Chapter: 21. Bye Paris, a la Prochaine"Ya ampuun, Chrystal!"Seketika Chrystal kaget, itu kan suara Fio, mengapa tiba-tiba Fiola ada di sini? Sejak kapan dia ada di sini ya dan ngapain juga dia nyusul aku ke sini?Chrystal memandang ke sekelilingnya, semuanya terlihat gelap. Masih sama gelap seperti tadi, bahkan sekarang benar-benar sangat gelap. Tidak ada lagi lampu-lampu yang indah tadi. Lampu-lampu indah bentuk hati yang mengelilingi dirinya dan Ares, semuanya tiba-tiba hilang entah ke mana, yang ada hanya gelap. Chrystal melihat ke atas, di sana di atas atap juga gelap. Tidak ada lagi lampu-lampu yang tergantung indah berbentuk hati yang mengelilingi dirinya dan Ares, semuanya tiba-tiba menghilang begitu saja. Semuanya berubah menjadi gelap, benar-benar gelap. Tak ada setitik cahaya pun yang tampak.Chrystal kembali mencoba melihat ke langit di atas atap transparan itu, tapi Chrystal tidak melihat bintang-bintang yang tadi gemerlap bertaburan di langit malam di atas Kota Paris itu. Chrystal melihat ke luar jendela kac
Dernière mise à jour: 2022-12-23
Chapter: 20. Midnight in ParisCinta itu aneh .... Datangnya tak tau arah, dan tak kenal waktu,tak tau tempat berlabuh .... Tapi cinta itu berjuta rasanya .... ***Setelah menunggu cukup lama dalam antrean di depan lift, akhirnya Chrystal dan Ares pun berada di dalam lift yang akan membawa mereka menuju lantai dua La Tour Eiffel. Angin bertiup dingin saat Chrystal melangkahkan kaki keluar dari lift, tapi angin dingin itu terlupakan seketika. Kota Paris yang indah memukau tampak membentang di hadapannya. Kota Paris di malam hari yang bertabur cahaya lampu yang berwarna-warni, benar-benar telah menghipnotisnya dengan keindahan yang luar biasa, yang belum pernah dilihatnya. Chrystal sesaat terdiam, terpana dengan hati berbunga-bunga. Chrystal sangat bahagia. Ya, saat ini Chrystal sedang berada di atas kota cahaya ini. Dari balkon lantai dua monumen ini terlihat seluruh Kota Paris yang gemerlapan. Tampak di kejauhan Sungai Seine di bawah sana, airnya mengalir berkilauan dalam pantulan cahaya aneka warna lampu-la
Dernière mise à jour: 2022-07-16
Chapter: 19. La Tour EiffelChrystal menutup pintu kamar apartemen auntynya. Hari ini adalah hari terakhir Chrystal di Kota Paris ini, dan hari ini ia merasa sangat bahagia. Pagi hari ini ia disambut dengan sunrise yang indah di ufuk Timur Kota Paris ini. Lalu berjalan menyusuri Kota Paris di pagi hari bersama aunty yang sangat disayanginya. Petit dejeuner yang istimewa bersama aunty Vee yang sudah sekian lama dirindukan nya. Ya, aunty Vee memang selalu memanjakan nya sejak ia masih kecil dulu, aunty Vee sangat menyayangi nya. Menghabiskan waktu seharian bersama aunty Vee membuatnya benar-benar merasa sangat bahagia. Hari ini adalah hari pertama nya menyusuri jalan-jalan setapak di Kota Paris, tapi hari ini juga adalah hari terakhir nya berada di kota ini, bahkan hari terakhir nya di Prancis, karena besok pagi ia harus kembali pulang ke Jakarta. Besok pagi saat hari berganti, saat mentari pagi belum muncul, berarti aku sudah berada di dalam pesawat yang akan membawaku kembali pulang ke rumah. Besok aku akan k
Dernière mise à jour: 2022-07-09
Chapter: 18. Petit dejeunerChrystal dan auntynya berjalan perlahan menyusuri jalan Rue des archives menuju kafe Le Ju.’ Aunty Vee sering menikmati sarapan paginya di tempat ini, selain Les Marronnies, yang letaknya tidak jauh dari kafe Le ju’ ini. Kafe Le ju’ adalah salah satu kafe favorit di Kota Paris untuk menikmati sarapan kesukaan aunty Vee. Menurut aunty Vee, makanannya super duper lezat, tempatnya nyaman dan harganya bersahabat dengan kantong alias tidak terlalu mahal dibandingkan tempat lainnya. Kafe Le ju’ terletak di 16 Rue des archives di Kota Paris. Tidak sulit untuk menemukan tempat ini, selain berada di pusat kota tempat ini juga cukup terkenal. Cocok buat turis atau orang yang ingin makan enak dengan budget yang lebih ringan. Cuaca pagi cukup cerah karena mentari menampakkan sinarnya di ufuk cakrawala, menebarkan sedikit kehangatan di musim dingin yang terasa sangat dingin. Chrystal dan aunty Vee memakai mantel panjang yang tebal berlapiskan bulu angsa di dalamnya dengan selendang wol menutupi
Dernière mise à jour: 2022-06-05
Chapter: 17. Harus Segera Pulang“Lama amat sih lu ngangkat telepon gue, Chrys.” Suara Fiola terdengar dari seberang sana begitu Chrystal menerima panggilan video call darinya.“Lagian siapa suruh lu telepon gue pas gue lagi mandi.”“Gue jadi ga bersih nih mandinya," balas Chrystal.“Gila lu Chrys, beneran lu udah nyampe Paris?“ tanya Fiola tak percaya.“Iya dong, gimana keren ga? Keren kan, Fi?"“Widiiih keren, keren Chrys! Keren abis.”“Keren banget sih lu, Chrys!” Fiola terus nyerocos seperti mercon yang sumbunya baru saja disulut korek api.“Btw gue juga pengen dong Chrys, pengen liat sunrise di Paris nya.”“Masih ada ga Chrys sunrisenya?“ Fiola bertanya dengan tidak sabar.“Duuh gila, keren bet sih lu Chrys.” “Hehe, satu-satu napa Fi nanyanya.""Beneran nih lu pengen liat?“ tanya Chrystal yang membuat Fiola jadi semakin penasaran.“Ya iyalah Chrys, masa lu doang yang liat, ajak-ajak gue napa, Chrys!““Kasih liat ga ya?“ Chrystal sengaja menggoda Fiola, membuat Fiola tambah semakin penasaran.“Jangan canda lu
Dernière mise à jour: 2022-05-02
Chapter: 16. Bonjour ParisChrystal melihat jam yang terletak di atas meja di samping tempat tidurnya. Jarum jam itu menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Ia segera menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya lalu bangun dari tempat tidurnya yang besar kemudian berjalan menuju jendela besar yang ada di kamarnya. Ia membuka kedua tirai putih yang menutupi kedua jendela kamarnya itu dan menariknya ke sisi pinggir jendela.Di hadapannya tampak sebagian Kota Paris yang terbentang jauh di bawah sana, dan terlihat mulai semakin ramai. Matahari pagi mulai muncul dari kejauhan di ufuk timur Kota Paris. Bangunan pencakar langit di sekitar apartemen auntynya ini tampak masih diterangi lampu-lampu, demikian juga lampu-lampu jalanan dan taman-taman kota masih terlihat menyala. Chrystal melayangkan pandangannya jauh ke bawah, di sana tampak Menara Eiffel dari kejauhan. Menara itu terlihat begitu anggun berdiri tegak menjulang paling tinggi di antara bangunan-bangunan pencakar langit lainnya. Bangun
Dernière mise à jour: 2022-04-09

Bayangan di Balik The Obsidian Crown
Azalea Steffani Leandra adalah seniman muda berbakat yang menjalani hidup sederhana dan teratur hingga suatu malam kejadian yang tak terduga pun terjadi, tanpa sengaja dan tanoa diminta ia menjadi saksi pembunuhan di galeri tempatnya bekerja. Pelaku pembunuhan itu adalah Lucas Zander Maxime, bos mafia dingin dan berkuasa dari keluarga paling ditakuti, The Obsidian Crown. Dalam dunia Lucas, satu aturan tak pernah dilanggar: saksi harus dihilangkan. Namun, aturan itu runtuh ketika Lucas teringat permintaan terakhir ayahnya yang sekarat—melindungi seorang wanita bernama Azalea, tanpa alasan dan tanpa penjelasan, hanya peringatan bahwa jika Azalea mati, semuanya akan hancur.
Maka alih-alih membunuhnya, Lucas memilih menyandera Azalea, mengawasinya dari dekat, dan diam-diam melindunginya. Keputusan ini sekaligus ia manfaatkan untuk menolak perjodohan yang telah diatur keluarganya dengan Seraphina Caldwell, pewaris keluarga mafia ternama The Crimson Veil. Kepada dunia mafia, Lucas menyatakan ia memilih wanita biasa daripada wanita berdarah mafia.
Namun kebenaran tidaklah seperti itu, perlahan semuanya terungkap dan jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan. Jejak masa lalu, dokumen tersembunyi, dan nama yang dihapus dari sejarah keluarga Caldwell mengarah pada satu kenyataan mengejutkan: Azalea adalah pewaris sejati keluarga Seraphina Caldwell—putri yang selama ini dinyatakan hilang dan sengaja disembunyikan demi melindunginya dari dunia mafia. Lucas baru menyadari kebenaran itu setelah ayahnya meninggal, memahami bahwa perintah melindungi Azalea adalah amanat terakhir yang krusial.
Seiring waktu, tugas perlindungan berubah menjadi ikatan terlarang yang dipenuhi hasrat, ketakutan, dan pengkhianatan. Azalea jatuh hati pada pria yang seharusnya ia takuti—penyelamat sekaligus ancaman. Sementara itu, The Crimson Veil tak akan menerima penolakan perjodohan dan siap menumpahkan darah untuk merebut kembali pewaris mereka. Di tengah kekerasan dan rahasia kelam, Azalea harus memilih: melarikan diri dari takdir, atau menerima kebenaran tentang dirinya dan pria berbahaya yang berdiri di sisinya.
Lire
Chapter: Bab 21: Dua Minggu yang TerlewatDua minggu.Waktu yang tidak lama, namun cukup untuk mengubah cara seseorang bernapas.Lucas Zander Maxime menghitungnya tanpa sadar. Empat belas hari sejak terakhir kali ia melihat Azalea—bukan lewat laporan, bukan lewat bayangan samar di kepalanya, tetapi benar-benar melihatnya berdiri di hadapannya. Empat belas hari sejak rumahnya kembali terasa seperti bangunan kosong, meski penuh orang bersenjata.Hari itu berbeda.Tidak ada jadwal penyerangan. Tidak ada rapat darurat. Tidak ada darah yang harus dibersihkan dari lantai marmer.Untuk pertama kalinya setelah lama, Lucas memilih keluar dari persembunyian.Ia tidak membawa pasukan. Tidak ada Dante. Tidak ada pengawal yang mengikuti dari kejauhan. Ia mengenakan jaket sederhana, celana gelap, dan topi hitam dengan logo yang asing—bukan topi yang biasa ia pakai.Ia ingin menjadi orang lain.Atau setidaknya, terlihat seperti orang biasa.Galeri itu masih sama.Bangunan tua dengan jendela besar dan pintu kayu yang sedikit berderit saat d
Dernière mise à jour: 2026-02-17
Chapter: Bab 20: Dunia yang Tetap BerjalanHidup tidak pernah berhenti hanya karena satu orang memilih pergi. Lucas Zander Maxime memahami itu lebih dari siapa pun.Hari-hari setelah kepergian Azalea berjalan seperti biasa—atau setidaknya terlihat demikian dari luar. Rapat tetap berlangsung. Senjata tetap dibersihkan. Peta wilayah tetap diperbarui dengan tanda-tanda merah dan hitam. Nama-nama musuh terus bertambah, dan darah masih tumpah di sudut-sudut kota yang tidak pernah muncul di peta wisata.Obsidian Crown tetap berdiri.Dan Lucas tetap menjadi bosnya.Namun ada sesuatu yang berubah.Bukan di cara ia memimpin—melainkan di cara ia merasa.Ia masih turun ke lapangan. Masih berdiri paling depan saat negosiasi berubah menjadi ancaman. Masih menatap moncong senjata tanpa berkedip. Tapi sekarang, ada kehampaan yang aneh setiap kali peluru melesat terlalu dekat, setiap kali ledakan mengguncang tanah di bawah kakinya.Lucas menyadari sesuatu yang berbahaya.Ia tidak lagi takut mati.Bukan karena keberanian.Melainkan karena tida
Dernière mise à jour: 2026-02-16
Chapter: Bab 19: Surat yang DitinggalkanLangit sore berwarna kelabu, konvoi Obsidian Crown pun akhirnya memasuki rumah tempat persembunyian mereka. Terdengar bunyi mesin kendaraan yang dimatikan satu persatu. Lucas Zander Maxime dengan perban di dadanya kembali memerah. Jaket hitam yang dikenakannya sobek di sisi bahu, menyembunyikan luka tembak baru yang belum sempat ditangani dengan benar. “Bos, tim medis sudah siap,” ujar Dante cepat, mendekat sambil menahan lengan Lucas ketika tubuh itu sedikit oleng.“Nanti,” jawab Lucas singkat. Matanya langsung mengarah ke pintu rumah.Rumah itu sunyi, tidak seperti biasanya."Ada yang tidak beres ini," lirih Lucas.“Iya bos ada yang aneh,” gumam Dante.Lucas tidak menjawab lagi. Ia melangkah masuk, mendorong pintu dengan bahunya. Ruang tamu gelap. Lampu tidak dinyalakan. Udara terasa dingin, kosong, seolah rumah itu telah lama ditinggalkan.Lucas berhenti tepat di tengah ruangan, menahan napas.“Azalea?” panggilnya rendah.Tidak ada jawaban sama sekali.Dante memberi isyarat cepat
Dernière mise à jour: 2026-02-11
Chapter: Bab 18: Keinginan yang Tidak DiizinkanHari berlalu begitu cepat, sampai pada hari kelima berlalu tanpa adanya kabar. Tidak ada satu pun pesan, telepon. Tidak ada suara sepatu hitam Lucas yang biasanya bergema di lorong. Bahkan Dante atau bodyguard lainnya pun tidak muncul. Azalea menghela napas, "Lucas tidak bisa kupungkiri aku kangen.. " lirihnya masih menatap dari jendela ke luar, berharap yang ditunggu muncul. Ia beralih ke meja makan sambil menghela napas beberapa kali. Ia duduk di meja makan sendirian, piring sarapan di depannya masih utuh. Ia menatap makanan itu lama, lalu mendorongnya menjauh. Nafsu makannya hilang sejak hari kedua.“Aku hanya beban,” gumamnya pelan.Kalau ia benar-benar penting, pikirnya, seseorang pasti akan memberitahunya sesuatu. Setidaknya kabar singkat. Setidaknya kepastian bahwa Lucas masih hidup.Namun yang ia dapatkan hanyalah keheningan. Keheningan yang membuat pikirannya berjalan ke tempat-tempat gelap."Apakah aku sebeban itu, Lucas sampai kau memutuskan menghilangkan jejak? "Azalea
Dernière mise à jour: 2026-02-10
Chapter: Bab 17: Luka yang Belum SembuhPagi ini udara terasa lebih berat dari biasanya. Aroma antiseptik masih samar. Dan mesin monitor di sudut ruangan berdetak pelan, menjadi pengingat bahwa tubuh Lucas Zander Maxime belum sepenuhnya pulih.Tapi Lucas sudah rapih dengan kemeja hitam menutupi perban tebal di dadanya, ia mencoba untuk menahan rasa nyeri, dan mencoba bergerak dan mengabaikan nya. Kemudian pintu kamar terbuka perlahan.“Lucas,” suara Azalea terdengar lebih tegas dari biasanya, meski kekhawatiran jelas terpancar di matanya. “Kau seharusnya masih istirahat. Lucas tolong dengarkan aku..”Lucas tidak menoleh. Ia masih sibuk memasang holster senjata di pinggangnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya berpegangan pada meja untuk menahan tubuhnya agar tidak goyah.“Dante sudah menunggu,” jawabnya singkat.Azalea melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia berhenti tepat di hadapan Lucas, memandang perban di dadanya dengan perasaan sesak. “Dokter bilang kau belum boleh bergerak berat. Pelurunya memang
Dernière mise à jour: 2026-02-08
Chapter: Bab 16 : Perdebatan yang ManisKesadaran datang perlahan, Lucas Zander Maxime mulai terbangun bukan karena suara, bukan karena sentuhan, melainkan karena rasa perih yang menekan dadanya. Napasnya terasa berat. Pelan-pelan, Lucas membuka mata. Langit-langit putih menyambutnya, lampu redup tergantung di atas. Tubuhnya terasa lemah—lebih lemah dari yang ingin ia akui. Namun bukan itu yang membuat jantungnya berhenti sejenak."Jadi… dia di sini", lirihnya masih dengan lemah" Syukurlah dia tidak kenapa-kenapa,"sambungnya lagiTangannya bergerak perlahan, refleks ingin mengelus kepala Azalea. Ia ingin menyentuh rambut itu, menenangkan, memastikan bahwa ia nyata, bahwa ia aman.Namun tangannya berhenti di udara.Lucas mengurungkan niatnya.Ia menarik napas dalam-dalam, rahangnya mengeras. Ada perasaan lain yang bercampur dengan lega—amarah. Kekesalan. Ketakutan yang berubah menjadi dingin di dadanya.Azalea kabur.Ia mengabaikan semua peringatan. Mengabaikan bahaya. Mengabaikan dirinya.Dan Lucas tidak tahu mana yang
Dernière mise à jour: 2026-02-07
Chapter: 19. Langit Orange MerahCinta kadang tak butuh kata-kata ...Cinta adalah sebuah rasa ...Rasa yang indah tak terlukiskan oleh kata-kata ...Rasa yang kadang tak butuh rangkaian kata-kata indah Laurene melayangkan pandangannya ke penjuru kantin, tapi Sella belum terlihat. Ia ingat chat yang dikirim oleh Sella tadi katanya dia sudah sampai di kantin. Laurene terus melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin, berharap Sella akan muncul tetapi hasilnya nihil. Sella kenapa belum kelihatan juga ya? Bukannya tadi dia sendiri yang bilang udah sampai di kantin. ApaSellabelum sampai ke kantin tapi dia bilang udah sampai kantin ya?Dasar nih anak, paling suka ngerjain deh! Kalau tahu Sella belum datang,
Dernière mise à jour: 2021-12-25
Chapter: 18. Catatan Kecil untuk ShawnKeindahan yang terlihat di depan mata kadang kala hanyalah keindahan semu semata, yang mungkin saja akan sirna saat mentari tenggelam di balik kegelapan malam, dan menghilang saat gelap tersapu dan diterpa berkas cahaya mentari pagi hari yang merona... Sekarang sudah pukul tiga sore, tetapi Laurene belum bisa segera pulang ke rumahnya karena sore ini masih ada kegiatan ekskul paduan suara. Laurene membuka kunci pintu ruang musik, melangkah masuk, lalu meletakkan tas sekolahnya di atas meja di dalam ruang musik itu. Ruangan musik itu masih sepi, bahkan sangat sepi sehingga detik-detik jarum jam di dinding ruangan itu terdengar sangat jelas olehnya. Detik-detik jarum jam tersebut terus berdentang tiada hentinya, sesaat telah menyadarkan Laurene bahwa waktu terus berputar meninggalkan detik demi detik di belakangnya, dan
Dernière mise à jour: 2021-08-25
Chapter: 17. Tak PercayaLaurene masuk ke dalam kamarnya. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Laurene. Hari pertama ia masuk sekolah kembali setelah dua hari harus istirahat di rumah. Banyak catatan pelajaran yang tertinggal yang harus ia catat, ada juga beberapa tugas susulan yang harus segera ia selesaikan. Untunglah tubuhnya sudah lumayan pulih kembali, dan pusing di kepalanya pun sudah menghilang. Ia membawa segelas susu hangat dan roti rasa kopi yang tadi dibuatkan mama untuknya, lalu meletakkannya di atas meja belajarnya. Susu vanilla yang hangat terasa nyaman mengalir di tenggorokannya, namun roti rasa kopi di hadapannya tidak terlalu membuatnya berselera seperti biasanya. Terbayang kembali kejadian di sekolah tadi siang, terbayang kembali semua kata demi kata dari cerita Sella padanya tadi di ruang padus. Mereka berdua sengaja ngumpet di
Dernière mise à jour: 2021-08-08
Chapter: 16. Telpon dari SellaLaurene baru keluar dari kamar mandi, baru selesai mandi sore. Tubuhnya terasa jauh lebih segar sore ini. Air hangat yang tadi mengguyur tubuhnya, membuat sekujur tubuhnya sekarang terasa lebih segar. Ditambah dengan tidur yang cukup semalam, asupan makanan yang bergizi dan vitamin dari dokter Adrian. Sore ini, Laurene benar-benar merasa jauh lebih sehat. Kepalanya sudah tidak terasa pusing lagi, dan tubuhnya juga tidak terasa lemas tak bertenaga lagi. Ia merasa semuanya terasa jauh lebih baik. Laurene mulai merapikan buku-buku pelajarannya, lalu ia melihat jadwal pelajaran untuk besok, dan memasukkan buku-buku yang harus dibawanya ke sekolah besok. Ia memeriksa kembali semua pekerjaan rumahnya untuk besok, untunglah pekerjaan rumah buat besok sudah selesai ia kerjakan semuanya. Besok aku akan masuk sekolah kembali. Tidak
Dernière mise à jour: 2021-08-02
Chapter: 15. Jarak yang Tak BerjarakKadang jarak itu sulit didefinisikan ....Dekat tak berjarak kadang justru membuat jarak ....Jauh berjarak kadang membuat tak ada jarak. Laurene sudah mencoba untuk tidur kembali, tapi matanya tidak mau diajak kompromi. Ia tidak bisa tidur kembali. Ia pun bangun dari tempat tidurnya, dan minum susu panas yang dibuatkan mama untuknya, lalu menyalakan laptopnya dan memutar lagu dari penyanyi kesayangannya, Taylor Swift. Laurene mencoba merapikan meja belajarnya, satu demi satu buku-buku yang berserakan di atas meja belajarnya itu dirapikannya. Laurene memandang boneka teddy bear warna pink di lantai di samping lemari bukunya itu, di sana masih tergeletak beberapa balon yang berwarna warni di samping boneka teddy bear yang besar itu. Ia melihat kembali kartu ucap
Dernière mise à jour: 2021-07-28
Chapter: 14. Hari Libur SekolahKring ... kring ... kring. Suara jam beker di atas meja kecil di samping tempat tidur Laurene berbunyi kencang, membuat Laurene terbangun dari tidurnya. Tadi malam Laurene tidur sangat nyenyak. Entah berapa jam ia sudah tertidur, terasa lama sekali. Pagi ini tubuhnya terasa lebih segar, walaupun masih sedikit pusing. Laurene ingin segera bangun dan mandi lalu bergegas berangkat ke sekolah seperti biasanya, tapi semua itu tidak jadi ia lakukan. Hari ini ia tidak bisa pergi ke sekolah, mama tidak mengizinkannya pergi ke sekolah. Kemarin dokter Adrian sudah membuatkan surat izin untuk tidak pergi ke sekolah agar Laurene hari ini dapat beristirahat di rumah. Mama juga sudah menitipkan surat dokter itu pada Sella untuk disampaikan ke Bu Lela, guru wali kelas mereka. Apa yang akan aku lakukan hari ini ya? Berdiam diri d
Dernière mise à jour: 2021-07-22