Chapter: BuktiPerubahan ekspresi di wajah ayah tiri Raisa terlihat begitu jelas. Keangkuhan yang tadi menyelimutinya sirna seketika, berganti dengan kilat panik yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat. Ia melirik ke arah pintu keluar, namun dua petugas keamanan gedung sudah berdiri mengunci akses tersebut."Kamu gertak sambal, Alan," desis pria itu, berusaha keras menjaga suara beratnya agar tidak terdengar bergetar. "CCTV itu sudah hangus bersama seluruh isi gedung."Alan tidak melayani perdebatan itu lagi. Sambil tetap merangkul shoulder Raisa yang masih terisak, Alan mengambil ponselnya dari saku jas dengan tangan kanan, menyalakan pengeras suara, dan menelepon seseorang.Hanya dalam dua kali nada panggil, suara Rain terdengar dari seberang telepon."Lan, tim penyidik dari Polresta sudah meluncur ke lokasi apartemenmu. Berkas digital rekaman server cadangan dan surat perintah penangkapan atas nama direksi perusahaan sudah resmi diterbitkan," ujar Rain tegas, cukup nyaring hingga terdengar ke se
Last Updated: 2026-08-01
Chapter: AncamanRaisa mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menolak untuk tunduk meski tubuhnya tak bisa menyembunyikan getaran hebat. Ia memutar otak dengan cepat, mencari celah untuk melarikan diri atau setidaknya meraih benda apa pun di sekitarnya untuk membela diri."Aku nggak akan pernah dengarin kamu lagi!" pangkas Raisa dengan napas memburu. Tangannya secara refleks meraba permukaan meja makan di belakang tubuhnya, hingga jemarinya menyentuh sebuah vas bunga kaca berukuran sedang.Tanpa berpikir panjang, Raisa menyambar vas itu dan melayangkan ancaman. "Mundur! Jangan mendekat, atau aku lempar vas ini!"Pria itu sempat menghentikan langkahnya, menatap vas bunga di tangan Raisa sebelum akhirnya terkekeh pelan—sebuah tawa meremehkan yang amat dingin."Kamu mau mencoba melawan aku pakai benda itu?" bisiknya seraya kembali melangkah maju tanpa rasa takut sedikit pun. "Kamu lupa siapa saya? Kamu selalu jadi anak kecil yang lemah.""Jangan mendekat!" jerit Raisa.Sesaat sebelum pria itu berhasil me
Last Updated: 2026-08-01
Chapter: Lama Tidak BertemuPagi harinya, Alan dan Raisa baru saja selesai sarapan ketika ponsel Alan di atas meja makan bergetar. Layarnya menampilkan nama Rain. Alan langsung mengangkatnya, sementara Raisa memperhatikan perubahan raut wajah Alan yang mendadak serius mendengarkan penjelasan di seberang telepon."Ada bukti baru yang ketemu di lokasi kebakaran kantor Papa," ujar Alan setelah mematikan ponselnya. Ia menatap Raisa dengan pandangan serba salah. "Rain minta aku ke sana sekarang buat ngecek langsung. Katanya ini penting banget sebelum kita bawa berkasnya ke LPSK nanti."Walaupun perasaan cemas langsung merayap karena harus ditinggal sendirian, Raisa mencoba menahan diri. Ia tahu bukti itu sangat krusial untuk kasus mereka."Nggak apa-apa, Mas. Pergi aja," ucap Raisa, berusaha meyakinkan Alan. "Aku aman di sini. Lagian apartemen ini kan penjagaannya ketat."Alan mengangguk, lalu menepuk pelan bahu Raisa untuk menenangkannya. "Aku usahain gak lama. Inget, kunci pintunya dan jangan sembarangan buka kalau
Last Updated: 2026-05-22
Chapter: LPSKAlan menatap Raisa dengan binar kelegaan yang tak bisa disembunyikan. Keberanian yang terpancar dari mata wanita itu seolah memberi suntikan energi baru bagi Alan yang baru saja kehilangan ibunya. Ia melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Raisa dan meremasnya lembut, menyalurkan seluruh dukungan yang ia punya."Terima kasih, Sa. Kita hadapi ini sama-sama. Aku gak akan biarkan kamu sendirian di depan mereka nanti," ucap Alan mantap.Di seberang meja pembatas, Gendis kembali menangis, namun kali ini air matanya adalah air mata haru dan syukur. "Terima kasih, Raisa... Terima kasih banyak. Aku gak tahu harus balas kebaikan kamu pakai apa lagi setelah semua yang udah aku lakuin.""Kamu cukup bertahan di sini beberapa hari lagi, Gendis. Jaga diri kamu baik-baik sampai Pak Yudha datang bawa berkas penangguhan," balas Raisa dengan senyum tipis, mencoba menguatkan sahabatnya.Pertemuan emosional itu terpaksa berakhir ketika seorang petugas sipir mengetuk pintu, menandakan bahwa waktu kun
Last Updated: 2026-05-22
Chapter: Melawan Rasa TakutAlan tidak mau menyerah begitu saja. Dengan sisa waktu yang mendesak, ia langsung menghubungi Pak Yudha kembali agar mendesak kepala sipir untuk memberikan dispensasi. Berkat koneksi kuat Pak Yudha, surat izin darurat akhirnya turun.Petugas loket pun terpaksa mengizinkan Raisa dan Alan masuk ke ruang kunjungan khusus, memotong proses pemeriksaan sepihak yang sedang dilakukan oleh tim hukum bentukan ibu Raisa.Pintu besi ruang kunjungan terbuka dengan bunyi gemerincing yang berat. Di dalam ruangan bernuansa dingin itu, duduk Gendis di balik meja pembatas. Begitu melihat sosok Raisa melangkah masuk, tubuh Gendis langsung menegang. Matanya membelalak, tidak percaya bahwa sahabat yang dikiranya sudah tewas dalam kecelakaan itu kini berdiri tegak di depannya."Raisa...?" bisik Gendis dengan suara bergetar.Air mata Raisa langsung tumpah. Ia melangkah cepat dan langsung duduk di kursi hadapan Gendis. "Gendis... ini aku."Begitu menyadari bahwa ini bukan mimpi, tangis Gendis langsung pecah.
Last Updated: 2026-05-21
Chapter: Firasat BurukAlan mencengkeram ponselnya dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras menahan amarah yang mendadak menyengat seluruh tubuhnya. Firasat buruknya terbukti. Ibu kandung dan ayah tiri Raisa benar-benar tidak membuang waktu. Baru saja ia menguburkan ibunya, kini mereka sudah bergerak lagi di belakang layar untuk membungkam Gendis."Nggak bisa dibiarin, Pak," desis Alan dengan suara tertahan, melirik ke arah pintu ruang kerja, memastikan Raisa di luar tidak mendengar percakapan ini. "Gendis itu satu-satunya harapan kita buat bongkar kelicikan mereka dan bebasin Papa. Kita gak boleh kalah cepat.""Saya tahu, Alan. Makanya sekarang saya sedang meluncur ke kejaksaan untuk menahan berkas permohonan mereka," sahut Pak Yudha dari seberang telepon. "Tapi kamu dan Raisa harus segera ke rutan sekarang juga. Gunakan sisa waktu kunjungan reguler siang ini sebelum jam tutup. Surat izin darurat dari saya akan menyusul lewat kurir digital langsung ke kepala sipir yang saya
Last Updated: 2026-05-21
Merebut Suami Kakakku
Alina pulang dengan hati berbunga, mengira kekasihnya datang membawa kejutan. Tapi yang menunggunya bukan lamaran, melainkan pengkhianatan terbesar dalam hidupnya.
Di depan keluarga besar, Daren—lelaki yang selama ini ia cintai, diam-diam melamar kakaknya sendiri. Kakak yang tahu hubungan mereka. Kakak yang selalu mendapatkan segalanya.
Seketika, dunia Alina runtuh.
Di rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, ia justru merasa menjadi orang asing. Terluka, terbuang, dan dikhianati oleh dua orang yang paling ia percayai.
Ketika keluarga bersorak merayakan kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya, Alina hanya ingin satu hal—menemukan alasan di balik penghianatan itu… atau pergi sebelum dirinya benar-benar hancur.
Read
Chapter: 33. PengecutAku hanya bisa menghela napas panjang, enggan berdebat lebih lama di halaman depan yang sepi ini. Dengan melangkah dingin, aku membuka pintu pagar yang tidak dikunci lalu menuntunnya menuju pintu utama rumah.Setibanya di dalam, aku menyalakan lampu ruang tamu dan menunjukkan jalan menuju kamar tidur Rafa. Mas Daren melangkah sangat pelan, seolah setiap pijakannya takut membangunkan anak dalam pelukannya. Pria itu menunduk sebentar, menyesap aroma tubuh Rafa yang khas anak-anak sebelum mendudukkan dan membaringkan tubuh mungil itu di atas kasur dengan amat perlahan.Dengan kelembutan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya dari seorang pria dingin seperti Daren, ia melepas sepatu kecil Rafa satu per satu. Ia menarik selimut tebal hingga menutupi dada anak itu, lalu mengelus rambut Rafa dengan jemarinya yang agak bergetar."Maafkan Om... maafkan Ayah, Sayang," bisiknya sangat lirih, hampir tak terdengar jika aku tidak berdiri tepat di ambang pintu kamar.Dadaku berdesir hebat mendenga
Last Updated: 2026-08-01
Chapter: 32. Pulang BersamaMas Daren tidak langsung menjawab sapaan Rafa. Pria itu perlahan berlutut di atas lantai marmer, menyamakan tingginya dengan putraku. Tatapannya begitu lekat."Iya, ini Om yang tadi," jawab Mas Daren dengan suara yang terdengar sedikit serak. Dia memaksakan sebuah senyuman, meski matanya tampak berkaca-kaca. "Kuenya enak, Rafa?""Enak banget, Om! Om mau?" Rafa dengan polosnya menyodorkan piring kecilnya, membuat Mas Daren tertegun menahan gejolak emosi di dadanya.Ayah yang menyadari kehadiran menantunya itu langsung menepuk pundak Mas Daren. "Eh, Daren. Kamu dari mana saja? Itu sudut bibirmu kenapa? Kok agak merah begitu?" tanya Ayah dengan nada menyelidik, menatap memar kecil di wajah Mas Daren.Pertanyaan Ayah membuat suasana mendadak tegang. Mas Daren sempat melirikku sekilas sebelum kembali menatap mertuanya itu dengan tenang. "Ah, ini tidak apa-apa, Yah. Tagi di luar agak gelap, Daren kurang hati-hati dan sempat terserempet ranting pohon yang agak rendah."Aku hanya bisa mencibi
Last Updated: 2026-05-22
Chapter: 31. Ciuman Paksa"Aku tidak percaya!"Suara Mas Daren menggelegar di keheningan taman sepi itu. Sebelum aku sempat melangkah lebih jauh, dia kembali memburu langkahku. Dengan satu sentakan kasar, dia memutar tubuhku hingga punggungku membentur batang pohon besar di belakangku.Kedua tangannya mengunci pergerakanku di sisi kiri dan kanan kepalaku. Napasnya memburu, matanya merah menyala oleh amarah dan frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun."Jangan bohongi aku, Alina! Aku bukan orang bodoh!" bentaknya, napasnya yang panas menerpa wajahku. "Kamu bisa menyangkalnya sekeras apa pun, tapi mata anak itu, senyumnya, bahkan caranya menatapku tadi... itu darah dagingku! Katakan yang sebenarnya! Mengaku, Alina!""Bukan!" teriakku tepat di depan wajahnya, mataku balas menatapnya dengan penuh kebencian yang dipaksakan. "Dia bukan anakmu! Sampai mati pun dia bukan anakmu, Daren!""Alina!!"Kemarahannya pecah. Kehilangan kendali atas penolakanku yang begitu keras, Mas Daren tiba-tiba menundukkan kepalanya. Sebelu
Last Updated: 2026-05-21
Chapter: 30. Rafa Anakku?Tanpa memedulikan tatapan beberapa pasang mata yang mungkin menyadari pergerakan kami, Mas Daren tiba-tiba melangkah maju. Tangannya yang besar dan kokoh langsung menyambar pergelangan tanganku, mencengkeramnya erat, lalu menarikku paksa membelah kerumunan tamu menuju pintu keluar darurat di sudut ballroom."Mas! Lepas! Apa-apaan sih?!" desisku tertahan, mencoba menahan langkah kakiku di atas lantai marmer.Aku tidak bisa berteriak kencang karena tidak ingin membuat keributan di pesta kolega Ayah, namun aku terus memberontak, berusaha menyentak tanganku dari genggamannya.Mas Daren sama sekali tidak bergeming. Dia terus menarikku menyusuri lorong sepi yang menuju ke arah taman samping hotel yang pencahayaannya cukup temaram.Begitu kami tiba di area taman yang sepi, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menyentak tanganku kembali. "Lepas, Mas Daren! Kamu gila, ya?!" bentakku dengan suara tertahan, napas daku memburu karena emosi.Aku melangkah mundur satu pijakan, memegangi pergelang
Last Updated: 2026-05-21
Chapter: 29. Kenapa Menatapku?Mas Daren menatap uluran tanganku seolah-olah tangan itu adalah sesuatu yang tidak nyata. Tangannya yang besar perlahan terangkat, bergetar sedikit saat telapak tangan kami akhirnya bersentuhan. Genggamannya begitu erat, seolah-olah ia takut jika dia melepaskannya sedikit saja, aku akan kembali menghilang bagai asap."Alina... ini benar-benar kamu?" bisiknya lirih, mengabaikan kebisingan suara denting gelas dan obrolan para pengusaha di sekitar kami. Suaranya serak, sarat akan emosi yang tertahan selama bertahun-tahun."Iya, Mas. Ini aku," jawabku tenang, tetap mempertahankan senyum anggun di bibirku. Aku dengan sengaja menarik tanganku perlahan dari genggamannya sebelum ada orang lain yang menyadari keintiman yang janggal ini.Sengaja ingin menyiksanya dengan rasa penasaran, aku langsung memutar tubuh, mengabaikan Mas Daren yang masih terpaku. Aku beralih pada kolega Ayah yang berdiri di sebelah kami, melempar senyum manis dan mulai menanggapi obrolan mereka tentang bisnis dan kabark
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: 28. First MeetMalam pun tiba, membawa udara dingin sisa hujan sore tadi. Setelah memastikan Rafa makan malam dan kembali terlelap di kamarnya, aku berjalan menuju balkon lantai dua. Aku sengaja tidak menyalakan lampu balkon, membiarkan diriku melebur dalam kegelapan malam sambil memandangi rumah di ujung sana.Benar saja dugaan dugaanku. Mas Daren masih belum tenang.Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat siluetnya di balik jendela kaca ruang kerjanya yang terang di lantai dua rumahnya. Dia berjalan mondar-mandir, sesekali menyibakkan gorden dan menatap ke arah rumahku. Dia tampak seperti pria yang kehilangan arah, tersiksa oleh teka-teki yang sengaja kubiarkan menggantung.Sementara itu, di lantai bawah rumah mereka, lampu ruang tengah tampak temaram. Aku bisa membayangkan bagaimana dinginnya atmosfer di dalam sana. Kak Alda pasti sedang kebingungan menghadapi sikap suaminya yang mendadak jauh lebih berubah menjadi lebih sekat dan melamun sejak pulang dari minimarket tadi pagi.Aku menyilangkan d
Last Updated: 2026-05-20