MasukSetahun menikah dengan Aryo, Arina hanya berstatus sebagai istri di atas kertas. Tak ada cinta, tak ada kehangatan, karena hati suaminya masih milik wanita lain—Davina. Saat Arina memutuskan bercerai, kedua orang tuanya justru memaksanya menjalani tes kesuburan. Di rumah sakit, dia bertemu dengan dokter Gavin. Putus asa, Arina meminta Gavin memalsukan hasil tes agar dirinya dinyatakan mandul dan cepat bercerai dari Aryo. Gavin bersedia dengan satu syarat: Arina harus menjadi miliknya. Di persimpangan antara harga diri dan kebebasan, Arina mengambil keputusan yang mengubah segalanya. Sejak itu, permainan berbahaya antara dokter yang terobsesi dan wanita yang haus akan sentuhan pun dimulai.
Lihat lebih banyak"Bu---bukan begitu!" Arina malu.Gavin menekan alat itu, membuat Arina langsung menggeliat tak nyaman. Sebenarnya, dia hanya merasa asing dengan benda itu yang masuk ke dalam miliknya."Lalu?""Saya rasa itu bukan urusan anda, Dok." Arina menggigit bibir bawahnya. Tangannya terus meremas baju yang dia pakai untuk menahan sensasi aneh yang dirasakannya saat ini."Lihat ke layar, aku akan menjelaskannya padamu."Arina menoleh ke arah layar monitor besar yang menunjukkan sebuah gambar. Gavin menjelaskan tentang, rahim, Ovarium dan sel telur pada Arina. Semua dijelaskan secara rinci dan lengkap."Semuanya baik-baik saja. Kamu sangat subur. Jika, belum memiliki anak, kemungkinannya ada tiga. Pertama memang belum waktunya, kedua suamimu yang bermasalah, ketiga ... "Gavin menghentikan ucapannya. Dia melepas alat dari milik Arina kemudian menatap wanita itu dengan serius."Ketiga, hubungan rumah tangga kalian yang bermasalah. Paham kan maksudku?" tanya Gavin.Arina langsung merapikan diriny
Arina akhirnya sampai di rumah sakit. Setelah turun dari taksi online, dia langsung menuju bagian pendaftaran untuk pemeriksaan dokter kandungan. Rumi bersikeras memintanya untuk tes kesuburan hari ini juga."Antriannya panjang sekali," gumam Arina pelan.Setelah menyelesaikan proses pendaftaran dan mengisi informasi singkat tentang dirinya, Arina berjalan menuju ruang tunggu dan duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Tangannya menggenggam erat tas yang dibawanya sejak tadi. Sesekali dia melirik nomor antrian di layar digital yang bergerak sangat lambat.Untuk mengusir rasa gugup, Arina mulai memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Matanya menyusuri ruangan yang dipenuhi calon ibu. Sebagian besar tampak sedang hamil besar dengan perut yang membuncit. Ada yang sedang berbincang santai dengan suaminya, ada yang tertawa kecil saat diberi minum, bahkan ada yang sesekali memegang tangan pasangannya sambil tersenyum bahagia.Arina tersenyum kecut. Sejak menikah dengan Aryo, dia tidak
Arina perlahan membuka matanya saat sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah tirai kamar. Sesaat dia hanya berbaring diam sambil menatap langit-langit kamar.Dia menoleh ke arah kasur. Seperti yang sudah-sudah, Aryo masih terlelap di atas kasur empuk itu. Namun yang membuat Arina selalu ingin memutar bola matanya adalah benda yang sedang dipeluk laki-laki itu.Sebuah guling dengan gambar wajah Davina yang tercetak sangat besar.Arina mendengus pelan."Ck! Kenapa nggak sekalian bawa Davina ke sini saja?" gumamnya kesal. "Daripada tiap malam meluk guling aneh dengan wajah sebesar itu. Seram tahu."Setiap kali orang tua mereka menginap atau berkunjung, mereka harus berpura-pura menjadi pasangan normal. Arina akan tidur di sofa, sedangkan Aryo tidur di kasur dengan guling kesayangannya itu.Menyebalkan.Arina segera bangkit sebelum Aryo terbangun. Dia berjalan menuju lemari besar di sudut kamar. Di dalam sana memang tersimpan beberapa pakaian miliknya. Awalnya dia enggan m
"Cerai?" tanya Aryo. "Ya, bukannya lebih baik kita cerai? Kamu bisa menikahi kekasihmu itu dan aku melanjutkan hidup tanpa tekanan." Arina menatap Aryo dengan lebih tenang. Aryo tampak bimbang. Dia memang tak setuju dengan pernikahan ini, tapi apapun keputusan ibunya selalu dia turuti, termasuk menikah dengan wanita yang tak dicintainya. "Katakan saja pada ibumu, mau cerai karena aku mandul. Sesuai yang kamu katakan tadi. Bukannya ibumu mau cucu?" Arina menatang Aryo. Dia sudah muak dengan hubungan ini. "Kamu saja yang bilang padanya. Sekalian pada orang tuamu juga. Aku malas dan tak mau repot." Wajah angkuh Aryo, membuat Arina kesal. Dia berusaha melewati Aryo karena tidak ingin berada lebih lama di dekat laki-laki itu malam ini. Namun baru beberapa langkah, Aryo langsung menahan pergelangan tangannya. "Mau ke mana? Pembicaraan kita belum selesai," tanyanya dingin. "Selain itu, ada Ibu di rumah. Kita harus tidur satu kamar." Arina langsung menoleh tajam lalu menepis


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.