เข้าสู่ระบบKukira menikah akan jadi titik awal kebahagian, ternyata aku salah. Ketika resmi menjadi istri seorang Givendra Rakasuma Wiratama Putra, di situlah awal perjuanganku. Aku hanya diberi waktu setahun untuk jadi istrinya. It's okay. Semua orang berhak memberiku pilihan, tetapi akulah yang akan memilih jalan mana yang akan kutiti. Di luar sana, mereka bisa menamaiku si culun, kampungan, dan cupu. Namun, aku akan membuktikan kalau keadaan pasti berbalik. Suami yang membuangku di malam pernikahan akan kubuat jatuh cinta. "Cukup 365 hari. Kupastikan hati dan hidupmu jadi milikku. Seutuhnya. Bukan milik wanita mana pun."
ดูเพิ่มเติมAyo, kita bicara ke depan.” Jejak luka di wajah Tera terbaca Britania. Gadis cantik itu merengkuh lengan lawan bicaranya tanpa permisi lalu menuntun ke arah taman yang sore itu dipenuhi anak-anak dan para penghuni apartemen. Jantung Tera berdetak dua kali lebih kencang. Kaki melangkah mengikuti Britania, tetapi pikirannya menerawang jauh. Entah alasan apa yang akan diberikan. Tidak mungkin berterus-terang. Akan tetapi, dia juga takbisa memberi alasan yang masuk akal pada gadis muda berstatus mahasiswi universitas ternama tersebut. Duduk di bangku taman, dua wanita muda itu saling berhadapan. Sore yang indah, suara anak-anak riuh rendah. Kilau keemasan meneduhkan dari sudut barat cakrawala. “Kak Tera bertengkar dengan Kak Suma?” tanya Britania, penasaran. Selain sepupu Suma, mereka juga bertetangga. “Kamu ke sini dengan siapa, Bri?” Tera mengalihkan topik pembicaraan. Tak mau pembahasan mengenai hubungannya dan Suma terus berlanjut. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Apa yang terja
Duduk menatap dua lembar tiket, Tera berulang kali menarik turun kaus Suma yang kebesaran di tubuhnya. Duduk di sisi kanan sofa, dia sengaja menghindari pria yang mengisi ruang kosong di sebelah kiri kursi empuk tersebut. Dia risi berpenampilan seksi meski suami sendiri. “Aku dan Inggit akan ke Bali selama seminggu.” Suma menegaskan. “Hah!” Tera membeliak. Tak lama, rona kekagetan itu berubah jadi kesedihan. Sepasang kekasih liburan berdua, pasti banyak hal terjadi. Pemandangan dia yang harus terusir dari kamar di malam pertama kembali berputar ulang. Sedih? Sudah pasti. Kecewa? Jangan ditanya. Tidak ada seorang istri pun di muka bumi ini akan baik-baik saja diperlakukan seperti ini. Jari-jari Tera saling menjalin di atas pangkuan. Digigitnya bibir kencang-kencang untuk mengempas kecewa yang terus berdatangan dari segala arah. Dikira, menikah itu indah seperti di sinema-sinema. Ternyata, jauh dari harapannya. Suami yang harusnya menjaga dan melindungi, bertanggung jawab untuk m
Suma masuk lebih dulu, Tera menyusul di belakang dengan kepala tertunduk. Takut, ragu, dan canggung membaur jadi satu. Kamar mandi yang tidak terlalu luas itu makin terasa sesak.Berhenti melangkah di depan meja wastafel, Suma menggerutu kesal saat punggungnya ditabrak seseorang. Benturan tak terhindarkan, suasana tambah tak mengenakkan. “Apa-apaan, sih, Ra?” omel Suma. Berbalik, tangannya bertekuk di pinggang. Sepasang matanya bak bola api yang berkilat-kilat.“Ma ... af, Sum. Kamu berhenti mendadak.” Tera menjawab ragu-ragu.“Kenapa ikut-ikutan?” tanya Suma, membentak. “Aku mau mandi. Kenapa ikut masuk ke dalam?” tanyanya dengan nada meninggi.Belum menjawab, suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Suara cempreng Mama Caca mengingatkan pasangan pengantin baru tersebut.“Jangan lama-lama mandinya. Nanti sarapan keburu dingin.” Suma dan Tera saling bertukar pandang.“Kalau mau dilanjutkan, nanti malam saja. Anggap pemanasan dulu, biar memancing penasaran.” Suara Mama Caca seper
“Bulan madu?” Suma terkejut melihat dua tiket pesawat yang disodorkan mamanya di atas meja. Beralih menatap Tera, wajahnya tampak datar.“Ya. Mama dan Mama Nay sepakat menghadiahkan tiket bulan madu ke Bali. Ya, anggap saja hadiah pernikahan dari kami.” Mama Caca tersenyum bahagia. Melirik besan yang duduk di sebelahnya, wajah wanita paruh baya itu berbinar bahagia.“Untuk apa?” Suma bingung.Mama Caca dan Mama Nayala saling bertukar pandang. Tak lama, keduanya berseru dengan kompak.“Untuk pengantin baru.” “Tapi, Ma. Ini berlebihan.” Pria muda itu mulai melancarkan keberatannya. Dia akan menggunakan alasan apa saja untuk bisa menolak rencana kedua wanita di hadapannya.“Ish!” Mama Caca merengut. “Berlebihan bagaimana? Kecuali aku memberimu tiket ke bulan atau ke kutub utara, baru bisa dikatakan berlebihan. Ini hanya ke Bali, Nak. B … a … l ... i. Pejam mata sekejap, melek sudah mendarat di Ngurah Rai.”Suma menyenggol lengan Tera yang sejak tadi diam. Berharap, wanita muda itu mau












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.