FAZER LOGIN"Om, mau jadi pacarku??" "Pacar? Saya ini lebih cocok jadi Ayah kamu, Ra. Ketimbang jadi pacar." "Nggak apa-apa, Om. Kan pacaran sama sugar daddy lagi musim." "Memangnya kamu nggak tau sugar daddy itu apa? Sugar daddy itu om om nakal yang suka sama gadis genit kayak kamu." "Nggak apa-apa. Aku mau jadi gadis genitnya. Om, mau nggak jadi om-om nakalnya?" Darius pria dewasa menjalin hubungan dengan Aurora anak kuliahan centil dan manja. Bagaimana cinta beda usia ini berjalan?
Ver mais"Om, mau jadi pacarku nggak?"
Tanya Aurora berani. Entah setan apa yang menempel pada gadis itu sehingga dia berani mengajak Darius Edmund, pria berumur tiga puluh delapan tahun yang baru dikenalnya itu untuk berpacaran dengannya. Darius Edmund sendiri lebih pantas menjadi Ayahnya Aurora ketimbang pacarnya. Ya walaupun wajah Darius bisa dibilang sangat tampan dan mempesona.
Darius tertawa kecil. "Pacar? Kamu yakin? Saya ini lebih cocok jadi Ayah kamu loo ketimbang jadi pacar."
Jawab Darius enteng. Dia duduk pada sofa panjang berwarna pastel di apartementnya. Batinnya sedikit terkejut mendengar ajakan dari gadis kecil yang baru saja di temuinya itu. Anak kecil seumur jagung ini, bagaimana bisa seberani itu mengajaknya pacaran. Otak generasi sekarang memang berbeda.
"Ya nggak apa-apa, Om. Kan pacaran sama Sugar Daddy lagi musim," sahut Aurora.
Gadis itu sedang duduk di sebelah Darius saat mengatakan bahwa dia ingin berpacaran dengan pria tersebut. Aurora duduk bersila atas sofa. Tubuhnya menghadap Darius dengan memasang mimik wajah selucu boneka salju.
"Sugar Daddy. Memangnya kamu tidak tahu Sugar Daddy itu apa? Sugar Daddy itu laki-laki dewasa nakal yang suka sama gadis kecil genit kaya kamu."
Darius mencoba menjelaskan agar gadis itu sedikit takut. Jika dibilang mengerti, sepertinya Aurora sedikit banyak sudah tahu tentang apa itu istilah Sugar Daddy. Tidak mungkin anak jaman sekarang tidak tahu tentang istilah itu.
Darius hanya memperjelas kondisi jika hubungan antara Sugar Daddy dan Sugar Baby itu masuk dalam ranah dewasa. Namun respon tidak terduga justru datang dari Aurora setelah Darius mengatakannya lebih jelas. Tiba-tiba saja Aurora merubah posisinya menjadi duduk di atas pangkuan Darius. Tubuhnya dia hadapkan ke arah Darius hingga kini keduanya menempel dan berhadapan.
Darius merasa tidak nyaman? Sudah jelas. Tapi bukan posisi dan wajah cantik Aurora yang paling menganggu Darius sekarang. Melainkan adik kecilnya yang di duduki Aurora secara tiba-tiba sekarang sedang berproses berubah menjadi adik besar karena tekanan dari tempat sensitive milik gadis itu.
"Iya, aku nggak keberatan jadi gadis kecil yang genit. Nahh ... Om mau nggak jadi laki-laki dewasa yang nakal?" tanya Aurora.
Aurora tidak terlihat takut sama sekali. Justru Darius yang sekarang menjadi takut. Takut akan terlena pada kenakalan dari gadis yang sekarang ada di atas pangkuannya itu, lalu melakukan hal yang tidak-tidak.
Masalahnya, sudah sembilan belas tahun Darius tidak menyentuh seorang wanita. Sejak berpisah dengan pacarnya semasa sekolah dahulu. Darius belum menyukai gadis lain. Dan jika tiba-tiba dihadapkan dalam kondisi kritis seperti ini. Kucing mana yang tidak menggarong jika diberi ikan. Terlebih ikannya begitu cantik dan segar.
"Kamu kenapa berani seperti ini? Saya ini laki-laki normal. Kalau saya kalap kamu bisa saya makan, Ra."
Darius terbata. Detakan jantungnya mulai berdebar tidak beraturan. Tubuhnya menikmati perlakuan ini namun otaknya masih terlalu sadar untuk tidak mengikuti hasratnya. Darius tidak mau dianggap sebagai pedofil.
"Kenapa aku harus takut? Om Darius orang yang baik," jawab Aurora santai.
Bahkan mata gadis itu terus menatap pada manik coklat terang milik Darius. Kedua telapak tangannya yang mungil juga dengan berani membelai bulu wajah Darius yang mulai tumbuh. Bagaimana Darius tidak semakin terlena?
"Orang baik kalau dihadapkan dengan hal seperti ini bagaimana bisa jadi baik? Kamu terus berusaha memancing ikan."
"Hmm ... benar. Kuharap aku dapat ikan yang besar," sahut Aurora dengan tertawa kecil.
Darius juga tertawa kecil. Belum setengah malam dia bersama dengan gadis ini, tapi otaknya sudah beberapa kali dikejutkan oleh ucapan dan tingkah laku Aurora yang nakal. Setelah tertawa sejenak, Darius terdiam, bukan karena hanyut dalam pusaran hasrat yang sedang berusaha menariknya ke dalam. Melainkan dia sedang berusaha mempertahankan akal sehatnya untuk tidak mengikuti alur yang sedang dibuat oleh gadis kecil di depannya.
**
Empat jam yang lalu, Darius baru saja datang kembali dari luar negeri setelah dua puluh tahun lamanya pergi. Perut yang lapar membawanya menuju salah satu restaurant steak terkenal di kota itu. Hujan turun sangat deras, beberapa kilat juga terlihat menyambar. Sebelum menuju apartement yang sudah dia siapkan sebulan sebelum dia datang. Darius memilih mengisi perutnya dahulu dari pada nanti dia harus ke luar lagi cari makan.
Setelah ke luar dari mobil, dengan terburu Darius berlari kecil menuju teras restaurant. Setelah berada di teras, tangannya menyapu air yang membasahi jaz hitamnya sebelum masuk ke dalam restaurant. Saat melakukan itu ujung mata Darius tertarik oleh sesuatu yang aneh di ujung beranda. Seorang gadis sedang duduk berjongkok di lantai teras restaurant. Baju dan rambutnya basah kuyup. Maskara yang dia pakai juga tampak luntur membentuk lingkaran bundar di sekitar matanya. Karena kasihan, Darius mendekati gadis itu.
"Dek, apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya setelah menepuk ringan pundak gadis itu.
"Aku laper, Om. Mau makan tapi nggak punya uang," jawab gadis itu tersenyum sedih.
Oo ... kasihan sekali batin Darius. Tapi jika tidak punya uang kenapa dia memilih restaurant mahal seperti ini. Gadis yang aneh. Entahlah, Darius tidak mau berpikir banyak. Mungkin dia memang sangat pemilih.
"Ayo masuk! Saya belikan kamu makan," ajak Darius.
"Makasih, Om." Senyuman mendadak muncul pada raut wajah gadis itu begitu Darius mengajaknya makan.
Darius dan gadis yang belum dia ketahui namanya tersebut sudah duduk pada salah satu meja di dalam restaurant. Tak lama kemudian pelayan membawakan makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya. Seperti manusia yang belum makan satu bulan, gadis itu langsung memakan steak yang ada di depannya. Darius menatapnya aneh. Beberapa pertanyaan sederhana muncul di kepalanya saat ini.
"Enak ya?" tanya Darius. Gadis itu hanya mengangguk. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanan.
"Rumah kamu di mana? Setelah ini saya antar kamu pulang?" lanjut pria itu lagi.
Setelah mendengar kata pulang. Gadis itu berhenti makan. Selera makannya seperti tiba-tiba sirna.
"Aku nggak punya rumah, Om."
Tidak punya rumah? Bagaimana bisa begitu. Darius saja tahu jika baju yang dikenakan gadis itu adalah brand mahal walaupun hanya sekedar kaos putih dan rok pendek berwarna denim. Dilihat dari separuh tubuhnya, bisa terlihat jika gadis ini anak dari orang kaya. Kulit putih cerah terawat. Hanya wajahnya saja tidak terlihat bagus karena make up yang luntur.
"Saya tahu kamu punya. Kenapa kamu ada di sini saat hujan lebat begini? Orang tuamu nggak nyariin?" tanya Darius.
"Enggak akan. Pokoknya aku nggak mau pulang. Titik, " jawab gadis itu tegas.
"Lalu?" Darius balik bertanya.
Kini gadis itu memandang dengan raut wajah kasihan. Sebentar dia mengangkat kedua pundaknya pertanda bahwa gadis itu juga tidak tahu mau ke mana. Darius menghela nafas, dia bingung harus bersikap apa.
Kenapa dia harus terjebak dalam situasi seperti ini? Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Di luar hujan deras. Gadis ini tidak membawa tas atau apa pun. Dengan tubuh yang dirasa cukup lumayan ini, kalau berada sendirian di luar sana. Entah apa yang akan terjadi padanya. Darius bernafas besar sebelum akhinya kembali bertanya.
"Nama kamu siapa?"
"Aurora, Om."
"Kamu mau ikut pulang sama saya?"
Lantai tiga puluh yang biasanya sunyi dan berwibawa mendadak terasa mencekam. Di dalam ruangan kerja Dewa, seorang wanita paruh baya dengan setelan tweed Chanel dan tatanan rambut sasak sempurna sedang duduk di kursi kebesaran Dewa. Nyonya Martha Dewangga. Matanya yang tajam bak elang langsung menghunjam ke arah Dewa dan Chika yang baru saja masuk."Keluar dari gedung di jam kerja hanya untuk makan bubur pinggir jalan, Dewa? Kamu sudah kehilangan akal sehat?" suara Martha dingin, bergetar karena amarah yang tertahan.Dewa berdiri tegak, tangannya yang tadi sempat santai kini kembali kaku di samping tubuh Ibunya. "Ibu, lambung saya sedang bermasalah. Makanan di kantor terlalu berat.""Dan kamu membiarkan pelayan ini membawamu ke tempat kumuh seperti itu?" Martha menunjuk Chika dengan dagunya, seolah Chika adalah kuman yang baru saja menyerang putranya. "Rahmat bilang dia hanya staf kebersihan. Kenapa dia punya akses begitu dekat dengan kamu?"Chika menunduk sedalam mungkin. Ia bisa mer
Siang itu, matahari Jakarta berada tepat di puncaknya, memanggang aspal Sudirman hingga tampak bergelombang karena panas. Di lantai tiga puluh, pendingin ruangan bekerja ekstra keras, namun suasana di dalam ruang kerja Dewa terasa lebih gerah daripada suhu di luar.Dewa tampak gelisah. Wajahnya yang tadi pagi sudah sedikit segar, kini kembali menekuk. Ia berkali-kali memijat ulu hatinya sambil menatap layar monitor dengan tatapan kosong. Rapat koordinasi dengan tim legal baru saja selesai, dan Dewa tidak menyentuh makan siang katering premium yang disediakan Rahmat."Pak, Bapak belum makan," tegur Chika yang sedang mengganti bunga di vas sudut ruangan. Ia memperhatikan nampan makanan mewah berisi wagyu steak dan salad organik itu masih utuh."Saya tidak selera," jawab Dewa pendek. Suaranya terdengar agak serak."Bapak mau pingsan lagi kayak semalam? Nanti saya nggak mau ya mijit perut Bapak lagi. Capek," sindir Chika tanpa rasa takut.Dewa mendongak, menatap Chika dengan tajam. "Kamu
Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit menyentuh kelopak mata Chika, memaksanya terbangun. Ia mengerjap, menyadari dirinya tidak terbangun di atas kasur busa tipis kos-kosannya, melainkan di atas sofa kulit Italia yang empuk. Dan yang lebih mengejutkan, sebuah jas wol berwarna charcoal—yang baunya sangat maskulin dan akrab—menyelimuti tubuhnya.Chika terduduk tegak, jantungnya berpacu. Ia melirik ke arah meja kerja. Dewa sudah di sana, duduk rapi dengan kemeja baru yang entah kapan ia ambil dari ruang ganti pribadinya. Pria itu sedang menyesap kopi, matanya tertuju pada layar tablet seolah insiden "cokelat murah" semalam tidak pernah terjadi."Sudah bangun?" tanya Dewa tanpa menoleh. Suaranya kembali dingin, namun tidak setajam biasanya.Chika segera berdiri, merapikan seragam birunya yang kusut. "Maaf, Pak. Saya... saya ketiduran. Harusnya saya tidak boleh di sini.""Kamu memang tidak boleh di sini kalau hanya untuk tidur," Dewa meletakkan tabletnya dan
Malam di lantai tiga puluh biasanya hanya menyisakan kegelapan yang dipantulkan oleh gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Namun bagi Chika, malam ini adalah lembur paksa. Bukan karena perintah Dewa, melainkan karena kesalahannya sendiri yang menumpahkan sebotol tinta printer di atas karpet ruang arsip saat mencoba merapikan berkas yang diminta Rahmat.Setelah hampir dua jam berlutut dan menggosok karpet hingga tangannya memerah, Chika akhirnya menyerah. Ia berjalan menuju pantry untuk mencuci tangannya yang bernoda hitam. Saat melewati koridor menuju ruang kerja Dewa, ia melihat cahaya redup merayap dari balik pintu jati yang sedikit terbuka.Jam satu pagi? Dia masih di sini?Chika berniat lewat begitu saja. Urusan Dewa bukan urusannya. Namun, sebuah suara aneh menghentikan langkahnya. Bukan suara ketikan keyboard atau gumaman telepon, melainkan suara napas yang pendek dan berat, diikuti bunyi denting kaca yang bersentuhan dengan meja.Didorong oleh rasa ingin tahu yang lebih besar
Dean Harisson, ayah Aurora setiap hari berkeliling kota mencari putrinya yang kabur dari rumah. Dean meninggalkan pekerjaannya hanya untuk fokus mencari putri semata wayangnya tersebut.Sebenarnya Dean bisa hanya menyuruh anak buahnya saja untuk mencari Aurora. Tapi rasa sayangnya terhadap putrinya
Sudah seminggu Aurora tinggal di rumah Darius. Sejak melihat drama rumah tangga itu. Sekarang Aurora rajin bangun pagi. Gadis itu sudah ada di dapur begitu Darius keluar dari kamar."Lagi apa, Ra?" tanya Darius."Lagi bikinin kopi buat, Om."Darius terheran. Rupanya karena drama rumah tangga dampak
Ting !!!! Ponsel Darius berbunyi. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk. Tapi Darius sudah tahu nomor itu milik siapa karena wajah si pemilik nomor terpampang jelas.[ Hello, my handsome sugar daddy. ]Darius tersenyum membaca pesan dari Aurora. Ia suka Aurora memanggilnya tampan, ia suka Aur
Suasana di dalam mobil malam ini begitu tenang. Baru kali ini mereka setenang ini saat bersama. Biasanya Aurora akan seperti chanel radio yang tidak pernah berhenti siaran.Meski Aurora setuju, entah kenapa hatinya begitu berat meninggalkan Darius. Bagi Darius pun sama. Padahal mereka belum lama ke


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.