kompetitor suaminya hanya karena rasa iba,” Lucas mengucapkan dengan dingin.
“Nyawamu jauh lebih berharga untuk tetap hidup daripada menjadi bangkai di hutan. Jadi diam dan beristirahatlah,” ujar Kara tegas.
“Bagaimana… bisa aku mempercayaimu? Suamimu, Hans dan ibunya itu membenciku hingga ke tulang. Tidakkah kau menginginkan sesuatu? Mereka pasti ada maksud mengirimmu ke sini kan?” tanya Lucas.
Bibir Kara terkatup rapat. Lidahnya kelu untuk menjelaskan segalanya. Namun, di detik berikutnya, sebuah fenomena ajaib kembali terjadi. Terdapat bisikan yang sangat jernih dan jujur kembali menginterupsi isi pikiran pangeran.
‘Yang benar saja kalau aku bilang alasan sebenarnya! Kalau pangeran ini mati di tangan Hans, maka target selanjutnya pasti tubuh Charlotte yang akan dibantai oleh selir Hans,’ bisik Kara dalam hati meski ia memilih untuk tidak bersuara.
Iris amber Lucas mendadak terbelalak tipis. Bibir Kara dan raut wajahnya yang terlihat tenang. Namun di dalam kepala Lucas, suara hati Kara bergema mengisyaratkan ketulusan. Charlotte, adik iparnya, secara tiba-tiba menyelamatkan dirinya.
‘Aku tahu. Dia benar-benar tulus menyelamatkanku. Pasti sesuatu terjadi di ibu kota.’
Lucas hanya ingin mengkonfrontasi keinginan Kara untuk menyampaikan niatnya.
“Hanya inilah caraku agar bisa menyelamatkanmu. Selebihnya terserah pada Anda jika tidak mau mendengarkan saya. Tidak ada tabib di wilayah terpencil ini, jadi saya harap Anda paham harus mendengar pada siapa,” ujar Kara tegas. Hari itu Kara sudah sangat lelah dan jenuh dengan pertanyaan-pertanyaan mengintimidasi.
Lucas kembali terkejut.
“Aku tidak tahu kau bisa setegas ini, adik ipar,” ujarnya dengan nada menggoda. Kali ini nada suaranya terdengar lembut dan ramah.
Lucas sangat tahu, Charlotte yang sebenarnya bukanlah putri yang angkuh, melainkan putri naif yang sangat mencintai suaminya. Sangat naif hingga dimanfaatkan oleh mertuanya sebagai kambing hitam.
Kara memutar matanya malas. Menyadari hal itu, Lucas kembali melanjutkan kalimatnya, “Aku hampir lupa, terimakasih banyak atas bantuannya. Teknik yang kau berikan padaku sangat ekstrem, aku bahkan tidak pernah melihatnya.”
“Ya, rasa terima kasih Anda saya terima, Pangeran,” balas Charlotte dengan suara tenang dan raut wajah datar.
Berbeda dengan suara hati Kara yang didengar oleh Lucas, ‘Tidurlah, Lucas... pendarahanmu sudah berhasil kutinggalkan dan kujahit rapi. Aku tidak membantumu demi ucapan terima kasih atau balasan budi. Kita berdua selamat dari ancaman Hans dan takhta busuk ini.’
Meskipun belum terbiasa, Lucas sangat senang mendengar suara hati Charlotte yang terdengar mengkhawatirkannya.
‘Senang mendengar seseorang mengkhawatirkanku,’ bisik Lucas.
Seulas senyum tipis terbentuk di wajah tampannya, matanya mulai terpejam, berusaha mengistirahatkan tubuh dan pikirannya dari segala bentuk ancaman.
Menyadari sang pangeran mulai tertidur, Kara membuka pintu kamar perlahan. Netra Kara menyadari seorang gadis muda di balik pintu yang berdiri di tempatnya seakan siap menerima perintah.
“Kau? Bukankah kau pelayan yang mengambilkan semua alat-alatku? Apa yang kau lakukan?” tanya Kara bingung.
“Maaf, Putri. Selama ini saya menunggu, apabila Anda membutuhkan sesuatu dan memerlukan saya,” ujar gadis muda itu.
Kara lupa memerintahkan pelayan ini untuk kembali ke tidurnya. Malam yang semakin larut dan ia tetap setia menunggu permintaan tolong.
“Baiklah, sekarang kau boleh beristirahat. Terimakasih atas bantuanmu,” ujar Kara lembut dengan senyum tipis.
Ekspresi gadis itu berubah. Terkejut akan sikap Putri Charlotte yang mengucapkan terimakasih pada seorang pelayan rendah sepertinya. Bahkan rekan pelayan senior tidak pernah mengatakan itu padanya.
“Baiklah, Putri. Saya Fleuri. Tolong panggil saya jika Anda butuh,” ujar Fleuri yang dibalas anggukan oleh Kara sebelum ia melangkah pergi.
Tertinggal Kara seorang diri di koridor kamar Lucas. Ia teringat kembali akan Liana yang berada di luar kastil larut malam. Kara menyadari, Keynes tidak lagi berada dekat kastil. Kara yakin, Keynes menepati janjinya menjemput Liana.
Di tengah malam, Kara meratapi pintu gerbang tertutup di balik jendela besar koridor.
‘Tenang Kara, Liana akan kembali dengan selamat’ bisik Kara menenangkan hatinya.
Tak lama, suara gerbang terbuka menyadarkan Kara dari lamunannya.
‘Itu pasti Liana!’ pikir Kara. Ia langsung berlari menuruni anak tangga menuju pintu utama kastil.
“Liana!” pekik Kara berlari menghampiri Liana yang turun dari kuda Keynes. Saat Liana berada di hadapannya, Kara langsung memeluk gadis muda yang berharga itu baginya.
“Putri…” Liana tidak kuasa menahan tangis. Malam hari di lereng gunung terasa sangat menakutkan bagi Liana.
“Ayo, kita masuk ke dalam kastil,” ajak Kara sembari memberikan kimono penghangat yang dikenakannya pada Liana yang terlihat menggigil.
Setelah menyuruh Liana untuk beristirahat kembali ke kamarnya, Kara berterimakasih kepada Keynes yang telah menepati janjinya.
“Sudah sewajarnya bagi ksatria menepati janjinya, Putri. Bagaimana keadaan, Tuan Pangeran?” tanya Keynes.
“Lukanya sudah ditangani. Namun pemulihannya membutuhkan 2-3 hari,” jawab Kara sebelum melanjutkan kalimatnya, “Ikut aku, jika kau ingin tahu kondisi Tuanmu.”
Seperti anak anjing, Keynes mengekor pada Kara membelah koridor kastil dengan pencahayaan temaram. Kara membuka pintu perlahan, menampilkan Pangeran Lucas yang beristirahat dengan damai.
“Apakah tadi beliau sempat sadar selama proses penjahitan, Putri?” tanya Keynes.
“Iya, tapi dia mampu menahan rasa sakitnya. Kau tak perlu khawatir,” ujar Kara menenangkan.
Kara salah paham. Bukan itu maksud dari pertanyaan Keynes. Keynes sangat mengetahui, Tuannya adalah seorang yang tangguh. Bagi Lucas yang telah mendapatkan 12 luka berat sekujur tubuhnya selama perang, penjahitan kulit bukanlah hal menyakitkan.
Namun, Keynes tidak pernah meragukan intuisi Tuannya dalam mengendus musuh. Melihat Lucas yang terbaring tenang mengistirahatkan dirinya membuat Keynes terkejut. Sebab ia masih merasa skeptis pada Putri Charlotte, istri dari kompetitor Tuannya dalam perebutan takhta.
“Aku akan berjaga semalaman suntuk di kamar, khawatir Pangeran membutuhkan sesuatu atau tindakan segera,” ujar Kara sebelum melanjutkan kalimatnya, “Sir Keynes, di lantai 1 ada kamar khusus tamu, kau bisa menggunakannya.”
Suara Kara menghentikan prediksi-prediksi yang mengalir dalam pikiran Keynes. Keynes adalah salah satu ksatria elit kepercayaan Lucas, ia sangat tahu bagaimana perjuangan Sang Tuan.
Bagi Keynes, mencurigai setiap orang yang berpotensi sebagai musuh adalah bentuk kewaspadaan yang telah mendarah daging.
“Tidak! Saya akan berjaga di sini!” tegas Keynes tanpa pikir panjang. Kara menyunggingkan sudut bibirnya, menatap ksatria yang berdiri kaku di depannya.
“Tampaknya, kau belum memercayaiku ya, Sir Keynes?”
"Udara pagi ini saja sudah menusuk tulang. Pelayannya yang setia seperti anjing itu belum juga bangun.”“Apalagi, kami sengaja tidak mengantarkan kayu bakar tambahan ke kamarnya. Biar saja wanita itu mati membeku!" cetus seorang pelayan lain yang disusul tawa miring menggema di ruangan sepi itu. “Ssst! Pelankan suaramu. Kau tahu tidak? Semalam putri membawa Pangeran Lucas yang terluka.”Lalu, mereka memelankan suara.“Kata Yena yang diperintahkan semalam, Putri Charlotte yang merawatnya. Jangan sampai Pangeran mendengar hal ini,” ujar pelayan wanita lainnya. “Biarlah. Toh, Pangeran Lucas tidaklah penting. Karena dia hanyalah mantan Putra Mahkota yang tidak memiliki taring,” ujar pelayan senior.Kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak. Kara berdiri di balik pintu. Tak ada Liana di sisinya, tak ada pelayan yang membela. Namun alih-alih menangis atau takut, seulas senyum sinis yang dingin justru terukir di wajah Kara.Kara memajukan langkah dan menghempas pintu dapur kasar hingga ter
Keynes terlihat gugup memahami pertanyaan Sang Putri yang terdengar tanpa basa-basi. ‘Pasti ia akan marah dan menyuruhku bersujud di kakinya’ bisik Keynes memprediksi berdasarkan tingkah kelakuan Sang Putri di istana. Kara menghela napas panjang, “Ya… apa boleh buat, kau boleh berjaga di depan pintu. Barangkali aku membutuhkanmu nanti,” ujar Kara berusaha menghentikan tensi pertikaian di antara mereka. “Selamat beristirahat, Sir Keynes” ujar Kara sebelum ia menghilang di balik pintu, meninggalkan Keynes yang mematung heran. “Apakah itu benar-benar Putri Charlotte?” bisik Keynes dengan sangat perlahan. Sementara Kara yang merasa merasa sangat lelah, membuang tubuhnya dengan kasar pada salah satu sofa lembut yang diletakkan tak jauh dari ranjang. Dalam pikirnya, Kara bertanya-tanya. ‘Mengapa semua orang terlihat terkejut ya? Mulai dari Liana saat awal pertemuan, Lucas, bahkan Sir Keynes?’Lantas ia menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikirannya dan perlahan membiarkan ngan
“Tidak ada. Hanya aku iba pada orang yang bernasib sama denganku,” ujar Kara acuh tak acuh. Mendengar jawaban tersebut, kulau mata itu redup secara bergantian di bawah temaram lampu minyak seakan menuntut penjelasan yang jauh lebih jujur dari sekedar kata “iba”. “Iba?” bisik Lucas ragu, dahi pria itu berkerut menahan rasa sakit. “Seorang putri kerajaan yang sangat mencintai dan mendukung suaminya, tidak mungkin mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan kompetitor suaminya hanya karena rasa iba,” Lucas mengucapkan dengan dingin. “Nyawamu jauh lebih berharga untuk tetap hidup daripada menjadi bangkai di hutan. Jadi diam dan beristirahatlah,” ujar Kara tegas. “Bagaimana… bisa aku mempercayaimu? Suamimu, Hans dan ibunya itu membenciku hingga ke tulang. Tidakkah kau menginginkan sesuatu? Mereka pasti ada maksud mengirimmu ke sini kan?” tanya Lucas. Bibir Kara terkatup rapat. Lidahnya kelu untuk menjelaskan segalanya. Namun, di detik berikutnya, sebuah fenomena ajaib kembali terjadi. Te
“Astaga Tuan, kami tidak berniat jahat. Saya bisa membantu menyelamatkannya!” ujar Kara meyakinkan. Perlahan-lahan Kara mendekat dengan sangat hati-hati, “Jadi Tuan, tolong lepaskan pelayan saya,” “Dengan segala hormat, Putri. Saya telah mengetahui niat busuk Anda dengan suami Anda!” Dugaan Kara benar. Pria ini adalah Pangeran Lucas–mantan putra mahkota sekaligus putra kedua permaisuri. Pria malang yang tahtanya direbut karena dinilai tidak sehat dan infertil hingga mahkota yang ditakdirkan untuknya sejak lahir jatuh ke tangan suami Charlotte–Hans, adik tiri Lucas. Kara kembali menatap lurus sang pengawal."Jika saya berniat jahat, saya tidak akan datang kemari hanya membawa seorang pelayan dan tanpa senjata!" tegas Kara, suaranya bergetar bersungguh-sungguh. Ia mengambil satu langkah lagi ke depan dengan tangan terbuka."Tetapi saya bukan bagian dari rencana busuk Hans! Pangeran Lucas kehabisan waktu. Kondisinya yang memburuk membuat detik-detik yang Anda pakai untuk mencuriga
‘Ah, aku mengingat wanita ini,’ batin Kara berbicara.Charlotte Brown. Putri mahkota terbuang pada serial drama pendek yang digemarinya.Kara menatap mata indah berwarna hijau peridot yang terus mengalirkan butiran air mata cantik menghiasi wajahnya. Dia sangat mengasihi nasib malang Charlotte karena difitnah melakukan percobaan pembunuhan pada anak selir suaminya yang baru lahir. Namun, Kara harus pulang. Dunia fana ini hanyalah fantasi, bukan dunia asli miliknya.Bagai mampu membaca pikiran Kara, Charlotte menangkup kedua rahang Kara dengan kuat. Dalam sekejap, pancar matanya berubah, memancarkan aura bengis dan dendam yang membara.“Pulanglah, jika kau mampu membalaskan dendamku dan mengamankan takhta milikku!” ujar Charlotte dengan suara yang menggema, meretakkan dimensi hampa tempat mereka berpijak.Detik berikutnya, kegelapan menelan kesadaran Kara.Kara membuka matanya dengan napas yang tersengal. Ia terbatuk hebat dengan dada yang terasa sesak tersayat kecewa dan amarah.Saat
“Dokter Armond? Untuk apa dia di sini?” gumam Kara, pelan.Kara yang semula menyandarkan kepala sambil asyik menonton drama pendek kolosal favoritnya, kini membenarkan kembali duduknya. Ia berusaha terlihat ramah di depan rivalnya.“Halo, dr. Kara. Kuharap, aku tidak mengganggu waktu istirahatmu,” ujar Armond.Kara Diana, seorang profesor bedah saraf sekaligus influencer kesehatan yang memiliki followers 7M di media sosial. Ia baru saja menyelesaikan operasi selama 36 jam nonstop.Wajah Kara terlihat sangat lelah dan dia tidak bergairah melakukan apapun, selain beristirahat. Kara tersenyum paksa dan menawarkannya duduk. “Tentu tidak, dr. Armond. Apa ada hal penting? Mari duduk dulu.”“Aku punya teh hijau. Mungkin saja kau menyukainya, dan…”Suara Armond menggantung. Ia menghela napas sebelum melanjutkan bicaranya.“Aku minta maaf karena telah mengecewakanmu. Jadi, terimalah maafku ini,” ujar Armond sambil menyodorkan sekotak teh.“Wah, cantik sekali. Terima kasih, dr. Armond,” puji K







