LOGINZahra, siswi teladan di sekolah agama, menghadapi kenyataan pahit saat kehamilan di luar nikah mengguncang hidupnya. Dihadapkan pada rasa malu, penghakiman, dan penolakan, ia berjuang menemukan jalan menuju pengampunan dan kembali bangkit di tengah badai dosa dan tekanan lingkungan. "Mampukah ia memperbaiki diri di dunia yang sulit yang kejam ini?"
View MoreMaya POV
I don't know how long I have been out but one thing is for sure, if I don't get back at this time, then I was going to get it from Regina. Worst would be her running her mouth to the alpha, her lover about me escaping my duties.Although the woods give me peace and the tranquillity I crave for, I know I can't continue reeling in the serenity of the quietness of the forest and the fresh air filling my lungs, reminding me that I was still alive.Taking one last longing look to the peaceful forest and taking a deep breath, I stand up and head back to the packhouse.Before we get too far into the story,let me introduce myself.My name is Maya Reed and I am the personal slave to the Alpha of Blue moon pack, Alpha Logan Davidson.Logan and I are fated mates. The moon goddess chose us for each other.I was only eighteen years old when I learnt that Logan was my mate. Imagine how happy I was after I identified him as my mate.Every werewolf gets excited after hitting eighteen years and I was no different.I knew that I would get to meet my mate after my eighteenth birthday and I did.But what I anticipated to be pure bliss turned out to be my nightmare.The mate I so wanted to meet rejected me, saying he couldn't take a weak Omega like me for a Luna.That I was like a plague and I didn't deserve to stand next to him.As if that wasn't enough, he declared he already had a beloved. The woman who he was going to marry and make her his Luna.My heart shattered to pieces as the only hope I had of ever leaving this hellhole escaped me.From what I was told, I was picked up in the woods by the former Luna, half dead.Nobody knows where I come from or who my parents are.I was fifteen years old when I was picked up and brought to the Blue Moon pack.Don't mistake Luna's act as kindness, no,I was brought here not as a member of the pack but as a slave.I lived with the other slaves in the pack doing all sorts of hard labour.I was really excited that after I found my mate, he would take me away from here, away from this hellhole. But alas! That was nothing but a dream and the reality smacked me hard in the face.I believed that once I found him, I wouldn't have to worry about waking up at five in the morning to scrub dirty floors or do the laundry.But my excitement turned into disappointment. With a mate who hated me for no apparent reason, could I be any less hopeless?It was better when I hadn't been identified as the Alpha's mate because after that, my life turned from bad to worse. At least before that, I was only a slave who was looked down upon just like the others but after that, I was reduced to nothing but a hated Omega slave.I became the target of Regina's bullying.She would ask me to do humiliating things for her.Imagine asking me to clean their bed which had traces of their sex Left behind in every corner.That was not all,she would physically abuse me and even ask the Alpha to lock me to the dungeons even without doing anything wrong. My existence alone was enough to anger her, my presence enough to evoke deep feelings of loathe and disgust.That's how I managed to live my two years here in this Pack.I wanted nothing else but to get the hell out of this place, but where was I supposed to go.I knew nobody beyond the pack Lands and running away would definitely turn me into a rogue.That's the worst fate a werewolf could find himself or herself in.Rogues had no place in the werewolf world.It didn't matter whether you were a good wolf or a bad one.Once they capture you, you sure would experience hell down on earth.Your limbs would be severed and your skin peeled off you.Just thinking about it, sends goosebumps all over my body.I still wanted my limbs intact so I dared not run away.To me, it was better to suffer in the hands of Regina than to be captured and tortured or have my head cut.As I made my way to the packhouse, the thoughts of who could be my parents filled my mind.Why was I abandoned?Were my parents still alive or were they dead?If they were alive, then were they looking for me?" Where the hell are you coming from?" Regina's angry voice forcefully pulled me away from my thoughts.' oh no the witch is here.' I cursed inwardly.She was glaring at me with those hate filled eyes.Sometimes, I fail to understand why Regina hates me so much.I was nothing but the rejected mate of her lover.Logan chose her over me, his fated mate.And If that wasn't enough, he made me serve him and his bitch. I had to watch how he doted on Regina everyday, giving in to her ridiculous demands.But I stilled my heart and learned to ignore everything.As long as I lived, that was fine because I wasn't hoping to meet my ancestors soon.As much as my life was nothing but pure misery,I still loved my life,a lot." I went to the woods." I replied honestly, looking her straight in the eye.I know answering her back irked her, but not answering angered her even more.Sometimes, I wonder what she really wants. A honest answer will leave you punished, a lie would land you to even deeper shit." Go and make me pumpkin custard, my baby is craving it." Regina said, caressing her now flat tummy. Her voice taunting meHer words earned a reaction from me.My eyes bulged out. I am sure they were almost popping out of their sockets. Regina is pregnant?But what was I thinking,those two practically rolled in the bed like bunnies on heat." What are you so surprised about? I am the future Luna, of course it's my duty to give the Alpha an heir." Regina said sarcastically as she eyed me with contempt.Right? What was I thinking? Just as she said, as the future Luna, it was her very duty to give the Alpha heirs." Okay." I said as I walked towards the kitchen.I thought I had come to terms with the fact that I would never be enough for Logan and could never be the woman he needs. But I can't pretend that the news about Regina's pregnancy sounded pleasant to my ears.I walked in a daze to the kitchen but my clumsiness made me stumble upon a rich hard chest." Watch where you are going, Omega." Logan shouted at me before I even found the courage to apologise.That has always been his way of degrading me. Reminding me that I was nothing but a lowly Omega,a slave in his pack.Hafiz duduk sendirian di kamarnya, matanya terpaku pada layar ponsel yang bergetar di tangannya. Pesan dari Zahra yang baru saja mengungkapkan kehamilannya masih terngiang-ngiang di kepalanya. Ia tahu tanggung jawab yang kini terjatuh di pundaknya, namun ketakutan akan reaksi keluarganya membuatnya ragu untuk mengambil langkah pertama."Apakah aku siap untuk ini?" gumam Hafiz dalam hati, merasa beban yang semakin berat setiap harinya.Pikirannya dipenuhi oleh berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Ia membayangkan wajah ibunya yang penuh kasih dan ayahnya yang tegas, namun bayangan kegagalan dan kekecewaan mereka membuatnya merasa terjebak dalam dilema yang tak mudah.Hafiz menatap foto keluarganya yang terpajang di meja belajar. Senyum bahagia mereka saat liburan terakhir masih jelas teringat. Ia tahu bahwa keluarganya selalu menjadi sumber kekuatan dan dukungan, namun sekarang ia merasa dirinya tidak mampu memenuhi harapan mereka."Tidak bisa te
Zahra merasakan detak jantungnya semakin cepat seiring waktu berlalu. Panggilan dari orang tuanya tidak datang dengan cepat, dan setiap menit terasa seperti jam. Akhirnya, suara langkah kaki terdengar mendekat, diikuti oleh pintu yang terbuka perlahan. Ibunya masuk terlebih dahulu, diikuti oleh ayahnya. Ekspresi wajah mereka menunjukkan keprihatinan yang mendalam. "Ibu, Ayah, ada apa?" tanya Zahra, mencoba menahan kecemasannya. Ibunya duduk di sofa, mengambil napas dalam sebelum berbicara. "Zahra, kami tahu bahwa ada sesuatu yang kamu simpan dari kami. Kami ingin kamu terbuka sekarang." Zahra menunduk, merasakan tekanan berat di dada. "Aku... aku tidak tahu harus berkata apa." Ayahnya duduk di sebelah ibunya, matanya tajam menatap putrinya. "Kamu tahu betapa kami peduli padamu. Jangan biarkan rahasia ini merusak hubungan kita." Zahra menghela napas panjan
Setelah kabar tentang kehamilan Zahra tersebar, sekolah menjadi sangat berbeda. Di setiap lorong, di ruang kelas, dan di kantin, bisikan-bisikan terdengar di mana-mana. Semua orang seolah-olah memiliki pendapat mereka sendiri tentang apa yang terjadi, dan hampir tidak ada yang peduli untuk mengetahui kebenaran dari sisi Zahra. Beberapa teman-temannya mengejek, beberapa menghindari, dan yang lainnya hanya bisa menatapnya dengan penuh kasihan.Zahra, yang biasanya merasa percaya diri di tengah-tengah teman-temannya, kini merasa terasing. Setiap kali dia melangkah di koridor, dia bisa merasakan tatapan tajam yang jatuh padanya. Seolah-olah setiap langkah yang dia ambil penuh dengan penilaian, setiap helaan napasnya disorot dengan sinisme yang tak bisa dihindari.Ia berjalan melewati kelompok teman sekelasnya, dan mereka berhenti berbicara. Beberapa dari mereka mengalihkan pandangan, sementara yang lainnya tampak terbata-bata, mencoba mencari kata-kata yang t
Zahra merasakan tubuhnya semakin lemah saat duduk di bangku kelas. Kepalanya berputar-putar, dan meskipun ia berusaha untuk tetap fokus pada pelajaran yang sedang diajarkan, pikirannya terus melayang. Setiap napas yang dihirupnya terasa semakin berat. Namun, Zahra mencoba untuk tidak menunjukkan ketidaknyamanannya, takut jika orang lain mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.Satu jam berlalu, dan semakin lama, tubuh Zahra terasa semakin tidak terkendali. Tiba-tiba, perasaan pusing yang sangat hebat datang, dan dalam sekejap, Zahra terjatuh dari bangkunya. Tubuhnya jatuh ke lantai dengan keras, dan suara benturan itu langsung memecah keheningan ruang kelas. Semua mata langsung tertuju pada Zahra yang tergeletak di lantai, tak bergerak."Aduh! Zahra!" seru Aisyah, yang duduk tak jauh dari Zahra, segera berlari menuju sahabatnya. Ia menunduk, mencoba memeriksa keadaan Zahra, tetapi ia merasa cemas saat melihat wajah Zahra yang pucat dan tubuhnya yang kaku.S
"Kadang, rahasia kita menjadi beban yang semakin berat seiring berjalanya waktu. Namun, kebebasan datang ketika kita memutuskan untuk melepaskannya."Zahra mulai merasakan perubahan fisik yang tidak bisa disembunyikan lagi. Beberapa minggu setelah keputusan untuk mengungkapkan kehamilan kepada oran
Zahra merasakan beban yang semakin berat setiap harinya. Setiap langkah yang diambil, ia merasa seperti ada mata yang terus mengawasinya. Lingkungan di sekitarnya mulai berubah, meskipun ia berusaha untuk tetap tenang, hatinya terasa semakin terhimpit.Di sekolah, teman-temannya yang dulu selalu be
"Ketika kita tidak tahu arah, Tuhan selalu memberi petunjuk melalui hati yang tenang."---Zahra melangkah menuju kelas dengan langkah kaki yang sangat yakin, berusaha menenangkan pikirannya yang masih kacau setelah percakapan singkat dengan Hafiz. Meskipun ia berusaha untuk tidak memikirkannya lag
"Ketika nama baikmu menjadi cahaya di mata orang lain, pastikan hatimu tetap bercahaya di mata Tuhan."---Langkah kaki Zahra terasa ringan ketika ia memasuki aula besar. Suara lantunan doa dan bacaan Al-Qur'an menggema, membangun suasana tenang yang menyelimuti ruangan. Zahra menatap sekeliling,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.