Beranda / Mafia / Bayangan di Balik The Obsidian Crown / Bab 20: Dunia yang Tetap Berjalan

Share

Bab 20: Dunia yang Tetap Berjalan

Penulis: Audreynatasha20
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-16 23:15:05

Hidup tidak pernah berhenti hanya karena satu orang memilih pergi. Lucas Zander Maxime memahami itu lebih dari siapa pun.

Hari-hari setelah kepergian Azalea berjalan seperti biasa—atau setidaknya terlihat demikian dari luar. Rapat tetap berlangsung. Senjata tetap dibersihkan. Peta wilayah tetap diperbarui dengan tanda-tanda merah dan hitam. Nama-nama musuh terus bertambah, dan darah masih tumpah di sudut-sudut kota yang tidak pernah muncul di peta wisata.

Obsidian Crown tetap berdiri.

Dan Lucas
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 21: Dua Minggu yang Terlewat

    Dua minggu.Waktu yang tidak lama, namun cukup untuk mengubah cara seseorang bernapas.Lucas Zander Maxime menghitungnya tanpa sadar. Empat belas hari sejak terakhir kali ia melihat Azalea—bukan lewat laporan, bukan lewat bayangan samar di kepalanya, tetapi benar-benar melihatnya berdiri di hadapannya. Empat belas hari sejak rumahnya kembali terasa seperti bangunan kosong, meski penuh orang bersenjata.Hari itu berbeda.Tidak ada jadwal penyerangan. Tidak ada rapat darurat. Tidak ada darah yang harus dibersihkan dari lantai marmer.Untuk pertama kalinya setelah lama, Lucas memilih keluar dari persembunyian.Ia tidak membawa pasukan. Tidak ada Dante. Tidak ada pengawal yang mengikuti dari kejauhan. Ia mengenakan jaket sederhana, celana gelap, dan topi hitam dengan logo yang asing—bukan topi yang biasa ia pakai.Ia ingin menjadi orang lain.Atau setidaknya, terlihat seperti orang biasa.Galeri itu masih sama.Bangunan tua dengan jendela besar dan pintu kayu yang sedikit berderit saat d

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 20: Dunia yang Tetap Berjalan

    Hidup tidak pernah berhenti hanya karena satu orang memilih pergi. Lucas Zander Maxime memahami itu lebih dari siapa pun.Hari-hari setelah kepergian Azalea berjalan seperti biasa—atau setidaknya terlihat demikian dari luar. Rapat tetap berlangsung. Senjata tetap dibersihkan. Peta wilayah tetap diperbarui dengan tanda-tanda merah dan hitam. Nama-nama musuh terus bertambah, dan darah masih tumpah di sudut-sudut kota yang tidak pernah muncul di peta wisata.Obsidian Crown tetap berdiri.Dan Lucas tetap menjadi bosnya.Namun ada sesuatu yang berubah.Bukan di cara ia memimpin—melainkan di cara ia merasa.Ia masih turun ke lapangan. Masih berdiri paling depan saat negosiasi berubah menjadi ancaman. Masih menatap moncong senjata tanpa berkedip. Tapi sekarang, ada kehampaan yang aneh setiap kali peluru melesat terlalu dekat, setiap kali ledakan mengguncang tanah di bawah kakinya.Lucas menyadari sesuatu yang berbahaya.Ia tidak lagi takut mati.Bukan karena keberanian.Melainkan karena tida

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 19: Surat yang Ditinggalkan

    Langit sore berwarna kelabu, konvoi Obsidian Crown pun akhirnya memasuki rumah tempat persembunyian mereka. Terdengar bunyi mesin kendaraan yang dimatikan satu persatu. Lucas Zander Maxime dengan perban di dadanya kembali memerah. Jaket hitam yang dikenakannya sobek di sisi bahu, menyembunyikan luka tembak baru yang belum sempat ditangani dengan benar. “Bos, tim medis sudah siap,” ujar Dante cepat, mendekat sambil menahan lengan Lucas ketika tubuh itu sedikit oleng.“Nanti,” jawab Lucas singkat. Matanya langsung mengarah ke pintu rumah.Rumah itu sunyi, tidak seperti biasanya."Ada yang tidak beres ini," lirih Lucas.“Iya bos ada yang aneh,” gumam Dante.Lucas tidak menjawab lagi. Ia melangkah masuk, mendorong pintu dengan bahunya. Ruang tamu gelap. Lampu tidak dinyalakan. Udara terasa dingin, kosong, seolah rumah itu telah lama ditinggalkan.Lucas berhenti tepat di tengah ruangan, menahan napas.“Azalea?” panggilnya rendah.Tidak ada jawaban sama sekali.Dante memberi isyarat cepat

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 18: Keinginan yang Tidak Diizinkan

    Hari berlalu begitu cepat, sampai pada hari kelima berlalu tanpa adanya kabar. Tidak ada satu pun pesan, telepon. Tidak ada suara sepatu hitam Lucas yang biasanya bergema di lorong. Bahkan Dante atau bodyguard lainnya pun tidak muncul. Azalea menghela napas, "Lucas tidak bisa kupungkiri aku kangen.. " lirihnya masih menatap dari jendela ke luar, berharap yang ditunggu muncul. Ia beralih ke meja makan sambil menghela napas beberapa kali. Ia duduk di meja makan sendirian, piring sarapan di depannya masih utuh. Ia menatap makanan itu lama, lalu mendorongnya menjauh. Nafsu makannya hilang sejak hari kedua.“Aku hanya beban,” gumamnya pelan.Kalau ia benar-benar penting, pikirnya, seseorang pasti akan memberitahunya sesuatu. Setidaknya kabar singkat. Setidaknya kepastian bahwa Lucas masih hidup.Namun yang ia dapatkan hanyalah keheningan. Keheningan yang membuat pikirannya berjalan ke tempat-tempat gelap."Apakah aku sebeban itu, Lucas sampai kau memutuskan menghilangkan jejak? "Azalea

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 17: Luka yang Belum Sembuh

    Pagi ini udara terasa lebih berat dari biasanya. Aroma antiseptik masih samar. Dan mesin monitor di sudut ruangan berdetak pelan, menjadi pengingat bahwa tubuh Lucas Zander Maxime belum sepenuhnya pulih.Tapi Lucas sudah rapih dengan kemeja hitam menutupi perban tebal di dadanya, ia mencoba untuk menahan rasa nyeri, dan mencoba bergerak dan mengabaikan nya. Kemudian pintu kamar terbuka perlahan.“Lucas,” suara Azalea terdengar lebih tegas dari biasanya, meski kekhawatiran jelas terpancar di matanya. “Kau seharusnya masih istirahat. Lucas tolong dengarkan aku..”Lucas tidak menoleh. Ia masih sibuk memasang holster senjata di pinggangnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya berpegangan pada meja untuk menahan tubuhnya agar tidak goyah.“Dante sudah menunggu,” jawabnya singkat.Azalea melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia berhenti tepat di hadapan Lucas, memandang perban di dadanya dengan perasaan sesak. “Dokter bilang kau belum boleh bergerak berat. Pelurunya memang

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 16 : Perdebatan yang Manis

    Kesadaran datang perlahan, Lucas Zander Maxime mulai terbangun bukan karena suara, bukan karena sentuhan, melainkan karena rasa perih yang menekan dadanya. Napasnya terasa berat. Pelan-pelan, Lucas membuka mata. Langit-langit putih menyambutnya, lampu redup tergantung di atas. Tubuhnya terasa lemah—lebih lemah dari yang ingin ia akui. Namun bukan itu yang membuat jantungnya berhenti sejenak."Jadi… dia di sini", lirihnya masih dengan lemah" Syukurlah dia tidak kenapa-kenapa,"sambungnya lagiTangannya bergerak perlahan, refleks ingin mengelus kepala Azalea. Ia ingin menyentuh rambut itu, menenangkan, memastikan bahwa ia nyata, bahwa ia aman.Namun tangannya berhenti di udara.Lucas mengurungkan niatnya.Ia menarik napas dalam-dalam, rahangnya mengeras. Ada perasaan lain yang bercampur dengan lega—amarah. Kekesalan. Ketakutan yang berubah menjadi dingin di dadanya.Azalea kabur.Ia mengabaikan semua peringatan. Mengabaikan bahaya. Mengabaikan dirinya.Dan Lucas tidak tahu mana yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status