LOGINDinda gadis yatim piatu yang pernah tinggal di panti asuhan. Harus menelan pil pahit serta menderita setelah dipersunting oleh pria bernama Seno Wijaya. Suami yang selalu ringan tangan, mudah terhasut dengan ucapan ibunya sendiri, bahkan dengan teganya tidak memberi makan Dinda serta ketiga anaknya. Penderitaan Dinda semakin bertambah tatkala ibu mertua serta keluarga inti dari Seno tidak menyukai Dinda. Bagaimana Dinda bisa melewati masa-masa hidup yang susah bersama anak-anaknya, lantas balas dendam apa yang Dinda akan berikan kepada keluarga suaminya.
View MoreAku mengetuk pintu yang tertutup, terdengar bunyi tangisan seseorang membuat aku memfokuskan indera pendengaranku."Kau dengar ngggak, Rik?" tanyaku seraya tangan ini menempelkan daun telinga."Iya, dengar kayaknya dari dalam deh suaranya." Riko lalu mendorong pintu perlahan ternyata pintu tidak dikunci.Terlihat Winda meringkuk, menenggelamkan kepala diantara kedua kaki, tubuhnya bergetar menangis.Suara berisik dari arah dapur terdengar sangat jelas membuat jantung terasa copot, aku dan Riko bergegas berlari ke dapur tanpa mempedulikan Winda terlebih dahulu.Pecahan piring dan tumpahan air di mana-mana, Seno, Pak Satono, Bu Marni, sedang beradu mulut satu sama lain terlihat baju mereka terkoyak serta rambut awut-awutan.Mereka semua berhenti lalu menatapku. Sudah aku duga pasti karena masalah Chea bukan anak Rahmat sudah pasti itu."Jangan lagi diributkan, nasi sudah jadi bubur, kalian harus menerima kosekuensinya, tak ada gunanya lagi dipermasalahkan, aku datang kemari lagi ada yan
"Ini pasti dianiaya ini," tutur Riko terus membolak balikan tubuh Chea."Dasar! Ibu nggak guna itu si Winda dan bibinya," kelakar Ririn memghentakkan tangan ."Ini harus lapor ke polisi ini agar bibinya di tangkap," usul Riko lalu kembali ke setir mobil."Nggak usah Rik, itu anak juga nggak apa-apa, sini Rin kasih ini dan beri minum," tolakku karena tak mau jadi masalah lagi seraya memberikan cemilan snack dan air putih.Setelah memakan beberapa roti dan meminum air Chea kembali enteng tak menangis, seperti tadi."Itu anak kelaparan, sudah berapa lama anak itu tak makan, lihat! Makan begitu lahap," tunjukku ke arah Chea yang masih di pangku Ririn.Jelas sekali aku melihat anak ini teringat dengan almarhum anakkku, terlintas dibenakku hatiku tersayat-sayat mengingat perlakuan si bangsat Seno, tunggu pembalasanku Seno."Kamu kenapa, menatap anak ini begitu, Din?" tanya Ririn kepadaku saat mobil mulai berjalan lagi."Tidak ada, cuma aku hanya teringat dengan almarhum, Mona," sahutku lema
"Winda! Ini anakmu, kamu saja yang urus, kami tak sanggup!" teriak Ibu bertubuh gempal itu berlari memberikan Chea yang sedang menangis sesenggukan kepada Winda. "Nggak! Ah! Bibi aja yang urus, aku sih ogah ngurus dia lagi kenapa juga bawa ke sini, sudah bawa pulang sana," usir Winda mendorong tubuh Chea dengan kasar. Tubuh anak kecil itu tampak kurus, dekil tak terurus, kasihan sekali anak itu. Plak! Satu tamparan mendarat dengan sempurna di pipi Winda, Ibu yang bertubuh gempal memakai daster bunga menatap bengis, matanya melotot hampir keluar dari tempatnya. "Apa kau tak sadar ini anak hasil hubunganmu sama, suami Nita hah?! Kau lah yang urus bukan aku!" teriak Ibu itu kepada Winda lalu meletakkan Chea ke depan teras rumah lalu berlenggang melangkah. "Bibi! Tak kau lihat kah?! Dengan keadaanku sekarang, aku tak punya banyak uang untuk beri makan itu anak," kelakar Winda dengan lantang tak mempedulikan Chea menangis terduduk, Ririn yang tak tega segera mengambil anak itu.
Status yang dibuat Cantika di media sosial, terpampang di layar ponsel Ririn, seketika itu membuat emosiku, terpancing, hidungku kembang kempis menahan gejolak amarah yang meningkat, bagaimana tidak kutipan status itu, dirinya mengaku bahwa dialah pemilik sawit yang berjumlah 20 hektar itu. "Riko! Belok kiri antar mereka semua kembali ke rumah asal mereka," titahku dengan mata tetap fokus ke depan menahan emosi. Pak Satono dan Mas Seno tiada henti meminta maaf sedangkan Winda, ibu mertuaku, Cantika terdiam membisu. "Barang-barang kami masih di sana, Din," celetuk Mas Seno sembari meringis. "Besok! Biar Riko yang antar ke tempat kalian." Aku tanpa menoleh menatap mereka jijik. "Halah! Hanya buat status macam itu aja marahnya selangit! Kayak nggak boleh aja bikin orang seneng!" Cantika merengut, aku mendelik dari kaca spion di dalam mobil menatap bengis wajahnya. "Kok begitu sih, Din. Mau makan apa kalau kami pulang ke rumah yang lama," tutur Bu Marni tak terima, terlihat waj
Winda dengan bangganya bergelayut manja di lengan Seno, apa dia kurang waras? Apa dia tidak punya rasa malu di tonton di khalayak ramai, bahkan yang dia dekati bukan suaminya melainkan Abang ipar sendiri.Matanya sempat melirik ke arahku dengan bangganya menjulurkan lidah padaku, aku yang sudah ter
Mobil terparkir rapi di depan rumah, Ibu mertuaku, eh hampir lupa wanita itu sudah aku anggap mantan mertuaku, tak sudi rasanya memanggil dengan sebutan itu lagi mengingat masa laluku yang begitu pahit bersama anaknya.Terlihat pintu rumah, bahkan jendela semua tertutup tak ada tanda-tanda kehidupa
Asisten rumah di rumah tangga ini nampak tergopoh-gopoh berlari ke arahku. Diriku yang sedang sibuk mencatat semua gaji karyawan sawit lantas mendongak cepat."Non! Di luar temen, Non datang," celetuk Bik Surti sembari badan membungkuk."Suruh mereka masuk, Bik. Antar mereka dekat kolam renang temu
"Wih! Enak, banget jadi mereka." Lagi-lagi Cantika merepet yang membuat diriku terbakar api amarah."Loh! Bisa diam nggak?! Sekarang kerja, ambil itu parang, jangan ada yang istirahat sebelum jam sepuluh!" bentakku kepada mereka yang hanya berdiri mematung saja."Aku, di sini saja, ya, Din. Hamil b






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.