author-banner
F Azzam
F Azzam
Author

Novels by F Azzam

Kembalinya Sang Legenda Perang

Kembalinya Sang Legenda Perang

Di tengah kemegahan kota Arkadea, seorang jenderal perang legendaris bernama Aryan menghadapi nasib yang tak terduga. Setelah menghilang akibat kecelakaan helikopter yang menghancurkan ingatannya, ia terpaksa menjalani hidup baru sebagai buruh bangunan tanpa mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Sebenarnya Aryan adalah seorang pria dengan wajah yang tampan, berperawakan gagah. Namun Aryan menjalani hari-harinya dengan sindiran dan hinaan, walaupun sebenarnya ia menyimpan masa lalunya yang heroik. Hidupnya mulai berubah ketika ia bertemu dengan Clara, seorang Agen polisi yang membuatnya merasakan cinta dan penerimaan yang tulus. Namun, hubungan mereka terbentur pada pandangan keluarganya yang merendahkan Aryan karena status sosial saat ia masih belum tersadar akan jati dirinya. Suatu ketika seseorang mendorong Aryan untuk kembali ke dunia militer, kenangan mulai kembali mengisi pikiran Aryan. Dibantu oleh mantan rekan-rekannya, Aryan menggali kembali kemampuan dan kepemimpinannya. Namun, ancaman baru muncul ketika Kelompok "Dark Immortal" mengguncang kedamaian Arkadea dan seluruh dunia. Dengan keberanian dan kekuatannya yang terpendam, Aryan melawan musuh dan memulihkan keamanan dunia. Pertempuran epik itu menjadi momen kebangkitan Aryan, membawa namanya kembali diingat sebagai jenderal yang dihormati. Namun, setelah kemenangan, dia menyadari bahwa kekuatan sejati bukan hanya dalam memimpin militer, tetapi juga dalam menghubungkan dirinya dengan rakyat dan membangun kembali kehidupan mereka. "Kembalinya Sang Legenda Perang" adalah sebuah kisah tentang cinta, perjuangan, dan penemuan diri yang mengajarkan arti sejati dari kepemimpinan dan hikmat di balik sebuah perjalanan yang penuh luka. Pada akhirnya Aryan membuktikan bahwa sebuah legenda tidak pernah mati, melainkan hidup dalam hati mereka yang terinspirasi.
Read
Chapter: Guncangan di Pesisir Utara
Fajar yang seharusnya membawa ketenangan justru datang dengan aura kematian yang mencekam. Di cakrawala laut utara, kabut tebal perlahan tersibak oleh moncong-moncong kapal perang berwarna hitam legam tanpa nomor lambung. Itu adalah armada tempur organisasi Nebra. Mereka tidak datang untuk bernegosiasi; mereka datang untuk mengambil kembali aset mereka yang paling berharga: Protokol Alpha 9 yang ada di dalam tubuh Aryan. Aryan berdiri di atas tanggul pemecah ombak, menatap ribuan kilatan cahaya dari meriam laser kapal-kapal tersebut. Di belakangnya, Mayor Yudha sedang berteriak melalui radio, berusaha mengoordinasikan unit artileri pantai yang masih tersisa. "Jendral, mereka mulai mendarat! Unit amfibi mereka bukan manusia!" teriak Yudha. Dari balik ombak, muncul ratusan prajurit mekanik yang dikenal sebagai Nebra Reapers. Berbeda dengan Subjek Beta yang lincah, Reapers adalah tank berjalan yang dirancang untuk satu tujuan: penghancuran total. "Tahan posisi! Jangan menembak sampai
Last Updated: 2026-01-24
Chapter: Suara Kebenaran
Gedung Televisi Pusat menjulang seperti menara pengawas di tengah ibu kota yang sunyi akibat jam malam. Di puncaknya, lampu sorot raksasa menyapu jalanan, mencari setiap gerak-gerik yang mencurigakan. Di dalam gedung itu, Silas telah menyiapkan panggung eksekusi. Tante Mira dirantai di kursi besi di tengah studio utama, dikelilingi oleh kamera yang siap menyiarkan "pengadilan pengkhianat" ke seluruh negeri dalam hitungan menit. Di luar gedung, Aryan berdiri di puncak gedung apartemen yang berseberangan. Angin kencang memainkan ujung jubah taktisnya. Di sampingnya, Mayor Yudha sedang menyiapkan senapan runduk dengan amunisi pengacau sinyal. "Jendral, sensor menunjukkan ada minimal lima puluh personel unit Penjagal di dalam. Plus, Subjek Beta yang kau lawan kemarin ada di lantai empat puluh," lapor Yudha melalui alat komunikasi. Aryan tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya memeriksa detak jantungnya yang kini berada di frekuensi rendah yang stabil. Alpha 9 di tubuhnya sudah tersi
Last Updated: 2026-01-24
Chapter: Hantu dalam Jaringan
Malam di ibu kota tidak lagi terasa aman bagi mereka yang mengenakan lencana Dewan Pertahanan Nasional. Di bawah lampu-lampu neon yang berkedip, sebuah ketakutan baru mulai menyebar di kalangan militer. Mereka menyebutnya sebagai "Hantu Arkhana". Sebuah entitas yang menyerang tanpa suara, melumpuhkan sistem tanpa jejak, dan menghilang sebelum alarm sempat berbunyi. Di sebuah gudang tua yang menjadi markas sementara, Aryan duduk diam di tengah kegelapan. Satu-satunya cahaya berasal dari kabel-kabel optik yang tersambung dari pergelangan tangannya ke sebuah komputer pusat curian. Ia sedang melakukan penetrasi ke jaringan saraf logistik sektor tujuh. Matanya yang putih terang bergerak cepat, memproses ribuan baris data enkripsi per detik. "Tingkat keberhasilan infiltrasi: sembilan puluh delapan persen," gumam Aryan tanpa ekspresi. Mayor Yudha masuk membawa dua pucuk senapan serbu yang telah dimodifikasi. Ia menatap Aryan dengan ngeri sekaligus takjub. "Depo sektor tujuh itu dijaga ole
Last Updated: 2026-01-24
Chapter: Debu di Puncak Utara
Suara ledakan bom termobarik yang dijatuhkan oleh angkatan udara Silas menggetarkan seluruh rangkaian pegunungan Utara. Puncak gunung yang semula kokoh seolah terkelupas, mengirimkan jutaan ton salju dan bebatuan jatuh menimbun lembah di bawahnya. Dari kejauhan, pemandangan itu tampak seperti kiamat kecil yang dibungkus dalam kabut api dan asap hitam. Di dalam ruang kendali jet tempur pemimpin, seorang pilot melapor dengan nada datar, "Target dihancurkan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang tersisa di area bunker." Silas, yang menyaksikan semuanya melalui transmisi satelit di kantor rahasianya, menyandarkan punggung ke kursi kulitnya. Senyum kemenangan menghiasi wajah tuanya. Baginya, Aryan Arkhana bukan lagi ancaman. Dengan hancurnya bunker itu, semua bukti pengkhianatannya di masa lalu terkubur bersama jasad sang Jendral. Silas segera menekan tombol interkom, memanggil staf medianya. "Umumkan kepada seluruh negeri," perintah Silas dengan nada yang dibuat sedih. "Jendral Aryan tel
Last Updated: 2026-01-24
Chapter: Bangkitnya Pasukan Bayang-Bayang
Kegelapan di dalam bunker Arkhana terasa begitu padat, seolah-olah waktu telah berhenti berdetak di sana selama tiga puluh tahun. Namun, saat kaki Aryan melangkah melewati ambang pintu, deretan lampu neon biru di langit-langit menyala satu per satu, menciptakan lorong cahaya yang membentang jauh ke perut bumi. Suara gerbang raksasa di belakang mereka menutup dengan dentuman yang menggetarkan fondasi gunung. Mereka kini terperangkap di dalam benteng kuno yang menyimpan rahasia paling berbahaya dari klan Arkhana. "Aryan, lihat itu," bisik Clara sambil menunjuk ke arah aula besar di ujung lorong. Di sana, berderet rapi ratusan unit baju zirah mekanis yang dikenal sebagai Arkhana Sentinels. Baju zirah ini tidak digerakkan oleh mesin biasa, melainkan oleh sistem neuro-link yang hanya bisa dikendalikan oleh seseorang dengan protokol Alpha 9 aktif. Ini bukan sekadar gudang senjata; ini adalah pasukan pribadi yang siap meratakan kota dalam hitungan jam. Rahasia Tante Mira Saat Mayor Yudh
Last Updated: 2026-01-24
Chapter: Badai Merah di Puncak Utara
Gema tawa Silas dari radio taktis milik Viktor Arkhana seolah memicu ledakan di dalam dada Aryan. Langit yang semula gelap kini terang benderang oleh ribuan lampu indikator merah dari drone tempur yang melayang rendah, mengepung area gerbang besi klan Arkhana. Salju yang turun deras mendadak menguap sebelum menyentuh tanah, kalah oleh panas energi biometrik yang terpancar dari tubuh Aryan yang kini berada pada level kritis. "Viktor, kau menjual darahmu sendiri demi janji seorang ular?" geram Aryan. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan dentuman rendah yang membuat bebatuan di sekitarnya bergetar. Viktor Arkhana jatuh terduduk, wajahnya yang penuh bekas luka bakar kini pucat pasi. "Dia bilang... dia bilang ini satu-satunya cara agar klan kita diakui kembali, Aryan! Aku lelah hidup sebagai tikus di dalam gua!" "Kau bukan tikus, Viktor. Kau adalah pengkhianat," desis Tante Mira. Ia sudah berada di posisi siaga, dua belati di tangannya berkilat memantulkan cahaya merah dari lang
Last Updated: 2026-01-23
Kebangkitan Sang Panglima Perang

Kebangkitan Sang Panglima Perang

Julian lahir dari keluarga yang serba berkekurangan. Keluarganya terhina oleh orang-orang disekitarnya karena kemiskinannya. Namun ia tak tinggal diam begitu saja. Julian mencoba mendaftar menjadi prajurit, dengan harapan untuk mengharumkan nama keluarga. Akhirnya ia diterima bergabung ke dalam kesatuan. Yang ditugaskan langsung untuk terjun ke medan perang. Tak disangka, ternyata karir militer lah yang membesarkan namanya. Dengan kemampuannya, ia dapat memenangkan setiap pertempuran dengan gemilang. Hal itu lah yang membuat Julian disegani oleh kalangan petinggi militer dan ia berhasil diangkat menjadi seorang jendral besar. Selain berhasil dalam dunia kemiliteran. Julian pun berhasil membangun bisnisnya yang terdiri dari berbagai bidang. Namun ada suatu kejadian naas, di mana saat itu ia tengah berada di sebuah helicopter untuk menuju ke kampung halamannya. Helicopter yang ditumpanginya kehilangan kendali dan jatuh ke tengah hutan belantara. Seluruh kru tewas namun Julian berhasil selamat setelah tim sar menemukannya terkapar di tengah hutan. Setelah beberapa bulan ia dirawat. Akhirnya Julian tersadar kembali tapi dengan Julian yang telah lupa ingatan. Di tengah keterpurukan itu ia menemukan seorang wanita yang dengan ikhlas merawatnya bernama Sofia. Namun keluarga sang wanita yang tidak tau latar belakang Julian tidak terima dengan pria pilihan itu. Julian yang hilang ingatan itu pun tidak percaya bahwa dia adalah seorang jendral besar dan alasan itulah yang membuat dia tak memberitahukannya kepada Sofia. Hal itu membuat Julian terhina di mata keluarga Sofia yang notabene berasal dari kalangan konglomerat. Bahkan dimata semua orang yang mengenal Sofia. Akankah Julian akan bangkit kembali dalam kejayaannya sebagai Jendral besar dan membalas semua penghinaan itu? Mari simak ceritanya.
Read
Chapter: Lingkaran Pengkhianatan dan Kesetiaan
Malam itu, suasana tegang tak kunjung padam saat Rio tiba di pintu markas, menembus batas kegelapan. Suara tembakan berdentang di kepalanya, membangkitkan semangat para pemberontak yang berjuang dalam balutan api amarah. Dia tahu, waktunya hampir habis—dia harus membawa Jacky pergi sebelum semuanya terlambat.“Jangan berhenti! Ini adalah kesempatan kita!” teriak Rio kepada prajuritnya yang mengekor di belakangnya. Kabar bahwa Jacky ditahan telah menyebar, membuat semua orang bertekad untuk menyelamatkan sang pengkhianat.Di dalam markas, Jacky bisa mendengar deru langkah kaki mendekat, hatinya bergetar antara ketakutan dan harapan. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh Brigjen William telah membangkitkan semangat baru dalam dirinya. Dia tahu, para pemberontak akan datang untuk menjemputnya, dan kini saat itu telah tiba.“Cepat Jacky! Kita tidak punya banyak waktu!” teriak Rio saat dia membuka pintu ruangan tempat Jacky terkurung. Seketika itu juga, tatapan mereka bertemu; dalam sekejap, se
Last Updated: 2025-01-04
Chapter: Pembalasan pasukan pemberontak
Melihat Sang Jendral dibunuh secara tragis. Pasukan pemberontak tak tinggal diam. Kejadian itu membuat api kemarahan para pasukannya. Mereka seketika mengarahkan senjata ke arah pasukan republik. Beruntung pasukan republik langsung merespon dengan tembakan. Para pasukan Pemberontak pun tewas di tempat. Suara tembakan itu telah memancing kedatangan pemberontak lain yang berada di luar ruangan. "Cepat bawa keluar Jacky! Sedikit lagi mereka akan datang untuk melakukan pembalasan!" seru Julian, kepada pasukannya. Lalu pasukan langsung membawa Jacky keluar dari markas itu. Julian memilih tidak melawan para pasukan Pemberontak karena mempertimbangkan jumlah pasukannya yang tak sebanding dengan jumlah pasukan Pemberontak. Di saat pasukan pemberontak memasuki ruangan markas. Mereka terkejut melihat Jendral Dedy telah tewas dengan luka yang menganga di kepala. "Tidak mungkin! Para pasukan Republik telah membunuh Jendral Dedy?!" ucap salah satu Pemimpin pemberontak. Salah s
Last Updated: 2025-01-02
Chapter: Terbunuhnya Sang Jendral Pemberontak
Pembunuhan seorang komandan regu serta pembantaian pasukannya. Telah menyulutkan api kemarahan Sang pemimpin pemberontakan. Sebanyak 50 Prajurit bersenjata lengkap seketika dikerahkan untuk melakukan penyisiran di sekitar Markas dan seluruh pos keamanan. Lebatnya hujan yang tak berhenti mengguyur hutan. Begitu menyulitkan langkah prajurit dalam melakukan gerakan. Karena tanah yang dilalui menjadi semakin licin. Setelah berjam-jam mereka menyusuri hutan. Tampaknya tak juga membuahkan hasil. Lalu Salah seorang prajurit langsung melaporkan kepada Jendal Dedy melalui HT. "Lapor Jendral! Kami tidak menemukan tanda-tanda keberadaan pasukan Republik di area!" ucap seorang prajuritnya. "Tidak ada cerita! Kalian harus menemukannya sampai dapat! Terus lakukan penyisiran! Aku yakin keberadaan mereka masih tak jauh dari area ini," Jendral Dedy, memerintahkan. "Siap Jendral!" jawab para Pasukannya. Para pasukan pun kembali melakukan penyisiran di tengah guyuran hujan. Tak terasa,
Last Updated: 2024-08-20
Chapter: Menenteng Sepotong Kepala
Para pemberontak pun tersentak. Tak menyangka dengan kehadiran mereka. Padahal pertahanan sudah dibuat sedemikian rupa. Namun bisa ditembus begitu saja. Keadaan mereka kini terdesak. Lantas Mereka mengangkat kedua tangannya. Saat puluhan pasukan merangsek masuk dan menodongkan senjata. Dan siap melepaskan tembakan kapan saja. Jika sedikit saja Pasukan pemberontak melakukan gerakan. Maka puluhan pasukan itu akan sangat cepat melakukan tindakan hanya dengan menarik pelatuknya. "Letakkan senjata kalian!" seru seorang prajurit, membentak dan menodongkan senjata semi otomatis ke arah mereka. Para pasukan pemberontak hanya bisa bergeming lalu berlutut dan meletakkan senjatanya di lantai. Julian melangkah santai memasuki ruangan. Tiba-tiba tatapannya berubah menjadi sangat menakutkan. Terbelalak matanya dengan urat di lehernya yang menyembul keluar memandang para pemberontak. "Kalian tidak bisa dimaafkan!" "Pasukan, ikat kedua tangan mereka! jangan sampai mereka melepaskan d
Last Updated: 2024-08-17
Chapter: Misi Penyelamatan Letnan David
Di sebuah bangunan bambu yang sangat terpencil di pedalaman hutan. Di sebuah ruangan yang gelap dan minim pencahayaan. Letnan David dalam keadaan terbelenggu dengan kedua tangan yang terikat. Mereka didudukkan di sebuah bangku kayu. Dengan dihadapkan oleh para pemuda bertubuh tegap lengkap dengan persenjataan. Tampak tak ada harapan dari raut wajah Letnan David. Ia hanya bisa tertunduk lesu dan berserah diri. Tiba-tiba saja sebuah tongkat Baseball mengayun dengan cepat ke arah wajahnya. Dengan kerasnya tongkat itu menghantam wajah Sang Letnan hingga menimbulkan luka lebam. "Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kalian di sini! Karena sekeliling area ini telah tertanam ranjau dan mereka tak akan bisa melewatinya kecuali mati!" ucap seorang pria berpakaian loreng. Dengan sebuah simbol di lengannya. David hanya bisa merintih kesakitan, menahan perihnya luka di wajahnya. Lalu Pemuda itu menunjuk wajah Sang Letnan seraya berteriak, "Akan ku penggal kepalamu untuk membuat per
Last Updated: 2024-08-17
Chapter: Persekutuan Busuk
Tembakan machine gun dilepaskan Julian dari atas mobil anti peluru. Para pemberontak terdesak dan lari tunggang langgang menuju ke pedalaman hutan. Pasukan pemberontak yang berada di hutan sebelah barat melakukan penembakan brutal terhadap pasukan. Letnan David kewalahan membendung jumlah pemberontak yang menyerang. lantas ia menelepon Julian melalui HT. "Sersan Julian, serangan musuh terkonsentrasi di sisi barat. Tolong perbantuan pasukan. Tentara pemberontak melebihi kapasitas pasukan kami!" "Baik, laporan saya terima. Pasukan cadangan segera kesana!" Jawab Julian. Julian seketika membawa beberapa pasukan menggunakan mobil lapis baja menuju ke arah barat. Suara tembakan terdengar semakin nyaring di telinga. Tiba-tiba di pertengahan jalan, di saat Julian dan beberapa pasukan hampir sampai. Tiba-tiba saja peluru dari sniper musuh hampir mengenai kepala. Mereka memang sudah mengincar Julian hidup atau mati. Karena nama Julian sudah menjadi daftar hitam para pemberontak.
Last Updated: 2024-08-08
PEMBALASAN SANG JENDRAL

PEMBALASAN SANG JENDRAL

Sebuah pertempuran hebat membuat George terluka parah dan kehilangan ingatannya. Beruntung dia masih bisa hidup. Namun, tidak dengan keluarganya. Musuh- musuhnya membunuh seluruh keluarganya hingga tak tersisa. Tanpa sepengetahuan George yang masih hilang ingatan. Setelah peristiwa naas itu, George hidup terlunta-lunta hingga akhirnya bertemu dengan seorang Konglomerat. Sang konglomerat merasa senang dengan kejujuran dan kebaikan George hingga menikahkan dia dengan putrinya yang cantik. Sepeninggal Sang konglomerat yang telah mengangkat derajatnya. Kisah cinta mereka pun tidak berjalan baik. Banyak kesulitan yang harus dia hadapi. Penghinaan dan rasa sakit hati sudah menjadi makanannya sehari-hari. Suatu ketika, sang istri mengajukan perceraian. Tiba-tiba ingatannya pun kembali. Dalam sekejap dia pun kembali menjadi Dewa Perang terhebat yang disegani. George berjanji untuk membalas kejahatan yang telah diperbuat oleh musuh-musuhnya. Dan juga dia akan membuktikan kepada keluarga sang istri. Bahwa dia bukanlah manusia yang bisa dipandang rendah.
Read
Chapter: Langkah Berbahaya
George berjalan keluar dari rumah, setiap langkah terasa semakin berat seiring dengan rasa cemas yang menghimpit di dadanya. Ketegangan terasa mencekam, dan fikiran tentang Hana yang tertinggal di rumah membuatnya semakin sulit untuk berkonsentrasi. Ia tahu bahwa setiap detik berharga dalam situasi yang semakin memburuk. Di markas besar, suasana tampak mencekam. Para tentara berlari ke sana-sini, berusaha mengendalikan kekacauan setelah serangan mendadak terhadap Menteri Pertahanan. George segera mendekati ruang operasi, tempat di mana Menteri sedang berkumpul dengan staf dan analis. “George! Terima kasih kau datang,” Menteri Hendrik menyambutnya dengan lega, namun wajahnya tetap menunjukkan tekanan yang menggelayuti. “Kami baru menerima informasi bahwa serangan ini mungkin hanya bagian dari rencana yang lebih besar. Marco mungkin sudah memiliki jalur untuk menginternalisasi kekuatannya kembali.” “Menteri, siapa yang menyerang? Dan apakah kita sudah menemukan dalang di balik in
Last Updated: 2025-02-02
Chapter: Antara Tanggung Jawab Dan Cinta
George dan timnya kembali ke markas besar dengan langkah yang berat. Mereka baru saja melalui pertempuran yang sengit dengan Marco dan pasukan mafia yang terampil, meskipun berhasil mengusir mereka, perasaan kekalahan tetap menggelayut di benaknya. Banyak yang hilang dalam pertarungan itu—kehidupan, kepercayaan, dan mungkin sedikit rasa aman. Setiba di markas besar, suasana terasa hampa. Lampu-lampu menyala terang, menyinari ruangan yang seharusnya menjadi pusat komando bagi mereka. George disambut oleh Menteri Pertahanan, Bapak Hendrik, yang menunggu di ruang tunggu. “George! Kabar yang mengejutkan tentang pertempuran baru-baru ini. Silakan duduk,” kata Menteri sambil gestur untuk mempersilakan George duduk. Wajahnya penuh kekhawatiran namun tampak berusaha tenang. "Apa yang sebenarnya terjadi di lapangan? Bagaimana keadaanmu dan tim?" George menarik napas dalam-dalam, mengingat kembali semua yang terlibat. “Kami terlibat dalam pertempuran yang lebih besar dari yang kami perkiraka
Last Updated: 2025-01-31
Chapter: Janji Dalam Dendam
Malam itu, setelah pertempuran yang sangat brutal, George berdiri berjaga di tengah reruntuhan medan perang. Dia bisa merasakan napasnya yang berat dan jantungnya yang berdegup kencang. Pertarungan itu sangat sengit, dan walaupun dia telah berhasil melumpuhkan Marco, dia tahu bahwa ancaman tidak sepenuhnya sirna. Dengan peluru berserakan dan api yang menerangi seluruh medan, suasana terasa lebih menegangkan daripada sebelumnya. Marco, masih terjatuh di tanah, memegang lengan yang terkena tembakan. Nyeri yang luar biasa menghantuinya, tetapi bukan hanya rasa sakit fisik yang menyiksa—itu adalah rasa kehampaan karena menghadapi kekalahan ini. Sadisnya, kekalahan ini juga mengingatkannya pada semua yang telah hilang; kehormatan, rasa percaya diri, dan kini bahkan pasukannya. Dengan sisa kekuatan yang ada, Marco menggerakkan tubuhnya, berusaha bangkit dan melarikan diri dari tempat itu. Di balik bayang-bayang, beberapa anggota sisa mafia Marco dengan cepat menyadari situasi kritis yan
Last Updated: 2025-01-31
Chapter: Pertempuran Sengit
George mengedarkan pesan mendesak pasukannya. Dia mengorganisir pertemuan di basis militernya. Hari itu, George berdiri di pangkalan militer. Jamie, komandan dengan sikap tegas, melangkah maju dengan wajah serius. "Jendral George, kami semua terkejut mendengar kabar ini. Tak seharusnya anda berhadapan dengan Marco yang berbahaya itu sendirian. Dan dapatkah anda benar-benar menjamin keberhasilan operasi ini?" Tanya Jamie, mengawasi reaksi George. "Saya tidak punya pilihan lain. Marco telah mendapatkan kekuatan dan ia kini bergabung dengan organisasi mafia lainnya. Mereka tidak hanya mengincar saya, tetapi juga siap menyerang siapa pun yang berdiri di jalur mereka. Ini bukan hanya tentang saya. Ini tentang melindungi keamanan negeri ini,” jawab George, suaranya tegas namun tegang. Jamie mengangguk. "Kami semua siap mendukungmu, George. Tapi kita harus berhati-hati. Jika Marco membentuk aliansi dengan mafia lain, ini bisa menjadi peperangan yang lebih besar." Perencanaan dan pelatih
Last Updated: 2025-01-30
Chapter: Industri Terbengkalai Menjadi Saksi
Keheningan dalam kompleks industri yang terabaikan terasa semakin mencekam. George dan Hana berpegang erat, perasaan takut dan ketidakpastian menyelimuti Hana saat suara langkah kaki yang semakin mendekat, menandakan Marco dan anak buahnya sudah mulai mendekati mereka. George berbisik, “Hana, kita harus bersiap. Kalau mereka menemukan kita, kita tidak akan punya pilihan selain melawan.” Hana menatapnya dengan mata penuh ketakutan namun seberkas keberanian melintas di wajahnya. “Apa yang harus kita lakukan, George?” George mengambil napas dalam-dalam, merasakan detak jantungnya berdegup kencang. Dia mengeluarkan pistol kecil yang selalu disimpannya untuk situasi darurat. “Saya akan mengalihkan perhatian mereka. Kamu tetap di sini dan cari tempat yang aman untuk berlindung. Jika ada kesempatan, keluar sejauh mungkin.” Tanpa menjawab, Hana hanya mengangguk, hatinya berusaha menguatkan diri. George memeriksa peluru dalam pistolnya, lalu mengintip melalui celah jendela truk, melihat
Last Updated: 2025-01-30
Chapter: Malam Mencekam
Malam semakin larut ketika George dan Hana keluar dari restoran, bersiap untuk pulang. Suara mesin mobil meraung di tengah hiruk pikuk jalanan malam. George memasuki mobil, dan Hana duduk di sampingnya, merasakan ketegangan yang tak terucapkan. Dia berpaling menatap langit malam yang berbintang, namun George merasakan sesuatu yang lain: sebuah bahaya yang kian mendekat.Di saat George mulai mengendarai mobilnya. Sebuah mobil hitam terlihat membuntuti."Saya rasa kita seharusnya mengambil rute yang lain, Hana," ucap George dengan nada serius, sementara dia memutar kemudi untuk menghindari jalan yang sepi.Hana, yang tidak merasakan ancaman apa pun, mengerutkan dahi. "Tapi jalan ini lebih cepat, kan? Kita hanya ingin pulang," ujarnya dengan suara lembut.George mengalihkan pandangannya ke arah samping, matanya menyapu sekitar. Dalam sekejap, dia melihat sesosok pria bertato dengan tampang garang tengah duduk memperhatikannya dari dalam mobil hitam itu. Hati George semakin berdegup kenc
Last Updated: 2025-01-30
DENDAM SANG PANGLIMA

DENDAM SANG PANGLIMA

Akibat sebuah insiden dalam medan perang, Adam harus kehilangan kesadaran, bahkan ingatannya. Sejak itu, Adam dihina, dicemooh, dan direndahkan oleh keluarga istrinya. Adam bahkan dipisahkan dari anaknya sendiri, dipaksa untuk bercerai dengan istri kesayangannya, dan dibuang begitu saja. Namun, siapa sangka Adam justru terbangun dengan kekuatan yang luar biasa! Bahkan, dia tak berpikir apapun sampai dua pria tak dikenal menyampaikan hormat padanya, memintanya kembali ke Special Force!
Read
Chapter: Any Tertangkap
Wanita itu tampak begitu agresif kepada Adam. Membuat Adam semakin geram kepadanya."Aku tidak mengenalmu!""Pergi Kamu!" Adam membentak wanita itu.Namun perempuan itu semakin tak terkendali layaknya seorang pemabuk."Sayang, jangan begitu dong. Kamu kan sudah menyewa jasaku. Harusnya kamu menerima aku untuk melayani kamu...""Pergi!" Tiba-tiba Adam mendorong wanita itu lalu melangkah pergi begitu saja.Ia meninggalkannya di luar gerbang seorang diri.Namun sebenarnya, wanita itu tidaklah datang seorang diri.Ia melirik sambil tersenyum seseorang di sisi jalanan yang tengah merekam video.Lalu ia memberikan sebuah jempolnya yang menandakan semua berjalan dengan lancar.***Adam kembali ke dalam pagar dan menghampiri Lusiana yang tengah berdiri menunggunya di pekarangan."Ada apa sih? Kenapa ada suara seorang wanita?" tanya Lusiana, khawatir."Orang gila baru saja datang di rumah kita. Abaikan, Kita masuk saja ke rumah," ucap Adam.Lusiana yang penasaran tiba-tiba melangkahkan kaki ke
Last Updated: 2023-08-29
Chapter: Mertua Jahanam
Mendengar permintaan Any, Lusiana dan Adam saling bertatapan.Lalu Lusiana kembali menatap Any seraya menggelengkan kepala. "Aku gak tau lagi harus berbicara apa. Jumlah itu terlalu besar. Untuk apa uang sebanyak itu ma?"Any lantas menjawab, "Sejujurnya, mama terpaksa meminjam uang kepadamu. Dikarenakan Mama memiliki hutang pada bank dan harus diganti dalam satu bulan ini.""Astaga, hutang untuk apa ma?" tanya Lusiana."Mama baru saja membeli mobil baru. Mobil yang lama sudah reot. Mama malu membawanya," Ucap Any.Mengetahui hal itu, Lusiana semakin murka terhadap Any. Kehidupannya yang terlalu hedonis membuat Any terjebak ke dalam jeratan hutang."Mama sangat keterlaluan. Padahal mobil mama masih bagus dan layak pakai. Kenapa Mama mudah sekali membuang-buang uang untuk suatu hal yang kurang berguna!" Seru Lusiana."Mama malu, Teman-teman arisan Mama sudah memiliki mobil baru yang mewah. Tapi mama, selama 3 tahun ini belum mengganti mobil baru," Jawab Any.Mendengarnya ucapan Any, me
Last Updated: 2023-08-24
Chapter: Any Meminjam Uang
Setelah memakan waktu setengah jam perjalanan, mobil yang membawa Adam telah tiba di AR Hospital.Mereka keluar dari mobil lalu seorang penjaga keamanan seketika menghampiri."Selamat datang pak Adam dan ibu Lusiana," Ucap penjaga keamanan tersebut."Terima kasih, apakah semua sudah berkumpul di ruang rapat?" tanya Adam."Sudah pak. Silahkan bapak menuju ke sana. Karena seluruh petinggi sudah menunggu bapak," Ucap sang petugas keamanan.Lalu Adam berbalik badan dan menatap Lusiana yang tengah duduk di bangku tengah."Lusiana, kamu mau ikut denganku ke dalam?" tanya Adam.Lusiana tampak tengah memperhatikan ponselnya. Namun ia seketika berbalik arah memandang Adam dan berkata."Tidak, biar aku akan menunggumu saja. Aku sedang berkomunikasi dengan keluarga," Ucap Lusiana."Baik, tak apa. Kamu tunggu saja di sini. Aku akan kembali beberapa jam lagi," Jawab Adam."Aduh, apakah bisa sedikit dipercepat?""Aku harus ke rumah mama. Karena keadaan mama sedang tidak baik-baik saja," ucap Lusian
Last Updated: 2023-08-23
Chapter: Panggilan Any Kepada Lusiana
Setelah dua jam pertempuran berdarah. Suara sirine ambulance terdengar berdatangan. Untuk membawa jasad seluruh anggota mafia dan dua pemimpinnya untuk kemudian dibawa menuju ke rumah sakit kepolisian.Adam dan seluruh pasukannya kembali ke Kediamannya.Di istana Rudiant, Lusiana dan Paul menunggunya dengan harap-harap cemas.Kala mobil Pasukan telah tiba, raut wajah sumringah seketika terpancar dari wajah Lusiana.Adam keluar dari mobil langsung menghampiri Lusiana yang tengah menggendong Paul."Lusiana! Kamu sudah menungguku dari tadi?" tanya Adam, seraya melangkah mendekati istri dan anaknya."Aku sudah sangat mengkhawatirkanmu, kamu kenapa lama sekali pulangnya?" tanya Lusiana."Kami mendapat perlawanan sengit saat melakukan penyergapan. Beruntung seluruh pasukan selamat dalam bertugas," Ucap Adam."Bagus kalau begitu, aku pikir akan banyak memakan korban. Tapi ternyata semua baik-baik saja," Ucap Lusiana."Ya sudah, mari kita masuk rumah. Aku sudah sangat lelah dan lapar,"ucap Ad
Last Updated: 2023-08-21
Chapter: Kematian Dasvanco Dan George
Mendengar suara bising di ruangan parkir, membuat semua orang mengalihkan perhatiannya."Tolong periksa di ruangan parkir!" Seru Dasvanco kepada anak buahnya."Siap tuan!" Jawab salah satu anak buahnya.Lalu dua anak buah menuju ke ruangan parkir yang tak jauh dari ruangan tengah.Sesampainya di parkiran mobil, mereka terkejut melihat ban mobil yang telah kempes."Sungguh aneh! Bagaimana mungkin ban mobil ini bisa kempes dengan sendirinya," Ucap salah satu mafia, terlihat keheranan."Biar aku yang memeriksanya," Ucap rekannya.Lalu ia memeriksa ban mobil itu dengan seksama.Tiba-tiba sebuah peluru melesat menembus kepala dua mafia tersebut.Dua anggota mafia seketika tewas di tempat.Hingga 10 menit berselang, Dasvanco menunggu dua anak buahnya. Namun tak kunjung kembali ke hadapannya."Kenapa mereka berdua tidak kembali! Tolong periksa keadaan mereka!" Seru Dasvanco."Siap Tuan,"jawab salah satu anak buahnya.Lalu ia menuju ke ruangan parkir tersebut.Dan selang beberapa menit, satu
Last Updated: 2023-08-20
Chapter: Penyergapan Di Gedung Tua
Saat malam mulai menjelang, sebuah mobil audy hitam telah tiba di depan istana Rudiant.Dua pengawal seketika menghampiri untuk menyambutnya."Selamat malam Tuan Jody, senang anda bersedia untuk datang memenuhi panggilan. Pak Adam sudah menunggu anda," Ucap Sang pengawal."Ya, di mana dia sekarang?" tanya Jody."Pak Adam sudah menunggu anda di ruang tamu. Silahkan masuk Tuan," Ucap sang pengawal."Baik, Terima kasih," Jawab Jody.Lalu ia melangkah menuju ke arah pintu rumah. Saat ia memasuki rumah bak istana tersebut.Adam langsung berdiri dari bangku sofa. Dan menyambut kedatangan Jody."Selamat datang Jody, bagaimana kabar anda sekarang?" tanya Adam, seketika menyodorkan tangan kepadanya."Aku baik-baik saja. Bagaimana juga dengan keadaan anda sekarang?" tanya Jody."Akhir-akhir ini, aku dibuat pusing oleh para mafia. Mereka sedang gencar-gencarnya melakukan serangan balas dendam. Tadi pagi, rumah sakit diserang oleh seseorang tak dikenal. Dan aku mengundang kamu kesini untuk menany
Last Updated: 2023-08-19
You may also like
Pendekar Mayat Bertuah.
Pendekar Mayat Bertuah.
Pendekar · Mas_Hudi_6902
153.8K views
PENDEKAR TAPAK DEWA
PENDEKAR TAPAK DEWA
Pendekar · Emde Mallaow
151.9K views
Pendekar Pedang Api
Pendekar Pedang Api
Pendekar · Fii
149.6K views
Legenda Tang Hu
Legenda Tang Hu
Pendekar · Naga Hitam
142.8K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status