MasukMenghabiskan waktu bersama memang begitu menyenangkan. Tidak terasa langit sudah berubah gelap. Sekarang saatnya Darius mengantar Aurora pulang.Seperti sebelumnya, Darius mengantar Aurora sampai di depan gerbang rumah tetangganya. Berjarak sekitar dua rumah agar mobil Darius tidak nampak pada CCTV rumahnya."Aku pulang dulu ya, Dad." Pamit Aurora membuka sabuk pengaman."Ya, sampai ketemu lain waktu my sweety. Terima kasih untuk hari ini," jawab Darius. Betapa pria seperti Darius itu langka. Berterima kasih dan merasa menghabiskan waktu bersama itu adalah hal yang sangat spesial."Ya udah, aku pergi sekarang."Aurora mencium pipi Darius sebelum ke luar mobil. Dan sempat menengok lewat kaca mobil untuk melambaikan tangan.Mobil Darius berjalan pergi. Aurora berjalan masuk ke dalam rumahnya. Tanpa gadis itu sadari, rupanya mobil Dean ada di belakang mobil Darius dengan jarak tidak terlalu jauh. Mendapati anak gadisnya ke luar dari sebuah mobil. Dean berhenti, ia mematikan mesin dan mem
"Ahhhh ... akhirnya sampe rumah juga. Hufff ... capeknya."Darius merenggangkan badan. Ia tarik dasinya ke bawah agar sedikit lebih longgar. Dan membuka dua kancing kemeja bagian atas.Spontan Aurora berbalik badan saat dada Darius sedikit terlihat. Darius yang melihat itu menjadi sedikit heran. Ini anak kenapa? Biasanya bertingkah gila. Kenapa sekarang malu-malu mau. Pasalnya, Aurora berbalik badan tapi ia juga sedikit melirik. Ah, aneh-aneh saja tingkah gadis ini."Kamu kenapa, Ra?" tanya Darius sok tidak tahu."Nggak apa-apa," jawab Aurora singkat. Malu dong kalau dia harus mengaku jika ia malu karena melihat Darius membuka kancing baju."Ohh ... yaudah. Saya mau mandi dulu. Gerah ini. Rasanya pengen saya buka semua baju ini biar ilang gerahnya."Mata Aurora melotot mendengar Darius berkata membuka semua bajunya. Haduu ... kan ini berbahaya. Tidak boleh melakukan pergaulan bebas.Pura-pura tidak terkejut. Aurora berjalan menuju kursi. Ia ambil remot lalu menyalakan televisi."Ngapa
Berita tentang kematian Dona menyebar begitu cepat dan langsung menjadi viral. Berita itu juga sampai di telinga Darius. Ia melihat sosial media dan mendapati terjadi sesuatu di kampus tempat Aurora sekolah.Banyak cerita mulai bermunculan. Tentang siapa Dona. Tentang Brandon dan keluarganya. Berserta cerita-cerita yang berhubungan dengan mereka. Termasuk kisah yang berhubungan dengan Aurora.Mendengar terjadi hal buruk pada Aurora. Darius langsung menghubungi gadis itu. Ia mengirim pesan tapi Aurora tidak membuka pesannya. Ia telfon, Aurora juga tidak menjawab. Darius mengirim voice note juga tidak dibuka. Aurora di dalam kamar mandi. Sedang ponselnya berada di kamar."Ra, kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja. Ya Tuhan, lindungi dia." Darius mengoceh sendiri.Sebal karena telfonnya tidak diangkat. Namun ia juga khawatir jika terjadi hal buruk pada Aurora jadi gadis itu tidak menjawab ponselnya.Tak bisa sabar dan sudah terlalu khawatir. Darius pergi menuju kampus Aurora. Di sana san
Dari atas balkon Brandon melihat tubuh Dona yang sudah tergeletak tidak bernyawa. Darah yang ke luar dari tubuh Dona laksana air kolam yang membasahi tubuhnya.Brandon melihat ke kanan dan ke kiri. Mencari tahu apakah di sana ada orang atau tidak. Menyadari jika tidak ada satu pun orang di sana. Brandon segera pergi untuk menghilangkan jejak.Ia tak berniat membunuh Dona. Ia juga tak menyangka jika akan seperti ini jadinya. Brandon memang tidak ingin bertanggung jawab. Juga tak peduli pada nasib Dona. Bahkan jika Dona mati pun Brandon tak peduli. Namun bukan berarti ia ingin Dona mati dengan cara seperti ini. Mati di tangannya. Brandon tak mau masuk penjara.Satu hal yang ada di pikiran Brandon saat ini. Sial, hidupnya menjadi sial karena hal ini. Karena Dona hamil. Harusnya ia tidak pernah mengenal Dona. Harusnya ia tidak pernah mendekati Dona. Bukannya sadar jika dirinya bersalah. Bukannya merasa bersalah atas kematian Dona. Brandon malah merasa ia telah tertimpa hal buruk karena ga
[ Nggak nyangka, ternyata mereka sebejat itu. Keliatannya doang baik-baik. Tapi ternyata busuk. ][ Maklum lah. Orang cantik dan ganteng mah bebas. Mau kumpul kebo, mau kumpul sapi. Yang penting enak. Hahahaha .... ][ Mentang-mentang populer di kampus. Jadi bisa berbuat apa aja. Dasar bejat. ][ Tidak bermoral. ][ Kalo punya Brandon masih kurang. Gue bersedia puasin. ][ Woi, Ra. Muncul lo. Jangan sembunyi. Udah kayak kecoak aja. ][ Ambil tuh testpack lo. Siapa yang mau nyentuh bekas pipis lo. ][ Ciuman di kampus. Test hamil di kampus. Bikin anak kayaknya di kampus juga nih anak. Sekalian aja ntar lahiran di kampus. ]Semua komentar-komentar buruk mahasiswa di group berkumpul menjadi satu. Seolah-olah mereka suci dan tidak pernah melakukan kesalahan. Menghakimi orang lain tanpa mencari tahu fakta yang sebenarnya."Chik, gimana ini?" Aurora bingung harus berbuat apa. Kenapa situasi jadi seburuk ini."Ra, kayaknya mereka nggak bisa ditenangkan dulu deh. Lo libur aja untuk hari ini.
"Hufff ... semoga hari ini lebih baik. Gue harus lebih waspada lagi dari si brengsek itu."Aurora berbicara sendiri. Meyakinkan diri untuk lebih waspada hari ini. Ia mulai memasuki kampus. Banyak mahasiswa yang datang lebih dulu darinya.Alih-alih hari ini akan lebih baik. Baru mulai saja Aurora sudah merasakan gelagat aneh. Semua mahasiswa melihat sinis ke arahnya. Memandang dengan tatapan jijik dan culas. Keadaan ini seolah lebih buruk dari kemarin.'Ada apa ini? Kenapa mereka semua ngeliat gue kayak gitu?' pikir Aurora. Tapi ia tak mau terlalu peduli. Aurora terus berjalan masuk ke dalam kampus."Raaa ... " dari jauh Chika berteriak sembari berlari ke arahnya."Iiiiyaa, Chikaaaa. Nggak perlu teriak-teriak gitu. Gue nggak budek." Aurora heran kenapa masih pagi Chika sudah begitu hebohnya."Ihh ... Lo tuh ya. Malah santai. Tuh lihat group." Wajah Chika begitu cemas. Tanpa bertanya Aurora langsung membuka ponselnya.Spontan mata Aurora melotot. Betapa ia terkejut setelah melihat group







