Share

32. APARTEMEN

Author: Mystique
last update publish date: 2026-02-06 16:03:55

"Ahhhh ... akhirnya sampe rumah juga. Hufff ... capeknya."

Darius merenggangkan badan. Ia tarik dasinya ke bawah agar sedikit lebih longgar. Dan membuka dua kancing kemeja bagian atas.

Spontan Aurora berbalik badan saat dada Darius sedikit terlihat. Darius yang melihat itu menjadi sedikit heran. Ini anak kenapa? Biasanya bertingkah gila. Kenapa sekarang malu-malu mau. Pasalnya, Aurora berbalik badan tapi ia juga sedikit melirik. Ah, aneh-aneh saja tingkah gadis ini.

"Kamu kenapa, Ra?" tanya Dar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) FITNAH YANG GAGAL

    Lantai tiga puluh yang biasanya sunyi dan berwibawa mendadak terasa mencekam. Di dalam ruangan kerja Dewa, seorang wanita paruh baya dengan setelan tweed Chanel dan tatanan rambut sasak sempurna sedang duduk di kursi kebesaran Dewa. Nyonya Martha Dewangga. Matanya yang tajam bak elang langsung menghunjam ke arah Dewa dan Chika yang baru saja masuk."Keluar dari gedung di jam kerja hanya untuk makan bubur pinggir jalan, Dewa? Kamu sudah kehilangan akal sehat?" suara Martha dingin, bergetar karena amarah yang tertahan.Dewa berdiri tegak, tangannya yang tadi sempat santai kini kembali kaku di samping tubuh Ibunya. "Ibu, lambung saya sedang bermasalah. Makanan di kantor terlalu berat.""Dan kamu membiarkan pelayan ini membawamu ke tempat kumuh seperti itu?" Martha menunjuk Chika dengan dagunya, seolah Chika adalah kuman yang baru saja menyerang putranya. "Rahmat bilang dia hanya staf kebersihan. Kenapa dia punya akses begitu dekat dengan kamu?"Chika menunduk sedalam mungkin. Ia bisa mer

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 14. BUBUR PINGGIR JALAN

    Siang itu, matahari Jakarta berada tepat di puncaknya, memanggang aspal Sudirman hingga tampak bergelombang karena panas. Di lantai tiga puluh, pendingin ruangan bekerja ekstra keras, namun suasana di dalam ruang kerja Dewa terasa lebih gerah daripada suhu di luar.Dewa tampak gelisah. Wajahnya yang tadi pagi sudah sedikit segar, kini kembali menekuk. Ia berkali-kali memijat ulu hatinya sambil menatap layar monitor dengan tatapan kosong. Rapat koordinasi dengan tim legal baru saja selesai, dan Dewa tidak menyentuh makan siang katering premium yang disediakan Rahmat."Pak, Bapak belum makan," tegur Chika yang sedang mengganti bunga di vas sudut ruangan. Ia memperhatikan nampan makanan mewah berisi wagyu steak dan salad organik itu masih utuh."Saya tidak selera," jawab Dewa pendek. Suaranya terdengar agak serak."Bapak mau pingsan lagi kayak semalam? Nanti saya nggak mau ya mijit perut Bapak lagi. Capek," sindir Chika tanpa rasa takut.Dewa mendongak, menatap Chika dengan tajam. "Kamu

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 13. DEBAT RUANG KERJA

    Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit menyentuh kelopak mata Chika, memaksanya terbangun. Ia mengerjap, menyadari dirinya tidak terbangun di atas kasur busa tipis kos-kosannya, melainkan di atas sofa kulit Italia yang empuk. Dan yang lebih mengejutkan, sebuah jas wol berwarna charcoal—yang baunya sangat maskulin dan akrab—menyelimuti tubuhnya.Chika terduduk tegak, jantungnya berpacu. Ia melirik ke arah meja kerja. Dewa sudah di sana, duduk rapi dengan kemeja baru yang entah kapan ia ambil dari ruang ganti pribadinya. Pria itu sedang menyesap kopi, matanya tertuju pada layar tablet seolah insiden "cokelat murah" semalam tidak pernah terjadi."Sudah bangun?" tanya Dewa tanpa menoleh. Suaranya kembali dingin, namun tidak setajam biasanya.Chika segera berdiri, merapikan seragam birunya yang kusut. "Maaf, Pak. Saya... saya ketiduran. Harusnya saya tidak boleh di sini.""Kamu memang tidak boleh di sini kalau hanya untuk tidur," Dewa meletakkan tabletnya dan

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 12. SISI MANUSIAWI SANG KULKAS

    Malam di lantai tiga puluh biasanya hanya menyisakan kegelapan yang dipantulkan oleh gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Namun bagi Chika, malam ini adalah lembur paksa. Bukan karena perintah Dewa, melainkan karena kesalahannya sendiri yang menumpahkan sebotol tinta printer di atas karpet ruang arsip saat mencoba merapikan berkas yang diminta Rahmat.Setelah hampir dua jam berlutut dan menggosok karpet hingga tangannya memerah, Chika akhirnya menyerah. Ia berjalan menuju pantry untuk mencuci tangannya yang bernoda hitam. Saat melewati koridor menuju ruang kerja Dewa, ia melihat cahaya redup merayap dari balik pintu jati yang sedikit terbuka.Jam satu pagi? Dia masih di sini?Chika berniat lewat begitu saja. Urusan Dewa bukan urusannya. Namun, sebuah suara aneh menghentikan langkahnya. Bukan suara ketikan keyboard atau gumaman telepon, melainkan suara napas yang pendek dan berat, diikuti bunyi denting kaca yang bersentuhan dengan meja.Didorong oleh rasa ingin tahu yang lebih besar

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 11. TES KEJUJURAN

    Pagi itu, suasana di ruang kerja Dewa terasa lebih berat dari biasanya. Chika masuk dengan langkah waspada, membawa nampan berisi kopi hitam tanpa gula—persis seperti yang Dewa minta sejak insiden "Ujian Kafein".Dewa tidak ada di kursinya. Pintu ruang rapat pribadinya terbuka sedikit, menunjukkan bahwa pria itu sedang menerima telepon penting. Chika bernapas lega, setidaknya ia punya waktu lima menit untuk membersihkan meja tanpa harus merasa diawasi oleh sepasang mata elang itu.Namun, saat ia hendak mengangkat tumpukan berkas yang berserakan, matanya tertuju pada sesuatu yang sangat tidak biasa.Di sudut meja, tergeletak sebuah jam tangan Patek Philippe—bukan yang ia kenali kemarin, tapi seri yang jauh lebih langka. Di sampingnya, sebuah dompet kulit buaya terbuka, memperlihatkan tumpukan uang tunai pecahan seratus ribu yang sangat tebal, serta kartu kredit Black Card yang tergeletak begitu saja.Chika mematung. Ini gila. Orang se'epik Dewangga tidak mungkin seceroboh ini meninggal

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 10. HUJAN DI HALTE BUS

    Jakarta sore itu seolah sedang ingin menumpahkan seluruh kemarahannya. Langit yang tadinya hanya abu-abu mendadak pekat, lalu dalam hitungan menit, hujan deras mengguyur aspal ibu kota dengan intensitas yang membutakan. Bunyi petir bersahutan, menggetarkan kaca-kaca jendela di lantai tiga puluh Dewangga Corp.Chika berdiri di lobi samping, menatap deretan air yang jatuh seperti tirai raksasa. Ia baru saja menyelesaikan shifnya. Tubuhnya terasa remuk setelah seharian berkutat dengan tumpukan berkas teknis yang diberikan Dewa-sebuah "tugas tambahan" yang sebenarnya adalah ujian terselubung."Sial, payung gue ketinggalan di loker," gumam Chika pada diri sendiri.Ia melirik jam tangannya-bukan jam tangan mewah kemarin, melainkan jam digital murah yang baru ia beli di pasar malam agar tidak memancing kecurigaan lagi. Sudah jam setengah enam sore. Angkutan umum pasti akan penuh sesak, dan di cuaca seperti ini, mencari ojek online adalah sebuah kemustahilan.Chika menarik napas panjang, mena

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   28. FOTO CIUMAN

    "Hufff ... semoga hari ini lebih baik. Gue harus lebih waspada lagi dari si brengsek itu."Aurora berbicara sendiri. Meyakinkan diri untuk lebih waspada hari ini. Ia mulai memasuki kampus. Banyak mahasiswa yang datang lebih dulu darinya.Alih-alih hari ini akan lebih baik. Baru mulai saja Aurora su

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   27. BAD DAY

    Hari berganti. Meskipun ada kejadian buruk seperti kemarin. Aurora dan Chika tetap pergi kuliah. Saat di kampus, baik Aurora maupun Chika menjadi lebih waspada pada keadaan. Ia tidak mau Brandon brengsek itu mendekati mereka lagi.Chika dan Aurora berada di taman kampus saat ini. Sedang berjalan me

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   23. BACKSTREET

    "Kayak gini Ra, yang kamu mau?" tanya Darius setelah mengecup Aurora lembut. Aurora mengangguk dan tertawa.Dia malu sendiri. Bagaimana dia yang perempuan dan masih kecil justru mengajak om-om melakukan hal nakal di tempat seperti ini."Pantas saja Ayahmu nggak bolehin kamu pacaran. Bahaya, Ra. Kam

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   26. PASSION

    Obat yang ada di dalam tubuh Aurora semakin bereaksi. Di dalam gendongan Darius, Aurora mencoba menciumi leher pria itu."Dad, cium aku please!!!" Suara Aurora lirih dan mendesah.Sejujurnya Darius ingin tapi dia masih berusaha mempertahankan prinsipnya. Untuk tidak merusak seorang wanita. Apalagi

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status