Chapter: Bab 84 Petunjuk"Gavin, kamu kenapa?" tanya Arina khawatir saat melihat wajah laki-laki itu tiba-tiba pucat.Gavin menundukkan kepala. Tangannya mengepal di atas meja seolah sedang berusaha menahan sesuatu. Dia menarik napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya menjawab."Nggak apa-apa," katanya pelan. "Perutku tiba-tiba sakit. Kalau kita langsung ke atas gimana?"Arina langsung menganggukkan kepala."Ayo. Kamu harus istirahat."Dia segera menyimpan kalung berbentuk hati itu kembali ke dalam kotaknya. Setelah memastikan benda tersebut aman, Arina berdiri dan membantu Gavin bangkit dari kursinya.Meski Gavin berusaha terlihat baik-baik saja, Arina bisa melihat laki-laki itu berjalan lebih lambat dari biasanya. Karena itu, dia tetap berada di sampingnya sepanjang perjalanan menuju lantai atas.Sesampainya di depan ruangan, Arina segera membuka pintu. Dia membantu Gavin masuk ke dalam kamar dan membimbingnya hingga duduk di tepi lkasur.Gavin mengusap wajahnya sebentar lalu merebahkan tubuh."Maaf, A
Terakhir Diperbarui: 2026-09-02
Chapter: Bab 83 Pertunjukan MemuaskanArina masih berdiri beberapa saat, memperhatikan keributan yang belum juga mereda.Aryo dan Davina saling berteriak tanpa mempedulikan tatapan orang-orang di sekitar mereka. Kata-kata kasar meluncur begitu saja dari mulut Davina, penuh amarah dan kebencian yang selama ini mungkin telah lama dipendam."Kamu pembohong, Aryo! Dasar pengecut!" bentak Davina.Aryo yang emosinya sudah berada di ujung batas balas membentak. "Dan kamu pikir kamu lebih baik dariku?!"Davina mendorong dada Aryo dengan kedua tangannya.Bruk!Aryo mundur setengah langkah.Kerumunan mulai terbentuk. Beberapa orang mengeluarkan ponsel untuk merekam, sebagian lain hanya menonton seolah sedang menyaksikan pertunjukan gratis.Davina kembali mendorongnya. "Kamu hancurin hidupku!""Aku?! Kamu yang menghancurkan semuanya!" balas Aryo.Dorongan berikutnya membuat kesabaran Aryo benar-benar habis. Tanpa berpikir panjang, Aryo mendorong balik.Bruk!Tubuh Davina kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di trotoar.Suasana
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: Bab 83 Kejutan Tak TerdugaArina menempelkan ponsel ke telinganya begitu panggilan itu tersambung."Halo?""Kamu di mana?"Untuk sesaat Arina terdiam. Tubuhnya mematung ketika mendengar nada suara Gavin di seberang sana. Tidak ada nada menggoda seperti biasanya. Tidak ada juga sindiran yang sering membuatnya kesal. Yang terdengar justru kekhawatiran yang begitu jelas."Bertemu teman," jawab Arina singkat."Teman siapa? Di mana?"Pertanyaan itu datang begitu cepat hingga membuat Arina mengerutkan dahi.Dia menelan ludah sebelum menjawab, "Teman sekolah dulu. Aku lagi di kafe.""Kafe mana?"Arina memijat pelipisnya. "Kenapa sih kamu nanya sampai sedetail itu?"Karena penasaran sekaligus sedikit kesal, dia akhirnya menambahkan, "Aku cuma ngobrol sama teman lama. Nggak ada apa-apa.""Aku balik ke apartemen dan kamu nggak ada," sahut Gavin dengan suara rendah. "Jelas aku khawatir."Ucapan itu membuat Arina terdiam sejenak.Entah kenapa, mendengar seseorang mengkhawatirkannya terasa asing sekaligus menghangatkan hati
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: Bab 82 KalungPemandangan kota di malam hari tampak samar dari balik jendela kafe. Namun, perhatian Arina sama sekali tidak tertuju pada keramaian di luar sana. Tangannya perlahan bergerak ke arah leher, lalu mengeluarkan sebuah kalung yang selama ini selalu dia simpan dengan hati-hati.Liontin berbentuk hati itu tampak tua. Warna emas nya sudah sedikit memudar dimakan usia, tetapi keindahannya masih terlihat jelas. Ada ukiran-ukiran kecil yang rumit di bagian pinggirnya, seolah dibuat dengan ketelitian tinggi oleh seorang pengrajin berpengalaman.Arina menelan ludah sebelum menyerahkannya pada Bagas.Bagas yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi Arina langsung mengalihkan pandangannya pada kalung itu."Kalung siapa?" tanyanya sambil mengernyit. "Kelihatannya jadul banget."Arina menghela napas panjang. Ada kesedihan yang tersimpan dalam sorot matanya."Petunjuk dari orang tua kandungku."Kalimat itu membuat Bagas membeku."Orang tua kandungmu?" ulangnya pelan.Beberapa detik berlalu sebel
Terakhir Diperbarui: 2026-08-31
Chapter: Bab 81 Minta Bantuan"Apa?""Kamu masih di kota ini?" tanya Arina."Masih. Gimana?"Arina menghela napas. "Bisa kita ketemu hari ini juga?" "Sore jam tiga di cafe casablanca," jawab Bagas."Oke."Arina menutup sambungan telepon lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Dadanya terasa sedikit lebih ringan setelah berhasil menghubungi Bagas. Setidaknya ada satu orang yang mungkin bisa membantunya mencari jawaban tentang liontin dan masa lalu orang tuanya.Dia berjalan menuju kamar mandi. Air hangat yang mengalir membasahi tubuhnya, membantu meredakan kepenatan yang sejak beberapa hari terakhir terus menghantui pikirannya. Setelah selesai mandi, Arina memilih mengenakan blouse berwarna krem dipadukan dengan celana panjang hitam sederhana. Rambutnya yang masih sedikit lembab dibiarkan tergerai di bahu.Sebelum pergi, dia sempat menatap pintu apartemen Gavin beberapa detik.Entah kenapa wajah Gavin kembali muncul di kepalanya. Pelukan wanita yang datang kemarin masih membekas dalam ingatannya. Ada perasaan aneh
Terakhir Diperbarui: 2026-08-29
Chapter: Bab 80 Kawan LamaArina menyingkirkan ponselnya ke samping. Setelah itu, dia kembali membuka laptop yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Jemarinya langsung bergerak di atas keyboard, melanjutkan cerita yang belum selesai ditulisnya.Entah kenapa, setiap kali mengingat Gavin membaca hasil tulisannya, wajah Arina langsung terasa panas."Tunggu dulu..."Jarinya berhenti mengetik.Tatapannya tertuju pada nama tokoh utama laki-laki dalam cerita yang sedang dia tulis."Argan..."Arina menyipitkan mata sambil membaca beberapa paragraf yang baru saja ditulisnya."Kenapa tokoh Argan di sini mirip Gavin, ya?" gumamnya pelan.Dia membaca ulang deskripsi karakter itu.Tinggi, tampan, dingin pada orang lain tetapi diam-diam perhatian. Suka membantu tanpa diminta. Terlihat menyebalkan saat bicara, tetapi selalu muncul ketika sang tokoh wanita sedang kesulitan.Semakin dibaca, semakin terasa mirip. Arina langsung menggeleng kuat-kuat."Nggak mungkin."Dia menutup sebagian wajahnya dengan kedua tangan."Ini cuma
Terakhir Diperbarui: 2026-08-29
Chapter: 94. Akhir BahagiaKinara dan Arjuna sampai di rumah sakit untuk menjenguk Lisa. Keadaan Lisa membaik. Ibu dan Rama bisa bernapas lega karena setelah ini bisa dibawa pulang. Dua hari kemudian Lisa bisa di bawa pulang untuk mendapatkan perawatan di rumah. Setelah dari rumah sakit itu, Kinara memberitahu Arjuna tentang pesan yang menanyakan Kinara itu dan meminta Argan untuk menyelidikinya. Argan bertindak dengan cepat dan hari ini Kinara diajak oleh Arjuna menuju alamat seseorang yang mengirim pesan itu. Argan melacak alamat orang itu dan berhasil menemukannya. "Mas, benaran ini tidak apa-apa kita ke rumah orang itu? Beneran bukan orang jahat, 'kan?" tanya Kinara. "Bukan, Sayang. Argan sudah menyelidikinya, bukankah kamu ingin tahu siapa yang mengirim pesan itu? Kinara mengangguk. Dia sangat ingin tahu. Dia menatap suaminya yang sedang menyetir. Sepertinya, Arjuna sudah tahu dan belum memberitahukan pada Kinara. Setah menempuh perjalanan satu jam , akhirnya Kinara dan Arjuna sampai di sebuah rumah m
Terakhir Diperbarui: 2022-09-14
Chapter: 93. Kantor PolisiTanpa aba-aba, Arjuna mendaratkan bibirnya di bibir Kinara dan melumatnya dengan rakus. Kinara harus menggunakan lipstik lagi setelah ciuman itu berakhir."Mas, udah! Kita harus berangkat ke kantor polisi," ucap Kinara sambil meremas kemeja Arjuna. Dia tidak peduli jika kemeja yang suaminya kenakan itu kusut kembali karena ulah tangannya.Bibir Arjuna masih bertahan di leher Kinara dan satu tangannya dia masukkan ke dalam blouse milik istrinya. Arjuna menaikkan penutup bukit kembar sang istri dan meremasnya pelan."Mas ... uhh," lenguh Kinara."Tambah gede banget, Sayang," ucap Arjuna sambil menggigit pelan daun telinga Kinara."Mas, Sudah dong, nanti kita terlambat, uhh ..."Arjuna seperti tidak mendengar perkataan dari Kinara. Bukannya berhenti, dia justru menarik blouse Kinara keatas hingga terekspos kedua bukit kembarnya yang menantang. "Mas, mau ap--uhh." Kinara mencengkeram rambut Arjuna karena kini bibirnya yang mulai aktif menyentuh dan memanjakan ujung kedua benda kenyal mi
Terakhir Diperbarui: 2022-07-15
Chapter: 92. Perjuangan ArjunaKinara hanya terkekeh melihat suaminya itu meninggalkan kamar. Menggemaskan! "Ah, capek sekali. Semoga kalian nggak apa-apa ya, Nak." Kinara mengusap perutnya sebentar, kemudian memposisikan tidurnya agar lebih nyaman."Juna dapat telurnya nggak ya? Rasanya nggak bisa tidur kalau nggak makan telur," gumam Kinara."Nggak apa-apa ya Nak, biarkan papa kalian berjuang dong. Pastinya papa akan melakukan apapun untuk kalian dan untuk mama." Kinara berusaha mengajak bicara anaknya yang masih berada di dalam perut.Kinara bosan menyalakan televisi sambil menunggu Arjuna pulang dan membawa telur. Kinara ingat dengan Lisa. Bagaimana keadaan kakak sepupunya itu? Dia harap Lisa baik-baik saja. Kinara mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan mengirim pesan pada ponsel Lisa. Ia mengatakan akan ke rumah sakit besok untuk menjenguknya setelah pulang dari kantor polisi.Setelah selesai menulis chat pada Lisa, Kinara mengambil remot televisi dan mengubah salurannya. Daripada dia bosan tidak mela
Terakhir Diperbarui: 2022-07-01
Chapter: 91. Telur Rebus"Tapi, kenapa kamu menutupi tubuhmu dengan selimut? Dingin?" tanya Arjuna. "Nggak! Sebenarnya...."Kinara malu untuk bilang pada Arjuna. Hari ini dengan berani dia menggunakan Lingerie yang ada di dalam lemarinya. Dia tidak tahu kenapa berpikir untuk memakainya dan sekarang dia malu sendiri untuk mengatakan pada Arjuna.Duh, aku jadi malu. Aku harus bilang apa pada Juna, kenapa aku kepikiran memakainya sih? Batin Kinara."Itu ... Aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Kinara dan berbalik. Kinara hendak berjalan namun tubuhnya dipegang oleh Arjuna. Kinara tidak bisa melangkah. Dia menunduk karena malu saat Arjuna membalikkan tubuhnya dan memegang dagu Kinara agar mendongak."Kenapa mendadak ingin ke kamar mandi, Hm?" tanya Arjuna dengan nada sensual membuat buku kuduk Kinara merinding."Itu ... Aku ... Mas!" teriak Kinara karena kini selimut yang menutup tubuhnya lolos dan melorot ke bawah.Kinara menunduk untuk melihat tubuhnya yang terbalut oleh Lingerie tipis berwarna merah. Dia malu
Terakhir Diperbarui: 2022-06-19
Chapter: 90. Siapa Lagi? Kinara melihat ponselnya dan ada bunyi notifikasi chat dari seseorang yang membuat Kinara terkejut. "Jun...." "Ada apa?"Kinara memberikan ponselnya pada Arjuna. Ada chat dari nomor yang tidak di kenal. Isi chat itu menanyakan apakah benar ini adalah nomor Kinara. Ia tidak tahu chat dari siapa itu, dan apakah teror itu belum berakhir? Seharusnya sudah berakhir karena Arya dan Handika sudah tertangkap. Kinara terkejut, karena ia masih trauma dengan sms nomer asing. Arjuna melihat isi chat dari ponsel Kinara. Ia mencatat nomer itu di ponselnya dan memberikannya kembali pada Kinara. "Seharusnya teror itu sudah berakhir, Kinar. Tapi, aku harus memastikan lagi, aku akan minta Argan untuk menyelidikinya. Sekarang kita makan dulu," ucap Arjuna sambil memegang tangan istrinya itu. Arjuna tahu Kinara cemas dengan chat itu dan ia harus menenangkannya. Kinara sedang hamil anaknya dan Arjuna tidak ingin istrinya itu cemas, banyak pikiran dan berpengaruh pada bayi mereka. "Jangan dipikirkan,
Terakhir Diperbarui: 2022-06-11
Chapter: 89. Apakah Sudah Berakhir? Setelah mengunjungi Lisa dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Safira dan Rama menyuruh Arjuna dan Kinara pulang ke rumah. Sebenarnya Rama juga meminta Safira pulang dan istirahat, namun Safira bersikukuh untuk menemani Lisa di rumah sakit. Dia harus memastikan Lisa segera sembuh dan merawat anak menantunya itu."Kalian pulanglah. Pastikan Kinar istirahat dengan baik, Jun. Kinar sedang hamil dan ibu nggak mau kesehatannya menurun.""Baik, Bu. Ibu yakin nggak pulang?" tanya Arjuna."Ibu akan menjaga Lisa, lagipula ibu nggak apa-apa. Satu lagi, Kinar masih syok dengan kenyataan ini. Kamu harus bisa menenangkan pikirannya, Jun," pinta ibu."Baik, Bu."Kinara keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju Arjuna. Safira mendekat dan memeluk Kinara dengan hangat."Istirahat ya, Kinar. Jangan banyak pikiran, yang terjadi sudah terjadi. Sudah menjadi jalan bagi Arya untuk mendekam di penjara," ucap Ibu."Iya, Bu. Kinar berusaha melupakan kejadian hari ini dan menata hati untuk ikhlas meneri
Terakhir Diperbarui: 2022-06-08