LOGINMenjalani pernikahan tanpa cinta sungguh menyulitkan hidup Nayara Prameswari. Namun sebagai seorang istri, Nayara selalu patuh kepada suami. Ia mendambakan kasih sayang dan cinta sang suami sehingga membuatnya terus bertahan dalam siksaan lahir batin. Saat pesta ulang tahun pernikahan yang pertama tiba, suami dan mertuanya membuat pesta besar-besaran. Nayara bahagia sesaat hingga akhirnya ia tahu tujuan pesta itu diselenggarakan.
View MoreDi sebuah goa yang tak diketahui lokasi pastinya, seorang pria tampak terikat pada kedua tangannya oleh rantai yang diselimuti api merah menyala. Panasnya begitu kuat hingga batu di sekelilingnya meleleh.
Pria itu bernama Liu Kai, ia merupakan seorang ahli bela diri yang berhasil mencapai puncak kejayaan dengan menjadi pendekar terkuat di seluruh daratan. Namun kini, sang legenda hanya bisa menunduk tak berdaya, tubuhnya terikat dan auranya nyaris lenyap. Perlahan, matanya terbuka. Pandangannya kabur, samar-samar ia melihat empat orang tengah berdiri di hadapannya dengan senyum kemenangan di wajah mereka. Saat pandangannya telah kembali pulih, ia bisa melihat dengan jelas, ia segera mengenali sosok yang amat dibencinya. "Fangzheng! Keparat! Bagaimana kau bisa selamat dari ledakan kematian yang ku buat?!" Liu Kai mencoba menggerakkan tangannya berusaha melepaskan diri, namun kedua tangannya nyaris tak dapat bergerak. Fangzheng, seorang pendekar aliran hitam dan orang terkuat nomor dua di daratan, terkekeh sombong. Dulu, Fangzheng pernah berhadapan dengan Liu Kai dan kalah telak dalam duel yang mengguncang dunia, namun entah bagaimana ia berhasil lolos dari teknik kematian terkuat milik Liu Kai. Liu Kai kemudian menatap rantai yang membelenggu kedua tangannya. Rantai diselimuti api berwarna merah yang tampak hidup, seperti mahluk buas yang terus melahap energinya. "Segel Api Neraka?!" gumamnya lirih. Fangzheng menyeringai. "Benar! Jangan buang-buang tenagamu! Sebab kau tak akan pernah bisa melepaskan diri dari segel terkuat itu! Hahaha!" Tawa Fangzheng menggema, diikuti ketiga rekannya, yang juga merupakan para Pemimpin Sekte Aliran Hitam. Liu Kai membuka lebar kedua matanya, mengabaikan tawa dan cemoohan keempat orang itu, ia tiba-tiba teringat sesuatu yang sangat penting. "Huilin! Di mana Huilin?! Apa yang kalian lakukan pada istriku?!" Fangzheng menatap Kai dengan senyum licik. "Istrimu? Apakah kau yakin? Baiklah akan ku panggilkan dia.” Ia menoleh ke arah pintu goa dan berseru. “Huilin! Masuklah!" Langkah ringan terdengar mendekat. Dari balik kegelapan, muncul seorang wanita berparas menawan, berpakaian indah dan berwajah lembut. Ia berjalan pelan lalu berdiri di hadapan Liu Kai. Liu Kai menatap gadis itu dengan mata berbinar. "Sayang... Syukurlah kau selamat..." Ekspresi wajah gadis itu perlahan berubah. Tatapannya dingin, senyum tipis di bibirnya berubah menjadi tawa lantang. "Hahaha! Sayang? Sungguh menyedihkan! Akulah orang yang menjebakmu, membuatmu tak sadarkan diri hingga kau bisa dengan mudahnya tersegel di sini." Liu Kai masih tidak mempercayai hal yang ia dengar, ia masih meyakini bahwa gadis yang ia lihat sekarang ini bukanlah istri yang dicintainya. "Huilin... Sayang... Kau-" "Berhenti memanggilku sayang!” potongnya dengan tajam. “Kau pikir aku benar-benar mencintaimu?! Aku hanya menjebakmu dengan pura-pura membutuhkan bantuan dan mendekatimu!” Huilin lalu mencibir. "Aku tak menyangka seorang pendekar yang dijuluki Dewa Kematian bisa lemah hanya karena cinta!” Ia memandang Kai dengan jijik. “Sudahlah! Apapun itu rencana kami akhirnya berhasil! Kami akan menyingkirkan kau dari dunia ini dan kembali menguasai dunia! Hahaha!" "Huilin..." Liu Kai berbicara dengan lirih, untuk yang pertama kali dalam hidupnya ia meneteskan air matanya. Wanita yang selama ini dicintainya dan yang paling ia percayai ternyata mengkhianatinya sekejam ini. Liu Kai menutup matanya, mencoba menahan air matanya yang terus menerus menetes. Ia mulai merasa bahwa dunia ini sangat tidak adil, baru saja ia mendapatkan kebahagiaan, semua itu langsung direnggut dengan kejam dari dirinya. Liu Kai lalu menatap kosong ke tanah, dan pikirannya melayang pada hari sebelum semua ini terjadi. ** Sehari Sebelumnya. Sepasang kekasih tampak sedang menikmati masa-masa indah mereka di sebuah padang rumput yang hijau. Mereka berdua tengah berbaring sambil berpegangan tangan menikmati keindahan langit malam yang dihiasi dengan bulan purnama serta ratusan bintang yang bersinar terang. Mereka adalah Liu Kai dan Huilin, pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan pada hari itu. Liu Kai, 23 tahun, wajahnya cukup tampan, dengan alis yang tebal, dagu yang lancip serta rambut hitam lurus, sedangkan istrinya bernama Huilin, 21 tahun, memiliki paras yang cantik serta bentuk tubuh yang padat dan berisi. "Huilin, sekarang kita telah resmi menjadi sepasang suami istri, jantungku berdebar kencang saat membayangkan bagaimana jadinya malam pertama kita..." Liu Kai menatap istrinya dengan senyum menggoda. Huilin tertawa kecil, wajahnya memerah. "Hihi, tidak perlu buru-buru, malam masih panjang." Liu Kai kemudian memposisikan tubuhnya di atas tubuh Huilin dengan bertumpu pada kedua tangannya. Wajah kedua insan tersebut hanya berjarak sejengkal, kedua mata mereka saling memandang satu sama lain. "Kau sangat cantik, aku tidak menyangka akan jatuh cinta padamu saat pandangan pertama." Kai membelai lembut wajah Huilin sambil menatapnya penuh arti. "Aku juga merasa sangat beruntung saat kau menyelamatkan diriku. Aku juga mencintaimu." Huilin menatap lekat kedua bola mata Kai. "Aku sangat bahagia bisa bertemu dan memilikimu." Liu Kai menutup matanya dan mendekatkan bibirnya pada bibir Huilin bersiap untuk mencium istrinya. Huilin meletakkan jari telunjuknya pada ujung bibir Kai. "Ssshh... Tahan dulu, aku ingin kita melakukannya di ranjang." Huilin mencubit mesra pinggang Kai. Kai tampak riang dan sedikit tersipu. "Baiklah, kalau begitu kita langsung saja pulang ke rumah!" "Kau ini!" Huilin tertawa kecil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mereka berdua kemudian meninggalkan padang rumput, lalu melangkah menuju kediamannya sambil berpegangan tangan dan tertawa bahagia. Sesampainya di rumah, Kai langsung menggendong Huilin menuju kamarnya dan langsung merebahkan Huilin di kasur. "Kau sungguh tidak sabaran sayang." Huilin tertawa kecil, lalu turun dari ranjang, "Mau ke mana?" tanya Kai yang penasaran. "Aku akan menyiapkanmu sup ayam ginseng terlebih dahulu, agar malam pertama kita berlangsung lama dan sama-sama mencapai puncak kepuasan." Huilin menutup mulutnya dengan tangan kanannya sambil menatap Kai dengan genitnya. "Ide bagus! Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu." Kai tampak girang, ia berjalan menuju kamar mandi sambil bersenandung. Begitu pintu kamar mandi ditutup, senyum di wajah Huilin memudar. "Malam pertama apa! Kau sungguh menjijikkan." Huilin kemudian berlalu menuju dapur dan membuatkan sup ayam ginseng, Ia diam-diam mengambil dua botol kecil dari balik jubah, lalu menuangkannya ke dalam sup. Cairan itu menimbulkan asap tipis sebelum menghilang. *** Kembali ke Goa… "A-aku kira hubungan kita Istimewa… Huilin, aku benar-benar mencintaimu." Kai berbicara dengan lirih sambil menatap Huilin dengan penuh arti. "Istimewa?” ejek Huilin. “Dalam mimpimu! Pria yang kucintai hanyalah Fangzheng seorang!" Ia lalu melangkah mendekati Fangzheng dan mencium bibirnya dengan penuh gairah di depan Liu Kai. “KAUUU!!!” Liu Kai meraung. Seluruh gua bergetar hebat, batu runtuh dari langit-langit, dan api Segel Neraka berkobar semakin besar. Energi spiritualnya meluap, meski tubuhnya penuh luka Ekspresi wajah Fangzheng memburuk. "Cepat bunuh dia!!" Tiga pendekar hitam langsung menyerang dengan teknik pamungkas mereka. Serangan demi serangan menghantam tubuh Liu Kai tanpa ampun. Darah bercucuran, tapi ia tetap berdiri tegak. Setelah tubuh Kai dipenuhi oleh luka, baik luka dalam maupun luka luar, Fangzheng mendekati Kai. "Matilah! Dan membusuklah kau di neraka!" Fangzheng kemudian menusuk leher Kai dengan pedang miliknya. Pedangnya menembus leher Kai. Tubuh sang Legenda Agung bergetar hebat. Ia menatap Huilin untuk terakhir kalinya dengan mata yang bukan menyimpan kebencian, melainkan kesedihan yang tak terucap. “Aku… Berjanji… Akan membunuh kalian… Semua… Di kehidupan selanjutnya…” Matanya perlahan tertutup. Tubuhnya membeku, masih berdiri dalam diam, sebelum akhirnya api neraka melahapnya sepenuhnya. Dewa Kematian pun gugur. Namun janjinya menggema hingga menembus Alam Baka. .“Dimas! Sudah kamu pindahkan perempuan itu?” Suara Oma terdengar tajam dan menggema dari seberang telepon.“Iya, Oma. Sedang aku urus,” jawab Dimas cepat, berusaha terdengar tenang meski jantungnya berdetak tak karuan.Klik.Telepon langsung terputus. Tak ada salam penutup, tak ada waktu untuk membantah. Seperti biasa, Salma bicara dengan nada perintah, tak memberi ruang untuk diskusi.Dimas menghela napas berat lalu menoleh pada Elena yang duduk di sampingnya. Perempuan itu ikut menatapnya, raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang sama.“Sepertinya memang tak ada pilihan lagi, Len. Aku harus segera pindahkan Nayara malam ini juga,” ujar Dimas, suaranya pelan namun tegas.Elena hanya mengangguk. Sorot matanya tajam, tapi bibirnya membisu. Seolah menyetujui, meski dalam hatinya ada banyak yang ingin ia katakan.Tak lama, seorang dokter lewat di lorong, mengenakan jas putih yang bersih dan tergesa seperti biasa.“Dok!” panggil Dimas cepat.Dokter itu berhenti dan menoleh. “Iya, Pak D
“Kondisi tak terduga bagaimana, Dok?” tanya Dimas panik, matanya menatap penuh kecemasan.Dokter menunduk sejenak, lalu menghela napas panjang. “Ibu Nayara, saat menjalani operasi... ia terus-menerus mengigau menyebut nama Dhirga.”Dimas mengerutkan kening. “Tunggu, memangnya bisa seseorang mengigau saat sedang dioperasi?”“Sebenarnya sangat langka, Pak Dimas,” jelas dokter sambil memperbaiki posisi duduknya. “Selama saya menjadi dokter, baru dua kali saya mengalami kejadian semacam ini. Biasanya pasien dalam kondisi anestesi total tidak akan bisa berbicara, apalagi mengigau.”Dimas terdiam. Hatinya berdesir.“Apakah mungkin... Nayara rindu pada suaminya, Dok?” tanyanya ragu.“Saya menduga demikian,” jawab dokter tenang. “Kalau boleh memberi saran, sebaiknya Bapak segera menghubungi suaminya. Secara medis kondisi fisik Ibu Nayara stabil, tapi secara emosional, mungkin ia membutuhkan orang yang paling ia rindukan.”Kata-kata dokter itu bagai pisau bermata dua bagi Dimas. Di satu sisi,
"Ibu Clarissa," lanjut Sonia dengan suara bergetar, pelan, tapi cukup untuk membuat ruangan interogasi itu seakan runtuh oleh dentuman kejujuran.Kata-kata itu membuat dunia seperti menggelegar dalam telinga Januar. Sebuah senyum tipis merekah di wajahnya—bukan senyum sombong, tapi senyum lega seorang penyidik yang perjuangannya nyaris mencapai garis akhir. Tatapan matanya tajam menusuk ke dalam jiwa Sonia, memastikan bahwa tak ada lagi dusta tersisa.Kesaksian Sonia menjadi potongan terakhir dari puzzle yang telah ia susun dengan hati-hati. Dua alat bukti sah kini telah dikantongi: hasil digital forensik dan pengakuan langsung dari pelaku lain. Itu cukup untuk menetapkan Clarissa sebagai tersangka.Tanpa menunda waktu, Januar keluar dari ruang interogasi dan menuju ruang gelar perkara. Di sana, ia bersama tim penyidik lainnya mempresentasikan seluruh hasil penyelidikan. Setelah melalui pemaparan yang detail dan diskusi yang hangat, keputusan bulat diambil: Clarissa dan Sonia resmi di
“Tidak pernah, setahu saya,” jawab Clarissa dengan nada ragu.“Itu jawaban klien kami saat ini, dan mohon dicatat dengan jelas bahwa segala tuduhan harus berdasarkan bukti, bukan asumsi semata,” potong Nikolas tegas, tatapannya tajam mengarah pada penyidik di depannya.Januar, yang sejak tadi mencatat hasil pemeriksaan dengan serius, mengangguk kecil lalu menatap Clarissa lurus-lurus.“Tentu. Tapi saya ingatkan, jika nantinya ditemukan bukti tambahan yang menguatkan dugaan keterlibatan Saudari, maka kami tidak segan menetapkan status hukum yang berbeda,” ucapnya, tegas dan jelas.Suasana ruang interogasi mendadak terasa lebih dingin. Clarissa menggenggam kedua tangannya di pangkuan, berusaha tetap tenang. Januar melanjutkan pertanyaannya dengan suara yang tenang, namun penuh tekanan.“Apakah Saudari pernah meminjamkan ponsel kepada orang lain dalam dua minggu terakhir?”Clarissa menggeleng cepat. “Tidak. Ponsel saya selalu saya pegang sendiri.”Januar kembali mencatat jawabannya, lalu
"Kenal, Pak. Dia adalah istri pertama suami saya," jawab Clarissa pelan namun jelas, suaranya sedikit bergetar.Januar menatapnya tajam lalu mengangguk sebelum melanjutkan, "Apakah akun Facebook bernama CA Lovers ini milik Saudari?""Akun Facebook saya hanya satu, Pak. Atas nama Clarissa Anindita,"
“Silakan duduk, Pak Bram,” ujar Januar, menyilakan pria berjas abu-abu itu masuk ke ruang interogasi.Bram Hadiwijaya, CEO Darmaseraya Group, melangkah masuk dengan wajah tenang namun tegang. Pandangannya langsung bertemu dengan mata Clarissa yang sudah lebih dulu duduk di kursi saksi. Keduanya sal
"Iya, Pak. Pulangnya nanti saya ambil suratnya," balas Dhirga singkat melalui pesan teks. Clarissa yang duduk bersandar di ranjang rumah sakit, memiringkan kepala sedikit sambil menatap wajah suaminya. "Pesan dari siapa?" "Dari satpam rumah. Katanya ada surat penting yang harus aku ambil nanti s
“Pesan dari siapa, Dim?” tanya Elena sambil menatap gelisah wajah Dimas yang mulai pucat.Dimas menelan ludah, menurunkan ponselnya perlahan. “Dari Dokter Enjelin... Katanya Nayara mengigau memanggil nama suaminya.”Elena menarik napas pelan, lalu menunduk sebentar sebelum menatap Dimas lagi. “Seba












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore