LOGINSetahun menikah dengan Aryo, Arina hanya berstatus sebagai istri di atas kertas. Tak ada cinta, tak ada kehangatan, karena hati suaminya masih milik wanita lain—Davina. Saat Arina memutuskan bercerai, kedua orang tuanya justru memaksanya menjalani tes kesuburan. Di rumah sakit, dia bertemu dengan dokter Gavin. Putus asa, Arina meminta Gavin memalsukan hasil tes agar dirinya dinyatakan mandul dan cepat bercerai dari Aryo. Gavin bersedia dengan satu syarat: Arina harus menjadi miliknya. Di persimpangan antara harga diri dan kebebasan, Arina mengambil keputusan yang mengubah segalanya. Sejak itu, permainan berbahaya antara dokter yang terobsesi dan wanita yang haus akan sentuhan pun dimulai.
View More“Sudah satu tahun menikah, tapi kalian belum juga punya anak! Gimana sih? Atau jangan-jangan kamu mandul, Arina?”
Jleb. Ucapan Rahma—ibu mertuanya—terasa seperti pisau tajam yang menusuk tepat ke jantung Arina. Sakitnya tak berdarah, tapi mampu membuat napasnya sesak seketika. Arina hanya diam sambil menundukkan kepala. Kedua tangannya saling meremas di atas paha, basah oleh keringat dingin. Bibirnya bergetar kecil menahan emosi yang sejak tadi dipaksa tetap terkunci rapat. Sayabgnya, dia tak punya kuasa untuk membantah ucapan ibu mertuanya itu. Walaupun sebenarnya, dia ingin mengatakan yang sebenarnya agar wanita di depannya itu tahu kalau dirinya tidak pernah bermasalah. Rahimnya sehat. Tubuhnya baik-baik saja. Tapi bagaimana dia bisa hamil kalau selama satu tahun menikah, suaminya sendiri bahkan tak pernah menyentuhnya? Ya, begitulah kehidupan rumah tangga Arina. Di mata orang lain, dia adalah istri sempurna dari Aryo Mahardika—putra tunggal keluarga kaya raya yang tampan, sukses, dan berpendidikan. Pernikahan mereka terlihat mewah dan harmonis di luar. Namun kenyataannya, semua hanya sandiwara. Aryo tidak pernah mencintainya. Pernikahan itu terjadi karena perjodohan yang dipaksakan oleh orang tua Arina dan Aryo---yang telah lama berteman. Orang tua Arina menyambut pernikahan tersebut dengan penuh kebahagiaan karena Aryo berasal dari keluarga kaya raya. Sayangnya, sejak awal Aryo menentang perjodohan itu, sementara Arina sama sekali tidak pernah diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat atau menentukan pilihan hidupnya sendiri. Selama satu tahun ini, Aryo bersikap dingin dan cuek. Laki-laki itu lebih memilih menghabiskan waktu bersama kekasihnya, Davina, dibanding pulang ke rumah. Bahkan terkadang Aryo sengaja pulang larut malam hanya agar tidak perlu bertemu Arina terlalu lama. Tatapan Aryo terhadapnya pun selalu sama. Dingin. Muak. Seolah Arina hanyalah beban menjijikkan yang dipaksakan hadir dalam hidupnya. Menyentuh Arina saja Aryo enggan. Jangankan tidur satu ranjang, berbicara baik-baik pun hampir tidak pernah. “Arina memang mandul, Bu,” ucap Aryo santai sambil menyeruput kopi. “Dia nggak bisa punya anak.” Deg. Tubuh Arina langsung menegang. Matanya membulat tak percaya menatap laki-laki yang duduk di seberangnya. Aryo bahkan tidak terlihat bersalah sedikitpun setelah mengucapkan kebohongan besar itu. “Mas Aryo…” suara Arina lirih, bergetar. Rahma langsung menatap menantunya dengan wajah terkejut. “Astaga! Jadi benar kamu mandul, Arina?” “Nggak, Bu. Aku—” “Arina nggak berani ngomong dari awal sama ibu, ayah, bahkan orang tuanya sendiri,” potong Aryo cepat. Nada suaranya tenang, seolah sedang membicarakan hal biasa. “Dia malu. Selama ini aku yang berusaha nutupin semuanya karena nggak mau dia dipermalukan.” Arina mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Dadanya terasa sesak. Air mata yang sejak tadi ditahan mulai menggenang di pelupuk mata. Fitnah. Aryo baru saja memfitnahnya tanpa rasa bersalah. “Mas Aryo, kenapa kamu bilang begitu?” tanya Arina pelan. Suaranya nyaris pecah. Aryo menoleh sekilas. Tatapannya datar tanpa emosi. “Memangnya salah? Cepat atau lambat ibu juga bakal tahu.”Aryo menatap Arina malas. “Tapi aku nggak mandul!” Suasana ruang tamu langsung hening. Rahma yang tadi sempat menjauh dari ruang tamu karena syok akhirnya kembali. Dia mengerutkan dahi melihat putra dan menantunya itu. “Kamu tadi bilang apa, Arina? Tidak mandul?" Arina mengangguk yakin. Dia tak mau disalahkan dalam hal ini, padahal Aryo lah yang selama ini tak mau menyentuhnya. "Kalau kamu nggak mandul, lalu kenapa sampai sekarang belum hamil?” Pertanyaan itu membuat tenggorokan Arina tercekat. Dia ingin jujur. Ingin mengatakan kalau putra kesayangan Rahma tak pernah menyentuhnya sama sekali. Tapi harga diri Aryo dipertaruhkan di sana. Dan entah kenapa, meski berkali-kali disakiti, Arina masih mencoba menjaga nama baik laki-laki itu. Dia mencoba menjaga martabat rumah tangganya. Bahkan di depan semua orang dia menyembunyikan perselingkuhan antara Aryo dan Davina. “Kamu diam saja? Kenapa tidak jawab?” Rahma kembali bicara dengan nada tajam. “Ibu wanita, Arina. Ibu tahu biasanya wanita lah yang bermasalah, kalau terlalu lama belum punya anak.” Kalimat itu terasa seperti tamparan keras. Pemikiran kolot orang tua. Padahal belum tentu dari pihak wanita. Bisa saja dari pihak laki-laki yang kurang atau tidak subur. Arina yakin dirinya baik-baik saja meskipun belum periksa ke dokter. Dia pernah mengajak Aryo untuk tes keseburun setelah menikah, namun Aryo menolak ajakannya. Arina menunduk makin dalam. Bahunya bergetar kecil. Sementara Aryo justru terlihat santai. Bahkan laki-laki itu memainkan ponselnya seolah tak peduli dengan keadaan istrinya. “Kasihan Aryo,” lanjut Rahma. “Masih muda tapi harus punya istri mandul. Coba dari awal jujur, mungkin ibu tidak akan setuju pernikahan ini.” "Sudah ya Aryo, ibu capek. Mau istirahat." "Baik, Bu." Rahma berdiri kemudian meninggalkan ruang tamu. Kedatangan ke rumah Aryo untuk berkunjung sekaligus membawakan masakan favorit putranya itu, namun justru kabar buruk yang dia terima. Tubuhnya mendadak lemas dan butuh istirahat. Air mata Arina akhirnya jatuh. Setetes. Lalu semakin banyak. Namun Aryo tetap diam tanpa rasa iba sedikit pun. Hingga akhirnya Arina mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah penuh luka. “Kenapa kamu tega bohong seperti ini sama ibu, Mas?” tanyanya lirih. Aryo tersenyum tipis, tapi senyum itu sama sekali tidak hangat. “Karena lebih gampang nyalahin kamu daripada harus jelasin semuanya.” Hancur sudah pertahanan Arina saat itu juga. Air matanya berjatuhan. "Aku tak mungkin bilang belum menyentuhmu karena aku jijik. Aku juga nggak mungkin bilang pada ibu kalau aku sudah punya pacar. Masalahnya akan semakin rumit," ucap Aryo. Arina mengusap air matanya. Dia tidak boleh menangis. Dia harus kuat demi kesehatan mental dirinya sendiri. "Terus, harus alasannya memfitnah ku begitu?" tanya Arina. "Lalu mau alasan apa lagi? Kalau alasan menundanya ibu akan bertanya lagi dan lagi. Tapi kalau alasan kamu mandul, sudah selesai. Ibu tak akan bertanya lagi," jawab Aryo. Arina mengepalkan tangannya. "Terus kenapa harus aku? Kenapa nggak bilang kalau kamu saja yang nggak subur, Mas?" "Kamu pikir ibu aku percaya? Aku sehat dan bugar Arina. Tak mungkin aku tak subur! Ah sudahlah. Jangan dibahas lagi. Kamu harus terima alasannya. Setelah ini orang tuamu dan seluruh keluarga akan tahu kalau kamu itu mandul. Terima saja. Karena itu alasan yang masuk akal," ucap Aryo sambil berdiri. "Kalau begitu. Lebih baik kita cerai saja."Hubungan Arina dan Gavin semakin dekat. Arina menerima cinta Gavin dan mereka menghabiskan waktu sambil menunggu Bagas menemukan identitas pemilik akun yang dulu sempat membuat postingan itu.Arina dan Aryo resmi bercerai. Aryo menangis di hadapan Arina dan meminta maaf. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Laki-laki itu kehilangannya dan kehilangan Davina. Tak ada lagi yang peduli. Bahkan ibunya mulai menjauh karena kecewa berat.Arina sedang santai di balkon apartemen. Sudah dua Minggu berlaku, belum ada kabar dari Bagas. Gavin juga tidak memberikan kepastian mengenai restu keluarganya.Pertunangan Gavin dengan Clara batal dan wanita itu kembali ke luar negeri karena marah dan kecewa.Gavin menyusul ke balkon sambil membawa dua mug kopi. Dia taruh di atas meja kemudian menghampiri Arina dan memeluknya dari belakang.Angin berhembus sedikit kencang membuat buku kuduk Arina merinding. Apalagi saat ini bibir Gavin sudah berada di telinga dan lehernya."Jangan disini, Gavin."Gavin mengerat
"Arina, kamu nggak apa-apa?" tanya Bagas dengan nada khawatir. Ia bisa mendengar perubahan napas Arina dari seberang telepon.Arina memejamkan mata sejenak. Dadanya terasa sesak mendengar kemungkinan yang baru saja disampaikan Bagas. Namun, ia berusaha menenangkan diri sebelum kembali fokus pada percakapan mereka."Aku sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan ini, Bagas," jawab Arina pelan. "Tapi tetap saja... rasanya sakit. Sangat sakit."Bagas menghela napas panjang."Aku mengerti perasaanmu, Arina. Siapa pun pasti akan sedih kalau mengetahui orang tua yang terpisah selama bertahun-tahun mungkin sudah meninggal dunia. Apalagi kamu baru saja menemukan petunjuk tentang mereka." Suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. "Tapi jangan langsung mempercayai semuanya. Oke? Aku hanya menyampaikan apa yang kutemukan dari postingan lama di internet. Informasi itu belum tentu seratus persen benar."Arina menggigit bibir bawahnya."Postingan itu sudah lama sekali, bahkan sempat dihapus. A
Arina berjalan pelan menuju balkon apartemen. Dia sengaja menutup pintu kaca dengan hati-hati agar suara percakapannya tidak mengganggu Gavin yang sedang tertidur di kamar.Angin malam berembus lembut menerpa wajahnya. Namun, ketenangan malam itu sama sekali tidak mampu menenangkan debaran di dadanya.Jari-jarinya menggenggam ponsel semakin erat."Katakan padaku, Gas. Apa yang kamu temukan?" tanyanya tanpa basa-basi.Di seberang sana, Bagas menghela napas panjang."Aku cuma dapat informasi dari internet, Arina. Dan itu pun nggak mudah."Arina langsung menegakkan tubuhnya."Maksudnya?""Banyak data yang sengaja dihapus. Bahkan beberapa jejak digitalnya nyaris nggak tersisa. Aku harus cari lewat arsip lama, cache, dan beberapa forum yang sudah mati."Arina menahan napas."Tapi kamu berhasil menemukannya?""Sebagian."Seketika wajah Arina berbinar."Aku benar-benar beruntung punya teman seperti kamu, Gas." Senyum tipis muncul di wajahnya. "Kamu bisa diandalkan banget. Aku janji bakal tra
"Gavin, kamu kenapa?" tanya Arina khawatir saat melihat wajah laki-laki itu tiba-tiba pucat.Gavin menundukkan kepala. Tangannya mengepal di atas meja seolah sedang berusaha menahan sesuatu. Dia menarik napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya menjawab."Nggak apa-apa," katanya pelan. "Perutku tiba-tiba sakit. Kalau kita langsung ke atas gimana?"Arina langsung menganggukkan kepala."Ayo. Kamu harus istirahat."Dia segera menyimpan kalung berbentuk hati itu kembali ke dalam kotaknya. Setelah memastikan benda tersebut aman, Arina berdiri dan membantu Gavin bangkit dari kursinya.Meski Gavin berusaha terlihat baik-baik saja, Arina bisa melihat laki-laki itu berjalan lebih lambat dari biasanya. Karena itu, dia tetap berada di sampingnya sepanjang perjalanan menuju lantai atas.Sesampainya di depan ruangan, Arina segera membuka pintu. Dia membantu Gavin masuk ke dalam kamar dan membimbingnya hingga duduk di tepi lkasur.Gavin mengusap wajahnya sebentar lalu merebahkan tubuh."Maaf, A






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews